SENJA DI SELAT SUNDA [17]

advert

Oleh Gol A Gong

seperti kelelawar

seperti tinta tumpah di atas kertas

atau riak gelombang menghajar tebing pantai

pikiranmu mengembara

kegelapan malam adalah akuarium bagi ikanmu

seperti rumput basah kasur malam

jelajahi permukaan kertas tak berlekuk

larut dalam samudera

melarungkan keinginan berkelana

luapkan segalanya!

***

Ada enam lelaki dan empat perempuan -termasuk aku- berdiri di pinggir jalan. Mereka sudah sepakat untuk melewati jalan lolongok, pintu belakang dari arah selatan tanpa Eri. Toh, nanti bisa tanya sama orang-orang, begitu pikir mereka. Keinginan mereka ini sudah lama terpendam: pergi ke Baduy menyusuri Pegunungan Kendeng. Selama ini mereka cuma melewati rute turis, masuk lewat pintu gerbang Ciboleger atau pintu samping Ciranji-Kroya.

Nana, Rini, dan Yayah menyetopi truk. Mereka mengumbar senyum pada para supir, yang siapa tahu mau mengangkut kami ke Malimping, jauh ke selatan. Kaum lelaki bersembunyi di warung. Dengan taktik seperti ini, biasanya suka ada supir truk yang rela mengangkut para petualang cewek. Kasih umpan cewek, yang nongol para begundal! itu pepatah mereka.

Tiba-tiba kami melihat seorang lelaki gondrong berlari-lari. Aku melihat reaksi Nana, yang sukar sekali ditebak. Aku harus mau mengangkat jempol, karena Nana bisa begitu cepat menguasai emosinya. Entahlah kalau ini terjadi padaku. Dan orang-orang berseru girang.

“Masih ada tempat buatku?” Eri tersenyum dan saling berjabat tangan. Dia tersenyum padaku dan Nana. “Sorry, telat!” dia tertawa.

Aku membalas senyumnya, tapi Nana cuma mengangguk.

Yanto meninju bahunya.

Kami termasuk beruntung juga ketika ada truk langsung mengangkut ke Malimping. Dari kota kecamatan ini kami terus ber-liften ke Cikotok, tambang emas di Banten Selatan. Menjelang senja kami tiba di Cikotok.

Tambang emas, yang mulai dibuka oleh perusahaan Belanda, NV Mynbouw Maatschapij Zuid Bantem, 1936, adalah sebuah desa bertampang kota. Rumah penduduk tumbuh di bukit-bukit hijau yang indah, seperti anak tangga yang disusun teratur oleh seniman Agung. Udaranya yang sejuk dan nyaman semakin mendukung panorama alami ini. Penduduknya kebanyakan pendatang.

Setelah mjnta izin pada penguasa setempat, kami membuka tenda di tanah lapang. Untuk meneruskan perjalanan sudah tidak mungkin. Esok pagi kami akan melanjutkan lagi. Ada jalan sepanjang 10 km yang masih bisa dilalui kendaraan roda empat.

Keesokan paginya kami tetap beruntung lagi, karena ada kendaraan tambang yang mengangkut kami sampai kampung Ciusul, batas terakhir yang masih bisa dilalui mobil. Kalau naik angkutan umum, perorang kena seribu lima ratus perak.

Setelah itu kami berjalan naik-turun bukit.

Ketika meniti jembatan gantung yang sudah tua dan miring, aku merasa deg-degan juga begitu melihat sungai di bawahnya yang kecoklatan. Apalagi ketika beberapa orang bergurau, dengan menggoyang-goyangkan jembatan. Terutama Eri. Tampaknya dia berusaha ingin melihat ada orang yang terjatuh ke sungai.

Kalau aku perhatikan sepanjang perjalanan, Eri memang termasuk jail. Doyan iseng. Biang keributan. Mulutnya tak mau diam dan dia bisa bergerak ke depan dan ke belakang rombongan tanpa kenal lelah. Perjalanan memang jadi tidak membosankan. Tapi dia tampaknya tidak berani lagi mengisengi Nana, karena jarak sudah terbentang memisahkan mereka.

“Kalau nggak kuat, biar aku gendong,” Eri sudah berjalan di sampingku dengan cengiran nakalnya.

Aku tersenyum.

“Bawain ranselku, mau?” aku berharap.

“Hey, siapa yang mau jadi porter cewek Yogya!” teriaknya kurang ajar. “Lumayan lho, go ceng perjam!” tawanya menggema.

Orang-orang tertawa.

Tiba-tiba Eri dengan sangat tidak sopan membuang ingus di depanku. Menyadari reaksiku yang jijik, dengan tenang dia bilang, “Sekaranglah saatnya kita melakukan pelepasan. Membuang segala tata krama, basa-basi yang biasa kita lakukan di kota.

“Mari kita back to nature! Kembali jadi orang tak beradab!” teriaknya ngawur.

Nana menoleh ke arahku. Lewat isyarat matanya, dia seperti menanyakan apakah aku baik-baik saja. Aku mengangguk, walaupun kadang putus asa melihat tanjakan yang harus aku daki.

Aku betul-tul tercecer. Nana dengan setia menemaniku istirahat. Aku jadi tidak enak pada yang lainnya, karena sudah menghambat perjalanan. Ketika aku betul-betul tertinggal, Eri menyuruh Yanto untuk berjalan di depan. Si gondrong yang betul-betul jadi tidak tahu tata krama ini mengambil tempat di belakang. Aku tahu dia berjaga-jaga kalau aku tertinggal. [bersambung ke bag. 18]

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010