PUISI-PUISI MUHAMMAD ASIF
langlang | Puisi | December 28th, 2009 | 4 Comments »
Biografi Kehilangan
1
dalam liputan bayang-bayang bulan
aku melihat bayangmu sedang terjaga
terbaring senyap
bersama romansa yang tak kutahu apa
rembulan masih terus saja mengisahkan kenangan-kenangan
di bawah temaram cahaya yang kian redup
barangkali ia masih terus mengundang kita
untuk menari di altar sunyi
entahlah, semua tak kan ada yang tahu tentang kita
2
sajak kehidupanku akan kuabadikan
bersama harapanku
meski terkadang ada nyinyir darah,
bayang-bayang menakutkan, dan juga iblis-iblis
yang mewujud malaikat
aku tetap ingin menyanyikan harapanku
karena hanya dengan harapan
aku bisa membersihkan sisa-sisa diri
di bengawan surga
apalagi setelah makan minyak hati ikan kod
dari kedalaman jiwaku sendiri
seluruh aliran darahku pasti akan suci kembali
sisa-sisa makanan, juga unsur-unsur kimia pengkotor
akan segera tersapu
dan kehidupanku akan kembali segar bugar
meski tak tahu apa bayangmu juga ikut tersapu
3
pagi ini aku ingin minum secangkir kopi hangat
tubuhku masih terlalu dingin
oleh guyuran hujan tadi malam
sendi-sendiku menggigil
sampai ke jiwa
aku ingin menghangatkan diriku
dari dinginnya kehidupan
juga kenaifan-kenaifan masa lalu
lewat secangkir kopi hangat dan juga
kekuatan alam
ah, semuanya mesti tak sia-sia
setelah tubuhku hangat kembali
kesegalaan kehidupan pasti bisa mewujud lagi
tak perlu ada sesal pernah tertimpa
dinginnya kehidupan
***
Namamu
biar kuabadikan namamu
dalam langkahku
sajak-sajakmu dalam nyanyian sungaiku
biar kulukis pula wajahmu
dalam buku harianku
senyummu dalam keabadian bawah sadarku
namun tak perlu kau tahu
di mana letak kesejatianku
dalam kata-kata yang kau simpan
waktu itu
***
Mengejar Bayangmu
aku ingin berbuat sesuatu
untuk sekedar mengejar bayangmu
meski hanya diamku
sayang langkah-langkah kakiku terlalu kecil
sedangkan pagar yang menutupi rumahmu
terlalu tinggi
aku harus bagaimana?
di pasar tua sayur-sayur, buah kelapa membusuk
berbau tengik
barang-barang tua berserakan, serabutan
bercampur bersama dadaku yang hampir busuk
ah, aku hanya ingin melayang bersama radio-radio tua
siapa tahu masih bisa mendengar khabarmu di sana
(Solo, 8 Mei 2009)
***
Muhammad Asif lahir di sebuah kota kecil, Rembang. Pendidikannya mulai dari tingkat Dasar hingga tingkat Sekolah Menengah Atas dihabiskan di kota kelahirannya. Mulai belajar menulis baik itu cerpen, puisi, dan juga catatan harian sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pada awal tahun 2009 penulis mengikuti Sekolah Menulis Online (SMO). Saat ini tinggal di Solo.
***
REDAKSI menerima kiriman puisi 5 sampai 6 judul. Kirimkan via email berikut bio-data ke puisi@rumahdunia.com dan ssri_serang@yahoo.com. Puisi yang dimuat akan diberi honorarium sebesar Rp. 50.000,- per-edisi.




February 6th, 2010 at 1:09 pm
halo…asif…
kamu memang berbakat…
teruskan bakatmu…. tak dukung…
February 6th, 2010 at 8:29 pm
Ojo Nglindur Massss….
Tangi sek….
February 6th, 2010 at 8:45 pm
makasih mas udah muat puisiku.
February 6th, 2010 at 9:49 pm
karna alam smua bertasbih, dan kita hanya terdiam,, tetapi engkau tidak wahai sahabat Qu,,ukirlah kata2 mu seindah tasbih alam yang tanpa henti,,