SENJA DI SELAT SUNDA [21]

advert

20b-Aktivis PerbukuanOleh Gol A Gong

siang bergulir

memalaskan ketakberdayaanku

menelanjangi waktu

mencari goresan hari

membuat sepenggal harapan

jadi nyata

untuk kembali bermimpi

panjang sinar meriak

seketika celah bumi hangus

penuh cahaya penuh debu

memintal senjang jadi tak berjarak

anak waktu mengalir lalu

tak berbekas tak ada tapak

hidup harus berjalan, katamu.

***

Petualangan besar buatku pun dimulai. Satu per satu kami memasuki leuweung kolot, hutan Baduy di pintu selatan. Aku tahu bahwa masuk ke Kanekes lewat jalan lolongok sangatlah tabu, karena dikhawatirkan akan “menginjak” tanah larangan, Arca Domas, yaitu titik awal yang dipercaya orang Kanekes sebagai tempat bumi ini mulai mengeras. Tempatnya di Bukit Pamuntuan, di hulu Ciujung pada ujung barat Pegunungan Kendeng. Namun lokasinya sangat dirahasiakan. Cuma puun Cikeusik dan beberapa orang kepercayaannya saja yang tahu.

“Bagaimana kalau kita ‘nginjek’ tanah larangan?” bisikku khawatir pada Nana.

“Tanah larangan itu ada di dalam hutan,” Nana meyakinkan. Tambahnya, “Sepanjang kita nggak keluar dari jalur jalan setapak, aman deh!”

Tapi beberapa kali kami berpapasan dengan orang Kanekes, yang panamping atau tangtu. Wajah mereka seperti berkesan tidak suka. Mereka cuma melintas apa adanya saja. Moga-moga ini cuma perasaanku saja.

“Ati-ati nya, aya rampok! (Hati-hati, ada perampok!)” aku mendengar seseorang dari mereka memperingatkan.

Eri menerangkan, bahwa seorang dari perampok itu sudah tertangkap basahdi perhatasan leuweung kolot. Terus terang saja, selain lelah, hatiku tetap saja didera ketakutan yang tidak enak. Selain akan serangan dari perampok yang tiba-tiba, juga “kualat” karena melanggar tradisi setempat terus membayangiku.

Sepanjang perjalanan Eri mencoha mengusir rasa takutku dengan joke-joke-nya. Aku tertawa juga. Misalnya Eri melucu tentang seorang Baduy yang salah makan. Maksud hati mengunyah sukro, apa daya kamper yang dimakan! Anekdot yang lainnya lagi, ketika seorang Baduy keheranan melihat tamu dari kota memakan sabun (baca: keju).

Hatiku agak terhibur juga. Apalagi ketika orang-orang ikut tertawa ketika melewatiku. Kedengarannya mereka bergembira. Tapi ketika melihat Nana yang tersenyum simpul, aku jadi curiga. Pasti ada sesuatu yang tidak beres padaku.

Nana membalik. Berjalan ke arahku. Dia mengambil sesuatu yang menggantung di ranselku. Huh, kerak itu! Wajahku betul-betul panas dan merah. Bagi seorang wanita, ketahuan tidak bisa masak sangat memalukan! Apalagi kepergok nasi yang ditanaknya hangus! Aku tahu siapa biang keroknya! Aku pelototi Eri. Agak aneh anak ini. Ketika orang-orang was-was dengan para perampok, dia masih sempat untuk berbuat iseng. Tapi si brengsek itu cuma cengar-cengir. Aku ambil kerak itu. Aku lempar sekeras-kerasnya pada dia.

Eri menghindar sambil tertawa ngakak.

Nana menyuruhku untuk melanjutkan perjalanan lagi. Dia berada di belakangku, bermaksud untuk melindungiku dari gangguan Eri.

Aku cuma menggigit bibir dan tersenyum saja ketika menyadari sedang berada di “dunia kecil” yang masih mempunyai aturan hidup sendiri. Desa Kanekes ini luasnya sekitar 5000 Ha. Terdiri dari tanah perkampungan dan pertanian (2000 Ha), serta sisanya tanah tutupan (hutan lindung). Ada 46 kampung Baduy, termasuk tiga kampung tangtu, Baduy Dalam.

Leuweung kolot sudah kami tinggalkan. Pohon-pohonnya tidak terlalu besar, tapi cukup rapat. Kami mesti hati-hati ketika menyusuri jalan setapak yang ditutupi akar-akaran. Atau juga menyusuri aliran air yang berbatu-batu. Serba licin dan berlumut.

Beberapa kampung panamping, Baduy Luar, kami lewati. Di kampung-kampung Baduy, pada siang hari penduduknya pergi menggarap ladang atau mencari kayu bakar. Paling-paling wanita tua dan bocah-bocah saja yang tinggal di rumah. Tapi untuk menjaga keselamatan kampung diserahkan pada petugas ronda.

Orang panamping sudah termasuk yang mau menerima kebudayaan modern. Hal-hal yang ditabukan seperti radio, pakaian yang lebih dari dua warna (hitam dan putih), peralatan dapur dari gelas dan logam, memakan binatang berkaki empat, sudah merasuki keseharian mereka. Tapi apa pun perubahan yang terjadi di sini, kesederhanaan masih terpancar jelas di wajah-wajah mereka. Kesederhanaan dalam pola pikir dan hidup.

Walaupun mereka sudah meninggalkan tradisi leluhur, yang masih dipertahankan oleh saudara-saudara mereka di tiga tangtu; Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo, mereka tetap tidak rakus. Mereka cuma memenuhi sekadar kebutuhan hidup saja. Kesederhanaan itu bukanlah dikarenakan oleh ketidakberdayaan ekonomi, melainkan ajaran hidup yang dianut. Bagi mereka kesederhanaan merupakan kewajiban yang harus diwujudkan dalam kegiatan sehari-hari.

Berbeda memang dengan orang tangtu. Mereka berupaya memenuhi kebutuhan hidup dan ekonominya di bidang pertanian secara tradisional. Mereka bertani dengan sistim slash and burning, berpindah-pindah dalam siklus sekitar 4 -6 tahun, karena secara tradisi perputaran kembali ke ladang semula harus terjadi dalam jangka waktu yang ganjil. Jika mereka berpindah ke tempat yang lain, peremajaan hutan sudah dilakukan. Menggarap lahannya pun tanpa cangkul, tapi menggunakan arit, karena buat mereka bumi tidak boleh “dilukai”. [Bersambung ke bag. 22]

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010