SEMINAR FORUM TBM: PERPUSTAKAAN JANGAN SEPERTI KUBURAN
langlang | Laporan Utama | December 16th, 2009 | 2 Comments »

Gol A Gong sedang memberikan materi
SERANG-United Nations Depelopment Program (UNDP) mengabarkan, kemampuan membaca siswa Indonesia berada paling rendah di kawasan ASEAN. Dari penelitian atas 39 negara, Indonesia menempati urutan ke-38 dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Pada tahun 2007, buta aksara di Indonesia mencapai 10,1 juta orang, meski sempat turun 1,7 juta.
Hal itu diungkapkan Drs.H. Apon Suryana, SH, MM, selaku asisten daerah (ASDA) III SETDA Prov Banten dalam pembukaan seminar pemasyarakatan perpustakaan dan minat baca, serta Dra. Hj. Sudiyati, M.Si, selaku kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Selasa (15/12) pagi tadi.
Seminar yang bertempat di ruang Pusat Komisi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) kabupaten Serang, menghadirkan pengelola Perpus Kab Kota, SD, SMA, Madrasah serta TBM perwakilan se-Banten, yang berlangsung cukup meriah. Acara yang diberi judul “Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Mengantisipasi Perubahan Paradigma Pengembangan Perpustakaan Dan Peningkatan Minat Baca Masyarakat Banten” menghadirkan tiga pembicara; Drs. Supriyanto, M.Si, dari Ikatan Pustakawan Indonesia, Drs. Abdul Malik, Jurnalis Radar Banten, Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia serta YB. Dani Widiyanto dari penerbit Erlangga,.
“Membaca itu proses berpikir dan proses bernalar. Membaca tidak cuma menghafal, tapi juga harus dikaji, dieksplor, diklarifikasi lalu diterapkan,” kata Drs. Supriyanto, dalam seminarnya. Supriyanto lebih luas membahas pada peran pustakaan. Menurutnya tinggi rendahnya peradaban budaya suatu bangsa, dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Sehingga sasaran dari fungsi ini dapat terbentuknya masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. Dan perpustakaan menjadi bagian hidup dari keseharian masyarakat.
Sedangkan Gol A Gong, selalu bersemangat dan memprovokasi peserta. “Saya sering mengkritik dalam tulisan saya, perpustakaan di Banten itu seperti kuburan, sepi dan panas tempatnya,” kata Gong bersemangat. “Seharusnya perpus tidak cuma untuk membaca, melainkan ada tempat bermain dan diskusi,” Gong menambahkan. Sampai saat ini banyak perpustakaan Banten yang berlokasi di daerah terpencil, bahkan ada juga perpus yang dibangun di pinggir kali, di dekat pabrik elpiji. “Jika perpustakaan dibangun di pinggir kali, itu reperentasi dari pemerintahnya. Jika perpustakaan dibangun di pinggir pabrik elpiji, itu juga reperentasi dari gubernurnya,” tandas Gong.
![rd.com Peserta antusias menyimak. [Foto: www.rumahdunia.com]](http://rumahdunia.com/isi/wp-content/uploads/2009/12/rd.com_.jpg)
Peserta antusias menyimak. Foto: www.rumahdunia.com
Sementara Abdul Malik membahas pada sinergi media massa dengan perpustakaan. Salah satu peserta dari komunitas Anak Langit, dari Tangerang, Edy Bonetsky mengusulkan adanya gerakan membaca dalam satu rumah, harus membaca satu buku apa saja selama satu bulan. “One book, one home,” kata Edy, berharap usulannya bisa diterima.
Sementara itu, menurut Tb. Encep Qosyasi, guru pendamping dari Ponpes Turus, Rangkasbitung, mengaku senang dengan adanya seminar ini. “Selain menambah ilmu dan manfaat, sekaligus ada wawasan lain yang saya dapatkan,” kata Encep. “Bukankah di Al-Quran juga sudah diperintahkan, Iqra, bacalah! Jadi kita disuruh membaca, menulis dan menganalisis, agar kita jadi orang-orang tahu. Bukan sok tahu,” kata Encep yang sudah memiliki koleksi buku 1932 eksemplar di perpustakaan pondok pesantrenya. Jadi, tunggu apa lagi, saatnya membaca!! [Ahmad Wayang]




December 22nd, 2009 at 1:22 am
Interesting and informative. But will you write about this one more?
December 26th, 2009 at 1:12 pm
I added your blog to bookmarks. And i’ll read your articles more often!