THE SECRET MILLIONAIRE

advert

GillOleh Gol A Gong

Saya paling senang menonton program “Secret Millionare” (SM) di chanel BBC Knowledge, salah satu saluran di TV kabel Indovision. Banyak pelajaran berharga tentang kisah sukses para jutawan di Inggris yang masih mau berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dengan cara menyamar menjadi orang biasa. Kadang saya membayangkan bisa menjadi jutawan seperti Mo Chaudry, Emma Harrison, Gill Fielding, atau Garry Eastwood yang langsung mendermakan ratusan juta uangnya. Andai saya seperti mereka, Rumah Dunia yang saya dirikan tidak perlu terseok-seok.

JUTAWAN MENYAMAR

SM adalah program reality show yang mengajarkan tentang rahasia sukses para jutawan. Mereka berkeliaran dengan menyamar di kota-kota di Inggris, mencari orang-orang atau lembaga yang peduli pada lingkungan di sekitarnya untuk mereka bantu. Ada O’Harra yang mengurusi anak-anak dengan sekolah dramanya, Nenek Wynn relawan di panti cacat, atau Dona’s Dream House yang mengurusi keluarga miskin. Para jutawan itu membantu kelangsungan hidup lembaga atau perorangan dalam hal membayar sewa gedung, membeli peralatan, atau merenovasi gedung. Bahkan para pengurus lembaga social itu dibantu urusan ekonominya. Luar biasa.

Dalam setiap episode SM menghadirkan seorang jutawan yang menjalani hidup under cover dan memakai identitas baru. Dengan begitu, sang miliarder dapat menjalani hidup dalam sebuah komunitas yang kurang beruntung dengan aman. Selama sekitar sepuluh hari sang miliarder hidup side-by-side dengan mereka. Ia ikut merasakan masalah yang dihadapi individu atau komunitas itu. Misalnya, Mo Chaudry yang pada usia 8 tahun sudah meninggalkan Pakistan menuju London, menyamar dan bergabung di komunitas Pakistan. Emma Harrison menolong seorang nenek bernama Wynn yang jadi relawan. Dan Garry Eastwood yang menolon para veteran perang .

The SM
Episode paling berkesan adalah saat Gill Fielding pulang kampung ke East End London. Sudah 30 tahun Gill merantai di Sussex. Gill menyamar jadi pelayan restoran. Gill mencari-cari orang atau komunitas yang bisa dibantunya. Tiba-tiba saja Gill berkenalan dengan Sabrina, yang sedang membuat laporan di restoran tempatnya bekerja. Gill mengajak Sabrina berbincang-bincang. Sabrina ternyata ibu dengan 2 anak dan sedang mengandung, mengurusi para perempuan single parents. Sabrina tanpa laptop menyusun rencana. Gill merasa terharu, karena Sabrina yang terbatas ekonominya dan masih menumpang di rumah ibunya, masih sempat memikirkan nasib orang lain. Lalu Gill memberi Sabrina hadiah laptop, uang untuk membantu pemberdayaan para perempuan single parents sebesar 5000 pound. Bahkan luar biasa, Gill menghadiahi Sabrina sebuah rumah. Kata Gill, “Kamu harus mengurusi dirimu dulu, agar makimal mengurusi orang lain.”

Di TV lokal di Indonesia, variety show seperti itu banyak. Tapi tidak memiliki etika. Variety show seperti “Bedah Rumah”, “Uang Kaget”, “Dibayar Lunas”, dan “Minta Tolong” cenderung mengeksploitasi kemiskinan. Program-program  itu tidak mendidik masyarakat untuk menghargai kerja keras. Program itu cenderung mendidik tangan di bawah alias meminta-minta seperti pengemis. Berbeda dengan SM, dimana kita bisa banyak mengambil hikmah tentang proses sukses seorang jutawan.

RUMAH DUNIA

Saat menonton SM, pikiran saya melayang-layang ke Rumah Dunia, pusat belajar yang saya, istri (Tias Tatanka), Toto ST Radik, dan para relawan lainnya seperti Muhzen Den, Ibnu AA, Qizink La Aziva, Abdul Malik, Aji Setiakarya, Indra Kesuma, Langlang Randhawa, Rimba Alangalang, dan Firman Venayaksa dirikan di Serang, Banten pada Maret 2002. Dananya dari uang royalty novel-novel saya dan beberapa donatur yang tidak mengikat. Jujur saja, saya bukan jutawan seperti Emma Harrison, Gill Fielding, atau Garry Eastwood. Tapi, saya ingin sekali hidup ini bermakna seperti mereka. Saya ingin sekali bermanfaat bagi orang lain seperti mereka. Sekecil apapun. Hampir seluruh uang royalty novel-novel saya, setelah urusan keluarga tercukupi, saya investasikan di Rumah Dunia. Saya bahagia dengan Rumah Dunia.

Setelah Rumah Dunia menggelinding 7 tahun, saya mulai keteteran. Biaya operasional Rumah Dunia, yang bergerak di jurnalistik, sastra, film, dan teater membengkak dari tahun ke tahun. Beberapa donatur perorangan datang dan pergi. Pada tahun 2010 ini kegiatan Rumah dunia bertemakan “Change with Reading” dan membutuhkan dana opersional sebesar Rp. 6 juta/bulan untuk membayar listrik, internet, dua buah motor dinas, alat menggambar untuk anak-anak, perpustakaan keliling yang sebulan sekali road show ke kampung-kampung, diskusi di setiap akhir pekan, pertunjukkan teater, dan program beasiswa pendidikan. Sekitar 50% dana sudah tertutupi dari para donatur tetap setiap bulannya seperti Emye, Das Albantani, Mizan, Zainal “Teroris” Abidin, EZ, Nurhayati, Sofie Dewayani, Ganis Supriyadi, Aneka Swalayan, dan Lies YA/Huriyati.

Sebetulnya beberapa jutawan di negeri ini sudah datang ke Rumah Dunia. Mereka adalah Riska Ruswandi dari Marqueen, Netty dari Tupperware, DR. Zulkieflimansyah SE, MSc, Ahmad Mukhlis Yusuf, Herdy Prihanto, dan U. Saefudin Noor, yang menyumbangkan puluhan juta rupiah uangnya untuk pembebasan tanah Rumah Dunia tahap pertama. Bahkan mereka menjadi donatur tetap setiap bulan.

Saya membayangkan, ini agak utopia, para jutawan itu tersesat ke Indonesia dan mampir di Serang, Banten.  Mereka menyamar menjadi relawan di Rumah Dunia. Kalaupun saya tahu, tentu saya akan pura-pura tidak tahu saja. Bagi saya, uang mereka mengalir ke Rumah Dunia dan akan saya pergunakan untuk membebaskan tanah tahap kedua seluas 1873 m2 dimana di atasnya akan saya bangun gedung kesenian tempat para remaja berekspresi, lembaga pendidikan bernama SMA Generasi Baru, kios-kios untuk jajanan khas kampung seperti nasi rabeg, nasi pecel, nasi uduk, ruang pameran lukisan, dan play ground. Ah, jangan mimpi! Tapi, siapa tahu! (*)

*) Penulis adalah pendiri Rumah Dunia dan Pemimpin Umum majalah online www.rumahdunia.com dan www.rumahdunia.net

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat “Rumah Dunia”. Paket Kelas Menulis “Be a Writer” reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku “Be a Writer” karya Gol [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | July 18th, 2010