TARGET POSYANDU 2010 HARUS CAPAI 10 PERSEN

pos 1

SERANG – Perkembangan Posyandu di Banten masih perlu di tingkatkan, yang memiliki 4 kategori Posyandu, yakni pratama, madya, purnama dan mandiri. Sekitar 9.550 Posyandu yang ada di Banten, baru 20 persen yang sudah termasuk kategori mandiri. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Masyarakat Desa () Banten, Sigit Sutarto menuturkan. Posyandu merupakan lembaga penting, sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi untuk meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan derajat kesehatan. Sehingga dapat mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi/balita (AKB).

Pihak Badan Pemberdayaan Perempuan Masyarakat Desa Banten menargetkan pada tahun 2010 jumlah Posyandu mandiri bisa bertambah lagi sekitar 5 hingga 10 persen. Dana yang telah dikucurkan pada tahun 2009 sekitar 2 miliar. Sementara untuk tahun 2010 telah mengajukan dana sekitar 3 miliar. Namun dana tersebut diberikan beragam, setiap Posyandu mendapatkan dana yang berbeda tergantung kegiatannya. Adapun besaran dana yang diberikan setiap Posyandu sekitar 1 sampai 2 juta per tahunnya.” papar Sigit Sutarto.

Kemudian, ia juga berharap kepada pihak swasta turut andil dalam perkembangan Posyandu di Banten. “Namun jangan hanya memberikan uangnya saja, tapi harus dibarengi dengan pemberian bimbingan, keterampilan dan motivasi bagi kader Posyandu,” sambung Sigit.

SENJA DI SELAT SUNDA [17]

Oleh Gol A Gong

seperti kelelawar

seperti tinta tumpah di atas kertas

atau riak gelombang menghajar tebing pantai

pikiranmu mengembara lanjutkan membaca »

DARI “GOLA GONG” KE “GOL A GONG”

Gol A GongRUMAH DUNIA – Diumumkan kepada segenap khalayak. Kepada para pembaca buku-buku Gola Gong, juga kepada para penerbit, terhitung ketika press release ini disebarkan, penulis serial “Balada Si Roy” akan mengembalikan nama asli penanya, yaitu “GOL A GONG”. Huruf “A” yang selama ini digabung ke “Gola”, kini dipisah jadi “Gol A”.

Selama ini pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten selalu memakai nama pena “Gola Gong” dimana huruf “a’ disatukan ke “Gol’ jadi “Gola”. Sekarang dipisah, huruf “a’ berdiri sendiri dan ajeg ditulis kapital “A”. Pada 2010, akan terbit novel seri anak-anak “Aku Ingin Sekolah” (Penerbit Zikrul Hakim) bersama Tias Tatanka.  Nama pena “Gol A Gong” sudah resmi dipakai.

Ini juga atas saran Teguh Esha, pengarang idolanya yang menulis “Ali Topan Anak Jalanan’. Kata Teguh, “Kamu harus kembali ke nama awal. Nama itu pemberian emakmu. Nama penamu itu amanah dari emakmu!”

Bahkan, Sunardian Wirodono, penulis “Anonim My Hero” meledek lucu, “Huruf  ‘A’ itu plat nomor mobil Banten! ‘A’! Jadi, ‘Gol A Gong’ lebih bagus. Mencirikan dari Banten”.

Selama ini tidak banyak yang tahu makna “Gol A Gong”. Padahal filosofis.  Gol berarti masuk, A itu artinya Allah, dan Gong sejenis alat musik. Itu dimaksudkan agar tulisan-tulisan Gola Gong, eh, Gol A Gong masuk dan menggema ke hati pembaca. Itu semua tentu karena peran serta Allah SWT. Emaknya berpesan, “Kesuksesan yang kelak akan kamu raih, itu semua karena Allah!” (Jang RuDun)

SEMINAR FORUM TBM: PERPUSTAKAAN JANGAN SEPERTI KUBURAN

Gol A Gong sedang memberikan materi

Gol A Gong sedang memberikan materi

SERANG-United Nations Depelopment Program (UNDP) mengabarkan, kemampuan membaca siswa Indonesia berada paling rendah di kawasan ASEAN. Dari penelitian atas 39 negara, Indonesia menempati urutan ke-38 dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Pada tahun 2007, buta aksara di Indonesia  mencapai 10,1 juta orang, meski sempat turun 1,7 juta.

Hal itu diungkapkan Drs.H. Apon Suryana, SH, MM, selaku asisten daerah (ASDA) III SETDA Prov Banten dalam pembukaan seminar pemasyarakatan perpustakaan dan minat baca, serta Dra. Hj. Sudiyati, M.Si, selaku kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah, Selasa (15/12) pagi tadi.

Seminar yang bertempat di ruang Pusat Komisi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) kabupaten Serang, menghadirkan pengelola Perpus Kab Kota, SD, SMA, Madrasah serta TBM perwakilan se-Banten, yang berlangsung cukup meriah. Acara yang diberi judul “Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Mengantisipasi Perubahan Paradigma Pengembangan Perpustakaan Dan Peningkatan Minat Baca Masyarakat Banten” menghadirkan tiga pembicara; Drs. Supriyanto, M.Si, dari Ikatan Pustakawan Indonesia, Drs. Abdul Malik, Jurnalis Radar Banten, Gol A Gong, pendiri Rumah Dunia serta YB. Dani Widiyanto dari penerbit Erlangga,.

“Membaca itu proses berpikir dan proses bernalar. Membaca tidak cuma menghafal, tapi juga harus dikaji, dieksplor, diklarifikasi lalu diterapkan,” kata Drs. Supriyanto, dalam seminarnya. Supriyanto lebih luas membahas pada peran pustakaan. Menurutnya tinggi rendahnya peradaban budaya suatu bangsa, dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Sehingga sasaran dari fungsi ini dapat terbentuknya masyarakat yang mempunyai budaya membaca dan belajar sepanjang hayat. Dan perpustakaan menjadi bagian hidup dari keseharian masyarakat.

Sedangkan Gol A Gong, selalu bersemangat dan memprovokasi peserta. “Saya sering mengkritik dalam tulisan saya, perpustakaan di Banten itu seperti kuburan, sepi dan panas tempatnya,” kata Gong bersemangat. “Seharusnya perpus tidak cuma untuk membaca, melainkan ada tempat bermain dan diskusi,” Gong menambahkan. Sampai saat ini banyak perpustakaan Banten yang berlokasi di daerah terpencil, bahkan ada juga perpus yang dibangun di pinggir kali, di dekat pabrik elpiji. “Jika perpustakaan dibangun di pinggir kali, itu reperentasi dari pemerintahnya. Jika perpustakaan dibangun di pinggir pabrik elpiji, itu juga reperentasi dari gubernurnya,” tandas Gong.

Peserta antusias menyimak. [Foto: www.rumahdunia.com]

Peserta antusias menyimak. Foto: www.rumahdunia.com

Seminar yang digagas Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Banten ini memang perlu banyak lagi mengevaluasi tentang infrastruktur perpustakaan di bumi Banten. Agar pengunjung bisa nyaman dan tak terganggu dengan suasana yang panas, karena di perpustakaan tidak tersediaanya Air Conditioner (AC). “Saya kadang merasa sedih jika ada mahasiswa Untirta yang sampai mencari buku di Rumah Dunia, untuk tugas referensi. Saya tanya kenapa tidak mencari buku di perpusda. Jawabnya di perpusda panas,” kata Gong.

Sementara Abdul Malik membahas pada sinergi media massa dengan perpustakaan. Salah satu peserta dari komunitas Anak Langit, dari Tangerang, Edy Bonetsky mengusulkan adanya gerakan membaca dalam satu rumah, harus membaca satu buku apa saja selama satu bulan. “One book, one home,” kata Edy, berharap usulannya bisa diterima.

Sementara itu, menurut Tb. Encep Qosyasi, guru pendamping dari Ponpes Turus, Rangkasbitung, mengaku senang dengan adanya seminar ini. “Selain menambah ilmu dan manfaat, sekaligus ada wawasan lain yang saya dapatkan,” kata Encep. “Bukankah di Al-Quran juga sudah diperintahkan, Iqra, bacalah! Jadi kita disuruh membaca, menulis dan menganalisis, agar kita jadi orang-orang tahu. Bukan sok tahu,” kata Encep yang sudah memiliki koleksi buku 1932 eksemplar di perpustakaan pondok pesantrenya. Jadi, tunggu apa lagi, saatnya membaca!! [Ahmad Wayang]

25 DESA PEMEKARAN MINIM DANA OPERASIONAL

Foto: http://media.photobucket.com

Foto: http://media.photobucket.com

LEBAK- Pemekaran 25 desa di Kabupaten Lebak berdasarkan meningkatnya jumlah penduduk ternyata menuai persoalan tersendiri. Ke 25 desa pemekaran tersebut mengeluhkan minimnya dana operasional. Sehingga untuk pembiayaan administratif sehari-harinya, ke 25 desa pemekaran tersebut masih mengharapkan bantuan dari desa induk, bahkan untuk biaya tertentu tidak jarang sang Kepala Desa harus merogoh dari kantongnya sendiri.

Sebagaiimana diketahui, meningkatnya jumlah penduduk dan mengingat masih luasnya lahan di berbagai desa yang ada di Kabupaten Lebak, belum lama ini dilakukan pemekaran sebanyak desa 25 desa. Namun ternyata hal ini menuai persoalan tersendiri, mengingat pemekaran tersebut tidak ditunjang oleh pembiayaan dari pemerintah daerah, sehingga dengan tidak adanya dana, banyak dari kantor desa pemekaran yang menjadikan rumah kontrakan sebagai kantor desa. Sementara hingga saat ini juga belum terlihat adanya pelayanan secara administratif dari kantor desa kepada warganya mengingat belum adanya peralatan kantor yang dapat digunakan.

Sebagai bukti, Desa Narimbang Mulia, desa pemekaran dari desa induknya Desa Jati Mulya, kecamatan Rangkasbitung, hingga saat ini masih menggunakan sebuah bangunan rumah kontrakan untuk kantor desanya. Dengan bangunan rumah kontrakan dan tanpa adanya plang nama desa, membuat kantor desa ini tidak terlihat seperti halnya kantor desa kebanyakan. Belum aktifnya desa pemekaran Narimbang Mulya ini diakibatkan belum adanya peralatan yang dapat digunakan untuk melayani kebutuhan warga. Selain itu, juga karena belum adanya kesepakatan pembagian lahan antara desa induk dan desa pemekaran. Ada pun pembagian lahan yang sudah sempat dibahas dengan melibatkan  pihak Camat Rangkasbitung dan unsur tokoh masyarakat setempat dinilai masih belum ideal.

Kepala desa Jatimulya, Erus Lodaya mengatakan, hingga saat ini pembagian luas lahan antara desa induk dan desa pemekaran belum menemukan kesinkronan. Untuk itu mengenai pengesahan pembatas pun belum dilakukan.

Sementara itu, Sawal, kades PJS Narimbang Mulia, mengatakan, dengan tidak adanya dana operasional dan peralatan kantor untuk mengaktifkan pelayanan desa, dirinya berharap pemerintah daerah dapat memberikan bantuan. Terkait dana fresh money yang sebentar lagi cair, dirinya juga berharapbukan hanya desa induk yang mendapatkan namun juga desa pemekaran kebagian dana tersebut. [Rudi gunawan]

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010