TANTANGAN BAGI PARA JURNALIS
rumahdunia | Essay | December 26th, 2009 | 1 Comment »
TANTANGAN BAGI PARA JURNALIS
Oleh Gading Tirta
Kepada siapa media massa mesti berpihak? Apakah independen yang sering didengungkan media massa sebagai pengejawantahan ketidakberpihakan media massa kepada siapa pun berarti tidak berpihak kepada apa pun dan siapa pun?
Sesungguhnya tidak ada media massa yang benar-benar independen dalam artian tidak memihak apa pun atau siapa pun. Media massa mesti berpihak. Pertanyaannya adalah kepada siapa media massa mesti berpihak? Menurut Bill Kovach dan Tom Rosenstiel yang memperkenalkan sembilan elemen jurnalisme, media mesti berpihak pada masyarakat (baca: rakyat). “Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara.”
Berhubungan dengan keberpihakan media massa kepada masyarakat inilah media massa melalui para jurnalisnya mesti mengungkap tuntas apa sebenarnya yang terjadi pada kasus Bank Century. Apa yang melatarbelakangi? Apakah Sri Mulyani dan Budhiono terkait? Benarkah ada dana dari Century yang mengalir untuk kampanye Partai Demokrat? Dan seterusnya.
Tantangan
Mesti kita akui dan beri penghargaan kepada media massa yang selama ini sudah menayangkan banyak informasi termasuk menjelaskan perkara bagaimana Century bisa menjadi bank yang banyak “kejanggalan” di dalamnya (menurut temuan BPK). Namun, hendaknya media massa tidak puas sampai di situ. Masyarakat masih terlalu kabur dalam kasus Bank Century. Mozaik-mozaik masih banyak yang belum terkumpul. Pihak yang benar dan salah belum terlihat jelas.
Media massa hendaknya tidak gentar memberitakan atau malah mengungkap habis “rahasia” di balik Bank Century ini. Semua masyarakat mendukung usaha ke arah pembongkaran kasus yang diduga akan menjerat para orang gede. Momen kaburnya penglihatan kita akan kasus Bank Century ini justru mesti menjadi tantangan bagi para jurnalis atau wartawan untuk meningkatkan liputan dari straight news (hard news) atau feature menjadi liputan mendalam, indepth reporting, bahkan investigasi.
Liputan investigasi
Liputan investigasi (untuk sementara ini) adalah liputan paling bergengsi dan puncak dalam karir seorang jurnalis. Bukan saja mesti membutuhkan waktu yang relatif lama, tapi juga mesti teliti, sabar, dan ulet. Terus melakukan verifikasi, wawancara dengan banyak orang, menggali data, sampai mendapatkan titik terang.
Seorang jurnalis investigasi mesti memiliki kemampuan di atas rata-rata jurnalis selain keberanian. Ia mesti pandai dalam masalah hukum seperti hakim, mesti lebih bisa menjaga rahasia ketimbang inteligen, mesti lebih lihai dari pencuri (dalam menggali dokumen rahasia), mesti lebih bisa mengendus pelanggaran dan kejahatan yang terjadi ketimbang polisi. Modal-modal inilah yang mesti dimiliki jurnalis yang akan terjun ke “rimba kasus” Bank Century.
Tantangan lain, jurnalis investigasi biasanya akan berurusan dengan pihak-pihak yang merasa terlibat dan terpojokkan dengan adanya kasus Bank Century, yang biasa menggunakan pasal karet pencemaran nama baik untuk menjerat jurnalis. Meski begitu, penulis yakin akan banyak masyarakat—bisa melalui turun ke jalan atau melalui facebook—yang akan mendukung jurnalis investigasi bila ia dapat membongkar Century seperti halnya dukungan masyarakat kepada KPK. Jadi, jangan takut.
Sejarah emas
Keuntungan yang akan didapat jurnalis investigasi jika bisa membongkar fakta mendalam dalam kisruh Century adalah ia akan mencatat sejarah jurnalisme Indonesia dengan tinta emas. Sejarah jurnalisme Amerika Serikat bisa menjadi pelajaran bagaimana kebusukan pemerintah bisa dibeberkan oleh dua orang jurnalis handal yang kemudian bisa mewakili rasa keadilan masyarakat Amerika. Dua reporter Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein bekerja keras saat menguak kasus skandal Watergate yang ternyata melibatkan Presiden Amerika Richard Nixon.
Atau seperti seorang jurnalis handal Bondan Winarno yang menguak kasus penipuan oleh Michael de Guzman, Manajer Eksplorasi PT Bre X Corp, seputar emas di Busang, Kalimantan Timur.
Sebelum terkenal sebagai pembawa acara wisata kuliner dengan slogan khas “maknyus”, Bondan telah meletakkan dasar bagaimana menguak penipuan Michael de Guzman dengan deskripsi yang menarik dan data yang sangat kaya. Dalam laporan investigasinya—yang kemudian dibukukan dengan judul; Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi—Bondan mengungkapkan penipuan yang dilakukan Michael de Guzman yang dianggap banyak orang bunuh diri karena lompat dari helikopter. Padahal itu hanya usaha untuk mengelabui.
Bondan telah mengungkap kasus penipuan besar, walaupun setelah laporan itu terbit, Bondan dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Majalah Tempo termasuk media massa yang beberapa kali mengungkapkan kasus-kasus lewat laporan investigasi. Laporan teranyar dan mendapatkan penghargaan adalah laporan tentang PLN dan bisnis gelap aborsi di Jakarta.
Apa yang ditunggu dan diharapkan masyarakat tentang kisruh Bank Century hanyalah duduk permasalahan yang terjadi di negeri ini dan mengetahui apa sesunggunya yang terjadi. Jika ada yang bersalah maka siapa yang bersalah, siapa yang mesti dihukum, apakah ada hubungan yang positif antara Bank Century dengan pejabat-pejabat dan seterusnya.
Kalau ada jurnalis atau media massa yang berhasil mengungkap kasus Bank Century, maka tentu masyarakat akan sangat senang karena rasa keadilan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Keadilan yang selama ini dirusak oleh korupsi. Dengan demikian juga pers telah melakukan tugasnya sebagai pemantau kekuasaan.
Di tengah serba ketidakpastian dan mengendurnya kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum dan pemerintah, hanya pers yang bisa dijadikan sandaran oleh masyarakat.
Kita berharap ada jurnalis yang bisa mengungkapkan misteri di balik kasus yang mendapat sorotan dari berbagai pihak ini. Dengan begitu, masyarakat bisa tercerahkan. Dan harapan Indonesai menjadi lebih baik semoga akan cepat terwujud. Semoga.




December 26th, 2009 at 7:19 pm
Artikel ini sangat mengena. sy link ke FB, Ijin kawan. Mas Gong…. salut buat anda yang terus berkiprah membina generasi satra Banten.
Salam….