SASTRA YANG BERPIHAK PADA HAM
langlang | Warta Banten | December 31st, 2009 | No Comments »
SERANG – Bengkel Penulisan Sastra (Belistra) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Rabu (30/12) menggelar seminar dengan tema ‘Sastra dan HAM: Pemajuan HAM Melalui Karya Sastra’, yang bertempat di Auditorium Untirta, Gedung B Lantai 3. Acara yang dihadiri 200 peserta dari ormawa Untirta, IAIN, UNSERA, Rumah Dunia dan Kubah Budaya berlangsung cukup meriah.
Seminar dibuka Odien Rosidin, S.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam seminar ini, hadir pembicara yakni, Muhyi Mohas, S.H., M.H. Firman Venayaksa, M.Hum, dan Sutanandika, selaku perwakilan dari Imparsial.
Dalam seminar ini salah satu pembicara, Firman Venayaksa membacakan makalah dari kutipan Lurance Perrine (1959) bahwa menurut Basuki (2005; 71) sastra dibagi menjadi dua; yang menghadirkan istilah escape literature dan interpretative literature yang masing-masing punya kelasnya sendiri. Sastra yang masuk pada katagori pertama, adalah karya sastra yang bertujuan hanya untuk menghibur, sekadar mengisi waktu senggang. Sastra jenis ini justru mengajak pembaca menjauh dari kenyataan kehidupan dan membuat pembacaanya lupa dengan apa yang dihadapinya. Tujuannya cuma memberi kesenangan. Sedang sastra katagori kedua ditulis untuk memperluas, memperdalam, serta mempertajam kesadaran pembacaanya mengenai kehidupan. Dengan melalui imajinasi, sastra dalam katagori ini membawa pembaca lebih dalam ke dunia nyata, membuat orang mampu memahami masalah-masalahnya di dalam kehidupan. Sebuah karya sastra yang interpretative meneragi aspek kehidupan dan perilaku manusia, memberi pemahaman mendalam mengenai sifat dan kondisi eksistensi manusia.
Ketika sastra disandingkan dengan persoalan HAM, maka sastra yang dimaksud lebih diterapkan pada interpretative literature. Sastra adalah refleksi atas realitas. “Setiap karya sastra selalu mengait dengan kemanusiaan. Dalam segala hal sastra selalu bicara,” kata Firman selaku pembicara.
Setelah pemaparan dari ketiga pembicara tersebut, dibuka sesi tanya-jawab. Dalam sesi tersebut, Haerudin, dari mahasiswa Prodi Diksatrasia menanyakan tentang bagaimana cara karya sastra memajukan HAM. Hal ini kemudian dijawab Firman, “Hak asasi manusia itu adalah prinsip. Sastra juga bisa jadi senjata untuk mengkritik pemerintah, ketika pemerintah tidak memperdulikan aspirasi kita, maka sastra sangat berperan dalam kemanusiaan.”
Sebelum acara seminar dan diskusi diakhiri, dilanjutkan dengan pembacaan puisi dari perwakilan masing-masing internal dan external kampus. Menurut Dwi Muksin Yulianto, selaku ketua pelaksana, tujuan diadakannnya seminar ini, untuk mengajarkan khususnya pada Belistra mengenai realitas kehidupan dan hak asasi manusia. “Untuk kedepannya, Belistra akan terus mengadakan kegiatan yang sama, dengan tema yang lebih luas lagi,” tutur Muksin [wayang]
TANGERANG – Sebuah mobil mewah merek BMW warna silver hangus terbakar di ruas tol Jakarta – Merak kilo meter 18.100 Tangerang.
TANGERANG – Ribuan bibit dan benih tanaman berbahaya dimusnahkan Balai Besar Karantina Hewan dan Tumbuhan Bandara Soekarno Hatta. Pemusnahan ini dilakukan langsung menteri Pertanian Suswono pada Rabu (30/12).
TANGERANG – Jenazah Asiyah Kiki (36) TKI asal Cianjur, Jawa Barat tertahan di Kargo Bandara Soekarno Hatta lantaran pihak penyalur jasa TKI yang memberangkatkannya tak mau bertanggung jawab. Jenazah baru dapat dipulangkan setelah petugas deplu turun tangan.
Oleh Gol A Gong

