NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT
Gola Gong | Kampong | November 25th, 2009 | No Comments »
NELAYAN BOJONEGARA ENGGAN MELAUT
Oleh Rama Rahmat
Nelayan Wadas, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang enggan melaut akibat cuaca buruk yang merupakan dampak dari angin barat daya. Seminggu terakhir angin bertiup kencang membuat arus gelombang tinggi dilautan. Para nelayan enggan melaut karena takut. Selain itu ikan dilautan pun susah ditangkap. Menurut pantauan wartawan www.rumahdunia.com pada Sabtu (20/11) suasana di dermaga dan tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat sepi. Ratusan perahu nelayan bertepi di dermaga.
Fandi (18 th) seorang nelayan yang baru saja kembali dari melaut mengaku, sangat susah menangkap ikan. “Gelombang di tengah laut sangat tinggi, kita cuma bisa berlayar di pinggiran laut saja.” katanya sambil melepas lelah di dermaga Wadas. Pemuda asal kampung Teluk Bako ini terlihat kecewa. Kepergiannya ke laut bersama keenam rekannya sebenarnya memaksakan diri. Berangkat dari jam 5 pagi hingga pulang jam 3 sore. “Biasanya kalau lagi normal bisa membawa pulang 100 kilo ikan. Sekarang mungkin sekitar 20 kilo,” tandasnya.
Lain halnya dengan Rohman (40 th) yang lebih memilih tidak pergi melaut. Rohman bersama teman-temannya tengah mengecat perahu miliknya. Bapak dari 3 orang anak ini mengaku dirinya tidak bisa berbuat apa-apa hingga angin kembali rendah. Disinggung mengenai pendapatan selain nelayan Rohman hanya bisa bilang, “Kalo gak mayang (melaut-red) pasti tidak ada duit. Cari kerja di darat susah. Ya kalau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa ngutang dulu ke warung atau temen.”
Karena para nelayan enggan melaut otomatis persediaan ikan pun sangat minim. Di tempat Pelelangan Ikan Wadas terlihat tak banyak aktifitas. Seluruh box penyimpanan ikan kosong. Tempat pelelangan ikan yang biasanya rame kini tak banyak aktifitas seperti biasanya. “Ya, gimana mau melaut, angin kencang gini. Akibatnya ya, pasokan ikan kurang,” kata Fauzi, seorang pengepul ikan. Menurut Fauzi, jika ada ikan, itupun berasal dari nelayan Karangantu atau Pulau Kele. “Saya juga gak bisa masok ikan ke Pasar Cilegon karena gak ada ikan,” tandasnya.
Jika ada ikan pun pasti harganya lebih tinggi. Naik hingga lebih dari 50%. Para pedagang ikan keliling enggan beli ikan laut karena harganya mahal dan susah balik modal. Seperti yang diungkapkan oleh Samin, pedagang ikan yang berkeliling dengan motornya mengaku merugi jika memaksakan diri untuk dagang. “Beli di pelelangan aja sudah mahal. Saya pusing pasang harga mahal kepelanggan. Karena biasanya para ibu ngeluh harga ikan mahal,” katanya, yang sengaja datang ke tempat pelelangan untuk melihat perkembangan.
Benar saja, di rumah emak tidak masak ikan. Hanya ada rabeg tempe dan sayur kulit tangkil saja. (*)




Leave a Reply