SENJA DI SELAT SUNDA [17]
Gola Gong | Novel | December 16th, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
seperti kelelawar
seperti tinta tumpah di atas kertas
atau riak gelombang menghajar tebing pantai
pikiranmu mengembara
kegelapan malam adalah akuarium bagi ikanmu
seperti rumput basah kasur malam
jelajahi permukaan kertas tak berlekuk
larut dalam samudera
melarungkan keinginan berkelana
luapkan segalanya!
***
Ada enam lelaki dan empat perempuan -termasuk aku- berdiri di pinggir jalan. Mereka sudah sepakat untuk melewati jalan lolongok, pintu belakang dari arah selatan tanpa Eri. Toh, nanti bisa tanya sama orang-orang, begitu pikir mereka. Keinginan mereka ini sudah lama terpendam: pergi ke Baduy menyusuri Pegunungan Kendeng. Selama ini mereka cuma melewati rute turis, masuk lewat pintu gerbang Ciboleger atau pintu samping Ciranji-Kroya.
Nana, Rini, dan Yayah menyetopi truk. Mereka mengumbar senyum pada para supir, yang siapa tahu mau mengangkut kami ke Malimping, jauh ke selatan. Kaum lelaki bersembunyi di warung. Dengan taktik seperti ini, biasanya suka ada supir truk yang rela mengangkut para petualang cewek. Kasih umpan cewek, yang nongol para begundal! itu pepatah mereka.
Tiba-tiba kami melihat seorang lelaki gondrong berlari-lari. Aku melihat reaksi Nana, yang sukar sekali ditebak. Aku harus mau mengangkat jempol, karena Nana bisa begitu cepat menguasai emosinya. Entahlah kalau ini terjadi padaku. Dan orang-orang berseru girang.
“Masih ada tempat buatku?” Eri tersenyum dan saling berjabat tangan. Dia tersenyum padaku dan Nana. “Sorry, telat!” dia tertawa.
Aku membalas senyumnya, tapi Nana cuma mengangguk.
Yanto meninju bahunya.
Kami termasuk beruntung juga ketika ada truk langsung mengangkut ke Malimping. Dari kota kecamatan ini kami terus ber-liften ke Cikotok, tambang emas di Banten Selatan. Menjelang senja kami tiba di Cikotok.
Tambang emas, yang mulai dibuka oleh perusahaan Belanda, NV Mynbouw Maatschapij Zuid Bantem, 1936, adalah sebuah desa bertampang kota. Rumah penduduk tumbuh di bukit-bukit hijau yang indah, seperti anak tangga yang disusun teratur oleh seniman Agung. Udaranya yang sejuk dan nyaman semakin mendukung panorama alami ini. Penduduknya kebanyakan pendatang.
Setelah mjnta izin pada penguasa setempat, kami membuka tenda di tanah lapang. Untuk meneruskan perjalanan sudah tidak mungkin. Esok pagi kami akan melanjutkan lagi. Ada jalan sepanjang 10 km yang masih bisa dilalui kendaraan roda empat.
Keesokan paginya kami tetap beruntung lagi, karena ada kendaraan tambang yang mengangkut kami sampai kampung Ciusul, batas terakhir yang masih bisa dilalui mobil. Kalau naik angkutan umum, perorang kena seribu lima ratus perak.
Setelah itu kami berjalan naik-turun bukit.
Ketika meniti jembatan gantung yang sudah tua dan miring, aku merasa deg-degan juga begitu melihat sungai di bawahnya yang kecoklatan. Apalagi ketika beberapa orang bergurau, dengan menggoyang-goyangkan jembatan. Terutama Eri. Tampaknya dia berusaha ingin melihat ada orang yang terjatuh ke sungai.
Kalau aku perhatikan sepanjang perjalanan, Eri memang termasuk jail. Doyan iseng. Biang keributan. Mulutnya tak mau diam dan dia bisa bergerak ke depan dan ke belakang rombongan tanpa kenal lelah. Perjalanan memang jadi tidak membosankan. Tapi dia tampaknya tidak berani lagi mengisengi Nana, karena jarak sudah terbentang memisahkan mereka.
“Kalau nggak kuat, biar aku gendong,” Eri sudah berjalan di sampingku dengan cengiran nakalnya.
Aku tersenyum.
“Bawain ranselku, mau?” aku berharap.
“Hey, siapa yang mau jadi porter cewek Yogya!” teriaknya kurang ajar. “Lumayan lho, go ceng perjam!” tawanya menggema.
Orang-orang tertawa.
Tiba-tiba Eri dengan sangat tidak sopan membuang ingus di depanku. Menyadari reaksiku yang jijik, dengan tenang dia bilang, “Sekaranglah saatnya kita melakukan pelepasan. Membuang segala tata krama, basa-basi yang biasa kita lakukan di kota.
“Mari kita back to nature! Kembali jadi orang tak beradab!” teriaknya ngawur.
Nana menoleh ke arahku. Lewat isyarat matanya, dia seperti menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku mengangguk, walaupun kadang putus asa melihat tanjakan yang harus aku daki.
Aku betul-tul tercecer. Nana dengan setia menemaniku istirahat. Aku jadi tidak enak pada yang lainnya, karena sudah menghambat perjalanan. Ketika aku betul-betul tertinggal, Eri menyuruh Yanto untuk berjalan di depan. Si gondrong yang betul-betul jadi tidak tahu tata krama ini mengambil tempat di belakang. Aku tahu dia berjaga-jaga kalau aku tertinggal. [bersambung ke bag. 18]




Leave a Reply