NIKMATNYA BUBUR SUMSUM SANUSI DI PASAR LAMA
rumahdunia | Banten Kuliner | November 26th, 2009 | 3 Comments »

Sanusi meneruskan ayahnya jualan
Oleh Harir Baldan
Siapa yang tak kenal Pasar Lama Serang? Pasar yang berdiri sejak masa kolonial Belanda ini masih menyimpan bangunan rumah tua, klenteng Cina, dan bioskop Pelita. Selain menyajikan pemandangan yang kuno, di Pasar Lama juga banyak penjual makanan khas tradisional seperti bugis, gemblong, tiwul, gembleng, cuwer, dan bubur sumsum.
WANGI RASA
Kalau kamu berkunjung ke Pasar Lama jangan lupa menikmati bubur sumsum buatan Sanusi. Di tengah-tengah pasar lama di antara lapak ikan, daging, dan sayuran, Sanusi biasa mangkal dengan gerobak pikulnya. Dia mangkal mulai pukul 08.30 WIB setiap hari. Dagangannya akan langsung tandas saat jam menunjukkan pukul sebelas. “Kalo lagi rame pulang sekitar jam 11, tapi kalo lagi sepi pulang jam 12 atau jam satu,” akunya. Awalnya, pada tahun 2000, Sanusi karyawan di SPBU Gerem Jaya, Merak. Namun karena jarak dan penghasilannya amat terbatas, dia beralih profesi menjadi pedagang bubur sumsum hingga sekarang.
Bubur buatan Sanusi diakui beberapa pelanggannya memiliki kelebihan tertutama soal rasa. Seperti yang diungkapkan Hj. Jumahdi, warga Kaujon, Serang. “Rasa bubur sumsum Sanusi sangat wangi. Kalo ke pasar saya sering beli.”
Nani, asal Kedalingan, Serang juga berkomentar sama. “Enak. Adem ke perut,” katanya menanggapi. Ia mengaku sering membeli bubur sumsum buatan Sanusi setiap kali ke Pasar Lama.
Menurut Sanusi, pelanggan yang datang dan membeli dagangannya tidak hanya dari Kota Serang saja, melainkan juga dari Cilegon bahkan ada yang dari Bogor dan Bandung.
Soal rasa memang dijaga betul oleh Sanusi. Dia mengaku bahan dan cara pembuatan bubur sumsum menggunakan bahan-bahan yang serba alami, agar buburnya lebih enak. Termasuk saat memasak bubur, Sanusi memilih menggunakan kayu bakar ketimbang gas. “Kalau pake gas kurang wangi,” begitu Sanusi beralasan. Pengerjaannya pun dilakukan tiap pukul 01.00 WIB, karena jika dibuat siang atau sore tidak tahan lama dan khawatir basi.

Kenal maka sayanglah
KETAGIHAN
Untuk membuat satu loyang bubur sumsum, Sanusi menghabiskan tepung beras sebanyak 8 kilogram per hari. “Alhamdulillah, tiap hari habis meski musim hujan,” ujar bapak tiga anak ini mantap. Modal yang dibutuhkan Sanusi untuk membuat bubur sumsum hanya Rp 100 ribu. Sedangkan keuntungan yang didapatkan Sanusi biasanya sekitar seratus ribuan per hari.
Meski demikian, Sanusi masih saja mengeluh dengan pendapatannya. “Harga sembako sekarang semakin melambung. Belum lagi untuk resiko dapur dan tiga anak saya yang masih sekolah,” keluhnya. Sanusi berharap pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak. “Kalo BBM-nya mahal yang lain pasti ikut mahal,” katanya.
Sanusi sudah menekuni usahanya ini sejak tahun 2000 lalu. Sanusi meneruskan usaha bapaknya yang sudah berjalan 40 tahun di tempat yang sama. “Sayang kalau tidak teruskan pelanggan bapak sudah banyak,” ujar pria asli Malang Nengah, Kagungan, Serang ini.
Apakah bubur sumsum makanan khas Banten? Menurut Sanusi, ya. Alasannya, karena bubur sumsum itu sudah lebih dari lima puluh tahun ditekuni keluarganya. Tapi menurut Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Kota Serang, Baini, S.Pd., bubur sumsum tidak termasuk makanan khas Banten. “Soalnya di daerah manapun (bubur sumsum) ada,” jelas Baini ketika ditemui di kantornya, Kamis (26/11).
Terlepas dari apakah bubur sumsum merupakan makanan khas Banten atau bukan, yang pasti bubur susmsum buatan Sanusi mesti dicoba dan pasti akan ketagihan.(*)
RESEP BUBUR SUMSUM
Untuk membuat bubur sumsum, Sanusi mengolahnya menggunakan bahan-bahan alami dengan cara manual. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan cara membuatnya.
1.Bahan-bahan
-Tepung Beras
-Daun suji
-Pandan
- Santan dari kelapa setengah tua
-Gula Aren
-Gula Pasir
2. Cara membuat
Tepung beras atau beras yang sudah digiling dicampur air mentah kira-kira 15 gayung (untuk tepung sekitar 4 kilo). Lalu masukkan daun suji untuk pewarna agar bubur berwarna hijau dan daun pandan agar wangi. Aduk hingga air mendidih di atas api menggunakan kayu bakar selama 2 jam. Sesudah itu masukkan adonan keloyang dan dinginkan selama satu setengah jam. Bubur yang sudah dingin dan padat dipotong seukuran kotak korek api, lalu ditata berjejer di atas nampan. Untuk menambah nikmat, bubur disiram santan yang sudah dicampur gula aren dan gula pasir. (*)




November 27th, 2009 at 5:20 pm
mantap, ini perlu dicoba. buat sarapan anak².
November 27th, 2009 at 6:41 pm
Yah, santan. Ana tidak boleh makan santan. Nggak jadi, deh. (GG)
December 28th, 2009 at 6:08 pm
Pak Sanusi, selain mangkal di pasar lama juga biasa menerima pesanan,lho. Menurutnya, di Gedung Golkar di jalan Jenderal Sudirman, Ciceri, Serang, tiap kali ada acara bubur sumsum olahannya sering dinikmati orang-orang gedean. So, jika anda ingin memasan satu bubur untuk berbagai acara silahkan datang ke pasar Lama Serang. Sumsum perloyang seharga Rp 250.000, rasa khas bubur sumsum Sanusi sangat istimewa. Coba, dech.