SENJA DI SELAT SUNDA [13]
Gola Gong | Novel | November 28th, 2009 | No Comments »

Gong dengan suku Novaulu di pulau Seram
Oleh Gol A Gong
Nana mengangguk. Kelima cewek itu mengikuti pelayan. Nana duduk menyender ke tembok. Meminta es cola pada pelayan itu. Cahaya di bar mulai redup. Para pengunjung yang sedang bersantai memenuhi dua pertiga ruangan masih asyik bercengkrama dengan lawan bicaranya atau lamunannya masing-masing.
“Saya deg-degan,” Yanti meraba dadanya.
“Kalian yakin para tamu bakalan suka lagu-lagu mereka?” Dini juga ikut khawatir.
“Aku sedang berdoa untuk itu,” Prety memejamkan mata.
“Paling-paling cuma suka sama pemain bass-nya,” Rehan tertawa.
“Aku serius!” Yanti mendelik.
“Kamu kok diem aja?” Dini menyentuh lengan Nana.
“Kami ikut prihatin, Nana, dengan apa yang terjadi pada Eri,” Rehan merangkul bahunya.
Nana mencoba tersenyum.
Lampu mulai menyorot ke panggung.
Eri dan Mhaex menyelendangkan gitar, Adam mulai memukul-mukulkan stik drum, Opik berdiri di depan piano, dan seketika itu pulalah melengking suara Uzi, “Oh Darling!” dari Beatles.
Nana melihat para pengunjung agak tersentak juga. Mata mereka perlahan-lahan berpindah ke panggung di sudut ruangan. Suasana yang romantis dan penuh kenangan seperti tercipta dari wajah-wajah tamu, yang rata-rata di atas 40-an tahun.
Lalu meluncur lagu-lagu blues legendaris. Rupanya malam ini mereka tidak membawakan lagu-lagu yang hingar-bingar atau jingkrak-jingkrak tanpa harus meninggalkan akar rock ‘n roll yang sudah biasa mereka bawakan.
Di atas panggung tiba-tiba ada kelainan. Uzi menghilang ke belakang panggung. Rupanya saat inilah Eri akan menyanyi. Seseorang muncul membawakan kursi.
Eri duduk di kursi itu.
Hening sebentar.
Nana pada mulanya tidak percaya kalau yang sedang membawakan “Mother”-nya John Lennon itu adalah Eri, yang paling kesal jika disuruh menyanyi. Tapi Nana merasakan Eri bukan sekadar menyanyi. Tiba-tiba Nana seperti melihat seseorang sedang meronta-ronta, menjerit, menangis, dan berteriak-teriak marah pada keadaan.
“Oh, aku nggak percaya Eri bisa nyanyi!” Yanti menutup mulutnya.
Nana merasa kelopak matanya hangat. Dia mengusap air matanya, yang mulai mengalir hati-hati. Dia tahu persis apa yang sedang berkecamuk di hati Eri. Kalau saja papa-mama Eri malam ini hadir di sini, selayaknya mereka harus bahagia melihat anaknya yang sangat mendambakan keharmonisan sebuah keluarga. Harta yang melimpah memang tidak pernah bisa menjamin kebahagiaan seseorang.
“Bagaimana, Nana? Bagus suaraku?” Eri meminta pendapatnya dalam perjalanan pulang tadi.
“Kamu nggak nyanyi tadi,” Nana meledek.
“Lalu, apa?”
“Kamu protes.”
“Protes pada siapa?”
“Pada Tuhan.”
Eri tertawa hambar, “Para tamu ‘kan nggak ada yang tahu masalahku.”
“Aku ‘kan tahu. Uzi, Adam, Mhaex, dan Opik juga tahu. Yanti dan yang lainnya juga ngerti.”
“Kalian bukan tamu.”
“Tapi kamu menyuruh aku dan pemain band untuk mendengarkan rintihanmu. Protesmu. Seolah-olah kamu mengumumkan pada kami, bahwa Tuhan sudah nggak bersikap adil pada kamu. Sementara kami hidup dengan keluarga yang bahagia, tapi kamu malah hidup berantakan.”
“Yang penting pengunjung terpesona tadi dengan suaraku.”
“Mereka cuma memhayangkan John Lennon yang nyanyi tadi,” Nana tertawa.
“Sekarang kamu tertawa, Nana. Dan kedengarannya sinis.”
Nana terpaksa harus hati-hati. “Aku cuma bosan ngedenger persoalan-persoalan yang terjadi di rumahmu, Eri. Seolah-olah kamu mengeksploitirnya. Minta dibelaskasihani sama orang-orang, bahwa ‘Nih, aku anak yang terlahir dari keluarga broken home’ .
Kenapa aku bosan ngedengernya? Karena aku nggak hisa ngebantu apa-apa. Seharusnya kamu bisa lebih tabah dari yang terjadi seperti sekarang, Eri.”
“Apa maksudmu, Nana?” Eri meminggirkan jeepnya.
“Sudah ma1am, Eri. Nantilah kita bicarakan hal ini.”
“Jawah, Nana. Kamu bosan dengan keluh-kesahku atau bosan dengan aku? Malah jangan-jangan ada cowok lain, Nana?”
“Oh, Eri, jangan kayak anak kecil.”
“Kita memang masih anak kecil, Nana. Kamu saja baru akan tujuh belas tahun. Aku belum lagi dua puluh.” ‘
“Ayolah pulang, Eri.”
“Aku memang nggak bisa kayak cowok-cowok lain, Nana. Yang bisa menggembirakan pasangannya di setiap malam Minggu, karena hidup mereka sendiri sudah hahagia.
Aku malah jarang mengapeli kamu di malam Minggu. Mengajakmu nonton atau makan malam. Kalaupun aku mengajakmu pergi, paling-paling aku menceritakan tentang keadaan rumah yang seperti neraka.”
Nana tidak menjawab, walaupun hatinya mengiyakan.
Setelah kejadian malam itu, Eri menghilang lagi selama seminggu. Seperti angin, yang datang dan perginya tak pernah ketahuan.. Begitulah yang terjadi pada Eri, yang bisa datang dan pergi semaunya saja. Kadang kala Nana melongok lewat pagar pembatas, mencari-cari Bik Iyem, pembantu tetangga sebelah itu.
“Bik, Bik,” Nana memanggil pembantu itu.
“Eh, Neng Nana.”
“Nggak ada orang di rumah, Bik?”
Bik Iyem menggeleng.
“Eri ke mana, Bik?”
“Nggak tahu, Neng. Malam-malam Eri bawa ransel. Bawaannya banyak, Neng. Mungkin pergi kemping.”
Nana menggerutu sendirian, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah itu kelompok band Eri datang memberondong Nana dengan beragam pertanyaan. Membuatnya kesal dan tidak bisa memihak siapa-siapa.
“Kemping ke mana Eri?” Uzi penasaran.
“Mana aku tahu!” Nana histeris.
“Ayolah, jangan main rahasia-rahasiaan!” Adam kesal.
“Kacau, kacau!” Mhaex nimbrung. “Bubar, bubar deh! Ke mana sih tuh anak!”
Cuma Opik yang bisa memaklumi. “Mungkin Nana nggak tahu ke mana Eri pergi. Ya, sudah. Kalaupun Nana tau, kita nggak punya hak untuk memaksa mengatakannya,” katanya pada yang lain.
“Sudah empat hari kami nggak main. Tanpa Eri, kita nggak bisa main. Malam ini peringatan terakhir. Kalau tetep nggak main, kami akan dipecat!” Uzi begitu kecewa.
“Cari aja pengganti Eri!” usul Nana.
“Nggak akan kami lakukan itu, Nana,” Opik masih tenang.
“Kenapa? Karena setengah dari uang pembelian peralatan band uangnya dari Eri?” Nana menyindir.
Mereka bersungut-sungut.
“Untuk sementara aja sambil menunggu Eri pulang,” Nana tetap pada pendiriannya.
“Inget, ini kamu yang mengusulkan!” Uzi menunjuknya.
“Iya, ini atas usulku!” suara Nana tegas.
“Gimana, Opik?” Uzi meminta pendapatnya.
“Kalian punya pilihan?” Opik melemparkan lagi persoalan.
Mhaex menyebut sebuah nama.
“Kita cobalah,” Adam tidak bergairah.
Tapi keesokan paginya di sekolah, orang-orang meributkan tentang kebakaran yang melanda hotel ternama di Pantai Selat Sunda. Hotel di mana Eri dan bandnya biasa tampil menghibur para tamu di bar.
Nana cuma bisa terisak-isak sendirian di kamarnya. Kenapa hal ini terjadi padamu, Eri? hati Nana meratap nelangsa.
“Sekarang semuanya berakhir, Nana,” Uzi tidur-tiduran di rumput. Yanti membelai-belai rambut kekasihnya dengan iba.
“Ada di mana kamu, Eri!”Adam berteriak.
“Kami nggak nyangka, bahwa malam tadi adalah malam terakhir kami main di hotel itu,” Mhaex meratapi nasib.
“Tanpa Eri,” Opik tersenyum kecut.
“Bagaimana itu bisa terjadi?” Nana panik.
“Biasa, korslet listrik!” Rehan yang bersender di bahu Mhaex, nyeletuk.
“Ya, siapa bisa membaca garis tangan hidup kita,” Opik menarik napas. “Aku pikir, kita akan istirahat panjang dari main band. Ini ada baiknya juga. Aku agak jenuh juga main di bar-bar.”
“Maksudmu?” Uzi bangkit.
Adam dan Mhaex juga menatapnya tidak enak.
“Tadi pagi kakakku menelepon. Dia tahu kebakaran hotel semalam dari berita TV. Aku ditawari kursus piano di Bandung,” Opik memegangi terus lengan Prety.
“Kamu mau meninggalkan kami?” Adam tidak percaya.
“Aku mau serius di musik sekarang. Dukunglah aku,” Opik memohon. “Kalian juga bisa melakukan hal sama seperti aku.”
“Ya, benar apa yang dibilang Opik,” Nana menyumbang pendapat. “Kalian ‘kan nggak akan selamanya main di bar-bar. Tentu suatu hari bermimpi masuk studio rekaman. Bermimpi bikin lagu sendiri dan didengar oleh semua orang.”
“Sebaiknya kita tunggu Eri pulang,” kata Uzi lemah.
“Kalau dia masih hidup!” Adam masih jengkel.
Nana menarik napas panjang.
***




Leave a Reply