S A N G B I D U A N
langlang | Cerpen | December 3rd, 2009 | 2 Comments »
http://2.bp.blogspot.com
Oleh: Ahmad Wayang
Kini gadis berambut panjang dan bertubuh ramping itu mulai dilirik orang. Juga kakinya yang indah, serta wajah yang memiliki senyum manis dan kata sebagian orang selalu membuat rindu, telah berhasil memikat penggemarnya dengan suaranya yang khas.
Meski terbilang anak bawang, tapi namanya sudah banyak dikenal banyak orang. Nurheti namanya. Sering diundang di berbagai desa untuk bernyanyi di acara pesta perkawinan atau sunatan.
Aku mengenalnya sebulan yang lalu. Saat Toni, mengajakku pergi ke sebuah tontonan organ tunggal, di pasar Kamis.
“Ada biduan baru yang masih segar, Bos,” kata Toni malam itu. “Namanya Nurheti. Cantik dan montok orangnya. Pokoknya bos bakalan suka!”
Di atas panggung, saat Nurheti sedang menyanyi, aku langsung menyukainya. Aku pun tertarik, dan langsung berjoget dengannya seraya menyawer. Kuberikan semua uang yang kupegang tanpa banyak pikir lagi. Perlahan kucium bau wanginya, yang membuat iman para kaum Adam runtuh dan tergoda ingin memilikinya. Nurheti begitu sempurna di mataku, hingga saat lagu berhenti, aku memandikan Nurheti dengan ratusan uang berwarna unggu.
Di belakang panggung yang remang-remang, berserakan beberapa bekas botol minuman keras di bawah kakiku. Aku mengobrol sejenak. Dengan sedikit rayuan dan bualan kosong, aku berhasil mendapatkan nomor handphone-nya. Malam ini aku tanggap Nurheti menyanyi, berjoget dan bergoyang denganku. Sebetulnya aku belum puas bergoyang denganya. Aku ingin menghabiskan malam ini bersama Nurheti, tapi aku keburu dibopong Toni pulang. Katanya aku mabuk berat.
Setelah menyempatkan memberi uang pada Nurheti secara diam-diam, aku suruh Toni membawaku pulang ke rumahnya. Aku suruh juga Toni mengirimkan Nurheti padaku malam ini. Tapi, malah Toni menganggapku bergurau. Hingga pagi tiba, aku tak bisa cari alasan untuk pulang ke rumah. Popy pasti marah, kalau tahu uangku habis hanya untuk menyawer biduan. Di rumah akan jadi neraka, kalau sampai Popy tahu uangku berpindah pada Nurheti, biduan cantik yang telah memikat hatiku.
“Aku harus bisa mendapatkan Nurheti. Seperti Popy, si artis ibukota yang berhasil aku taklukkan hatinya.” Aku membatin. Aku yakin, dengan beberapa langkah saja aku bisa mendapatkannya. Apalagi aku tahu kalau Nurheti terlahir dari keluarga miskin. Tinggal aku rayu saja dengan uang, pasti dia akan jatuh di pangkuanku. Ya, begitulah aku membayangkan indah. Aku ingin tertawa membayangkan kemenanganku nanti. “Nurheti, tunggulah Abangmu ini.” Aku tak kuat menahan kegembiraan ini.
***
Tengah malam pintu diketuk dari luar. “Assalamu’alaikum… Bu. Ibu.” Nurheti mengetuk, tapi tak ada jawaban dari dalam rumah. Nurheti mengintip dari lubang bilik rumahnya. Nurheti kembali mengetuk dan memanggil. Barulah, beberapa saat kemudian terdengar jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka.
“Mita sama Imah, udah pada tidur?” Nurheti mencium lengan punggung ibunya, lalu memberikan bungkusan plastik berisi lepet dan telor asin.
“Pulangnya, kamu dianter sama siapa, Nur?” tanya Ibu khawatir.
“Ya, bareng sama biduan-biduan yang lain,” Nurheti sedikit cemas. “Memangnya, kenapa Bu?” sambungnya.
“Nggak papa, Ibu cuma khawatir. Takut, kalau kamu pulang sendirian nanti, ada apa-apa di jalan.”
“Ibu jangan khawatir, Nur kan udah gede. Nur bisa jaga diri kok.” Nur mencoba menenangkan kecemasan Ibu. “Oh, ya, malam ini Nur dapat rezeki lebih.” Nurheti memberikan uang pada Ibunya.
“Lima ratus ribu?” kata Ibu tak percaya.
“Bapak pulang?” tanya Nur.
“Belum. Mungkin besok.” Ibu masih sibuk membulak-balik uang.
“Sebagian uangnya ditabung ya, Bu, buat biaya sekolah Mita dan Imah nanti,” pinta Nur. “Oh, iya, minggu depan, Nur diundang nyanyi di kota. Nur boleh ikut ya?” pinta Nur memelas.
“Tapi…” Ibu berfikir.
”Soal Bapak?” potong Nur. “Nanti Nur yang ngomong,” kata Nur mantap. “Sudah saatnya Nur membantu ekonomi keluarga kita. Sudah waktunya kita bangun dari kemiskinan,” hati Nur berkobar-kobar. “Nur nggak mau ngelihat Imah dan Mita putus sekolah. Nur nggak mau terus-terusan hidup dalam kemiskinan.” Matanya sedikit berkaca-kaca.
“Ya sudah, nanti kita bicarakan besok dengan Bapak. Sekarang kamu istirahat gih.” Ibu mengelus rambut Nur sebelum si putri sulung masuk ke kamarnya.
****
Malam itu di pasar induk kota, Ramin sibuk mengangkat sayuran dari bak truk, bersama ketiga kawannya. Setelah itu diangkut ke dalam kios atau gubuk-gubuk pasar. Dengan upah Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per orang.
HUUUHH…!! Ramin membuang nafas. Di usapnya keringat yang mulai membanjiri wajah yang mulai menua.
Ramin terdiam kaget, saat mendengar nama anaknya disebut-sebut dua orang pemuda yang sedang mabuk.
“Minggu depan, di alun-alun ada Nurheti. Biduan cilik yang bohai itu akan nyanyi,” kata pemuda berambut gondrong.
“Katanya, cantik dan seksi, ya?” pemuda bersarung menimpali.
“Beeh, pokoknya artis ibukota mah, kalah sama Nurheti. Aku juga mau jadi pacarnya. Bohai banget pokoknya!”
Ramin beristigfar dalam hati. Benarkah Nurheti yang diceritakan kedua pemuda itu adalah anaknya? Ramin terus bertanya-tanya dalam hati. “Semoga saja, dia bukan Nurheti, anakku,” Ramin berharap dalam hatinya. “Tapi, seandainya dia anakku? Ah, tidak mungkin!” Ramin segera mengusir anggapannya jauh-jauh.
”Min, kenapa?” Didin menepuk pundak Ramin yang sedang bengong.
“Eh, nggak, saya cuma kepikiran anak di rumah.” kata Ramin murung.
Hingga pagi tiba, Ramin terus kepikiran anak gadis sulungnya, Nurheti. Pagi itu juga, setelah membeli satu kilo rambutan, Ramin segera pulang. Ramin tak lupa dengan pesanan Mita, anak bungsunya yang ingin dibelikan rambutan.
****
Di dalam angkot, Ramin duduk di pojok bengong sendiri. Tak berapa lama naik dua orang bocah berseragam sekolah duduk di pojok. Berhadapan dengan Ramin.
“Eh, minggu depan ada biduan Nurheti, ya di Alun-alun kota?” tanya bocah yang kurus.
“Iya, tumben kamu tahu, Dik? Nanti kita nonton bareng, ya,” ajak bocah yang agak gendut. “Tadi malam, kamu diajak nonton nggak mau. Ada Nurhetinya. Aku juga sempet nyawer dia. Wuuh… pokoknya, begini orangnya!” katanya lagi sambil mengacungkan jempol. “Sini aku kasih tahu,” lalu membisikan sesuatu pada temanya.
“Wiihh, sampe meluk segala?” katanya tak percaya. Dan tawa pun pecah di tengah-tengah Ramin.
Ramin kaget mendengar obrolan bocah tadi. Jantung Ramin berdetak kencang. Ramin yakin sekarang, jika biduan yang sedang dibicarakan kedua bocah ini adalah Nurheti, anaknya. Darah Ramin naik ke atas. Hingga turun dari angkot, Ramin belum bisa memadamkan amarahnya yang sedang bergolak.
Sesampainya di rumah, Ramin langsung menanyakan Nurheti pada istrinya.
“Ada, Kang di kamar.” kata Ibu. Dan tak berapa lama wajah Nur nongol dari balik helai gorden yang dijadikan pintu kamarnya.
“Ada apa, Pak?” tanya Nur.
“Ada apa, ada apa… Kamu semalam ngedangdut, ya? Kamu nggak denger omongan Bapak? Bapak nggak mau kamu jadi biduan!” bentak Ramin tiba-tiba memarahi Nurheti.
“Tapi kenapa, Pak? Nur cuma ingin ngebantu Bapak dan Ibu cari duit. Nur nggak mau ngelihat…” Nur tak sempat meneruskan ucapanya.
“Sekali tidak, tetap tidak! Paham kamu?” bentak Ramin lagi, sembari menunjuk Nur penuh amarah. Di mata Ramin pekerjaan biduan adalah pekerjaan yang hina dan penuh dengan dosa. Ramin tak mau melihat anaknya terjerumus dalam lembah maksiat. Ramin tak mau melihat masa depan anknya hancur.
“Apa Bapak malu, punya anak seorang biduan?” bentak Nur di luar kendali.
Tangan Ramin sudah siap di layangkan ke wajah Nur, tapi keburu di cegah Ibu.
“Sudah, sudah…!” Ibu menengahi pertengkaran. Sedang Nur masuk ke dalam kamar sambil menangis.
****
“Hallo.” terdengar suara dari sebrang.
“Iya, Bang ada apa?” tanya Nur.
“Nanti malam Abang yang jemput kamu, ya?”
“Nggak usah Bang, makasih. Mulai besok Nur nggak bakalan nyanyi lagi. Bapak ngelarang Nur nyanyi. Nur juga sudah ngebatalin janji sama Manis Grup.” Nur menjelaskan.
“Loh, kenapa dibatalin? Kamu itu banyak yang nunggu di sana. Sebentar lagi, kamu pasti jadi penyanyi terkenal, dengan suara emasmu itu. Tinggal beberapa langkah lagi, kamu bakalan sukses!” rayu Jaka. “Kamu harus buktikan sama Bapakmu, kalau kamu bisa jadi orang hebat. Kalau kamu bisa jadi kaya dengan bernyanyi!”
Tak ada jawaban. Nur masih berfikir keras.
“Abang harap kamu bisa terus bernyanyi. Kalau perlu kamu kabur dari rumah untuk beberapa hari. Nanti Abang carikan kontrakan buat kamu. Masalah biaya, jangan kamu pikirkan. Nanti Abang yang tanggung semuanya. Asalkan mimpi kamu terwujud. Kamu itu masih muda, jangan kamu kubur mimpi itu hanya gara-gara larangan Bapakmu. Justru kamu harus buktikan, kalau kamu itu bisa.” Jaka memutuskan sambungan teleponnya.
Jaka berharap, Nurheti akan termakan rayuannya. Tapi sampai pukul lima sore Nurheti tak kunjung menghubungi Jaka.
Tak berapa lama ada pesan masuk di Hp Jaka. “Bang, jemput Nur di terminal. Sekarang.”
Tanpa pikir lagi, Jaka langsung menjemput Nur dengan sedan hitamnya. Nur telah masuk dalam kandang serigala berwajah tampan. Sedan hitam meluncur di jalanan kota.
“Kita cari makan dulu, ya? Nur juga belum makan kan?” ajak Jaka. Nur hanya bisa menurut mengiyakan ajakan Jaka.
“Tapi kok, jalan sini? Ini kan jalan sepi?” Nur mulai khawatir.
Tanpa Nur sadari, Toni yang dari tadi ada di belakang jok mobil langsung memainkan aksinya sesuai perintah Bos Jaka.
HUUP!!!
“Kena kamu.” Toni membius Nurheti dari belakang. Tiba-tiba kepala Nur jadi pusing dan pandangannya mulai buram, lalu gelap. Sedan hitam itu terus meluncur jauh di tempat yang makin sepi. Hanya ada tawa kemenangan dua orang, di dalam sedan itu. Sedang mimpi seorang biduan masih terlelap, dan entah kapan ia akan bangun.
Februari 2009
Ahmad Wayang, lahir 19 September 1987 di Kepondoan, Serang-Kibin. Pernah mengikuti training menulis (TRALIS) 3 FLP dan kelas menulis Rumah Dunia angkatan VIII, sekaligus menjadi relawan di Rumah Dunia.




December 4th, 2009 at 5:31 pm
mas Ahmad, masih 22tahun, tetap semangat menulis ya…gaya tuturnya ‘ngebut’ dan to-the-point, asik diikuti…
Untuk para calon BIDUAN, ya harus berpikir masak2 ya…ini fenomena nyata yang mulai menyerang kota2 kecil hingga pedesaan, di kota besar malah mulai beda trend-nya.
Anak ABG kampung di-’jual’ dikota besar, anak ABG kota betul2 serius sekolahnya, walo tetep ada yang nakal…
July 3rd, 2010 at 2:20 pm
Sang biduan, kau bikin aku terpesona. saking terpesonanya sampe aku kebingunan. hehehe…teruskan kawan.