KETIKA CARREFOUR HADIR DI KOTAKU
Gola Gong | Essay | December 6th, 2009 | No Comments »
KETIKA CARREFOUR HADIR DI KOTAKU
Oleh Sulaiman Djaya*
Ketika kita mendengar nama Carrefour, serentak yang hadir dalam benak dan bayangan kita adalah sebuah tempat yang menyediakan apa saja yang kita butuhkan, bahkan yang tidak kita butuhkan, di mana ia menjanjikan kenyamanan dan rekreasi pada saat bersamaan.
GAYA HIDUP
Di Carrefour kita tak cuma membeli atau berbelanja, di sana kita juga bisa “mencuci mata” alias berjalan-jalan sembari melihat-lihat apa saja, dari mulai poster-poster reklame dan selebriti yang menggiurkan, hingga aneka jajanan yang tersedia dari sudut ke sudut lainnya. Belum lagi kata itu seringkali diidentikkan dengan ciri “kekotaan” dan “kemewahan sosial” ketika ia hadir dan berada.
Tetapi ternyata tidak hanya sekedar apa yang telah saya sebutkan, Carrefour pada akhirnya akan berdampak pada gaya hidup dan perilaku sosial masyarakat konsumennya, yang bila kita melihatnya dengan kerangka analitik dan teoritik marxist, setiap aktivitas ekonomi (infrastruktur) akan turut menentukan pola dan perilaku sosial dan budaya masyarakatnya (suprastruktur). Artinya, kehadiran Carrefour akan menciptakan jadwal aktivitas rutin baru untuk selalu membeli bagi yang memiliki kocek tebal, yang mirip ritual wajib keagamaan. Sementara mereka yang pas-pasan dan papa mungkin hanya bisa gigit jari sembari meratapi nasibnya.
Di era yang disebut sebagai era “masyarakat konsumtif”, sebagaimana para penulis dan sosiolog mutakhir menjulukinya semisal Jean Baudrillard dan George Ritzer, kita hidup di mana iklan begitu berkuasa dan menjadi firman-firman baru yang imperatifnya begitu halus dan merayu, menggoda dan menggiurkan, yang anehnya kita tak merasa diperintah oleh iklan-iklan tersebut.
Iklan-iklan itulah yang berfungsi sebagai “mesin pemompa hasrat” masyarakat konsumtif agar selalu membeli dan mengkonsumsi, yang menciptakan dan merekayasa kebutuhan, hingga setiap orang membeli bukan karena adanya kebutuhan pada benda-benda yang mereka beli, tetapi seringkali hanya sekedar mengikuti “trend” dan “gaya hidup” yang telah diciptakan dan direkayasa oleh sekian banyak reklame dan iklan yang bisa kita jumpai di mana saja, di sudut-sudut jalan, di tivi-tivi, di radio, dan di koran-koran.
Begitulah, ketika saya menyengajakan diri untuk mengamati secara dekat dan langsung respons masyarakat Kota Serang setelah dibukanya Carrefour, ternyata di sana saya tak hanya melihat masyarakat biasa umumnya berjalan beriringan bersama keluarga mereka atau yang tanpa keluarga dan para remaja yang saling berpasang-pasangan, saya juga melihat banyaknya ibu-ibu dan bapak-bapak PNS, yang rupa-rupanya mereka telah meninggalkan “kursi dan meja” kantor mereka meski jam kerja belum selesai, karena ketika saya mampir di Carrefour hari itu waktu di jam tangan saya masih menunjukkan pukul 14.05 ketika saya berjalan-jalan Carrefour di hari Rabu itu.
Melihat kenyataan itu, saya jadi berprasangka bahwa kehadiran Carrefour mungkin saja sebenarnya telah dinanti di kota kecil ini, karena bisa jadi mereka yang memiliki kocek tebal berbelanja ke kota lain sebelum Carrefour dan Ramayana hadir di Serang, seperti ke Cilegon atau ke Tangerang, bahkan ke Jakarta dan Bandung. Dengan kata lain, citra-citra tentang berbelanja yang murah dan nyaman telah sangat terbentuk dalam benak kebanyakan masyarakat, bahkan ketika tempat berbelanja itu sendiri belum ada atau belum hadir di hadapan mereka. Citra-citra itu dimassifkan dan diciptakan oleh sekian iklan dan reklame yang merambah segala media dan perangkat, mulai dari media cetak, elektronik, hingga papan-papan dan baligo-baligo reklame yang kita jumpai di tiap sudut kota dan tempat.
MASYARAKAT KONSUMEN
Melihat fenomena itu, saya ingin kembali kepada pendapat para analis dan penulis-pemikir mutakhir, di mana menurut mereka kapitalisme telah menciptakan dan mendefinisikan aspek sosial dan aspek kognitif-nya sendiri dengan diskursus dan pencitraan yang cepat dan massif, yang seringkali lebih efektif dan lebih diterima ketimbang ajaran-ajaran dan doktrin-doktrin agama untuk konteks saat ini, bahkan agama pun tak luput dari praktek-praktek “komodifikasi”, tengok saja dakwah-dakwah instant di tivi-tivi atau transaksi doa-doa dan pesan-pesan religius via Short Message Service alias SMS.
Dengan kata lain, kehadiran Carrefour di sebuah kota kecil akan berdampak pada perubahan sosial dan kognitif masyarakat yang ada di sekelilingnya dan yang menjadi para pembeli alias konsumennya, sebuah dampak yang bisa juga disebut sebagai terbentuknya masyarakat konsumer atawa consumer society yang lebih massif dan cepat dari sebelumnya, di mana mendapatkan kecepatan dan efisiensinya ketika berhadapan dengan masyarakat yang pasif dan mudah menerima apa saja yang diujarkan oleh sekian reklame dan iklan, masyarakat yang dalam bahasa Habermas disebut sebagai masyarakat yang tidak memiliki daya kritis kognitif, yang akan cenderung mudah terhasut dan terdefinisi oleh kekuatan dan imperatif yang datang dari luar diri mereka.
Bahwa kehadiran Carrefour di sebuah kota kecil akan juga berdampak pada perkembangan dan kemajuan sebuah kota dari sudut jasa dan membuka lapangan pekerjaan kita juga tak mungkin mengingkarinya. Tetapi di sisi lain, kehadiran Carrefour juga akan berdampak pada konsekuensi tersingkirnya aktor-aktor kecil ekonomi semisal para pedagang kaki lima dan emperan, juga tak bisa dinafikan.
Karena itu, dibutuhkan kecermatan dan kecerdasan para perancang kota dan penentu kebijakan dalam memetakan sentra-sentra ekonomi dan budaya sebuah kota bila sebuah kota ingin tetap stabil sekaligus mampu mencapai cita-cita politik dan ekonomi yang adil, meski tidak maksimal. Upaya tersebut sudah merupakan keniscayaan bila sebuah kota, apalagi sebuah kota yang relatif baru dan masih kecil, tidak ingin kehilangan potensi dan keseimbangan yang telah dimiliki sebelumnya (2009).
*) Eseis dan Penyair.




Leave a Reply