MESJID NURUL HUDA CILOANG TANPA BANTUAN PEMERINTAH
langlang | Masjidku | December 7th, 2009 | 2 Comments »
MESJID TANPA BANTUAN PEMERINTAH
Tiga Dzulqoidah 1409 atau 5 Juni 1989. Catatan itu Tertulis dalam bahasa Arab di sebuah gapura, pintu masuk Mesjid Nurul Huda yang terletak di Kampung Ciloang Kelurahan Sumur Pecung Kecamatan Serang Kota Serang Banten. Catatan ditulis dengan gaya kaligrafi itu bukan tanggal dibangunnya mesjid Nurul Huda, namun tanggal renovasi.
Sama seperti mesjid-mesjid yang lain di Serang, Mesjid Nurul Huda ini tidak memiliki dokumen tertulis kapan mesjid itu mulai dibangun. K.H Djawahir yang menjadi tokoh masyarakat pun tidak bisa mengingatnya. Namun lelaki yang tengah menginjak usia 70-an ini mengungkapkan Mesjid Nurul Huda mulai berperan saat K.H Subki, tokoh masyarakat Ciloang memiliki pondok pesantren di kampung itu. Kala itu K.H Subki, cerita Jauhari adalah kiayi yang disegani di Serang. Muridnya datang dari berbagai daerah di Banten dari mulai Pandeglang sampai Tangerang. Selain untuk keperluan santri, Mesjid Nurul Huda ini menjadi tempat sholat untuk masyarakat. Menurut, Djawahir ada beberapa nama yang tercatat memiliki andil besar dalam perkembangan Mesjid yang dibangunnya di atas wakaf ini antara lain K.H Subki, Kiyai Gojali dan Kiyai Mus. Mereka ini adalah orang yang pintar yang disegani oleh masyarakat.
Sebagai tongkat estafet tokoh masyarakat Ciloang K.H Djawahir mengaku hanya melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan oleh terdahulunya. Misalnya melestarikan dan menjaga Mesjid Nurul Huda ini.
Setahu K.H. Djawahir bentuk mesjid yang ada saat ini adalah bukan yang aslinya. Sebelum direnovasi pada 1989, mesjid ini tidak memiliki menara. Mesjid ini juga tidak mempunyai tempat wudhu yang sekarang ini. “Dulu kolam luas,” cerita Djawahir. Baru saat renovasi sekitar 1989 K.H Subkhi mengusulkan pembangunan menara. “Tujuannya bukan untuk variasi tapi untuk mengajak orang sholat. Muazdin di sana. Dan masyarakat tahu waktu sholat datang,” ungkapnya.
Sementara itu soal proses pembangunan mesjid K.H Jawahir mengaku tidak pernah mendapatkan sumbangan dari pemerintah. “Tanah, pasir dan bata dibuat dengan tenaga sendiri,” kenangnya. Cerita ini ditegaskan oleh Abdul Malik, lelaki berusia 65 tahun yang sejak usia 15 tahun melakukan tarhim, membangunkan warga dengan shalawat sebelum waktu subuh tiba. Menurutnya pembangunan mesjid ini memang ikhlas dari masyarakat. “Tanahnya kalau tidak salah wakaf salah satu masyarakat yang kaya di Ciloang. Sementara untuk pasir, warga Ciloang menggali sendiri di sungai Kulung Watu,” cerita Pak Malik. Dulu menurut Pak Malik bangunanya tidak menggunakan semen tapi apu. “Saya dan kawan-kawan berjalan ke daerah Walantaka untuk membawa apu,” kenangnya sambil tertawa. Tapi masyarakat semuanya, kata K.H Jawahir ridho untuk membangun mesjid untuk hanya berniat ibadah kepada Allah.
Saat ini, Mesjid Nurul Huda, berdiri kokoh dengan gaya arstektur khas Banten. Pengelolaannya digarap sama-sama oleh masyarakat sekitar. Meskipun tidak memiliki nilai arsitektur yang wah, mesjid ini menjadi simbol semangat masyarakat Ciloang mencintai Allah dan Agama Islam. [Aji]





February 3rd, 2010 at 11:14 pm
Ingin lihat replika menara Banten, datanglah ke kampungku Ciloang. hanya 800 meter dari jalan raya kemang, Serang, Banten. Jika anda ingin menikmati sepanjang perjalanan menuju ke tempatnya, jalan kaki hanya sepuluh lima menit. Tapi kalo anda sudah lelah, dan malas berjalan bisa menggunakan jasa ojek dan becak seharga Rp. 5000,- selamat datang.
February 3rd, 2010 at 11:16 pm
Ingin lihat replika menara Banten, datanglah ke kampungku Ciloang. hanya 800 meter dari jalan raya kemang, Serang, Banten. Jika anda ingin menikmati sepanjang perjalanan menuju ke tempatnya, jalan kaki hanya 5 menti. namun jika anda terlalu capek bisa menggunakan jasa ojek dan becak Rp. 5000,- selamat datang.