NASTITI RAIH DUTA CHANGE WITH READING

NASTITI RAIH DUTA CHANGE WITH READING

Oleh Ahmad Wayang

Nastiti Tiasundari nama lengkapnya. Gadis kelahiran Trenggalek Jawa Timur, 31 Agustus 1993 ini awalnya tak menyangka akan memenangkan lomba pemilihan Duta Change With Reading yang digagas oleh Rumah Dunia pada Sabtu (9/1/10) akhir pekan lalu. Ia mengaku tidak sampai selesai mengikuti acara CwR. “Saya pulang bersama guru pembimbing saya, lantaran guru saya mempunyai anak kecil yang ditinggal di rumah,” kata Nastiti.

Pelajar dari SMA 1 Pandeglang ini mengaku awalnya pesimis duluan untuk mengikuti pemilihan duta CwR, tapi berkat dukungan dari orangtua, guru dan teman-temannya, gadis berkulit putih ini akhirnya bersemangat untuk mengikuti pemilihan duta CwR tersebut. Lalu ia mencari ide untuk membuat essay yang tak sengaja ide essaynya didapat saat sedang makan roti, maka jadilah essay berjudul ‘Berguru Pada Sepotong Roti’.

Perasaan Nastiti saat mengetahui dirinya jadi juara duta CwR itu antara kaget bercampur senang. “Wah, yang pasti senang banget. Nggak nyangka bakal menang,” kata Nastiti sambil mengembangkan senyum. Berita bahagia itu pun ia peroleh lewat telpon seluler berupa Short Message Service (SMS) dari salah satu temannya.

Siswa SMA kelas 2 dari pasangan Nurus Syamsiah dan Suwarto ini ternyata mempunyai cita-cita menjadi dokter. Saat di SMP Nastiti selalu menjadi juara kelas hingga SMA kelas dua ini,  bahkan ia menyabet juara umum di sekolahnya. Meski di sekolah banyak temannya yang menganggap Nastiti pintar, tapi Nastiti tidak merasa takabur (sombong). Justru sebaliknya ia merasa belum menjadi orang yang pintar seperti apa yang dikatakan temannya. “Saya nggak pernah merasa saya pintar, karena saya sadar banyak pelajaran yang belum bisa saya kuasai,” katanya merendah diri.

Anak ke 2 dari dari 4 bersaudara ini, hari-harinya paling banyak habiskan di rumah. “Di rumah saya biasanya baca buku, kalau nggak maen game sama ade,” kata Nastiti. Untuk bermain game, diakuinya hanyalah sebagai refreshing saja. Di rumahnya Nastiti juga mempunyai ruang perpustakaan mini, yang koleksi bukunya milik orangtua dan kakaknya yang kebanyakan. Mulai dari buku fisika, kimia dan Inteligent Spiritual Quotient  atau Kecerdasan Spiritual. “Komik dan novel juga ada,” tambah Nastiti yang menyukai pelajaran Matematika dan Biologi ini.

Nastiti mengaku, keberhasilan ini berkat dukungan guru dan teman-tema serta tak lepas dari peran kedua orang tuanya, yang juga berprofesi sebagai guru di SMA 8 dan 6 Pandeglang. Kedua orang tuanya itu selalu mendukung kegiatan positif apa saja yang dilakukan anaknya, Nastiti. Harapan ke depannya, Nastiti mempunyai mimpi ingin kuliah di Universitas Indonesia (UI) Depok. Okelah kalau begitu Nastiti. Semoga mimpimu bisa terwujud. Amin!

MENUAI HIKMAH DARI GRANADA

MENUAI HIKMAH DARI GRANADA

Ahmad Mukhlis Yusuf

Sahabat, bersama seorang kolega, Asro Kamal Rokan, kami baru kembali dari sebuah perjalanan dinas ke Spanyol, menghadiri Sidang Kantor Berita se-dunia di Madrid. Setelah sidang-sidang selesai, melalui jalur darat, kami menyempatkan diri berkunjung ke Toledo, Cordova dan Granada dipandu oleh seorang pengemudi setempat yang bernama Jose.

Saya ingin berbagi salah satu hikmah perjalanan itu. Banyak inspirasi yang kami peroleh sebagai anak bangsa yang ingin membangun Indonesia lebih baik. Semoga sedikit kisah ini dapat bermanfaat bagi sahabat.

Sabtu pagi itu, tepat pukul 09.00 kami tiba di depan antrian menuju Palacios Nezaras, bagian terpenting di dalam Istana Al Hambra, Provinsi Granada. Pada masa kejayaannya, istana megah itu bernama Istana Nasrid.

Jatah waktu kunjungan yang diperoleh adalah jam 09.30. Dalam tiket yang dibeli dengan biaya € 10, waktu kunjungan ke Palacios Nezaras dibatasi maksimal 30 menit. Waktu kunjungan bagian-bagian lain dari Al Hambra tidak dibatasi. Selain kami, banyak pengunjung dari berbagai negara berdatangan ke Al Hambra.

Sambil menunggu, kami gunakan waktu untuk mengunjungi bagian lain Istana itu, Alcazaba, benteng berwarna merah yang dulu menjadi simbol tangguhnya pertahanan Kesultanan Granada dalam menghadapi pihak-pihak yang menginginkan kejatuhannya.

Di dalam Al Hambra, kami menyaksikan ukiran-ukiran dan untaian kaligrafi kelas dunia di setiap sudut Istana, dan komposisi taman yang disertai air mancur yang indah. Ada juga Gazebo yang dapat menatap Kota Granada dari berbagai sudut. Kami membayangkan betapa para penghuninya dulu menikmati indahnya pemandangan kota sebelum padat seperti saat ini.

Untaian kaligrafi di Al Hambra mengingatkan kami pada untaian kaligrafi pada Mihrab di Mezquita, Cordoba, yang sekarang telah diubah menjadi Katedral. Bentuk kolom-kolom di Mezquita meniru kolom-kolom di Masjid Nabawi, Madinah.

Setelah setengah jam berkeliling di Al Hambra, kami keluar dan menikmati pemandangan Taman Medina dan Generalife di seberang Palacios Nezarios.

Sahabat, seperti juga sahabat telah ketahui, setelah berkuasa di Spanyol yang diawali pendaratan pasukan Thariq bin Ziyad di Gibraltar, dan selanjutnya menaklukkan pasukan Raja Roderick pada tahun 711 M, Kekalifahan Andalusia yang meliputi sebagian besar Spanyol akhirnya lepas ke tangan kekuasaan Raja Ferdinand dan Ratu Isabel pada tahun 1492 M.

Setelah lepasnya Toledo, Cordova, Sevilla dan daerah-daerah lain di Spanyol, Granada adalah pertahanan pemerintahan muslim terakhir pada waktu itu.

Ada kisah kepemimpinan yang luar biasa. Setelah memerintahkan pembakaran semua kapal yang membawa pasukannya menyeberang dari Afrika Utara ke Spanyol sesaat mendarat di Gibraltar, Thariq berpidato singkat; “lawan di depan kamu, lautan di belakang kamu, silakan pilih mana yang kamu kehendaki”. Pidato Thariq itu hingga kini sering jadi salah satu pelajaran tentang kepemimpinan di berbagai pelatihan.

Selengkapnya, sahabat dapat mengklik:
http://www.antaranews.com/jeda/?i=1264911298

Minggu, 31 Januari 2010 11:14 WIB
Salam,
MY

SEMANGAT PERUBAHAN ALA IKMC

CIPANAS—LEBAK—Selasa (26/1) pagi yang mendung, di kampung Hamberang, Desa Luhur Jaya,  Cipanas, Lebak, tak menyurutkan niat para mahasiswa untuk silaturahmi dan memenuhi undangan panitia IKMC.

IKMC adalah  Ikatan Keluarga Mahasiswa Cipanas. Meskipun waktu sudah menunjukkan siang, rapat kerja (raker) IKMC tetap dilaksanakan.

Acara rapat kerja dimulai sekitar 11.00 Wib. Acara ini molor dari waktu yang telah direncanakan, yaitu pukul 09.30 WIB. Rapat kerja IKMC sendiri berlangsung di saung kecil milik seorang anggota DPRD Lebak. Tak ada yang istimewa dengan tempat dan  kondisi bangunan apa adanya. Namun tempat itu memiliki nilai historis dalam berdirinya IKMC.

IKMC merupakan organisasi yang didirikan sebagai wadah para mahasiswa dan masyarakat Cipanas untuk dijadikan tempat bertukar pikiran, informasi dan sebagai agent penampung aspirasi rakyat (warga Cipanas) yang tentunya akan disampaikan kepada pemerintah untuk dijadikan bahan pertimbangan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

“Dalam menjalankan organisasi ini, ke depan kita atau para mahasiswa Cipanas akan dihadapkan dengan berbagai halangan dan tantangan yang bervariasi, seperti tantangan sosial, ekonomi, budaya, politik dan berbagai tantangan lainnya. Namun perlu kita ingat bersama bahwa di depan sana juga terdapat peluang bagi kita semua untuk terus bersama-sama maju membaca organisasi ini ke barisan terdepan untuk menjadi wakil mahasiswa-mahasiswa serta masyarakat yang ada di Cipanas khususnya dan Negara Indonesia umumnya,” kata Muhamad Arif atau biasa di sapa Akang Obot, selaku Ketua Umum IKMC dalam sambutan pembukaan Raker tersebut.

Acara rapat kerja IKMC tahun ini merupakan yang pertama diadakan oleh calon intelektual muda Cipanas. Oleh karena IKMC sendiri baru diresmikan pada tanggal 29 November 2009 oleh Sekretaris Kecamatan Cipanas, di Pondok pesantren Nurul Madany. Peresmian IKMC juga dihadiri oleh kalangan pejabat, khususnya Ketua DPRD Lebak dan jajarannya. Dan tidak ketinggalan juga Ketua KPUD Lebak, H. Agus Sutisna S.IP.

Rapat kerja adalah bagian dari program kerja IKMC yang telah diputuskan dalam musyawarah besar (Mubes) pada tanggal 28 dan 29 November 2009. Rapat kerja IKMC kali ini kurang pesertanya, karena dengan berbagai alasan, seperti ada yang masih UAS, penelitian di masyarakat, tugas dinas yang tidak bisa ditinggalkan, dan lain-lain. “Pelaksanaan rapat kerja IKMC hari itu hanya dihadiri sejumlah 23 peserta. Untuk memotivasi peserta Raker, yang dilaksanakan sekarang adalah momentum awal untuk membangun mahasiswa Cipanas berkarakter dan berkarya nyata bagi pembangunan daerah,” tegas penasihat IKMC, Ajat Sudrajat di sela-sela rapat kerja berlangsung.

Meskipun rapat kerja IKMC mengalami keterlambatan, namun tidak menghalangi para mahasiswa Cipanas untuk berkiprah selangkah lebih maju dalam membangun peradaban baru di Republik Indonesia tercinta ini. Rapat kerja IKMC yang diadakan sekarang tidak sebagai simbol belaka, tetapi sebagai rencana kerja yang harus direalisasikan.

Rapat kerja pun berakhir pukul 14.30 Wib, yang menghasilkan salah satu hasil rapat kerja, yaitu mendirikan taman bacaan masyarakat (TBM) dalam waktu jangka panjang. Ini sebagai bentuk apresiasi mahasiswa Cipanas untuk turut serta menyukseskan Change With Reading, dimana acara tersebut diresmikan oleh wakil Gubernur Banten, H. Masduki M.Si, pada tanggal 09 Januari 2010 di Rumah Dunia Serang.

Mulai saat ini, IKMC segera terjun langsung merealisasikan hasil rapat kerja yang telah disepakati bersama dengan menggunakan segala potensi yang ada, baik di lingkungan mahasiswa maupun masyarakat Cipanas. Dengan tidak menutup kemungkinan, IKMC membuka diri untuk bekerja sama dengan semua kalangan dengan melihat AD/ART yang sudah disahkan pada tanggal 29 November 2009 lalu.

Sebagai informasi saja, bahwa organisasi IKMC mempunyai 7 bidang keorganisasian. Diantaranya bidang keagamaan, pengembangan keanggotaan, jarkominfo, pengabdian masyarakat, kekaryaan, keputrian dan kepemudaan. Dengan melihat bidang-bidang tersebut, semoga tujuan berdirinya IKMC ini dapat terwujud. Sehingga diharapkan bisa meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Cipanas khususnya dan Negara Indonesia umumnya.  Itu semua takkan terealisasi tanpa bantuan dan dukungan semua pihak yang berkepentingan demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. (Solehudin adalah mahasiswa asal Cipanas yang kuliah di kampus STKIP Setia Budhi Rangkasbitung dan peserta Kelas Menulis Angkatan ke-15)

PELETAKAN BATU PERTAMA GEDUNG DEMOKRAT

SERANG–Aksi unjuk rasa mengkritisi 100 hari pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, beberapa hari yang lalu, tepatnya Kamis (28/1) yang berlangsung di beberapa daerah dengan tuntutan yang seragam, yakni meminta Presiden dan wakilnya untuk mundur dari jabatannya. Mereka dinilai gagal meminpin negeri ini terkait dalam kasus Bank Century (Koran Tempo, 29/1).

Terkait dengan berita di atas yang masih cukup hangat, partai Demokrat (dimana pembinanya adalah Susilo Bambang Yudhoyono), Sabtu (30/1) pukul 10. 49 WIB, menggelar acara peletakan batu pertama pembuatan Kantor/Gedung sekretariat Demokrat DPD Banten, di Desa Boru kecamatan Curug, Serang, yang dilakukan oleh H. Hadi Utomo, selaku ketua umum partai Demokrat.

Dalam acara itu, hadir H. Taufik Nuriman (Bupati Serang), jajaran umum partai Demokrat, tokoh masyarakat dan segenap masyarakat setempat. Namun, Ibu Gubernur Banten tidak dapat hadir dan hanya diwakilkan oleh stafnya.

Sebelumnya Aeng Haerudin selaku ketua pelaksana pembangunan memberikan sambutan dan menjelaskan sedikit mengenai rencana pembangunan Gedung sekretariat Demokrat DPD Banten. “Gedung ini di bangun di atas tanah 1000 M2, dengan luas bangunan 756 M2, berlantai 2, dan menelan biaya mencapai 3 miliar. Insya Allah, pembangunan ini paling lambat berlangsung selama 2 tahun,” kata Aeng.

Diteruskan dengan sambutan dari ketua umum partai Demokrat, Hadi Utomo. Dalam sambutanya, Hadi meminta agar rencana pembangunan Gedung Sekretariat Demokrat DPD Banten, harus diwujudkan, mengingat partai Demokrat belum mempunyai gedung sekretarian di wilayah Banten. “Saya menargetkan jajaran partai Demokrat harus mempunyai kantor sekretariat.” katanya semangat. Masih menurutnya, kenapa harus memiliki Gedung sekretariat, karena sarana atau insfrastruktur ini sangat diperlukan untuk pengelolaan, selain sebagai tempat merencanakan roda partai Demokrat. “Kantor merupakan penampilan atau tampak dari figur partai tersebut,” terangnya. Untuk itu Hadi Utomo akan membantu dengan memberikan bantuan berupa uang tunai, senilai 1 miliar. Hadi juga meminta agar Gedung ini harus di tambah satu tingkat dan tanahnya diperluas menjadi 2000 M2.

Hadi juga menambahkan, agar pembangunan Gedung ini harus terwujud. “Jangan sampai ini cuma jadi pembukaan saja, seterusnya tidak ada wujudnya. Saya minta Kader Demokrat, bisa bertanggung jawab,” katanya dengan sungguh-sungguh sambil berjanji akan mengunjungi tempat ini sebulan sekali dalam rangka mengawasi pembangunan ini.

Saat ditanya perihal program 100 hari pemerintahan SBY, yang juga sebagai pembina partai Demokrat, usai peletakan batu pertama, Hadi Utomo mengatakan program 100 hari bukan sebagai bentuk tolak ukur. “Presiden, baru 100 hari saja sudah diganggu oleh demonstrasi, dan isu-isu. Tentunya itu harus ada tahapannya,” katanya memberi tanggapan. “Yang jelas partai Demokrat tetap akan bekerja sebaik-baiknya.” kata Hadi yang lekas menaiki mobil, untuk bertolak ke Sepang, Ciracas-Serang. Dan acara itupun diakhiri dengan makan siang di Hotel Le Dian, Kota Serang-Banten. (teks: Wayang, foto: google)

CIPANAS KAMPUNG WISATA DAN SANTRI

CIPANAS, LEBAK – Untuk yang ketiga kali wartawan www.rumahdunia.com  menginjakkan kaki di Cipanas, Lebak, sekitar 38 km ke arah Jasinga Bogor. Hari kunjungan pertama dan kedua adalah Kamis (14/1) dan Kamis (21/1), sedangkan yang ketiga Selasa (26/1). Di kampung ini banyak kisah seperti sejarah air panas, riwayat kampung, keramahan warga, pendidikan pondok pesantren modern, dan menikmati suasana alam yang masih alami, arung jeram di Ciberang, dan yang terakhir sudah pasti yang membuat aku bertekuk lutut kali ketiga adalah pemandian air panas Cipanas.

KAMPUNG DOLLAR

Sudah hukum alam jika suatu kampung dinamai sesuai dengan peristiwa sejarahnya. Seperti kampung Ciwaru di Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, menurut warganya dahulu banyak pohon waru, sedangkan Kampung Tegal Duren alias Tegal Reren yang berarti tempat peristirahatan para jawara.

Seperti halnya kedua kampung itu, sejarahpun berlaku pada kampung Cipanas. “Dahulu kampung ini bernama kampung Dana, Desa Luhur Jaya,” kata Memet Rahmat pengelola pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Karena terdapat sumber air panas maka saat H. Kardan menjabat sebagai lurah, kampung itu diberinama “Cipanas”. Hal itupun dibenarkan oleh H. Acep Soheh (65) sesepuh kampung Cipanas. Menurut Acep, tempat ini tak lepas dari peran ayahnya, H. Kardan dan dibantu rekannya, H. Ukik Sanukri.

Ternyata Cipanas selain memiliki kelebihan air panas, tanahnya juga subur. Hal itu dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Hasil alam yang sangat membumi saat itu adalah cengkeh. Bahkan saking banyaknya cengkeh dari kampung Cipanas, pada tahun 1975 berdiri pabrik minyak cengkeh. Dari hasil itulah banyak warganya yang berangkat haji ke tanah suci Mekkah. Maka amat wajar jika mendapatkan julukan Kampung  Haji Cengkeh. Harga jual cengkeh sama dengan harga satu gram emas. “Bahkan ada tetangga kampung yang mengatakan Cipanas merupakan ‘Kampung Dollar’, karena penduduknya kaya-kaya,” ujar H. Dudi, yang pergi haji dari hasil cengkeh.

Namun masa-masa emas itu hilang, ketika pengelola Badan Penyalur Petani Cengkeh (BPPC) dipegang Tommy Soeharto. Akhirnya, petani Cipanas banyak yang mengeluh soal harga jual. “Dari harga Rp 20.000,-/kg turun s/d Rp 4.000,-/kg,” kata Iyar Sumiarsa (55) RW Kampung Cipanas.

PENDIDIKAN

Anugerah air panas dan hasil bumi membuat warga Cipanas tempo dulu mengenal pendidikan sekolah, itu terbukti adanya bangunan Sekolah Rakyat (SR). Namun, karena tempat itu dijadikan markas Kolonial Belanda, akhirnya gedung itu dibakar warga setempat. Kendati begitu, warga Cipanas pernah meraih kejayaan pada kurun waktu 1970-1980-an dimana harga cengkeh saat itu sedang melambung tinggi. Alhasil tak sedikit anak-anak mudanya yang menimba ilmu dari bangku sekolah dan bilik Pesantren.

Semangat belajar warga Cipanas terus membara. Mereka melanjutkan ke Sekolah Tingkat Pertama dan Sekolah Menengah Atas. “Walaupun SMP dan SMA-nya harus ke Jasinga dan Rangkasbitung,” beber Iyar Sumiarsa.  “Bahkan pada tahun 1971 sekitar 20 orang anak sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Bogor, Jakarta, dan Serang,” tambahnya. Hal itu dibenarkan Ketua Rukun Warga Cipanas, Iyar Sumiarsa, “Sekitar 75% sudah melanjutkan ke Perguruan Tinggi, bahkan banyak lulusan kuliah dari luar daerah.”

Kendati masa emas itu sudah terlewat, namun eksistensi warga yang dulu penghasil cengkeh ini, terus meningkatkan taraf hidup lewat bidang pendidikan semakin mengalir deras, apalagi Pemda Lebak bercita-cita ingin menjadikan Rangkas sebagai kota pelajar dan Lebak Kota Pendidikan. Otomatis citra Lebak yang tertinggal dalam bidang pendidikan dan ekonomi dengan kabupaten lain yang ada di Banten cepat atau lambat pasti akan berubah.

“Cipanas sendiri bermimpi menjadi Kampung Santeri,” kata Camat Cipanas, H. Sukandi Mangkualam, S. Sos saat ditemui wartawan www.rumahdunia.com di pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Tambahnya, “Di Cipanas sudah ada sekolah-sekolah diantaranya: SDN 1 Cipanas, SDN 3Cipanas, SMPN 1 Cipanas, SMP Lebak Gedong, SMAN 1 Cipanas, SMK 1 Cipanas, Pondok Pesantren modern seperti La Tansa, Nurul Madaany, Al Farhan, Futuhyahman, dan sekitar 82 Pondok Pesantren Salafi.

PEKERJAAN

Boleh saja Cipanas jadi “kota santri” dan banyak yang kuliah di kota lain di luars Rangkas. Tapi tidak serta merta bisa mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Kampung yang berjumlah 150 kepala keluarga ini termasuk kampung yang berkembang secara fisik dan non fisik. Namun sebagian dari mereka ada juga yang jadi guru, bidan, pedagang, sopir, Salesman, dan tak sedikit juga yang pengangguran. Semestinya kampung Cipanas maju bukan hanya dari Sumber Daya Alamnya saja tapi Sumber Daya Manusianya pun harus mapan. Kata Iyar Sumiarsa, “Pada intinya mereka tak mau bekerja keras dulu. Mereka ingin langsung sukses”.

Hal senada pun diutarakan H. Dudi, pemilik rumah makan dan penginapan “Simpang Tiga”. Dia berharap agar kampung Cipanas banyak didatangi penanam modal. “Sehingga bisa menyerap tenaga dari kerja dari sini,” harapnya.

Tak mau ketinggalan H. Acep Soheh selaku sesepuh kampung berujar, Cipanas yang termasuk kaya akan sumber daya alam objek wisata semoga maju dalam segala hal. “Terutama Sumber daya manusia,” katanya.

KHASIAT

Air panas adalah anugerah bagi warga Cipanas. Lokasi yang masih dikelilingi gunung-gunung yang hijau dan lebat, merupakan pemandangan yang eksotik di kala menjelang fajar dan sore hari. Apalagi di kampung ini terdapat objek wisata alam, seperti pemandian air panas, Arung Jeram, dan air terjun Lebak Gedong.

Salah satu objek wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan adalah tempat pemandian air panas Tirta Lebak Buana. Konon, khasiatnya banyak menyembuhkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, jerawat, stroke, rheumatik, asam urat, urat saraf, dan lain-lain. “Rasanya agak enakan,”kata Acih (49) asal Bogor, yang menderita rheumatik. Lain hal lagi Depi, guru Olah Raga MI Mahaberang ini berkunjungan ke Tirta Lebak Buana untuk mengajarkan murid-muridnya renang.

Nah, kalau Anda punya penykit seperti di atas, jangan ragu, datang saja ke Cipanas! (Harir Baldan)

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010