MENYULAP BUKU SEJARAH MENJADI NOVEL
rumahdunia | Jurnal RumahDunia | December 11th, 2009 | 1 Comment »

brsama guruku; Arswendo Atmowiloto
Bagi banyak orang buku sejarah merupakan buku yang membosankan karena ditulis dengan kering karena hanya berupa kumpulan data yang terdiri dari data yang menunjukkan hari, tanggal dan tahun peristiwa tanpa ada deskripsi atau dialog yang memikat. Karena dengan dialog dan deskripsilah sebuah bacaan akan memikat. Novel bisa menjadi contoh tepat. Dan untuk menghidari kebosanan itu, Mamit Haryana, salah satu penulis Banten, mensiasati buku dan data sejarah dengan menovelkannya.
Mamit adalah novelis yang tak banyak dikenal. Bahkan untuk ukuran Banten sekalipun. Maklum, novel-novel yang dihasilkannya belum beredar dalam bentuk buku karena masih dalam bentuk print out. Padahal ia sudah mengajukannya kepada beberapa penerbit. “Penerbit tidak mau menerbitkan dengan alasan tidak banyak yang tahu tentang sejarah Banten,” cerita Mamit. Menurutnya, penerbit lebih suka dengan novel berlatar sejarah nasional karena pasar pembaca adalah seluruh Indonesia. Atau novel dengan genre remaja.
Meski ditolak penerbit Mamit tetap bergeming. Semangat menulis pensiunan di BUMN Cilegon ini tetap tak tergoyahkan. Ia yang sejak 2006 menulis novel terus saja membuat novel sejarah Banten. Sampai saat ini lelaki asli Tangerang ini sudah menghasilkan enam novel sejarah Banten antara lain “Saketi”, “Sultan Ageng Tirtayasa”, “Benteng Spelwijk dalam Pemerintahan Sultan Haji”, dan “Kesultanan Banten dibawah Ratu Sarifah Fatimah”. Yang terbaru adalah novel “Geger Cilegon”. Geger Cilegon adalah penamaan atas peristiwa pemberontakan petani—yang dikomandoi oleh K.H. Wasyid—terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1888. Pemberontakan dilakukan karena rakyat Cilegon tidak tahan dengan peraturan pemerintah Belanda yang melampaui batas. Belanda meninggikan tarif pajak, mengawasi perkembangan agama Islam, dan inilah yang akan menjadi cikall bakal pemberontakan rakyat Cilegon.
“Apa sih motivasi Anda menulis novel sejarah Banten?” tanya saya.
“Awalnya ada beberapa orang yang meminta saya membuat novel sejarah Banten,” ungkap Mamit, “Salah satunya adalah Prof. DR. Uka Tjandrasasmita, salah seorang pakar Banten,” katanya. Dan karena permintaan itulah Mamit akhirnya menuliskan sejarah-sejarah Banten yang bertebaran di buku-buku dan hasil wawancara dengan penduduk yang terkait dalam versi novel.
Tepi pernah juga ia membuat sebuah novel hanya karena melihat rel kereta api di Rangkasbitung, Lebak. Ia mewawancarai warga di sekitar rel kereta api yang masih menyimpan cerita yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelum mereka. Rela kereta itulah yang kemudian diketahui sebagai rel kereta pertama yang dibangun Belanda. Hasilnya, Mamit membuat novel “Saketi” dari data-data sejarah yang ia kumpulkan tentang pembangunan rela kereta api dari Rangkasbitung ke Labuan.
Pada Rabu, 9 Desember 2009 Mamit menyerahkan draft Geger Cilegon dan Sultan Ageng Tirtayasa ke Lumbung Banten Rumah Dunia sebagai hadiah. Lumbung Banten adalah program Rumah Dunia untuk mengumpulkan naskah-naskah tentang Banten, menerbitkan buku-buku yang dikarang oleh orang-orang Banten, dan mengadakan diskusi tentang Banten. Saat ini, di Lumbung Banten, sudah banyak buku-buku tentang Banten baik berbentuk fiksi maupun non fiksi. (Gading Tirta)




December 11th, 2009 at 3:53 pm
Bayangan saya mungkin seperti cerita film2 hollywood yang dilatarbelakangi oleh peristiwa sejarah ya?
Seperti ’300′, ‘Troy’, dll.
Kapan terbit dan dijual bebas nih?