MENYULAP BUKU SEJARAH MENJADI NOVEL

advert
brsama guruku; Arswendo Atmowiloto

brsama guruku; Arswendo Atmowiloto

Bagi banyak orang buku sejarah merupakan buku yang membosankan karena ditulis dengan kering karena hanya berupa kumpulan data yang terdiri dari data yang menunjukkan hari, tanggal dan tahun peristiwa tanpa ada deskripsi atau dialog yang memikat. Karena dengan dialog dan deskripsilah sebuah bacaan akan memikat. Novel bisa menjadi contoh tepat. Dan untuk menghidari kebosanan itu, Mamit Haryana, salah satu penulis Banten, mensiasati buku dan data sejarah dengan menovelkannya.

Mamit adalah novelis yang tak banyak dikenal. Bahkan untuk ukuran Banten sekalipun. Maklum, novel-novel yang dihasilkannya belum beredar dalam bentuk buku karena masih dalam bentuk print out. Padahal ia sudah mengajukannya kepada beberapa penerbit. “Penerbit tidak mau menerbitkan dengan alasan tidak banyak yang tahu tentang sejarah Banten,” cerita Mamit. Menurutnya, penerbit lebih suka dengan novel berlatar sejarah nasional karena pasar pembaca adalah seluruh Indonesia. Atau novel dengan genre remaja.

Meski ditolak penerbit Mamit tetap bergeming. Semangat menulis pensiunan di BUMN Cilegon ini tetap tak tergoyahkan. Ia yang sejak 2006 menulis novel terus saja membuat novel sejarah Banten. Sampai saat ini lelaki asli Tangerang ini sudah menghasilkan enam novel sejarah Banten antara lain “Saketi”, “Sultan Ageng Tirtayasa”, “Benteng Spelwijk dalam Pemerintahan Sultan Haji”, dan “Kesultanan Banten dibawah Ratu Sarifah Fatimah”. Yang terbaru adalah novel “Geger Cilegon”. Geger Cilegon adalah penamaan atas peristiwa pemberontakan petani—yang dikomandoi oleh K.H. Wasyid—terhadap pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1888. Pemberontakan dilakukan karena rakyat Cilegon tidak tahan dengan peraturan pemerintah Belanda yang melampaui batas. Belanda meninggikan tarif pajak, mengawasi perkembangan agama Islam, dan inilah yang akan menjadi cikall bakal pemberontakan rakyat Cilegon.

“Apa sih motivasi Anda menulis novel sejarah Banten?” tanya saya.

“Awalnya ada beberapa orang yang meminta saya membuat novel sejarah Banten,” ungkap Mamit, “Salah satunya adalah Prof. DR. Uka Tjandrasasmita, salah seorang pakar Banten,” katanya. Dan karena permintaan itulah Mamit akhirnya menuliskan sejarah-sejarah Banten yang bertebaran di buku-buku dan hasil wawancara dengan penduduk yang terkait dalam versi novel.

Tepi pernah juga ia membuat sebuah novel hanya karena melihat rel kereta api di Rangkasbitung, Lebak. Ia mewawancarai warga di sekitar rel kereta api yang masih menyimpan cerita yang diwariskan secara turun temurun dari generasi sebelum mereka. Rela kereta itulah yang kemudian diketahui sebagai rel kereta pertama yang dibangun Belanda. Hasilnya, Mamit membuat novel “Saketi” dari data-data sejarah yang ia kumpulkan tentang pembangunan rela kereta api dari Rangkasbitung ke Labuan.

Pada Rabu, 9 Desember 2009 Mamit menyerahkan draft Geger Cilegon dan Sultan Ageng Tirtayasa ke Lumbung Banten Rumah Dunia sebagai hadiah. Lumbung Banten adalah program Rumah Dunia untuk mengumpulkan naskah-naskah tentang Banten, menerbitkan buku-buku yang dikarang oleh orang-orang Banten, dan mengadakan diskusi tentang Banten. Saat ini, di Lumbung Banten, sudah banyak buku-buku tentang Banten baik berbentuk fiksi maupun non fiksi. (Gading Tirta)

Share

One Response to “MENYULAP BUKU SEJARAH MENJADI NOVEL”

  1. hendra pratama Says:

    Bayangan saya mungkin seperti cerita film2 hollywood yang dilatarbelakangi oleh peristiwa sejarah ya?
    Seperti ’300′, ‘Troy’, dll.
    Kapan terbit dan dijual bebas nih?

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010