NIKMATNYA BUBUR SUMSUM SANUSI DI PASAR LAMA

advert

Sanusi meneruskan ayahnya jualan

Sanusi meneruskan ayahnya jualan

Oleh Harir Baldan

Siapa yang tak kenal Pasar Lama Serang? Pasar yang berdiri sejak masa kolonial Belanda ini masih menyimpan bangunan rumah tua, klenteng Cina, dan bioskop Pelita. Selain menyajikan pemandangan yang kuno, di Pasar Lama juga banyak penjual makanan khas tradisional seperti bugis, gemblong, tiwul, gembleng, cuwer, dan bubur sumsum.

WANGI RASA

Kalau kamu berkunjung ke Pasar Lama jangan lupa menikmati bubur sumsum buatan Sanusi. Di tengah-tengah pasar lama di antara lapak ikan, daging, dan sayuran, Sanusi biasa mangkal dengan gerobak pikulnya. Dia mangkal mulai pukul 08.30 WIB setiap hari. Dagangannya akan langsung tandas saat jam menunjukkan pukul sebelas. “Kalo lagi rame pulang sekitar jam 11, tapi kalo lagi sepi pulang jam 12 atau jam satu,” akunya. Awalnya, pada tahun 2000, Sanusi karyawan di SPBU Gerem Jaya, Merak. Namun karena jarak dan penghasilannya amat terbatas, dia beralih profesi menjadi pedagang bubur sumsum hingga sekarang.

Bubur buatan Sanusi diakui beberapa pelanggannya memiliki kelebihan tertutama soal rasa. Seperti yang diungkapkan Hj. Jumahdi, warga Kaujon, Serang. “Rasa bubur sumsum Sanusi sangat wangi. Kalo ke pasar saya sering beli.”

Nani, asal Kedalingan, Serang juga berkomentar sama. “Enak. Adem ke perut,” katanya menanggapi. Ia mengaku sering membeli bubur sumsum buatan Sanusi setiap kali ke Pasar Lama.

Menurut Sanusi, pelanggan yang datang dan membeli dagangannya tidak hanya dari Kota Serang saja, melainkan juga dari Cilegon bahkan ada yang dari Bogor dan Bandung.

Soal rasa memang dijaga betul oleh Sanusi. Dia mengaku bahan dan cara pembuatan bubur sumsum menggunakan bahan-bahan yang serba alami, agar buburnya lebih enak. Termasuk saat memasak bubur, Sanusi memilih menggunakan kayu bakar ketimbang gas. “Kalau pake gas kurang wangi,” begitu Sanusi beralasan. Pengerjaannya pun dilakukan tiap pukul 01.00 WIB, karena jika dibuat siang atau sore tidak tahan lama dan khawatir basi.

Kenal maka sayanglah

Kenal maka sayanglah

KETAGIHAN

Untuk membuat satu loyang bubur sumsum, Sanusi menghabiskan tepung beras sebanyak 8 kilogram per hari. “Alhamdulillah, tiap hari habis meski musim hujan,” ujar bapak tiga anak ini mantap. Modal yang dibutuhkan Sanusi untuk membuat bubur sumsum hanya Rp 100 ribu. Sedangkan keuntungan yang didapatkan Sanusi biasanya sekitar seratus ribuan per hari.

Meski demikian, Sanusi masih saja mengeluh dengan pendapatannya. “Harga sembako sekarang semakin melambung. Belum lagi untuk resiko dapur dan tiga anak saya yang masih sekolah,” keluhnya. Sanusi berharap pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak. “Kalo BBM-nya mahal yang lain pasti ikut mahal,” katanya.

Sanusi sudah menekuni usahanya ini sejak tahun 2000 lalu. Sanusi meneruskan usaha bapaknya yang sudah berjalan 40 tahun di tempat yang sama. “Sayang kalau tidak teruskan pelanggan bapak sudah banyak,” ujar pria asli Malang Nengah, Kagungan, Serang ini.

Apakah bubur sumsum makanan khas Banten? Menurut Sanusi, ya. Alasannya, karena bubur sumsum itu sudah lebih dari lima puluh tahun ditekuni keluarganya. Tapi menurut Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Kota Serang, Baini, S.Pd., bubur sumsum tidak termasuk makanan khas Banten. “Soalnya di daerah manapun (bubur sumsum) ada,” jelas Baini ketika ditemui di kantornya, Kamis (26/11).

Terlepas dari apakah bubur sumsum merupakan makanan khas Banten atau bukan, yang pasti bubur susmsum buatan Sanusi mesti dicoba dan pasti akan ketagihan.(*)

RESEP BUBUR SUMSUM

Untuk membuat bubur sumsum, Sanusi mengolahnya menggunakan bahan-bahan alami dengan cara manual. Berikut bahan-bahan yang diperlukan dan cara membuatnya.

1.Bahan-bahan

-Tepung Beras

-Daun suji

-Pandan

- Santan dari kelapa setengah tua

-Gula Aren

-Gula Pasir

2. Cara membuat

Tepung beras atau beras yang sudah digiling dicampur air mentah kira-kira 15 gayung (untuk tepung sekitar 4 kilo). Lalu masukkan daun suji untuk pewarna agar bubur berwarna hijau dan daun pandan agar wangi. Aduk hingga air mendidih di atas api menggunakan kayu bakar selama  2 jam. Sesudah itu masukkan adonan keloyang dan dinginkan selama satu setengah jam. Bubur yang sudah dingin dan padat dipotong seukuran kotak korek api, lalu ditata berjejer di atas nampan. Untuk menambah nikmat, bubur disiram santan yang sudah dicampur gula aren dan gula pasir. (*)

Share

3 Responses to “NIKMATNYA BUBUR SUMSUM SANUSI DI PASAR LAMA”

  1. Sudarmanto Says:

    mantap, ini perlu dicoba. buat sarapan anak².

  2. redaksi Says:

    Yah, santan. Ana tidak boleh makan santan. Nggak jadi, deh. (GG)

  3. Harir Baldan Says:

    Pak Sanusi, selain mangkal di pasar lama juga biasa menerima pesanan,lho. Menurutnya, di Gedung Golkar di jalan Jenderal Sudirman, Ciceri, Serang, tiap kali ada acara bubur sumsum olahannya sering dinikmati orang-orang gedean. So, jika anda ingin memasan satu bubur untuk berbagai acara silahkan datang ke pasar Lama Serang. Sumsum perloyang seharga Rp 250.000, rasa khas bubur sumsum Sanusi sangat istimewa. Coba, dech.

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010