CUCU MIMPI JADI PNS
rumahdunia | Cerpen | December 29th, 2009 | 3 Comments »
Oleh Ahmad Wayang
Cucu menggoreskan lipstick berwarna merah pada bibirnya yang tipis dengan sangat hati-hati sekali. Pipinya yang mulus makin mengkilap licin setelah bedak bermerek “Gadis” menyapu pipi indahnya.
Tak seperti biasanya, pagi-pagi sekali Cucu sudah begitu siap dan rapih. Padahal, jika hari-hari biasa Cucu masih malas-malasan tidur di kasur kecilnya. Tapi, pagi ini lain. Cucu sudah berdandan. Baju kemeja putih yang sudah dikenakan Cucu begitu selaras dengan celana panjang hitamnya, yang mencekik lekuk pingulnya. Sepatu slop hitam murahan sudah membungkus kedua telapak kakinya. Dua tiga kali Cucu menyemprotkan parfum merek dalam negeri pada tubuhnya. Sementara tas hitam kesukaanya sudah dari tadi bertengger di ujung kasur yang masih berantakan.
Cucu gelisah saat handphonenya berbunyi. SMS itu ternyata dari Septi. Dandanannya terpaksa dipercepat. Cucu melangkah dengan sedikit terburu-buru. Cucu segera menyambar tas hitamnya sambil keluar dari kamar. Cucu menyampirkan tas ke bahu kirinya. Sementara map berwarana cokelat digepit di tangan kanannya. Di dalam hatinya Cucu berdoa, “Pokoknya saya harus lulus dan jadi PNS.”
Cucu sibuk membalas SMS Septi, agar bisa bersabar menunggu. Sementara tangan kirinya sibuk mengunci pintu kamarnya yang berada di tengah-tengah kamar yang lain, kamar petak yang berbaris dengan rapih dan berbentuk sama.
KLIIK!
Gembok berukuran sedang sudah mengunci pintu kamarnya.
Tanpa disadari Cucu, Pak Duto merayap dari belakang mendekatinya, lalu bersembunyi di balik pohon seri yang cukup tinggi. Tangan Duto jadi memanjang, lalu sedikit mencubit pinggul Cucu yang montok.
“Aaaawww….,” Cucu menjerit kaget, tapi manja. “Ih, usil aja,” cemberut Cucu tak dihiraukan oleh Duto.
“Mau kemana kau? Tumben pagi-pagi begini sudah rapi?” kata Duto yang lebih pantas jadi kakek Cucu.
“Mau tahu aja!” cucu cuek. Makin sibuk saat Septi menelponya. Cucu mengangkat telepon dengan terburu-buru sambil memasang muka bersalah. “Iya Pi, udah mau berangkat nih,” kata cucu tak enak jadinya.
“Buruan ya,” terdengar suara dari seberang. Handphone dimatikan. Cucu melangkah cepat-cepat.
“Kok, bawa-bawa map lamaran segala, kaya mau kerja, aja?” tanya Duto, bapak enam orang anak ini terus nyerocos.
Cucu tak menanggangapi sapaan yang sudah jelas untuknya itu. Cucu pergi, tak memperdulikan Duto.
Sementara mata Duto tambah melebar melihat gaya berjalan Cucu yang mirip bebek air rawa, dari belakang. Duto menggeleng-gelengkan kepalanya.
Cucu hilang di tikungan.
Tapi, saat Ramin, penghuni kosan nomor 7 yang paling unjung, melewati Duto, langsung ditegurnya. “Ah Min, kau juga mau kemana?” sergah Duto mencegat Ramin, yang juga hendak mengadu nasib lewat jalan jadi CPNS.
“Aku juga mau jadi CPNS lah. Sama seperti si ayu Cucu itu,” jawab Ramin seadanya juga dengan terburu-buru. “Sory nih Pak To, Aku harus cepat pergi, takut macet,” katanya memberi alasan.
***
Cucu duduk berbaris bersama ribuan orang dari berbagai pelosok daerah bahkan desa dari segala penjuru arah. Cucu masih tak habis pikir, ternyata banyak benar orang yang ingin jadi CPNS. Itu penomena yang menurutnya sangat luar biasa. Cucu lalu ingat ketika SMA dulu, pernah mengalami hal yang kurang lebih sama. Namun ketakutan yang dirasanya dulu tak sama seperti sekarang. Pasalnya Cucu sudah mendapatkan bocoran jawaban yang didapatnya dari seseorang yang bisa dipercaya. Tentu saja untuk mendapatkan jawaban bocoran itu, Cucu harus ikhlas menggadaikan tubuhnya sebagai pengganti uang pelicin. Tapi tak apa, karena sebentar lagi Cucu akan mendapatkan pekerjaan tetap, yang enak dan santai.
Dalam hatinya, Cucu megucapakan selamat tinggal dengan statusnya sebagai Sarjana pengangguran yang tak jelas. Selama bertahun-tahun lamanya jadi pengangguran, Cucu yakin dengan jadi CPNS dirinya bisa menjadi orang yang kaya raya, tanpa harus lagi menjual tubuhnya yang seksi.
Di lapangan, tak ada yang merasa gampang mengisi soal-soal tes untuk bisa jadi CPNS. Semua gelisah, walau ada beberapa peserta CPNS yang terlihat santai seperti Cucu. Bahkan Cucu merasa ‘ulangan’ itu berjalan begitu mudah dan lancar. Sampai-sampai dengan rasa percaya diri yang tinggi, Cucu mampu mengisi lembar jawaban dengan santai dan enteng.
Tak pernah Cucu melirik mencari contekan. Dengan hati-hati dan sedikit mengeluarkan jurus dan trik yang ia dapatkan sewaktu SMA dulu dimainkanya. Cucu berhasil memindahkan kunci soal jawaban tes dengan mulus. Tanpa diketahui pengawas. Cucu tak tanggung-tanggung, langsung mengisinya. Dengan gerakan tangan yang cepat, Cucu terus menyalin. Cucu mengisinya secepat kilat. Cucu menghapal jawabanya. Semua soal dijawabnya. Cucu menghembuskan nafas lega. Nafas kemenangan.
***
“Gimana? Beres?” tanya Cucu pada Septi, di kantin luar.
Septi memasang wajah tegang. Mimiknya serius. “Jawaban kamu diisi semua? Dengan jawaban yang itu?” Septi menjelaskan pelan, sambil mengernyitkan dahinya.
“Emang kenapa?” tanya Cucu penasaran.
Septi menarik lengan Cucu ke belakang kantin yang sepi. Septi membisikan ke telinga Cucu dengan hati-hati. “Kita sudah ditipu. Jawaban yang kita anggap benar itu ternyata salah semua. Mampus! Kita bakalan nggak lulus,” bisik Septi makin gelisah.
“Terus?” tanya Cucu, shock.
“Ya, kita bakalan nggak lulus,” Septi mengulang dengan mantapnya.
Cucu tak tahu sudah berapa lama ia begong karena shock. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis itu, hingga sampai di tempat kosannya, Cucu terlihat seperti orang yang linglung dalam kamrnya. Cucu masih betah melamun. Ia masih tak percaya dengan kenyataan pahit ini, padahal Cucu sudah membeli pertanyaan itu degan menggadaikan tubuhnya. Cucu terkenang dengan laki-laki brengsek itu. Cucu merasa ditipu. Pemberian servis gratis itu, dirasanya mubazhir.
***
Tiba-tiba pintu kamar Cucu ada yang mengetuk dengan pelan. Mata Cucu melirik pada jam dinding. Sudah jam 3 malam. Pasti si tua bangka! Batin Cucu masih dongkol, lalu menyeret langkahnya membuka pintu kamar.
“Lagi males nih. Lain kali aja,” kata Cucu dengan mimik masih dongkol.
Si tamu langsung masuk saja, tanpa disuruh. “tolong, malam ini saja,” rayu Duto.
“Males ah,” Cucu mendorong Duto keluar.
“Eh, tunggu dulu. Lihat nih,” Duto dengan bangga mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan.
Seketika wajah cantik Cucu berubah makin bersinar terang. Cucu menghitung uang itu. “Cuma lima ratus ribu? Tambah, dong?” pinta Cucu manja. Sejenak Cucu berpikir. “Ya udah, nggak apa-apa. Ayo,” kata Cucu kemudian, yang langsung menarik lengan Duto masuk ke dalam kamar.
***
“Kamu ingin jadi PNS kan? Temui pak Gogon malam ini juga. Seratus persen kamu bakal dijamin lulus. Tanpa bayar. Soalnya dia sudah tahu seluk-beluk di pemerintahan. Dia orang dalam,” isi SMS Septi berbunyi aneh.
“Maksudnya?” Cucu masih tak mengerti.
“Pak Gogon itu, bisa bantu kamu buat dapetin kursi kerja di pemerintahan. Persyaratnya cuma satu. Bukan uang. Tapi, cukup berat syaratnya,” Septi menggantungkan kalimat pesannya.
Setelah mendapat penjelasan dari Septi lewat telephon, Cucu ahirnya mengerti. Ini taktik orang-orang gede, orang-orang dalam. Cucu sudah membulatkan niatnya. Itu pekerjaan mudah baginya. Walau syaratnya harus sampai tiga hari tiga malam, Cucu akan meladeni. Asalkan ia bisa jadi PNS.
Ia tak peduli dengan dosa atau cap ‘jalang’ jika seandainya perbuatanya diketahui orang.
Pokoknya Cucu ingin menjadi PNS.
Cucu akan memenuhi syarat itu. Jika memang itu adalah jalan satu-satunya menuju pintu masuk menjadi PNS, Cucu akan lakukan. Lagi pula syaratnya bukan sejumblah uang, melainkan hanya menemani makan malam sambil menggadaikan tubuhnya semalaman di hotel.
Cucu bersemangat lagi.
Matanya mulai menyala kemenagan.
***
Cucu seperti baru saja terbangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu. Tapi ia kemudian segera sadar jika sudah lama berada dalam tempat yang berbeda. Sambil tiduran Cucu memandangi langit-langit hotel yang bersih, putih dan rapih. Di salah satu hotel berbintang, di kota ini. Lampu-lampu yang terang dengan kasur yang empuk, beralaskan selimut tebal yang kini sedang digunakanya. Wangi parfum bunga membuat Cucu serasa berada di surga. Atau barangkali Cucu baru saja pergi ke taman surga bersama seorang lelaki setengah baya, yang baru dikenalnya.
“Pak Gogon, nanti saya jadi PNS kan?” tanya Cucu manja, sambil mengusap kumis Gogon yang tertata rapih.
Gogon mengeliat lincah. Bagai elang, geraknya cepat menerkam mangsanya. Birahi tak bisa lagi dibendungnya. Gogon kembali berlaku manja pada Cucu. “Urusan PNS itu ganpang bagi saya,” laki-laki itu membisikan pada Cucu.
Cucu makin tak sabar ingin jadi PNS. Di otaknya hanya ada kata PNS, yang harus didapatnya dalam waktu semalam. Cucu makin gerah dan tak sabar ingin segera jadi PNS. (*)
Biodata singkat:
Ahmad Wayang adalah relawan dan wartawan rumahdunia.com. Tulisan-tulisanya pernah dimuat di koran lokal Fajar Banten dan Radar Banten.




December 30th, 2009 at 2:03 pm
Innallillah… semoga tidak ada ‘neng Cucu’ di Banten ini…kalopun ada, kewajiban orang yang lebih berilmu untuk menjelaskan jalan hidup yang salah tersebut…
Untuk lulus murni jadi CPNS, memang suatu usaha yang berat namun bukan mustahil.
Keluarga dekatku yang lulus seleksi CPNS tanpa melalui jalan2 yang berdosa ada 1 kakak kandung dan 5 saudara ipar. Ada yang lulus lewat beasiswa BATAN/PUSPITEK, mengabdi 3 tahun jadi Bidan PTT, 2 tahun jadi Perawat RS, dan Murni Lulus Test Seleksi.
Istriku lulus test seleksi CPNS 2006, baru 3 tahun aku tinggal di Serang dan istriku sebelumnya hanya ibu rumah tangga yang sering diwaktu senggangnya terpaksa baca koran Kompas karena tv di rumah cuma 14inch dengan antena yang sengaja bikin bintik2 gambar tv-nya.
Adik istriku lulus CPNS 2009 di Lembaga Non-Departemen dengan penempatan Serang-Banten juga dengan murni. Status terakhir adalah kerja di suatu bank, dan akan mulai kerja 04Jan10 di Serang, Banten.
Kakak iparku lulus CPNS 2009 di Pemkot Tegal, murni. Status terakhir kerja sebagai Kepala Kantor Cabang Distributor yang gajinya lebih 3 kali dari gaji PNS Gol.III. Namun sebagai Ibu 2 anak, PNS lebih memberikan keleluasaan waktu kerja dengan hari sabtu-minggu libur dan peluang beasiswa yang banyak.
So, bagi teman2 yang berharap lulus Tes Seleksi CPNS, masih banyak jalan yang Halal dan Thoyibah.
Misal: lewat Beasiswa Ikatan Dinas, Pengabdian PTT tapi tetep belajar agar lulus Testnya, Cari posisi PNS yang langka (Contoh: Sarjana Sanitasi, Pelatih dll), dan Pilih posisi lowong yang sedikit/minim karena secara naluriah orang lain akan mencoba ikut test pada posisi lowong yang banyak seperti posisi ekonomi butuh 30 orang, tapi posisi sanitasi cuma butuh 2 orang malah kadang gak ada yang melamar. Jangan lupa selalu Update pengetahuan dan ilmu serta berdoa kepada Allah SWT.
Di dunia maya banyak contoh soal tes CPNS yang gratis juga tips and trick-nya.
Semoga teman2 yang ingin mencoba jadi PNS tetap semangat untuk belajar dan cerdas menghitung peluang keberhasilannya.
Wassalam…
January 17th, 2010 at 6:11 pm
iya kang Hendra, semoga tidak ada CPNS di
Banten (atau dimanapun) yang seperti ‘Neg Cucu’ dalam karya fiksi saya.
ini cuma karya fiksi, semoga tidak ada dalam kenyataan yang sebenarnya…amin.
salam:
@W, relawan RD
January 25th, 2010 at 10:56 am
cerita nya bagus banget…