PANTAI KELAPA TUJUH, ASMIN DAN PERAHU TUA
Gola Gong | Kampong | December 30th, 2009 | No Comments »
PANTAI KELAPA TUJUH, AMIN, DAN PERAHU TUA
MERAK – Riuh debur ombak dan angin laut di pantai Kelapa Tujuh, yang terletak di kawasan Suralaya, Kota Cilegon, terus menampar Asmin. Lelaki berusia 60-an ini masih terpaku sendiri di dek perahu kecil miliknya. Lalu lalang pengunjung pantai yang cukup ramai terus melewati Asmin. Sejak Pukul 10.00 WIB, Asmin belum juga mendapatkan penumpang. Padahal sebentar lagi jam menunjukan Pukul 14.00 WIB. “Karena sepi, sebentar lagi juga saya mau pulang,” katanya dengan nada pelan.
SAMPINGAN
Kadang Asmin berangkat dari rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Kelapa Tujuh, yaitu di Kampung Kubang Kepuh, Kecamatan Lebak Gede, Desa Suralaya. “Dari rumah ke Kelapa Tujuh ongkos Rp 2000,” Asmin menjelaskan.
Sebenarnya hari-hari Asmin diisi dengan bertani kacang dan pisang bersama istrinya, Eti (55) di kampung. Sedangkan jadi penyewa perahu adalah profesi sampingan yang dilakoninya sejak dua tahun lalu. Seperti Jumat (25/12) pagi itu, meski hari libur Natal dan menjelang tahun baru 2010, Asmin belum juga mendapat uang sepeserpun. Kadang untuk makan Asmin membawa bekal sendiri dari rumah, tapi tak jarang juga Asmin makan di warung sekitar. “Biasanya saya ngutang (hutang) dulu di warung. Bayarnya kalau sudah punya uang,” terang Asmin yang memilliki lima cucu.
Penghasilannya dari tukang penyewa perahu dirasakan Asmin tidak terlalu membantu untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari. Asmin sadar, pekerjaan jadi tukang penyewa perahu hanyalah pekerjaan sampingan, iseng-iseng sambil menunggu panen kebunnya tiba.
Untuk penyewaan perahunya, Asmin memasang harga Rp 100.000,- untuk seharian berlayar. Tidak hanya menyewakan perahu, Asmin juga mengisi kekosongan sambil menyewakan ban pelampung untuk berenang para pengunjung pantai. Harganya Rp 3000,- untuk satu pelampung. Dari jasa menyewakan pelampung ini Asmin kadang mendapatkan uang antara Rp 10.000 sampai Rp 20.000 dalam satu hari. “Namanya juga usaha. Kalau lagi ada ya, ada. Kadang nggak dapat sama sekali,” kata Asmin.
Untuk modal membuat perahu, Asmin tak perlu mengeluarkan dana sepersenpun. Pasalnya, perahu dibuat sendiri. Untuk bahan membuat perahu, Asmin mengambil kayu dari gunung Suralaya “Wah, kalau beli mungkin harganya sampai jutaan.,” Asmin menjelaskan.
Jika Asmin pulang, perahunya dibiarkan tinggal di bibir pantai. Sedikitpun tak ada rasa khawatir perahunya takut hilang atau ada yang mencuri,. “Disini aja. Nggak di ikat, biarin aja, udah biasa kok dibiarin disini,” kata Asmin tenang-tenang saja.
PETANI
Di Kampung, Asmin mempunyai lahan kebun seluas 2 hektar, yang ditanami kacang dan pisang. Selama tiga setengah bulan Asmin memanen hasil bumi itu. Keuntungan dari hasil menyewakan perahu atau ban pelampung sangat jauh berbeda dengan penghasilan dari kebunnya. Untuk satu liter kaleng kacang tanah dijual dengan harga Rp 3500,- “Dijual pada saudagar-saudagar kacang yang sengaja datang ke desa-desa,” cerita Asmin. Kadang hasil bumi Asmin sampai ratusan kaleng jumlahnya.
Asmin yang sudah setua ini mempunyai mimpi ingin hidupnya lebih baik, “Saya cuma ingin hidup enak dan layak,” tukas Asmin yang dirasanya pemerintah tidak memperdulikan nasib orang-orang miskin, seperti dirinya yang seorang petani dan penyewa perahu. [Ahmad Wayang]




Leave a Reply