GOSIP ITU ASIK, TAPI HARAM

detik 4GOSIP ITU ASIK, TAPI HARAM

Oleh: Rama Rachmat

Siapa yang tak suka gosip? Meski hanya sekedar bisik-bisik antara dua orang atau oknum dalam sebuah perkumpulan ibu-ibu arisan atau bahkan dalam majelis pengajian. lanjutkan membaca »

SENJA DI SELAT SUNDA [22]

Anak Matahari-GGOleh Gol A Gong

Persis tengah hari kami sampai di Cikeusik. Yang paling menarik, sebelum memasuki tangtu, di setiap utara kampung selalu ada leuit. Pada tiang-tiangnya dibuat lempengan papan seperti piring. Gunanya untuk mencegah tikus nakal naik ke lumbung. lanjutkan membaca »

KETAN BINTUL COCOK UNTUK SARAPAN

Ketan bintul Bu Ones di pasar tumpah Taman Sari, Royal, Serang

Ketan bintul Bu Ones di pasar tumpah Taman Sari, Royal, Serang

Apa menu sarapan kamu pagi ini? Nasi uduk, bubur ayam, atau lontong sayur? Kalau kamu bosan dengan itu semua, kamu bisa sarapan ketan bintul. Lho, emang ada? Bukannya ketan bintul ada di bulan Ramadhan aja? Umumnya memang pada bulan puasa, tapi sekarang tidak lagi. Jika penasaran, kamu bisa mengunjungi wisata kuliner di pasar tumpah Taman Sari Royal, Pasar Lama dan Pasar Induk Rau di Serang.  Kamu bakalan menemukan panganan yang terbuat asli dari ketan itu.

RIWAYAT

Tak ada yang tau pasti kapan ketan bintul dikenal masyarakat. Namun, seperti ditulis Harian Umum Pelita pada 31 Desember 2009, ketan bintul sudah akrab di warga Banten sejak abad ke-15. Konon, panganan ini digemari Sultan Maulana Hasanuddin, pangeran panutan kerajaan Banten pada waktu itu.

Luar biasa! Padahal makanan yang terbuat dari beras ketan ini adalah panganan rakyat jelata. Tapi Sultan Maulana Hasanuddin menyukai panganan ini, terutama saat berbuka puasa. Akhirnya menjadi tradisi bila seseorang berbuka puasa dengan ketan bintul, karena itu menghargai dan menghormati Sultan. Dan ada kebanggaan tersendiri saat menikmatinya. Hal itu dibenarkan Abdul Salam (17 th). Menurut warga Waringinkurung itu, “Buka puasa tanpa ketan bintul rasanya kurang pas.”

Ketan bintul okeWARGA SUKA

Ternyata ketan bintul digemari warga Banten tidak hanya saat puasa. Meski animo pembeli tak seramai di bulan Ramadhan, tapi ketan bintul Ones (47) tetap laris manis. ”Sehari saya bikin 10 liter, alhamdulillah habis,” ujar Ones, pedagang dari kampung Cikeusal. Kebanyakan pembelinya dari warga Serang.

Untuk mencicipi legitnya ketan bintul, kamu cukup merogoh kocek Rp 500,00-/iris yang sudah dibungkus daun. Murah’ kan?! “Enak, apalagi makannya ditemani kopi atau teh,” kata Agung (19) warga Cimuncang Sukasari yang memborong ketan bintul sebanyak 14 biji. Lain halnya Nawiyah (47), wanita asal Cipare, Serang, ini sudah sering berlangganan. “Saya beli 15 biji untuk dijual lagi,” tutur Nawiyah.

TARIK WISATAWAN

Menilik database Disporasenibud Kota Serang tahun 2009, ketan bintul termasuk salah satu dari tiga puluh tujuh panganan khas Banten. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya, Baini S.pd. “Ketan Bintul dan Nasi sumsum juga termasuk panganan khas Banten,” ujar Baini. Kondisi panganan tersebut hingga saat ini terus hidup dan berkembang lanjut Baini,“Tetap dilestarikan aja,” ujarnya singkat.

Namun apa yang dituturkan Baini tak sepadan dengan pengakuan Teguh (45). Staf Pusat Bahasa Indonesia itu mengatakan baru mencicipi ketan bintul di Rumah Dunia saat menggelar “Bengkel Sastra” pada 3 – 4 Desember 2009. “Ketan bintul ini saya baru nyoba,” akunya.

Bagaimana ini promosinya? Bahkan untuk promosinya, Baini sudah mengusulkan ke Pemkot Kota Serang. “Sudah diusulkan pada 2010, database sudah dimasukkan. Tapi belum mampu untuk membuatnya,” tambah Baini lagi. Oh, pantas saja turis nusantara seperti Teguh baru nyoba. Lha wong usulannya aja baru 2010. (Harir Baldan)

KAMPUNG CIWARU DI SERANG KOTA INGIN MAJU

CiwaruKAMPUNG CIWARU INGIN MAJU

“Libur telah tiba, libur telah tiba, hatiku gembira…!” Pasti kamu pernah mendengar penggalan lirik lagu, yang dipopularkan oleh penyanyi cilik, Tasya. Lagu itu memberi pesan tentang liburan sekolah. Hari libur yang lumayan panjang, yakni sepuluh hari membuat kita ingin berlama-lama. Apalagi di Banten banyak sekali objek wisata laut seperti di Anyer dan Carita, wisata sejarah di Banten Lama dna gunung Santri.  Tapi kalau kamu ingin merasakan tantangan baru, cobalah wisata kampung. Wisata ini murah-meriah, tidak membuat kantong jebol! Kamu bisa menggunakan sepeda atau jalan kaki.

RIWAYAT

Kalian sudah pernah berkunjung ke Ciwaru? Bagi yang tinggal di kota Serang jaraknya lumayan dekat. Kamu bisa menyusuri jalan Pusri, Kemang arh ke Rumah Dunia. Setiba di perempatan Kampung Ciloang, ambil arah ke kiri. Tapi awas! Hati-hati, jalanya berbatu-batu, masih berupa pengerasan, belum diaspal. Sekitar 500 meteran, kamu akan menumukan kampung Ciwaru.

Menurut Ketua Rukun Tetangga 01/06, Mad Salim (51), dahulu kampung ini banyak ditumbuhi pohon waru. Selain itu untuk menambah sejarah kamu, di kampung yang termasuk keluarahan Banjar Agung, ini dahulu pernah dibom oleh pasukan Belanda. Hal itu ditandai dengan pengakuan Mad Salim terkait keberadaan dua tokoh perjuangan seperti Almarhum Lurah Usuludin dan lurah Wawih. “Menurut cerita haji Markawi yang sudah berumur 73 tahun, kampung Ciwaru pernah dibom oleh Belanda,” urai Mad Salim.

Ciwaru mesjid comSetelah itu warga kampung Ciwaru terpecah dua kelompok; ada kampung Tegal Ipik dan Ciwaru. Perbatasan kedua warga tersebut adalah saluran air yang mengaliri  kolam masjid. Pemicunya adalah keberadaan dua Masjid di Ciwaru dan Tegal Ipik. “Dahulu di dua kampung ini ada dua Masjid,” tutur H. Markawi sesepuh kampung Ciwaru. Karena jumlah penduduknya sedikit dan tidak sesuai hukum agama lanjut Markawi, “Atas musyawarah bersama akhirnya dua masjid tersebut dibongkar.” Namun karena ada gendang penca silat warga kembali bersatu dengan mengusung nama kampung Ciwaru.

Selain itu, masih menurut Mad Salim, kampung ini dijuluki “kampung pengrajin”. Pasalnya di kampung ini banyak pembuat tempe dan ketupat. “Saya usaha tempe sejak tahun 70-an,” akunya.

MODERN

Seiring waktu, pertumbuhan penduduk warga Ciwaru terus bertambah. “Karena banyak, kami bagi dua rukun tetangga,” ujar Mad Salim yang pedagang tempe. Untuk RT 01/06 tambahnya, berjumlah 120 KK, sedangkan RT 02/06 berjumlah 125 KK.

Selama pantauan penulis, perkembangan di kampung pengrajin tempe ini sudah modern. Itu ditandai dengan sebagian kecil warga yang memiliki kendaraan mobil dan motor. Selain itu hampir seluruh warga memiliki alat elektronik semisal televisi, radio, tape, magic jar, dan kulkas. Kendati demikian rumah-rumah arsitektur tua juga masih berdiri kokoh.

Selain meningkatnya jumlah penduduk, faktor Sumber daya manusia di kampung pengrajin ketupat ini sudah ada yang mengikuti program belajar pemerintah sembilan tahun. “Pendidikan warga sudah ada yang SMP sampai SMA,” ujar lelaki berkumis ini. Namun, tak sedikit juga yang putus sekolah. “Kemungkinan besar karena faktor biaya dan ekonomi kelas bawah,” urai Asnawi (32) minantu Mad Salim.

Hal ini pun mempengaruhi dengan mata pencaharian warga, yang  kebanyakan pedagang seperti penjual tempe, ketupat dan sayuran. Namun ada juga sebagai petani garapan, kuli pabrik di Serang dan Jakarta.

Sebetulnya sejak tahun 2008 sudah ada Madrasah dan TK Paud. Dibangunnya kedua tempat belajar tersebut, agar anak-anak terus bisa belajar. Dan untuk pembiayaannya hanya dikenakan bayaran bulan Rp 5000,00. Tapi kini TK tak lagi menggelar kegiatan belajar lagi. “Karena guru-guru yang ngajarnya sudah tidak lagi praktik,” ujar Asnawi.

Pembangunan madrasah dan TK adalah hasil dari swadaya masyarakat. Untuk Ada madrasah yang berdiri sejak tahun 2008, yang dibangun hasil swadaya masyarakat. “H. Muzakir dan lurah Banjar Agung, H. Sohkari juga turut membantu,” pungkas Mad Salim.

Jalan rusakJALAN RUSAK

Sejatinya kampung Ciwaru, Kelurahan Banjar Agung, Kota Serang, ini termasuk kawasan yang strategis. Hanya berjarak seratus meter dari kawasan Kota Serang Baru (KSB), dan Kantor Walikota Serang yang kini sedang dibangun.

Harapan tinggi sudah selayaknya diutarakan warga yang berjumlah 245 KK, ini kepada Pemerintah Kota Serang. Seperti dikatakan Mad Salim, rukun warga 01/06 ini meminta kepada Pemerintah setempat agar memajukn kampung Ciwaru. Terutama jalannya yang rusaknya minta ampun. “Tolong status jalan diperbaiki, sudh bertahun-tahun hanya pengerasan batu saja. Juga tolong dibantu warga-warga yang tak mampu dan banyak anak yang putus sekolah,” terang Mad Salim.

Harapan perubahan pun sama diinginkan Asnawi (32). Suami Sumiati ini menginginkan dibukanya lapangan kerja, apalagi jarak kantor walikota sedang dibangun dan Banten TV sangat dekat. “Utamakan warga yang dekat, yaitu Ciwaru. Jangan yang dari luar,” harapnya. (Harir Baldan)

REFLEKSI KOMUNITAS SASTRA 2010

detik 1RUMAH DUNIA — Disaat sebagaian umat manusia sibuk mempersiapkan diri berkonvoi dengan teman, sahabat atau bersama keluarga merayakan tahun baru 2010; di pantai (yang lumrah biasa kita lihat dalam berita di tivi, keesokan harinya), hotel, atau sekedar berkumpul di dalam rumah saja, tapi komunitas Literasi Rumah Dunia  menggelar acara diskusi tahunan “Detik Awal 2009 Detik Ahir 2010” bertemakan “Refleksi Komunitas Sastra di Banten”, Kamis (31/12) Pukul 20.00 – 24.00 WIB di panggung Rumah Dunia.

TURIS NYASAR

Dalam diskusi itu, Rumah Dunia (RD) menghadirkan 3 pembicara; Toto ST Radik selaku penasehat RD mengusung “Posisi Rumah Dunia sebagai Komunitas di Banten”,  dan Sulaiman Djaya, penasehat Kubah Budaya dengan catatannya “Quo Vadis, Komunitas Sastra di Banten”. Acara ini juga sekaligus mengenang pendiri Kubah Budaya, Moh. Wan Anwar, yang tutup usia pada 23 September 2009 lalu. Sedangkan pembicara, dari Fajar Banten, Indra Kusumah, yang akan membicarakan seberapa penting halaman koran untuk rubrik budaya, berhalangan tidak bisa hadir dalam acara diskusi ini.

detik 4Diskusi yang dihadiri sekitar 40an peserta dari berbagai lapisan; mulai dari Untirta, Kubah Budaya, Stikom Wangsa Jaya, Kantor Perpustakaan Kota Serang, beberapa pelajar dari Waringin Kurung, 3 tamu dari Bandung (Fani, Aris, dan Dinar), bahkan dihadiri oleh Matthew Woolgar- tris nyasar dari Inggris. Cerita Matthew ini lucu. Firman Venayaksa selaku Presiden RD saat memberi sambutan bercerita, “Matt ini jauh-jauh datang dari Inggris hanya ingin melihat rumah Multatuli, tapi kecewa karena rumahnya sdudah tidak ada. Saya berkenalan dengannya saat makan di sebuah warung mie, lalu saya mengajak Matt ke RD.”

Matt sagnat senang berada di lingkungan RD. Dia adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta. “Saya sedang liburan,” katnya menikmati minuman bandrek hangat plus ubi rebus. Bahkan nasi goreng pun dilahapnya.

detik 6KOTA BUDAYA

Selain diskusi, juga ada menu tambahan pembacaan puisi dari Oji Sahroji pemenang lomba baca puisi Wong cilik 2007 dari Waringin Kurung,. Irwan Sofwan dari Kubah Budaya, Rahmat Heldy HS, Dedi Setiawan, musikalisasi puisi Firman, dan cerita dari Herwan FR dalam rangka mengenang Wan Anwar. Acara diskusi kali ini juga sekaligus mengenang Wan Anwar. “Karena Wan Anwar telah memberikan nyawanya untuk kemajuan sastra di Banten ini,” kata Gol A Gong selaku pendiri RD.

Menurut Sulaiman, dalam diskusinya, komunitas sebagai institusi kebudayaan menjadi sangat penting sebagai penyelenggara dan penjaga nafas kebudayaan karena kreativitas estetik dan intelektual membutuhkan infastruktur sekaligus khasanah yang mampu memacunya. Ia juga mengatakan, bahwa Banten, terutama Serang, belum bisa disebut sebagai kota budaya dalam pengertian yang ideal dan diharapkan. “Di Serang saya belum menemukan tempat-tempat untuk lesehan sekedar berbincang-bincang dengan teman-teman seputar filsafat dan sastra, sembari menyeruput kopi,” katanya.

SEJARAH KOMUNITAS

Sementara Toto ST Radik lebih pada mengemukakan perjalanan sastra atau pertama kali adanya komunitas sastra di Banten, khususnya pada pertengahan tahun 1980-an, saat ia masih menjadi siswa SMA N Serang. “Saya belum pernah mendengar ada komunitas sastra di Serang. Juga tidak pernah mendengar atau mengetahui ada sastrawan, penyair, cerpenis, novelis atau esai krittikus sastra,” kata penyair Serang ini. Meski ia mengaku di Serang, komunitas teater sudah ada yang sesekali mangggung saja.  Beliau juga menerangkan sekelumit sejarah tentang RD dan jatuh bangun yang RD di dalamnya, khususnya mengenai sastra dan komunitas literasinya.

“Saya, almarhum Rys Revolta, dan Gol A Gong memulai membuat komunitas sastra pada 1990,” kenang Toto. Lantas seiring perkembangannya, komunitas-komunitas sastra mulai bermunculan. Sastrawan lahir, tumbuh, hilang atau eksis, seiring dengan lahir, tumbuh, hilang atau eksisnya komunitas-komunitas sastra. “Pertannyaannya, bagaimana kita, para sastrawan sendiri, termasuk juga komunitasnya, bisa memberikan peran dan sumbangan yang lebih besar bagi perkembangan sastra di Indonesia,” katanya dengan semangat namun santai.

Toto juga menyadari adanya kecemburuan, konflik kepentingan, friksi dan lain-lain di dalam komunitas itu sendiri maupun antarkomunitas. Toto juga mengutip peribahas, jika kita harus seperti padi yang tumbuh sehat mekar berisi dan bersyukur dengan cara merundukan diri. Sebaba hanya padi yang pongah mendongaklah yang sesungguhnya gabug alis kopong, kosong tak berisi.

Acara diskusi makin malam, makin meriah. Meski jarum jam baru menunjukan Pukul 10.09 tapi, suara letusan petasan dari berbagai arah mulai terdengar. Diskusi makin meriah, saat dibuka sesi tanya jawab. Dan makin lengkap dengan menu wedang Bandrek plus panganan tradisional Banten (kelepon, ketimus, getuk dan jagung rebus) dihidangkan secara gratis. Hingga acara tepat ditutup saat pergantian tahun baru 2010. Sebelum pulang peserta ditraktir makan nasi goreng oleh RD.

Selamat tahun baru. Semoga kita menjadi manusia-manusia yang lebih baik dari tahun yang lalu. Happy New Year! [Ahmad Wayang]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010