BENGKEL SASTRA PUSAT BAHASA: SAATNYA GURU DAN MURID MENULIS CERPEN!
langlang | Laporan Utama | December 4th, 2009 | No Comments »
Oleh: Gading Tirta

Peserta Bengkel Sastra duduk melingkar di bawah pohon
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata-kata ‘bengkel’? Tentunya ingatan kita akan terbayang pada benda-benda atau hal-hal yang sudah rusak dan harus segera diperbaiki agar kerusakan tidak bertambah parah. Lantas di manakah tempatnya? Maka tempat itu biasanya disebut dengan bengkel. Jika bengkel identik menerima barang-barang elektronik, maka apa jadinya jika bengkel tersebut menerima layanan cerpen? Apakah yang dibenahi, dilas, dipantek, disambung , dan komponen-komponen yang akan diperbaiki? Membicarakan cerpen di sekolah adalah membicarakan beberapa kekeliruan yang terjadi dalam pola ajar.
Masih ingat di benak kita saat kita duduk di bangkus sekolah dahulu. Saat kita diharuskan menyelesaikan tugas mengarang berupa cerpen, biasanya kita hanya mendapatkan nilai tertentu saja. Cukup sampai di sana. Kita tidak pernah dikasih tahu oleh guru perihal nilai baik dan buruk dari cerpen atau karangan karya kita. Kita tidak pernah tahu apakah karakternya kuat? Atau judulnya menggigit sehingga layak dibaca? Lokasi setingnya jelas dan seolah nyata? Atau apakah konflik dalam ceritanya menarik dan penyelesaiannya sangat memikat? Tidak pernah bukan. Semuanya hanya selesai di atas nilai angka.
Berangkat dari sana, menulis cerpen tidaklah seharusnya disebut-sebut sebagai pekerjaan yang tidak sejajar dengan pelajaran semisal matematik atau fisika. Menulis cerpen tidak menjadikan siswa menjadi penghayal. Menulis cerpen tidak menjadina ‘madesu’ alias masa depan suram. Menulis pun bisa dijadikan profesi bagi masa depan generasi bangsa.
BENGKEL SASTRA
Sebegai jembatan. Yah, Rumah Dunia, salah satu komunitas yang tetap konsisten menggulirkan gerakan membaca di Banten selama dua hari berturut, yakni dari Rabu s/d Kamis (2-3/12), menjembatani Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan para guru dan murid di Banten dalam hal meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek.
Rumah Dunia menjadi fasilitator dalam hal lokasi dan pembicara. Hal itu dilakukan sebagai upaya percepatan tumbuh-tumbuhnya benih-benih penulis muda di Banten. Menurut Weni, salah satu pelaksana, program Bengkel Sastra ini rutin diadakan Depdiknas untuk mengenalkan sastra kepada pelajar dan guru Bahasa Indonesia agar dapat memahami dan mengambil manfaat dari sastra. Terutama sekali permasalahan karya sastra yang meliputi cerpen, novel, dan puisi.
“Dari acara ini, diharapkan paling tidak siswa dan guru tahu dulu apa itu sastra dan karya sastra,” ujar Weni saat pembukaan acara pada Rabu (2/12) di panggung utama Rumah Dunia. Weni menambahkan, Bengkel Sastra yang diadakan di Banten ini adalah yang kedua kalinya. Bengkel Sastra pertama dilaksanakan di kampus Universitas Tirtayasa (Untirta) dan menggandeng sastrawan Moh. Wan Anwar (almarhum) sebagai pembicara kala itu.
Sementara untuk yang kedua ini, Depdiknas menggandeng Rumah Dunia sebagai partner. Jika merunut ke belakang, Bengkel Sastra sudah ditelurkan oleh Depdiknas sejak tahun 1994. Mengingat antusias masyarakat yang cukup tinggi, maka Bengkel Sastra dijadikan program penting dan layak dijaga. Bengkel Sastra dicanangkan sebagai kegiatan rutin Depdiknas yang akan digulirkan di tiap provinsi di Indonesia. Sudah banyak provinsi yang dijamah oleh kegiatan ini. Beberapa provinsi yang sudah pernah digelar Bengkel Sastra di antaranya adalah Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Selawesi Selatan, bahkan Papua. Selain di provinsi, Bengkel Sastra juga digelar di kabupaten-kabupaten.
Pembukaan juga sempat dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Serang, M.Hafidi, ZA. Dalam sambutannya, Hafidi menuturkan, kegiatan ini layak disambut baik. “Menulis cerpen itu adalah wadah para pelajar untuk mengekspresikan dirinya,” ujar Hafidi di hadapan 15 guru dan murid perwakilan sekolah se-Banten.
MENULIS CERPEN ITU MENGASYIKAN!
Di hari pertama pelatihan menulis cerita pendek (cerpen) di Bengkel Sastra ini peserta diajak bahwa menulis cerpen itu sangatlah mengasyikan. Mulai dari menggali ide, menciptakan tokoh, menyisipan pesan, dan memainkan konflik.
Gol A Gong menegaskan, bahwa menulis cerpen itu sangatlah mengasyikan. Selain itu, Gong menuturkan bahwa menulis cerpen itu pekerjaan kolektif. Jadi salah jika orang mengatakan bahwa para pengarang itu hanya kerja sendirian di dalam kamar. “Jika saya tidak melakukan wawancara dengan pedagang uduk tidak mungkin saya bisa menuliskan cerpen yang bercerita tentang penjual uduk. Itu artinya karya saya melibatkan orang lain,” ujar Gong. “Sekali lagi salah jika Anda menganggap penulis itu pekerjaan individual. Itu egois namanya,” tandas Gong.Lalu Gong menegaskan bahwa menjadi penulis bisa dijadikan profesi.
Sementara itu Toto ST Radik, penasehat Rumah Dunia yang juga seorang penyair nasional dan cerpenis, memberikan materi “Eksplorasi Tokoh dalam Cerpen”. Menurut Toto yang saat ini menjabat Kasie Kebudayaan di Disporaparbud Kota Serang, karaktar tokoh itu bisa dihadirkan lewat beberapa cara. “Ada yang langsung diberitahu oleh penulisnya bahwa karakter ini baik atau juga jahat, ada juga yang diserahkan kepada penilaian pembaca lewat adegan dan dialog antar tokohnya,” tegas ayah dua putri ini.
Sementara persoalan setting lokasi cerita pendek dipaparkan oleh Rahmat Heldy HS, salah satu relawan Rumah Dunia yang baru saja ikut dalam antologi cerpen “Peduli Palestina” yang diterbitkan Lingkar Pena Publishing House (LPPH). Selain itu juga, Presiden Rumah Dunia Firman Venayaksa, didaulat sebagai sang pembedah karya para peserta. Selain itu peserta juga menyimak pengalama empiris dan proses kreatif dari Ibnu Adam Aviciena dan Langlang Randhawa yang sudah menulis beberapa cerpen di media lokal dan nasional serta sudah menerbitkan novel.
Dalam testimoninya, Ibnu yang tahun lalu menerima beasiswa dan menyelesaikan studi S2 di Leiden, Belanda, mengenang kembali bagaimana lemahnya kemampuan guru dalam hal mengarang yang ia rasakan dulu sewaktu duduk di bangku Aliyah. Ibnu berharap para guru sekarang sudah mulai bisa mengarang saat menyuruh anak muridnya mengarang. “Itu kasus saya dulu, Bu,” papar Ibnu saat beberapa guru merasa tersindir.
Langlang pun memaparkan bagaimana proses kreatifnya menjadi seorang penulis. Ternyata Langlang memulainya sejak kecil. “Semua ini bermula saat imajinasi saya melayang-layang mendengarkan orgntua mendongengkan kisah monyet dan kera setiap hendak tidur,” ujar Langlang memilih fokus menjalani proses panjang soeorang penulis novel handal.
TINDAK LANJUT
Berbagai komentar pun terlontar dari para peserta dalam menyikapi acara “Bengkel Sastra” ini. Hampir seluruh peserta pelatihan menulis cerpen ini mengaku gembira dengan kegiatan yang diadakan. Beberapa malah berharap “Bengkel Sastra” ini menjadi kegiatan rutin tahunan Rumah Dunia. Yayan, salah satu peserta dari SMA Al-Irsyad, Waringin Kurung mengatakan, “Senang rasanya bisa mengikuti bengkel sastra ini.” Menurutnya, ia lebih fokus dalam mempelajari cerpen. “Kalau bisa diadakan lagi minimal setahun sekali,” harap Yayan. Yayan juga mengaku ada sedikit gambaran tentang bagaimana menulis cerpen setelah mengikuti acara “Bengkel Sastra” ini.
Hal sama juga dialami oleh Datin, siswa kelas XI IPS di SMA Islam Al Azhar 6 Serang. Remaja asal Ciracas, Serang, ini mengaku senang bisa mendapatkan materi cerpen langsung dari pakarnya. “Semoga acaranya tidak hanya hari ini. Bisa lebih rutin. Kalau bisa datang ke sekolah-sekolah,” harapnya dengan penuh senyum.
Tak beda jauh dengan murid, para guru pun memberi komentar untuk acara ini. Sebagaimana yang dipaparkan Rafiudin, S.Pd., guru SMA Islam Al Azhar 6 Serang, yang juga mengapresiasi baik acara Bengkel Sastra. Menurutnya, kelebihan acara ini adalah karena mengkolaborasikan antara guru dan murid. Namun Rafiudin tidak merasa mendapatkan hal baru dalam pelatihan ini. “Pada dasarnya teorinya sama. Cuma motivasi yang harus dijaga,” ujar lelaki yang tulisan-tulisannya sudah banyak dimuat di koran ini.
Satu kesepakatan pun diambil. Guna meneruskan pelatihan Bengkel Satra, para peserta sangat antusias sekali ketika Rumah Dunia akan menindak lanjuti pelatihan itu pada program reguler “Kelas Menulis Rumah Dunia” angkatan 15, yang akan dibuka pada 9 Januari 2010.
Ini adalah komitmen yang harus tetap dijaga, dan dari Bengkel Sastra yang mengupas cara menulis cerpen, para guru dan murid sudah saatnya menulis cerpen! Merdeka! (*) [Liputan: Ahmad Wayang.Foto: Langlang Randhawa]




Leave a Reply