SENJA DI SELAT SUNDA [18]
Gola Gong | Novel | December 19th, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Nana yang merasa serba salah aku beri isyarat untuk terus saja berjalan. Dia beberapa meter di depanku. Yang lainnya sudah jauh di depan. Nana pun lama-lama sudah tak kelihatan lagi.
Aku duduk beristirahat di bawah pohon. Minum sebanyak-banyaknya.
“Jangan terburu-buru minum,” Eri sudah tiba. “Pelan-pelan saja. Nanti dada kamu sakit,” katanya lagi sambil mengkuliahi, bahwa suhu badan kalau sedang panas jangan langsung kena air. Berilah tempo untuk menurunkan suhu badan.
Akhimya aku sependapat setelah aku batuk-batuk.
Akulah yang paling terakhir datang di tempat beristirahat, di pinggir sungai berbatu-batu. Matahari hampir menggelincir. Eri beberapa belas meter di belakangku. Aku tahu kalau dia sengaja menjaga jarak, walaupun tetap menjaga keselamatanku.
Nana tersenyum menyambutku. “Eri mengganggu kamu?” dia melihat Eri yang baru tiba dan langsung membantu mendirikan tenda.
Aku menggeleng. “Aku berani bayar berapa pun, Nana, kalau ada motor ojek!” aku mengeluh.
Nana tertawa lucu.
Kami yang perempuan, kebagian mengurusi dapur. Aku agak kikuk juga ketika ikut memasak. Untung mereka membiarkan aku istirahat. Aku tertidur pulas di hammock, yang diikat di antara dua batang pohon rindang.
Aku dibangunkan setelah makan malam tersedia. Sebetulnya aku agak risih juga melihat nasi dan mie rebus yang diciduk langsung dari panci dan kadang saling berebut, piring-piring yang tampak kotor, serta cara makan mereka yang buatku jorok.
Untung aku sudah mempersiapkan makan malam yang lain. Roti, keju, dan coklat. Tapi sialnya, selera makanku langsung hilang begitu Eri duduk di sebelahku. Dia makan tanpa menggunakan sendok. Malah dengan sengaja piring itu diangkat dan didekatkan ke bibir. Dia langsung menyeruputnya!
Perutku memberontak.
“Enak lho makan kayak gini,” dia menjilati piringnya sampai licin. “Ini bisa jadi obat penawar stress!” tawanya meledak. “Selera makanmu hilang? Boleh minta rotinya? Buat cuci mulut!”
Aku sodorkan bungkusan roti. Eri pun berteriak pada yang lain. Dalam sekejap rotiku pun amblas. Untuk mengganjal perut, aku cuma makan coklat dan makanan kecil yang sudah aku persiapkan. Tapi perbekalan darurat ini pun cepat menipis, karena aku harus membagi-bagikan pada rombongan cewek.
“Kayaknya acara makan berikutnya, kamu harus mau bergabung, ya?” Nana tertawa senang.
Aku mengangguk lemah.
Kami berkumpul mengelilingi api unggun. Saling tukar cerita. Banyak pertanyaan terlontar padaku. Terutama soal kehidupanku, yang menurut mereka sangat berbenturan dengan kehidupan mereka. Aku memang paling “berbeda” di antara mereka. Tidak segesit dan sekuat mereka. Aku cenderung “dilayani” dan “diistimewakan” oleh mereka. Lalu beberapa lelaki menawarkan membawakan ranselku.
Ini ide bagus. Ranselku dibongkar. Barang-barangku dibagi-bagi kepada mereka. Kecuali barang-barang “perusahaanku” saja, yang tetap aku bawa. Kini ranselku terasa ringan.
Tapi ketika kami melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya, ransel itu tetap saja membuat punggungku sakit. Aku sadar bahwa setiap saat kondisi badanku semakin lelah, sehingga barang yang semestinya ringan tetap terasa berat. Mungkin yang paling hagus, aku tidak usah membawa apa-apa.
Menjelang tengah hari, langit berubah gelap. Angin menderu-deru. Aku cuma melihat punggung seseorang di depanku. Lalu hilang di tikungan. Aku menunggu Eri muncul dari belakang. Aku merasa takut sekali ketika gerimis mulai turun.
“Kenapa?” Eri menadahkan tangannya. “Bakalan gede nih hujannya!” katanya. “Siniin ranselmu!”
Tanpa hanyak omong aku serahkan ranselku. Punggungku terasa ringan sekali. Aku menarik napas lega. Aku berjalan cepat-cepat. Eri tetap di belakangku. Ranselku disandang di dadanya.
Gerimis semakin rapat. Aku hampir putus asa ketika sadar, bahwa kampung itu ada di atas bukit. Aku harus melalui tanjakan berbatu-batu yang panjang. Aku berlari semampuku.
Hujan mulai deras. Tubuhku basah kuyup. Eri membantuku menaiki tanah menyerupai anak tangga. Aku betul-betul putus asa dan menyesal sudah ikut ke sini. Aku betul-betul ambruk ketika sampai di perkampungan.
“Kamu haik-haik saja, Ti:na?” Nana menyambutku. Dibawanya aku ke rumah kepala kampung, di mana orang-orang sudah bermalas-malasan di bale-bale-nya.
“Aduh, Nana,” tanpa merasa malu aku merebahkan badan di bale-bale. Beberapa orang memberi tempat yang luas padaku. “Sebaiknya bajumu diganti dulu,” Nana membangunkan aku.
“Badanku kayaknya remuk,” aku bangun dengan malas.
Setelah berganti baju dengan yang kering, aku langsung meringkuk di sleeping bag di pojok. Hujan tak ada tanda-tanda mau berhenti, malah semakin besar saja. Perjalanan terpaksa dilanjutkan esok hari.
Kami bermalam di kampung ini. Aku perhatikan suasana kampung ini sangat terisolir. Mustahil bisa dimasuki mobil sampai tahun 2000. Tapi aku merasa trenyuh sekali melihat penerimaan tuan rumah, yang sangat ramah dan manusiawi. Segala yang ada di dapur, dihidangkan pada kami. Buat orang kampung, kedatangan tamu dari kota memang sebuah kebanggaan.
Sebelum kami pergi meringkuk, Bapak Kepala Kampung memberi nasihat, tentang pantangan di leuweung kolot, hutan Baduy yang penuh misteri. Untuk sampai Baduy Dalam, kita memang harus menembus leuweung kolot. Yang membuatku ngeri adalah ketika bapak itu mengabarkan tentang tiga orang perampok dari Rangkasbitung, yang melarikan diri ke wilayah Kanekes.
Aku berbisik pada Nana, “Jangan-jangan kita ketemu mereka.” [bersambung ke bag. 19]




Leave a Reply