SENJA DI SELAT SUNDA [19]
Gola Gong | Novel | December 27th, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Nana cuma tersenyum menghiburku. Keesokan harinya langit cerah. Kami melanjutkan perjalanan lagi; naik turun bukit. Menjelang senja kami melintasi sebuah sungai kecil berbatu-batu. Lagi aku selalu tiba paling akhir. Eri tetap setia di belakangku. Seharian tadi dia tidak menggodaku.
Sungai berbatu-batu ini perbatasan alam wilayah Kanekes, yang memisahkan dunia “luar” dengan alam Baduy. Setelah itu leuweung kolot menjulang di depan kami. Dan kampung Baduy ada di sana.
Aku duduk dan membuka sepatu. Merendam kedua kakiku. Aku basuh wajahku dengan air sungai yang jernih. Terasa segar, walaupun kulit wajahku terasa perih terbakar.
Nana menghampiriku. “Hebat,” katanya tertawa kecil. “Ternyata kamu masih kuat jalan. Aku kira udah digendong Eri.”
Aku semprot Nana dengan air sungai.
Nana membalas.
“Kita bermalam di sini aja!” Eri muncul di balik semak-semak. “Daripada kemaleman di leuweung kolot!”
Yanto mengiyakan sambil menyuruh beberapa orang untuk mencari tanah agak lapang.
Aris, Toni, Ato, dan Maman membongkar ranselnya. Mereka mendirikan tenda. Peralatan berkemah berhamburan. Sebuah flysheet, lembaran gantung, mereka rentang dan diikat di dahan-dahan. Ini bisa jadi atap tenda jika hujan turun nanti.
“Mestinya anak Yogya ini masak buat kita-kita!” Eri berteriak pada yang lain.
Nana melirikku sambil mengulum senyum. Aku jadi serba salah. Nana tahu kalau aku paling tidak bisa masak. Di rumah segalanya dikerjakan oleh pembantu. Paling-paling aku cuma bisa merebus mie. Sialnya aku kebagian memasak nasi. Aku meminta pertolongan Nana. Ini seperti kiamat buatku.
“Aku ajarin deh,” Nana menarik aku ke sungai.
“Eri cuma mau mempermainkan aku saja,” bisikku.
Nana lagi-lagi tertawa.
“Sana, kamu kumpul sama mereka saja,” suruhku.
“Betul?” Nana menyelidik.
Aku mengangguk. Biarlah aku kerjakan sendiri saja. Aku ingat-ingat kursus kilat yang diajarkan Nana tadi. Aku cuci beras di sungai. Rasanya dadaku tertekan sekali, karena setiap gerakanku seperti diperhatikan orang-orang.
Aku raba-raba benda keras persegi empat berwarna putih ini. Para petualang menyebutnya parafin. Aku nyalakan dengan korek api, malah tanganku yang tersundut. Aku sembunyikan rasa perihku dengan menjilati jariku yang tersundut api tadi. Beberapa kali aku coba menyalakan api, tapi selalu gagal. Benda “ajaib” ini masih barang aneh buatku. Yayah yang kebagian merebus mie, membantuku menyalakan api.
“Hati-hati, nasinya jangan sampai hangus,” Eri menyindir aku.
Aku pura-pura tidak mendengar ocehannya.
Api di tungku sudah menyala. Aku letakkan panci berisi beras di atasnya. Api pun menjilat-jilat. Sesekali aku buka tutup panci, aku aduk-aduk. Akhirnya nasi pun matang juga, walaupun di bawahnya terbentuk kerak lumayan tebal.
Eri mengacung-acungkan kerak, nasi yang gosong, pada orang-orang sambil tertawa-tawa. “Ini dia nasi made in Yogya! Lumayanlah!”
Kami mengitari api unggun.
Aku lihat Nana ingin menghentikan ulah Eri. Tapi Eri tidak peduli. Yang lain ngobrol seperlunya saja. Yanto malah asyik main catur dengan Aris.
“Kamu tuh noraknya nggak ilang-ilang!” tegur Nana.
Eri cuma tertawa. Dia menghampiri aku. “Kamu marah, Tina?” si brengsek ini duduk di sebelahku.
Aku menatapnya.
“Kalau sedang begini, aku selalu bergembira, Nana. Kadang kala aku suka melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Entahlah. Yang penting aku bisa melupakan keruwetan di rumah.”
“Itukah sebabnya kamu suka traveling?” tanyaku.
Eri mengangguk.
“Tapi itu jangan dijadikan alasan untuk bikin kesal orang, dong!” protesku.
“Aku cuma nggak betah dengan suasana sepi. Aku pingin semua orang bergembira dalam perjalanan seperti ini.”
Yanto menghampiri kami. “Siapa yang duluan jaga, Ri?” katanya melihat ke sekeliling.
“Aku sama siAris, deh!” Eri berdiri. “Sebaiknya kamu tidur aja. Kumpulin tenaga buat besok,”
Eri tersenyum padaku.
Aku merasa terhibur melihat senyumnya yang mempesona. Aku lihat arlojiku. Sudah hampir jam sepuluh! Aku masuk ke tenda lebih awal.
“Nanti tiga jam lagi di aplus, ya!” aturnya pada Yanto. “Setelah Ato sama Maman, kamu giliran yang terakhir sama Toni!” Eri masih memberi petunjuk pada Yanto.
Malam merembet dan gerimis mulai turun. [bersambung ke ba. 20]




Leave a Reply