MESJID NURUL HUDA CILOANG TANPA BANTUAN PEMERINTAH

advert
KH. Djawahir di depan masjid

MESJID TANPA BANTUAN PEMERINTAH

Tiga Dzulqoidah 1409 atau 5 Juni 1989.  Catatan itu Tertulis dalam bahasa Arab  di sebuah gapura, pintu masuk Mesjid Nurul Huda yang terletak di Kampung Ciloang Kelurahan Sumur Pecung Kecamatan Serang Kota Serang Banten. Catatan ditulis dengan gaya kaligrafi itu bukan tanggal dibangunnya mesjid Nurul Huda, namun tanggal renovasi.

Sama seperti mesjid-mesjid yang lain di Serang, Mesjid Nurul Huda ini tidak memiliki dokumen tertulis kapan mesjid itu mulai dibangun. K.H Djawahir yang menjadi tokoh masyarakat pun tidak bisa mengingatnya. Namun lelaki yang tengah menginjak usia 70-an ini mengungkapkan Mesjid Nurul Huda mulai berperan  saat K.H Subki, tokoh masyarakat Ciloang memiliki pondok pesantren di kampung itu. Kala itu K.H Subki, cerita Jauhari adalah kiayi yang disegani di Serang. Muridnya datang dari berbagai daerah di Banten dari mulai Pandeglang sampai Tangerang.  Selain untuk keperluan santri, Mesjid Nurul Huda ini menjadi tempat sholat  untuk masyarakat. Menurut, Djawahir ada beberapa nama yang tercatat memiliki andil besar dalam perkembangan Mesjid yang dibangunnya di atas wakaf ini antara lain K.H Subki, Kiyai Gojali dan Kiyai Mus. Mereka ini adalah orang yang pintar yang disegani oleh masyarakat.

Sebagai tongkat estafet tokoh masyarakat Ciloang K.H  Djawahir mengaku hanya melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan oleh terdahulunya. Misalnya melestarikan dan menjaga Mesjid Nurul Huda ini.

Setahu K.H. Djawahir bentuk mesjid yang ada saat ini adalah bukan yang aslinya. Sebelum direnovasi pada 1989, mesjid ini tidak memiliki menara. Mesjid ini juga tidak mempunyai tempat wudhu yang sekarang ini. “Dulu kolam luas,” cerita Djawahir. Baru saat renovasi sekitar 1989 K.H Subkhi mengusulkan pembangunan menara. “Tujuannya bukan untuk variasi tapi untuk mengajak orang sholat. Muazdin di sana. Dan masyarakat tahu waktu sholat datang,” ungkapnya.

Sementara itu soal proses pembangunan mesjid K.H  Jawahir mengaku tidak pernah mendapatkan sumbangan dari pemerintah. “Tanah, pasir dan bata dibuat dengan tenaga sendiri,” kenangnya. Cerita ini ditegaskan oleh Abdul Malik, lelaki berusia 65 tahun yang sejak usia 15 tahun melakukan tarhim, membangunkan warga dengan shalawat sebelum waktu subuh tiba. Menurutnya pembangunan mesjid ini memang ikhlas dari masyarakat. “Tanahnya kalau tidak salah wakaf salah satu masyarakat yang kaya di Ciloang.  Sementara untuk pasir, warga Ciloang menggali sendiri di sungai  Kulung Watu,” cerita Pak Malik. Dulu menurut Pak Malik bangunanya tidak menggunakan  semen tapi apu. “Saya dan kawan-kawan berjalan ke daerah Walantaka untuk membawa apu,” kenangnya sambil tertawa.   Tapi masyarakat semuanya, kata K.H Jawahir ridho untuk membangun mesjid untuk hanya berniat ibadah kepada Allah.

Saat ini, Mesjid Nurul Huda, berdiri kokoh dengan gaya arstektur khas Banten. Pengelolaannya digarap sama-sama oleh masyarakat sekitar.  Meskipun tidak memiliki nilai arsitektur yang wah, mesjid ini menjadi simbol semangat masyarakat Ciloang mencintai Allah  dan Agama Islam.   [Aji]

Share

2 Responses to “MESJID NURUL HUDA CILOANG TANPA BANTUAN PEMERINTAH”

  1. Harir Baldan Says:

    Ingin lihat replika menara Banten, datanglah ke kampungku Ciloang. hanya 800 meter dari jalan raya kemang, Serang, Banten. Jika anda ingin menikmati sepanjang perjalanan menuju ke tempatnya, jalan kaki hanya sepuluh lima menit. Tapi kalo anda sudah lelah, dan malas berjalan bisa menggunakan jasa ojek dan becak seharga Rp. 5000,- selamat datang.

  2. Harir Baldan Says:

    Ingin lihat replika menara Banten, datanglah ke kampungku Ciloang. hanya 800 meter dari jalan raya kemang, Serang, Banten. Jika anda ingin menikmati sepanjang perjalanan menuju ke tempatnya, jalan kaki hanya 5 menti. namun jika anda terlalu capek bisa menggunakan jasa ojek dan becak Rp. 5000,- selamat datang.

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010