Tengku Rahmat (46): HIDUP PENUH KERJA KERAS
langlang | Jawara | December 31st, 2009 | 2 Comments »
HIDUP KERJA KERAS
Aku adalah lelaki kelahiran Serang 46 tahun silam dengan nama lengkap Tengku Rahmat. Tumbuh di tengah keluarga yang sederhana membuat aku sejak kecil telah terbiasa mengisi waktu dengan kerja keras. Semasa aku masih duduk di bangku SMP, aku telah memulai mencari uang dengan menjadi Ball Boy tenis lapangan. Tugasku ialah mengambil setiap bola yang jatuh. Pekerjaan ini aku lakukan untuk sekedar mendapatkan uang jajan dan sebagai biaya tambahan sekolahku.
Selulus SMP, dengan bermodalkan nekat seorang diri aku langsung merantau ke Bandung. Di kota kembang itulah aku melanjutkan pendidikanku ke bangku STM dan mengambil jurusan mesin. Untuk membiayai hidup dan pendidikan, aku kembali menjadai Ball Boy tenis lapangan. Selulus STM, karirku di tenis lapangan meningkat, yakni menjadi asisten pelatih. Tak puasa menjadi asisten pelatih, akupun mengikuti kursus untuk menjadi pelatih tenis selama dua bulan.
Pada tahun 1985, akhirnya aku menjadi pelatih tenis lapangan di Bandung Iternasional School (BIS). Sebagai sekolah tenis internasional, tentu murid-murid di BIS yang kulatih berasal dari mancanegara. Saat menjadi pelatih inilah secara perekonomian aku mengalami peningkatan. Namun pada tahun 1997, bertepatan dengan krisis moneter, BIS ikut bangkrut. Secara otomatis aku pun kehilangan pekerjaan sebagai pelatih di BIS. Untuk tetap membiayai hidup anak dan istriku, aku tetap menjadi pelatih tenis lapangan bagi para pegawai kantoran. Namun karena pengasilannya tak mencukupi, aku memutuskan berhenti menjadi pelatih dan kembali ke kota kelahiranku di Serang.
Ternyata mencari pekerjaan di kota kelahiranku pun tak mudah. Izajah STM yang kumiliki tak berarti banyak. Akhirnya dengan mengorbankan rasa gengsi, aku menekuni pekerjaan baru, yakni menjadi seorang pemulung. Dengan bermodalkan karung, setiap harinya aku mencari nafkah di tempat-tempat sampah, tempat yang untuk banyak orang dianggap menjijikan. Setelah mempunyai cukup modal, aku tidak lagi menjadi pemulung, tapi menjadi tukang beli barang bekas yang setiap hari berkeliling kota dengan menarik gerobak.
Karena manajemen uang yang baik, akhirnya aku memiliki modal untuk menjadi bos bagi para pemulung. Saat ini aku telah memiliki sebanyak 30 orang pemulung yang terdiri dari usia anak-anak dan orang dewasa. Khusus untuk anak-anak, mereka hanya diperbolehkan memulung pada hari minggu, hari selebihnya mereka gunakan untuk sekolah.[RG]




January 9th, 2010 at 7:39 pm
Sepertinya aku kenal dengan orang ini. jika tidak salah dia orang Kubil yang tak jauh dari kampungku, Ciloang. Dulu, ketika aku masih tukang gorengan. aku sering dagang di lapaknya. bahkan ibuku juga. Tapi, sukurlah kalau dia sudah sukses lagi dan banyak anak buahnya.
February 12th, 2010 at 9:54 pm
ikut aja ah