BERKACA PADA SEJARAH LEBAK UNTUK MEMBANGUN DAERAH
rumahdunia | Resensi | December 17th, 2009 | No Comments »
Judul Buku: Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya
Editor: Firman Venayaksa dan Fitron Nur Ikhsan
Penerbit: Humas dan Komunikasi Kabupaten Lebak
Tebal Buku: 230 halaman
Tahun Terbit: Desember 2009
ISBN: 978-979-15451-4-3
Membaca buku yang berjudul Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya, mengingatkan kita pada sebuah paham di Jepang. Paham Gige Kaiping, paham tersebut berpijak pada sejarah masa lalu untuk melakukan perubahan-perubahan atas nama ketertinggalan yang dialami bangsa Jepang, ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh sekutu. Dalam keadaan porak-poranda dan tanah terkena radiasi aktif yang disebabkan oleh sisa ledakan; gedung hancur, tanah tak bisa ditanami, dan yang lebih mengenaskan, banyaknya penduduk Jepang yang tercerai-berai dan terbunuh. Jepang seperti negara mati, tak ada kehidupan, seusai ledakan yang mencekam.
Kemudian dengan kejadian yang cukup dahsyat itu, yang memukul mundur para tentara Jepang di Indonesia. Akhirnya mereka melakukan satu pemikiran, dalam hal ini, paham Gige Kaiping. Seperti apakah bentuk pemikiran itu? yaitu, untuk mencintai sejarah bangsa Jepang yang diharu -biru agar dapat bangkit dari keterpurukan pasca perang. Tidak mungkin Jepang akan membangun pertanian dalam waktu singkat, disebabkan tanah sudah tercemar radiasi aktif, maka, munculah ide dan gagasan Jepang bangkit bersama dengan keunggulan teknologi. Pertanyaan yang muncul kala itu, bukan berapa penduduk Jepang yang meninggal, juga bukan berapa tentara Jepang yang terbunuh, melainkan berapa sisa guru yang masih hidup. Dengan paham Gige Kaiping inilah Jepang kini kembali bersinar dan menjadi sebuh negara yang cukup diperhitungkan di Asia.
Secara tendensius, ketika kita membaca buku Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya, semangat nasionalisme itu terlihat jelas. Semangat perjuangan itu tergambar jelas; membangun pendidikan, membangun perekonomian, mensejahterakan rakyat, dan membangun keadilan dan kemandirian bagi seluruh rakyat Lebak dengan mengacu pada otonomi daerah. Lihat saja sambutan dari Bupati Lebak di awal halaman buku ini; Manusia yang bermartabat tidak akan puas dengan kehidupan karena belas kasihan orang lain, dan tidak ingin bergantung pada bantuan orang lain. Oleh karena itu, satu paradigma yang takkan pernah berubah sepanjang sejarah manusia kebutuhan manusia akan lapangan pekerjaan. Keterbatasan lapangan kerja, kemiskinan, ketimpangan dan keterbelakangan, adalah empat masalah yang ingin dipecahkan dengan pembangunan. Keempat hal tersebut, selain merupakan lawan dari keadaan sejahtera, juga merupakan penghalang bagi upaya untuk meningkatakan kesejahteraan. Akan tetapi juga mencerminkan ketidakadilan, dan dengan demikian, bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Upaya untuk menyeimbangkan kesejahteraan sesuai dengan upaya yang diharapkan Bupati Lebak, bukan sesuatu yang gampang, melainkan upaya yang keras bagi seluruh elemen dan lapisan masyarakat Lebak. Tanpa kesepahaman dan tujuan pembangunan yang sama, tentu buku ini hanya akan jadi penghias lemari di kantor-kantor instansi.
Buku yang diterbitkan dalam rangka hari ulang tahun yang ke 181 Kabupaten Lebak ini, cukup menarik untuk dibaca. Mengetahui secara detail bagaimana ekonomi, pembangunan, pendidikan dan harapan masyarakat Lebak. Buku yang di dibagi menjadi beberapa bagian, bagian I, Menyulut Bara Menjadi Daya. Dalam bagian I ini, dituliskan sejumlah artikel-artikel pendek yang mencoba memompa semangat masyarakat Lebak dengan ghiroh ketertinggalan dan keterpurukan, menjadi cambuk untuk mensejajarkan sekaligus memperkenalkan Wilayah Lebak. Bagian II, Ketajaman Mata Pena Dari Kelembutan Matahati, dalam bagian II ini, dituliskan artikel-artikel dari para tokoh; pendidikan, pelaku kesenian dan kebudayaan, Orsos, Ormas Islam dan mahasiswa Banten. Untuk juga memberikan sumbang -saran pembangunan dan sekaligus (critic building), bagi Lebak ke depan. Beberapa di antaranya sudah tidak asing lagi bagi kita; Hasan Alyadrus, Bonnie Tryana, Muchtar Mandala, Gola Gong, Prof. Dr. Yoyo Mulyana, M. Ed, dan Prof. Dr. Sholeh Hidayat, M.Pd. Dan tentunya penulis-penulis yang lain sesuai pakar dan bidangnya. Bagian III, Pribadi Tangguh Pantang Mengeluh, pada bagian ini diceritakan tentang perjuangan orang-orang yang mengais rizki, membangun kemandirian, dan mengobarkan semangat perjuangan di Lebak. Dimulai dari jasa tukang semir di stasiun. Pemilik toko seluler yang dulunya tukang cleaning service, kemudian saat ini mengeruk keuntungan Rp. 30-50 juta perhari. Bahkan kalau musim lebaran sampai 150 juta, hingga pengabdian seorang guru di Cicakal Girang, sebuah tempat terpencil di Lebak yang sangat memprihatinkan, dalam rangka menyebarkan islam sejak 17 tahun silam sampai saat ini belum diangkat menjadi PNS. Tetapi tetap tabah berjuang digarda terdepan dalam ruang pendidikan. (hal. 2004-2013).
Tentu sesuai isi dan harapan masyarakat Lebak pada umumnya, buku ini diharapkan “membakar” semangat juang kebersamaan guna membangun Lebak yang berkeadilan. Kita menyadari betul, ketertinggalan bangsa ini karena kita mengenyampingkan dunia pendidikan. Setelah dunia pendidikan dikesampingkan, maka akar kebudyaan yang adiluhung tersisih, menjadi jauh dari harapan. Artikel-artikel yang terangkum pada buku Lebak 181 Tahun Bara Menjadi Daya, kita dapat menemukan benang merah, bahwa Lebak akan mampu bersaing manakala pendidikan di nomor satukan. Seraya mengutip pernyataan Abdus Subhan Jayani, MBA dengan tulisannya yang berjudul “Lebak dan Pendidikan,” ….. kewajiban mendidik anak bangsa bukanlah kewajiban parsial (fardu kipayah) yang boleh diwakilkan pada orang lain dalam pelaksanannya. Tetapi kewajiban mendidik anak bangsa adalah kewajiban individual (fardu ‘ain) yang harus dilakaukan secara perorangan kepada maupun setiap warga Negara Indonesia. (hal. 144).
Baru kemudian ekonomi kerakyatan dibangun dengan berlandaskan kepentingan rakyat Lebak dan bukan atas kepentingan golongan. Sesuai dengan yang dikatakan editor pada halaman Sekapur Sirih yang memaknai Bara menjadi Daya sebagai salah satu bentuk cara pandang yang berbeda. Dengan pengibaratan dua orang yang terpenjara, terkurung begitu lama. Lalu kemudian memandang dunia luar dari lubang kecil selebar telapak tangan. Setiap pagi dan sore tahanan pertama selalu melihat keluar lalu menggerutu; “Menjijikan, bau got di luar sana, berantakan sekali di belakang gedung ini. Sial! Di dalam sumpek sekali.” Sementara tahanan kedua setiap pagi memandang langit dan matahari yang mulai terbit dari lubang yang sama, dia memuji “Indah sekali di luar sana, dunia luas begitu berharga untuk menyemai kebaikan, jika aku bebas nanti tak akan kusia-siakan kesempatan itu.” seperti itulah bara yang ditempa menjadi daya. Sesuatu yang ditentukan oleh cara pandang, meskipun dari lubang yang sama namun boleh jadi menghasilkan objek yang berbeda.
Pada akhirnya, kita sadari bersama tidak ada suatu daerahpun yang dimiskinkan oleh sang pencipta-Nya, kecuali oleh manusianya sendiri. Asset dan potensi Lebak sudah tak bisa diragukan lagi, tinggal niat baik dan pengembangannya saja. Mampukah Mulyadi Jayabaya memberikan iklim dan kondisi perekonomian yang kondusip. Sebab, tidak mungkin Lebak akan jaya, apabila ketidakadilan masih merajalela. Karena kabupaten ini pun sudah cukup lama di kenal di tingkat dunia. Agar kita tidak melupakan sejarah Lebak, penting kiranya kita kembali membaca buku Multatuli. Dan menularkan ruh semangat juangnya demi menegakkan kebenaran. Dan jika ruh Multatuli itu ada, insyaalah Lebak menjadi kabupaten terdepan di Propinsi Banten dan manca negara. ****
Penulis, Rahmat Heldy HS, adalah Penyair. Buku puisinya yang sudah terbit Kampung Ular (Lumbung Banten, 2009). Antologi puisi Candu Rindu (Kubah Budaya, 2009) dan cerpennya masuk dalam antologi Gadis Kota Jerash (Lingkar Pena Publishing House; 2009). Bersama Habiburrahman El Shirazy. Juga guru sastra di SMP-SMA Al Irsyad Waringinkurung-Serang.




Leave a Reply