FLP PANDEGLANG GELAR WORKSHOP
langlang | Warta Banten | December 21st, 2009 | No Comments »

Kiri ke kanan: Sakti Wibowo, Fatih Beeman, Langlang Randhawa, Lia
PANDEGLANG- Selain menjadi ladang ibadah dengan dakwah bil-qolam, menulis juga profesi yang menjanjikan. Sudah banyak para penulis yang sukses dengan karya-karyanya. Di dunia barat, kita mengenal JK Rowling, penulis paling kaya dengan novel Harry Potter-nya yang fenomenal. Sementara di Indonesia belum lama ini, dunia perbukuan digegerkan oleh novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El-Syrazi, serta Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Baik Habib maupun Andrea, mereka telah menebarkan spirit baru bagi pembaca buku mereka, sekaligus juga meraup pundi-pundi hasil kerja kerasnya menulis.
Gambaran di ataslah yang kemudian membuat Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Pandeglang menggelar acara Lomba Menulis Cerpen dan Workshop Kepenulisan bertajuk Let’s to be Creator of Word by Reading and Writing, di Aula Pendopo Kabupaten Pandeglang pada Minggu (20/12). Acara yang dimulai pukul 09.00 s/d 16.30 ini diisi dengan beragam kegiatan. Kerena acara ini digagas oleh FLP, maka Imam Salimy selaku ketua FLP Wilayah Banten menjelaskan sesi mengenalkan lebih dekat FLP kepada peserta. Dengan dipandu Mbak Nenda dari FLP Pandeglang, Imam yang juga penulis skenario film Si Entong ini menjelaskan, FLP itu adalah organisasi kepenulisan yang mencerahkan. “Jika seseorang menjadi lebih baik dari sebelum membaca tulisan kita, maka tulisan itu disebut mencerahkan,” ujar Imam yang kini menjadi super visi naskah di Lunar Film.
Selain pengenalan FLP, acara ini juga diisi dengan dialog santai berjudul Buku Bikin Maju, Baca Bikin Tahu bersama Fitron Nur Ikhsan, akademisi dan Penulis dari Rangkas Bitung. Dalam pemaparannya, Fitron menjelaskan bagaimana pun juga membaca itu penting. Membaca apa saja yang kita lihat di jalanan. Ia juga menjelaskan, bagaimana kemudian dari zaman dulu nenek moyang kita sudah membaca hal-hal yang dijumpainya. “Sebelum menemukan singkong, mereka terlebih dahulu mengendus aroma harum dari dalam tanah yang dibakar. Kemudian setelah digali, maka ditemukanlah buah singkong dan memakannya. Mulailah dilakukan identifikasi dan analisis, maka buah ini adalah enak dimakan,” Ujar Fitron. “Sebaliknya jika ada buah-buahan yang dimakan lalu membuat mereka mati, maka yang hidup menyimpulkan bahwa buah ini beracun,” imbuh Fitron yang baru saja menerbitkan buku kumpulan tulisannya di media berjudul Mencurigai Kekuasaan.
Sebelum memasuki acara puncak, digelar acara Parade Penulis dari FLP yang menghadirkan Sakti Wibowo, Fatih Beeman, dan juga Langlang Randhawa. Ketiga penulis itu kemudian satu persatu berbagi pengalaman tentang bagaimana proses kreatif dalam menghasilkan sebuah tulisan dan menerbitkan buku. Beeman yang merupakan berasal dari Menes, Pandeglang, menuturkan dirinya adalah tukang koran dan majalah. “Dari sanalah saya suka membaca, dan mengenal bagaimana orang lain menulis,” Ujar Beeman yang kini kuliah di Universitas Padjajaran, Bandung. Sementara Langlang yang berasal dari Tangerang menuturkan, semua orang bisa menulis. “Yang membedakan teman-teman dengan Mas Sakti Wibowo yang sudah menulis banyak novel dan Fatih Beeman yang sudah menulis buku yang inspiratif adalah persoalan waktu. Mereka sudah lebih dulu banyak membaca, maka mereka pun jadi lebih dulu menjadi penulis. Hanya itu,” ujar relawan Rumah Dunia yang baru saja menerbitkan novel Slonong Boy Millioanire ini.
Mengingat acaranya yang padat, maka sebelum pengumuman pemenang lomba cerpen dan workshop kepenulisan yang disampaikan Sakti Wibowo, panitia menyelingi acara dengan hiburan. Di depan sekitar 50 peserta dari berbagai daerah di Pandeglang ini, alunan dari grup nasyid Annashr Voice. Peserta pun nampak semakin antusias mengikuti jalannya acara. [LR]




Leave a Reply