SENJA DI SELAT SUNDA [20]

advert

MenarakuOleh Gol A Gong

Di antara tidurku yang setengah terjaga, aku dengar suara kasak-kusuk. Ketika aku buka mata, betapa gelapnya suasana sekeliling. Aku hampir saja berteriak, karena dadaku ini seperti terhimpit. Aku belum pemah tidur dalam kegelapan seperti ini. Tapi mulutku langsung terkunci, begitu ingat aku sedang berada di mana. Aku meraba-raba arlojiku. Mencoba melihatnya di keremangan cahaya. Aku pijit lampu penerang arloji. Jam satu malam! Aku lihat Nana sedang dikerubuti kawan-kawannya. Aku mencoba memasang kuping, mencuri percakapan mereka.

“Tadi Eri ngeronda ke batas hutan,” bisik Nana seperti takut kedengaran oleh aku. “Dia lihat ada api di sana.”

“Api unggun?” Rini memegangi lengan Nana.

Nana mengangguk.

“Perampok itu?” Yayah agak cemas.

“Belum pasti,” hibur Nana. “Eri, Yanto, sama Aris sedang menyelidiki. Siapa tahu mereka rombongan seperti kita.”

“Kalau bukan?” Mira gelisah.

“Jangan berisik,” Nana melihat kepadaku.

Aku pura-pura tertidur lelap.

“Kita balik lagi ke kampung aja, deh,” usul Yayah. “Tengah malam begini?” Nana mengingatkan.

“Daripada ketemu perampok!” Rini ketakutan.

Tiba-tiba Eri dan Aris muncul.

“Yang lain mana?” sura Nana tegang.

“Jaga-jaga,” ini suara Aris.

“Tina tidur?” Eri melihat ke arahku. “Bagus. Jangan sampai dia tahu, ya.”

“Gimana? Betul mereka perampok itu?” Rini tak mau diam.

“Ada tiga orang lelaki sedang berkemah di batas hutan,” keterangan Eri ini membangunkan aku.

“Apa? Perampok itu ada di sini?” pekikku.

Nana memelukku, “Tenang, Tina.”

“Tenang bagaimana, Nana?” aku meronta.

“Bakal bahaya kalau kita semalaman ketakutan di sini,” aku tetap memilih untuk kembali ke kampung.

“Denger, denger dulu,” potong Eri. “Mereka nggak bakalan berani keluar dari persembunyian, karena tempat ini sudah dikurung. Apalagi sampai dateng ke tempat kita.”

“Apa rencanamu, Eri?” Nana tetap menenangkan aku.

“Kalian tidur aja. Biar kami jaga-jaga di luar. Besok pagi baru kita putuskan, apakah mau terus ke Baduy atau balik lagi ke kampung,” Eri keluar dari tenda.

Nana berdiri dan menyusul keluar tenda. Tinggal aku, Rihi,Yayah, dan Mira yang saling pandang dan merasakan ketakutan. Tidak lama Nana muncul lagi. Wajahnya tetap tenang, atau katakanlah ditenang-tenangkan agar kami ikut tenang juga. “Bagaimana, Nana?” sambutku.

“Kita tidur saja. Perjalanan kita masih panjang,” Nana mengambil tempat.

“Apanya yang tenang?” Rini gelisah lagi.

Nana tidak menjawab. Dia menyelipkan tubuhnya di antara aku dan Mira. Kami berdesak-desakan. Ketakutan akhirnya terkalahkan juga oleh rasa kantuk yang menyengat.

Kegelapan aku rasakan membelenggu seperti jubah-jubah penunggu hutan. Kegelapan yang menyeringai mempertontonkan gigi-gigi taringnya. Waktu menggelinding bagai derit pintu tua, seperti ikut menyeramkan suasana malam.

Aku menggeliat ketika seseorang menepuk-nepuk tubuhku. Burung-burung aku dengar bersahutan dengan riang. Aku keluar dari tenda. Warna kemerahan pun mengambang di langit timur.

Aku lihat Nana, Yayah, dan Rini sedang merebus air. Menyiapkan teh atau kopi panas, dan sarapan mie rebus. Selalu saja aku bangun paling akhir. Rasanya malu juga. Sebagian lelaki membereskan tenda. Aku pergi ke sungai, mencuci muka.

“Kita kembali ke kampung?” aku sudah membantu membukai bungkus mie.

“Ngapain balik lagi!” sambar Eri. “Nanti sore juga kita sampai di Baduy!”

“Tapi perampok-perampok itu?” aku menatapnya kesal.

“Sudah aku bilang, mereka nggak bakalan berani menampakkan wajahnya. Apalagi berani muncul di jalan setapak. Mereka itu sembunyi jauh-jauh di dalam hutan,” Eri bersikeras. Tiba-tiba Yanto menyentuhkan telunjuknya kebibir,menyuruh untuk diam. Dia menyuruh kami untuk bersembunyi. Aku berlari mengikuti Nana ke semak-semak. Eri, Toni dan Aris bersembunyi di batang pobon di mulut jalan setapak. Yang lainnya cuma menanti saja dengan perasaan was-was di depan tenda.

Ah, ternyata cuma serombongan Baduy Panamping, Baduy Luar yang hidup di sekitar Baduy Dalam; Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Ada tiga gadis muda belia memakai pemerah pada bibirnya. Mereka membawa buntelan. Dua bocah berambut panjang, yang memanggul pisang. Dan dua lelaki dewasa, yang menggotong weulit, atap dari daun kelapa. Mereka berpakaian serba bitam, yang menandakan identitas Baduy Luar. Kalau pakaian Baduy Dalam selalu ada unsur warna putihnya. Atau bisa juga serba putih.

Penduduk Baduy Luar ini membawa hasil bumi untuk ditukar pada kampung-kampung terdekat dengan kebutuhan sehari-hari, seperti garam, terasi, atau ikan asin. Begitulah kebiasaan mereka, kalau tidak berdagang ya paling-paling bertandang untuk melestarikan kehidupan bertetangga dengan masyarakat di luar wilayah mereka..

Lalu ada rombongan kedua. Kali ini lebih banyak. Selain yang membawa pisang, weulit, ada seseorang yang memanggul kayu bakar. Orang itu memakai topi laken dan pakaiannya kotor sekali.

Eri keluar dari persembunyiannya. Dia berlari mendekati si kayu bakar itu. Mencegatnya. Aku melirik Nana, yang tampak tegang. Aku yakin bakal ada sesuatu yang terjadi. Apalagi Yanto dan Aris ikut menghadang.

“Mau ke mana, Kang?” Eri menelitinya.

Si kayu bakar tidak menggubris. Dia mempercepat langkahnya, melewati rombongan Baduy panamping.

“Tewak tah, tewak! (Tangkap tuh, tangkap!)” teriak Eri mengejar.

“Rampok, rampok!” Yanto menimpali.

Si kayu bakar merasa posisinya terjepit. Dia membuang pikulan kayu bakarnya dan ngibrit. Tapi Eri lebih cepat dan sudah menubruknya. Mereka bergulingan di tanah. Yanto membantunya. Orang-orang Kanekes berhenti dan memperhatikan pergumulan itu. Eri mencekal perampok itu. Yanto menggeledah tas kecilnya. Ada beberapa perhiasan dan segepok uang.

“Mana yang dua orang lagi?!” bentak Eri.

Perampok ini menatapnya dengan beringas.

Eri menyuruh Aris mengikat perampok ini kuat-kuat. Lalu menyerahkannya pada rombongan Baduy Luar. Mereka menggiringnya ke kampung terdekat. Menyerahkannya ke kepala kampung.

“Kamu nekat, Eri!” protesku masih was-was.

Eri malah tertawa. “Yuk, kita berangkat!” katanya pada yag lain.

“Heh, bagaimana kalau yang dua orang lagi melihat tadi?” aku menolak untuk pergi. “Bisa berabe nanti!”

“Mereka tinggal dua orang! Kita bersepuluh! Kalian takut?” tantang Eri. “Percaya deh, mereka nggak bakalan berani menampakkan batang hidungnya!”

“Asal jangan kemalaman saja,” Yanto buka suara.

“Nggak bakalan. Sore juga udah nyampe,” Eri meyakinkan. “Tanggung dong kalau balik lagi. Ini justru keasyikannya!”

Aku meminta pendapat Nana, yang tampak mulai terpengaruh oleh omongan Eri. Aku lihat yang lainnya sudah membereskan ransel.

“Cuma resikonya, kita nggak bisa mampir lama-lama di Cikeusik dan Cikartawana,” Eri menyebut dua kampung Baduy Dalam. “Sasaran kita langsung ke Cibeo aja!” tegas Eri.

Aku agak kecewa juga. Berarti aku tidak akan melihat kehidupan di dua kampung Baduy Dalam yang masih murni memegang aturan adat. Bahkan agak tertutup menerima tamu dari luar wilayah mereka. Menurut Nana, kampung Baduy Dalam terakhir, Cibeo, sudah tercampur dan agak terbuka pada kehidupan dunia “luar”. Kampung inilah yang tampaknya dipersiapkan untuk “terbuka” menyambut wisatawan nusantara, yang ingin tahu tentang kehidupan mereka. [bersambung ke bag. 21]

***

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010