CARE BOX ALA BELLA
Gola Gong | Gonjlengan | November 28th, 2009 | No Comments »

Care box terbuat dari dus minuman susu
Oleh Gol A Gong
Suatu hari di saat puasa September 2009 lalu, putri pertama saya, Bella (12 th) membeli susu kemasan merek Indomilk di Alfamart. Seusai buka puasa, dus susu Indomilk tidak dibuang. Bella tekun sendiri menyulap dus susu itu menjadi sesuatu yang luar biasa bagi anak-anak seusianya di lingkungan tempat kami tinggal, yang sudah sibuk dengan hand phone keluaran terbaru. Lalu Bella memberi nama dus minuman Indomilk itu: care box.
PARCEL
Dus itu diperlihatkan kepada kami; saya, ibunya, dan ketiga adiknya – Abi (10 th) , Odi (5 th) , Kaka (4 th). Saya membaca tulisan tangan Bella dengan spidol berwarna hijau di dinding dus kanan: Sumbangkan uang Anda di sini. Akan disalurkan untuk minuman bergizi pada anak2 yang kurang gizi. Di sisi kiri Bella menulis dengan warna pink: Dengan uang Anda yang disumbangkan turut menciptakan pelangi di mata mereka. Di bagian depan dengan warna kuning, sehingga saya harus meminta tolong Abi membacakannya: Mari budayakan Rp. 500,-/orang/hari. Ikhlas, pahala, menanti.
Bella berpesan kepada kami, “Nanti diisi, ya. Berapa saja. Abi juga. Sisa uang jajannya dimasukin ke care box.” Abi mengiyakan. Kedua adik Bella yang lain; Odi dan Kaka juga antusias. Bella cuma meminta Rp. 500,-/orang/hari kepada kami untuk dimasukkan ke care boxnya. Bella dan Abi uang jajannya Rp. 5000,-/hari. Sedangkan Odi dan Kaka kadang-kadang Rp. 3000,- atau Rp. 2000,-. Mereka semua bersekolah di TK/SD Peradaban. Bella beranggapan, ketiga adiknya bisa menyisikan Rp. 500,-

Kaka dan Odi menyerahkan parcel ke teh Riah
Care box itu Bella tempel di dinding ruangan depan. Saya lihat ada newsletter ditempel di sisinya. Dalam perjalanannya, ketiga adik Bella – selain kami – sesekali mengisi care box itu. Tidak ada paksaan. Hasilnya, sebelum kami mudik lebaran, Bella membuka care boxnya. Bella dan ketiga adiknya dengan bersemangat belanja di Alfamart. Lalu Bella and her gank membuat parcel. “Kasihan Teh Riah, belum pernah mengapat hadiah parcel,” kata Bella. Odi dan Kaka menghadiahkan parcel kepada Teh Riah, pembantu kami. Tidak lupa, Bella memotret moment bersejarah ini. Hingga November, care box sudah membantu seorang lagi warga Ciloang, yaitu pak Wawang. Uang yang terkumpul hampir Rp. 50.000,- Dana itu dibelanjakan sembako; gula, telur, minyak, mie,
PROYEK SOSIAL
Saya mendiskusikan hal ini dengan ibunya. Tampaknya Bella akan serius dengan care box ini. Ketika saya tanyakan kepada Bella, care box adalah proyek sosialnya. Dari royalty novel yang didapatnya, Bella ingin menyisihkannya untuk proyek social.
Saya jadi teringat ke masa-masa awal menggelorakan gerakan literasi lokal “Banten Membaca” di Rumah Dunia pada 2000 – 2002. Saya pernah mengusulkan kepada seluruh jajaran pegawai negeri di Pemerintah Provinsi Banten dan anggota dewannya untuk menyisihkan Rp. 50.000,- saja tiap bulan dari penghasilannya. Untuk anggota DPRD Banten, kabupaten dan kota se-Banten saja, asumsi saya, jika masing-masing mencapai 50 orang saja, dikalikan 10 wilayah sudah mencapai 500 orang. Jika Rp. 50.000,- dikalikan 500 orang pejabat di dewan sudah menghasilkan dana 25.000.000,- Dari uang itu bisa dipakai untuk membuat perpustakaan masyarakat atau yang lebih dikenal dengan taman bacaan masyarakat seperti Rumah Dunia. Dengan dana sebanyak itu perbulannya, saya dan Rumah Dunia bisa melakukan banyak hal; membina taman-taman baca di setiap sudut Banten. Dan tentu gerakan “Banten Membaca” bisa lebih efektif. Insya Allah.
Akankan proyek sosial Bella berjalan mulus, sementara teman-temannya lebih asyik membincangkan hal-hal yang berbau konsumerisme? Emak saya pernah bilang, “Kepedulian sosial harus ditanamkan sejak dini. Caranya dengan mencontohkan, jangan menyuruh.” Saya merasa heran, kenapa harus “kepedulian sosial”? Kenapa tidak ilmu pengetahuan? Emak menegaskan, “Jangan masuk ke wilayah otak dulu. Tapi, hati yang lebih penting.” Tambah Emak, jika hati seorang anak sejak kecil diisi dengan hal-hal baik, maka kecerdasan otak akan datang dengan sendirinya. Belajar bagi anak-anak di saat hati bahagia dan dihiasi bunga-bunga sangat bagus dan dengan cepat si anak mencernanya.
Kecerdasan emosi, ini yang sering dilupakan para orangtua. Hampir kebanyakan orang tua, menginginkan anak-anaknya sudah bisa membaca sejak usia dini, bukan melatih mereka untuk mencintai buku. Akibatnya, setelah mereka dewasa, mereka tumbuh bukan sebagai orang yang sanggup mengungkap makna di balik kata atau membaca tanda-tanda kehidupan. Mereka tumbuh sebagai anak-anak Indonesia yang bagai robot dn hanya cinta pada statistik, follower, instans, dan menjdai generasi yang lemah. Mereka menjadi pintu masuk unsur-unsur dekadensi moral di negeri ini. Tentu kita tidak ingin memiliki anak-anak yang kelak termasuk penghancur bangsa.
Maka jika kami bepergian, kami menunjukkan kehidupan yang sesungguhnya kepada keempat anak kami. Kami membawa mereka melihat pengemis, mengunjungi orang miskin, memberi sedekah jika ada pengemis datang ke rumah, berbagi kepada yang membutuhkan. Dan tentu Rumah Dunia adalah laboratorium kehidupan bagi mereka. Pelan tapi pasti, mereka melihat apa yang dilakukan oleh ayah-ibunya. Mereka mulai paham sejak dini, bahwa kita sebetulnya saling membutuhkan. Kalau kita pintar, tidak serta-merta hasil jerih-payah sendirian. Selalu ada keterlibatan orang lain. Kita tidak pernah berhasil sendirian. Tidak boleh ada anggapan seperti itu. Pintar harus sama-sama. Sejahtera pun sama-sama. (***)
- Rumah Dunia, 28 November 2009




Leave a Reply