SENJA DI SELAT SUNDA [21]
Gola Gong | Novel | December 31st, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
siang bergulir
memalaskan ketakberdayaanku
menelanjangi waktu
mencari goresan hari
membuat sepenggal harapan
jadi nyata
untuk kembali bermimpi
panjang sinar meriak
seketika celah bumi hangus
penuh cahaya penuh debu
memintal senjang jadi tak berjarak
anak waktu mengalir lalu
tak berbekas tak ada tapak
hidup harus berjalan, katamu.
***
Petualangan besar buatku pun dimulai. Satu per satu kami memasuki leuweung kolot, hutan Baduy di pintu selatan. Aku tahu bahwa masuk ke Kanekes lewat jalan lolongok sangatlah tabu, karena dikhawatirkan akan “menginjak” tanah larangan, Arca Domas, yaitu titik awal yang dipercaya orang Kanekes sebagai tempat bumi ini mulai mengeras. Tempatnya di Bukit Pamuntuan, di hulu Ciujung pada ujung barat Pegunungan Kendeng. Namun lokasinya sangat dirahasiakan. Cuma puun Cikeusik dan beberapa orang kepercayaannya saja yang tahu.
“Bagaimana kalau kita ‘nginjek’ tanah larangan?” bisikku khawatir pada Nana.
“Tanah larangan itu ada di dalam hutan,” Nana meyakinkan. Tambahnya, “Sepanjang kita nggak keluar dari jalur jalan setapak, aman deh!”
Tapi beberapa kali kami berpapasan dengan orang Kanekes, yang panamping atau tangtu. Wajah mereka seperti berkesan tidak suka. Mereka cuma melintas apa adanya saja. Moga-moga ini cuma perasaanku saja.
“Ati-ati nya, aya rampok! (Hati-hati, ada perampok!)” aku mendengar seseorang dari mereka memperingatkan.
Eri menerangkan, bahwa seorang dari perampok itu sudah tertangkap basahdi perhatasan leuweung kolot. Terus terang saja, selain lelah, hatiku tetap saja didera ketakutan yang tidak enak. Selain akan serangan dari perampok yang tiba-tiba, juga “kualat” karena melanggar tradisi setempat terus membayangiku.
Sepanjang perjalanan Eri mencoha mengusir rasa takutku dengan joke-joke-nya. Aku tertawa juga. Misalnya Eri melucu tentang seorang Baduy yang salah makan. Maksud hati mengunyah sukro, apa daya kamper yang dimakan! Anekdot yang lainnya lagi, ketika seorang Baduy keheranan melihat tamu dari kota memakan sabun (baca: keju).
Hatiku agak terhibur juga. Apalagi ketika orang-orang ikut tertawa ketika melewatiku. Kedengarannya mereka bergembira. Tapi ketika melihat Nana yang tersenyum simpul, aku jadi curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres padaku.
Nana membalik. Berjalan ke arahku. Dia mengambil sesuatu yang menggantung di ranselku. Huh, kerak itu! Wajahku betul-betul panas dan merah. Bagi seorang wanita, ketahuan tidak bisa masak sangat memalukan! Apalagi kepergok nasi yang ditanaknya hangus! Aku tahu siapa biang keroknya! Aku pelototi Eri. Agak aneh anak ini. Ketika orang-orang was-was dengan para perampok, dia masih sempat untuk berbuat iseng. Tapi si brengsek itu cuma cengar-cengir. Aku ambil kerak itu. Aku lempar sekeras-kerasnya pada dia.
Eri menghindar sambil tertawa ngakak.
Nana menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan lagi. Dia berada di belakangku, bermaksud untuk melindungiku dari gangguan Eri.
Aku cuma menggigit bibir dan tersenyum saja ketika menyadari sedang berada di “dunia kecil” yang masih mempunyai aturan hidup sendiri. Desa Kanekes ini luasnya sekitar 5000 Ha. Terdiri dari tanah perkampungan dan pertanian (2000 Ha), serta sisanya tanah tutupan (hutan lindung). Ada 46 kampung Baduy, termasuk tiga kampung tangtu, Baduy Dalam.
Leuweung kolot sudah kami tinggalkan. Pohon-pohonnya tidak terlalu besar, tapi cukup rapat. Kami mesti hati-hati ketika menyusuri jalan setapak yang ditutupi akar-akaran. Atau juga menyusuri aliran air yang berbatu-batu. Serba licin dan berlumut.
Beberapa kampung panamping, Baduy Luar, kami lewati. Di kampung-kampung Baduy, pada siang hari penduduknya pergi menggarap ladang atau mencari kayu bakar. Paling-paling wanita tua dan bocah-bocah saja yang tinggal di rumah. Tapi untuk menjaga keselamatan kampung diserahkan pada petugas ronda.
Orang panamping sudah termasuk yang mau menerima kebudayaan modern. Hal-hal yang ditabukan seperti radio, pakaian yang lebih dari dua warna (hitam dan putih), peralatan dapur dari gelas dan logam, memakan binatang berkaki empat, sudah merasuki keseharian mereka. Tapi apa pun perubahan yang terjadi di sini, kesederhanaan masih terpancar jelas di wajah-wajah mereka. Kesederhanaan dalam pola pikir dan hidup.
Walaupun mereka sudah meninggalkan tradisi leluhur, yang masih dipertahankan oleh saudara-saudara mereka di tiga tangtu; Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo, mereka tetap tidak rakus. Mereka cuma memenuhi sekadar kebutuhan hidup saja. Kesederhanaan itu bukanlah dikarenakan oleh ketidakberdayaan ekonomi, melainkan ajaran hidup yang dianut. Bagi mereka kesederhanaan merupakan kewajiban yang harus diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari.
Berbeda memang dengan orang tangtu. Mereka berupaya memenuhi kebutuhan hidup dan ekonominya di bidang pertanian secara tradisional. Mereka bertani dengan sistim slash and burning, berpindah-pindah dalam siklus sekitar 4 -6 tahun, karena secara tradisi perputaran kembali ke ladang semula harus terjadi dalam jangka waktu yang ganjil. Jika mereka berpindah ke tempat yang lain, peremajaan hutan sudah dilakukan. Menggarap lahannya pun tanpa cangkul, tapi menggunakan arit, karena buat mereka bumi tidak boleh “dilukai”. [Bersambung ke bag. 22]




Leave a Reply