TAUFIK NURIMAN BUPATI LAGI

bupatiSERANG – Oleh Gading Tirta

Menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan. Ia mesti mau melayani. Siapa yang dilayani? Tentu saja pengikutnya. Dalam skala kabupaten, pengikut yang mesti dilayani bupati adalah masyarakat di kabupaten tersebut.

Ahmad Taufiq Nuriman mungkin bupati yang beruntung. Ia mendapat dukungan dari ribuan massa yang mendesaknya agar mencalonkan diri (kembali) menjadi Bupati Serang periode mendatang.

Bupati yang banyak menaruh perhatian pada pesantren dan diniyah ini kemudian bersedia. Siapa seh yang tidak mau jadi pejabat? Yang tidak memiliki massa saja bersedia habis-habisan apalagi kalau ada banyak yang mendukung.

Setelah Taufiq menerima aspirasi pendukungnya, ia pun kemudian mengukuhkan para pendukungnya sebagai relawan pendukung bagi pemenangan dirinya sebagai bupati mendatang.

Minggu pagi, (22/11) ribuan massa ini mendatangi rumah Taufiq di perumahan Ciracas Kota Serang. Para pendukung mengaku berasal dari sejumlah elemen masyarakat mewakili warga di 28 kecamatan se-Kabupaten Serang. Beberapa waktu lalu, massa juga mendatangi Taufiq dengan maksud yang sama. Massa menganggap Taufiq pantas menjadi pemimpin karena mewakili suara masyarakat kabupaten Serang.

Namun dukungan tidak hanya datang dari masyarakat sejumlah tokoh partai politik juga mengaku mendukung pencalonan Taufik sebagai calon bupati mendatang.

Semoga Taufiq bisa memegang amanah dan harapan yang ditaruh ke atas pundaknya ini dan menjadikan warga Serang lebih maju bukan hanya dengan pembangunan fisik tapi juga mental dan pengetahuan.

KEKERASAN DI SEKOLAH

Kekerasan sekolahSERANG – Oleh Gading Tirta -

Ada ungkapan istimewa untuk guru sebagai seseorang yang mesti “digugu dan ditiru”. Apa pun yang dilakukan dan dikatakan guru adalah baik. Sedemikian mulia posisi guru dalam ungkapan ini. Mungkin, di jaman dahulu, guru memang orang-orang yang mumpuni dalam keilmuan dan arif dalam berkelakuan. Maka, lahirlah ungkapan di atas.

Lalu bagaimana dengan guru-guru masa kini? Mungkin jangan terlalu berharap para murid akan dengan nurut menerima perlakuan dari guru apalagi jika perlakuan yang dilakukan adalah perlakuan kekerasan dan melewati batas. Karena bisa jadi akan dilaporkan oleh murid.

Ini juga yang terjadi pada kepala sekolah SMA PGRI 2 Kota Serang yang dilaporkan oleh murid-muridnya (kelas 11 dan 12) pada Minggu, (22/11) karena dinilai melakukan kekerasan kepada beberapa muridnya. Belasan pelajar SMA PGRI 2 Kota Serang mengadu ke Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Hak Asasi Manusia (LPSDM HAM) di kawasan Ciceri Kota Serang.

Para siswa ini mengaku diperlakukan tidak manusiawi hari Jumat sebelumnya. Mereka ditampar dan dicukur dengan paksa oleh Kepala Sekolah mereka. Malah, ada seorang pelajar putri yang masih terbaring di rumah akibat perlakuan kasar sang Kepala Sekolah. Karena perlakuan kasar itulah para pelajar ini meminta perlindungan dan bantuan kepada LPSDM HAM.

Diungkapkan para pelajar, bahwa perlakuan kasar Kepala Sekolah mereka secara tiba-tiba. Saat mereka memauki gerbang, Kepala Sekolah langsung menampar dan mencukur rambut mereka secara paksa. Dan ternyata, tindakan kasar seperti ini tidak hanya terjadi saat ini. Beberapa kali sang Kepala Sekolah sering melampiaskan kekesalan dan amarah kepada para siswa. Mereka juga mengaku orang tua mereka tidak terima anaknya diperlakukan demikian.

Direktur LPSDM HAM Agus Sutisna menilai perlakuan yang dilakukan Kepala Sekolah tersebut adalah salah dan dia berjanji akan terus memantau perkembangan kasus ini. Dia juga berjanji akan melaporkan hal tersebut ke Polres Serang, Kepala Dinas Pendidikan, dan Yayasan PGRI setempat. (Gading Tirta)

BALADA ANAK JALANAN DI BANTEN

Ujang BukaSERANG – Rimba Alangalang – “Jangan tanyakan aku sekolah kelas berapa. Jangan tanyakan aku mengaji di ustadz yang mana,” begitulah sepenggal lagu “Balada Bocah Jalanan” yang dinyanyikan Ugas dan Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ) Rangkasbitung dalam acara “Pelatihan Pendampingan Musik Anak Jalanan” di panggung Rumah Dunia, Sabtu (21/11), yang diselenggarakan Balai Pelayanan Pendidikan Khusus (BP2K) Dinas Pendidikan Bantem bekerjasama dengan Rumah Dunia. Mereka seakan-akan mewakili komunitasnya. Rasa termarjinalkan dari masyarakat, kurang kasih sayang keluarga dan kerasnya hidup, adalah bagian yang tidak lagi dapat dipisahkan dari lingkaran mereka.

HIDUP KERAS

Lagu yang terinspiriasi dari bocah-bocah penyemir sepatu, saat Ugas dan kawan-kawan (personel KPJ-red) mengamen di terminal Mandala Rangkasbitung- mungkin tidak cukup untuk mewakili keseharian anak-anak jalanan di jalanan. Karena di jalan sana, banyak kemungkinan yang setiap saat mengintai mereka, entah kemungkinan jahat atau baik.

Kerasnya hidup di jalanan bukan rahasia lagi, sebut saja Perdi (21) pria asli Palembang ini mengungkapkan, ”Hidup di jalanan itu sangat keras. Kalo  enggak dapet duit, kita enggak makan. Terus, sering konflik sama teman, gara-gara rebutan lahan ngamen. Ditambah lagi sering diusir satpol PP.”

Tetapi di panggung yang ditonton oleh anak-anak jalanan serta masyarakat biasa ini,  KPJ Rangkasbitung seakan mengingatkan kita untuk selalu mengasah mata hati agar tetap peka dengan orang-orang yang sering kita temui di perempatan-perempatan jalan, bis-bis kota, gerbong-gerbong kereta, terminal dan stasiun. Merekalah anak jalanan, anak-anak rindu kasih sayang dan rumah, anak-anak kita semua!

Pelatihan_1KUALITAS

Menurut Ujang Rapiudin, Kasi Pengembangn Instalasi BPPK Disdik Banten dalam sambutanya, “Anak-anak jalanan itu punya hak yang sama untuk mencari nafkah di jalanan. Mereka hidupnya sangat keras. Nah, agar tidak dianggap mengganggu masyarakat, mereka harus mau meningkatkan kualitas kemampuan mereka dalam bermusik. Tidak hanya sekedar genjrang-genjreng. Mereka harus bisa membuat lagu yang baik, bermusiknya juga enak didengar, serta memahami etika.”

Itulah sebabnya BPPK dan Rumah Dunia mengadakan “Pelatihan Pendampingan Musik Anak Jalanan Se-Banten”. Pada program ini sejumlah 50 anak jalanan  diberikan pengetahuan keahlian tentang bagaimana bermusik “yang benar”,  pemahamanan tentang dunia musik jalanan dan dunia musik pada umumnya, tentang hak-hak mereka sebagai pemuda Indonesia, dan memberi informasi kepada mereka tentang pendidikan-pendidikan khusus yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Masih kata Ujang, pelatihan pendampingan anak jalanan ini sejalan dengan amanah UU No. 20/2003 tentang system Pendidikan nasional, pasal 32 ayat 1, bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. “Anak jalanan termasuk  Mereka harus diberikan pendampingan. Mereka bisa saja megikuti pendidikan model paket A, B, hingga C,” Ujang menutup pembicaraan dengan wartawan www.rumahdunia.com.

Sirkus PerkusiANAK JALANAN

Egi (15) mengaku sejak usia 12 tahun menjadi anak jalanan. “Karena ibu sudah meninggal, untuk bertahan hidup saya jadi anak-jalanan, mengamen dari bis ke bis,” ucapnya, yang bercita-cita menjadi tentara. Egi  mengaku pernah melanjutkan sekolahnya ke paket B, tapi tidak diselesaikannya karena sibuk mencari uang. Begitu pula dengan Hadi (12) anak laki-laki yang tidak sempat menamatkan SD mengaku menjadi anak jalanan karena kebutuhan uang untuk mengganjal perut.

Egi dan Hadi adalah dua contoh bahwa persoalan ekonomi adalah ihwal yang paling utama ketika mereka terpaksa memilih menjadi anak jalanan. Dan tentu saja tidak dapat dipungkiri, masih banyak Egi dan Hadi yang lain di jalan sana. Perkotaan memang bukan tempat yang ramah bagi anak-anak yang keluarganya tidak mandiri secara ekonomi. Ditambah lagi sifat individualis kaum urban, yang tidak peduli terhadap oeng-orang sekeliling. Kemiskinan di kota berakibat fatal buat anak-anak daripada kemiskinan di kampung. Istilah “kerennya” sih seperti ini: Samiskina-miskina di kampung mah masih bisa ngejo! (semiskin-miskinnya di kampung masih bisa makan).

Istilah anak jalanan (anjal), bagi seagian orang dianggap tidak “memanusiakan manusia” atau bahkan malah semakin memarjinalkan mereka. Ijah Faijah, Ketua Yayasan Bina Wanita Bahagia, yang concern terhadap pendampingan anjal di Serang, lebih senang menyebut mereka dengan anak-anak nusantara atau anak-anak bangsa. “Agar tidak ada batas pembeda antara mereka dengan anak-anak yang lain yang bernasib lebih baik dari mereka,” ujar Ijah. Tapi tidak dapat kita pungkiri bahwa istilah anak jalanan sudah menjadi kosa kata tersendiri yang kita pahami dalam bahasa Indonesia.

Untuk memahami anak jalanan secara utuh, kita harus mengetahui definisi anak jalanan. Secara umum anak jalanan diartikan sebagai anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan. Departemen Sosial RI mendefinisikan anak jalanan “adalah anak yang sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum”. Sedangkan UNICEF memberikan batasan tersendiri tentang pengertian anak jalanan, yaitu : Street child are those who have abandoned their homes, school and immediate communities before they are sixteen years of age, and have drifted into a nomadic street life (anak jalanan merupakan anak-anak berumur dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya (H.A Soedijar, 1988 : 16).

Berdasarkan hubungan mereka dengan keluarga, terdapat dua kategori anak jalanan, yaitu children on the street dan children of the street. Namun pada perkembangannya ada penambahan kategori, yaitu children in the street atau sering disebut juga children from families of the street. Pengertian untuk children on the street adalah anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. Ada dua kelompok anak jalanan dalam kategori ini, yaitu anak-anak yang tinggal bersama orangtuanya dan senantiasa pulang ke rumah setiap hari, dan anak-anak yang melakukan kegiatan ekonomi dan tinggal di jalanan namun masih mempertahankan hubungan dengan keluarga dengan cara pulang baik berkala ataupun dengan jadwal yang tidak rutin. Children of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh atau sebagian besar waktunya di jalanan dan tidak memiliki hubungan atau ia memutuskan hubungan dengan orangtua atau keluarganya. Dan Children in the street atau children from the families of the street adalah anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan yang berasal dari keluarga yang hidup atau tinggalnya juga di jalanan.

Masih kata Ujang Rapiudin, “Anak-anak jalanan termasuk yang berkebutuhan khusus. BP2K bermitra dengan Rumah Dunia mencoba meningkatkan life skill mereka.

PENDAMPINGAN

Dengan maraknya rumah singgah dan komunitas-komunitas pengamen di tiap kota ternyata memberikan dampak positif bagi anak-anak jalanan. Seperti Komunitas Anak langit dan komunitas Muzaki kota Tangerang, KPJ Rangkasbitung, KPJ Cilegon, KPJ Serang, dan KPJ Pandeglang. Setidaknya mereka mempunyai tempat berteduh, saling berbagi, dan mengatasi persoalan secara bersama-sama. Di sanalah dibutuhkan para pendamping yang bisa mengarahkan dan menjadi orang tua kedua, orang tua sosiologis bagi mereka.

“Sebenarnya anak jalanan itu tidak harus didampingi, biarkan mereka berjamaah. Dengan berjamaah mereka bisa mengatur dirinya sendiri, “ ucap Edi Bonetski. Ayah sosiologis anak-anak langit ini juga mengungkapkan, bahwa kalaupun ada pendampingan yang diubah itu adalah otak, agar mengubah perilaku. Bahwa Anak jalanan itu juga harus berfikiran maju. Karena “jalan” diperuntukan kendaraan untuk maju bukan mundur. “Salah satu perilaku yang harus ditunjukan ketika ingin maju adalah bangun subuh. Bukan persoalan solat atau tidaknya, tapi bangun saja. Dengan begitu kita sudah berhasil dan sukses!” tambah Edi, yang pernah mencalonkan diri jadi anggota DPRD 2009 – 2014 ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ugas, ketu KPJ Rangkasbitung. “Pada teman-teman, Ugas cuma bisa mengingatkan kalau di jalan pun  ada etika. Dan jika pengamen dan anak jalanan mau maju, buku adalah kuncinya. Makanya bacalah buku yang banyak,” ucap laki-laki dua anak ini.

Dalam pendampingan anak-anak jalanan, memang harus mengenal dunia mereka. Jika Edi dan Ugas berasal dari lingkungan yang sama dengan anak-anak yang diasuhnya, mungkin lebih mudah untuk menyesuaikan diri dan lebih memahami dunia mereka. Lain halnya dengan Ijah Faijah, beliau harus memutar otak untuk memahami anak-anak jalanan.

“Ternyata mengurusi anak-anak jalanan itu harus ada seninya juga,” ujar ibu yang biasa dipanggil Ummi oleh anak-anak asuhnya. “Terus terang, saya banyak mendapatkan ilmu dari mereka. Terutama rasa persaudaraan mereka yang sangat tinggi. Mungkin karena merasa senasib dan sepenanggungan, makanya rasa solidaritas antar temannya tinggi,” tambahnya.

Pada sesi diskusi  dengan topik “Bagaimana bermusik dan membuat lirik yang benar kepada para pengamen”,  hadir sebagai pembicara Toto ST Radik dan Asep Soleh Purnama, SPd. (Alumnus Seni Musik UPI Bandung). Diskusi kedua membahas “Dunia musik jalanan dan dunia musik pada umumnya” hadir sebagai nara sumber para pemusik jalanan itu sendiri; Edi Bonetsky (Anak Langit), Ahmad Lugas (Ketua KPJ Rangkasbitung), dan Toton Grintoel. Diskusi ketiga tentang “Hak-hak anak jalananan sebagai pemuda Indonesia” dengan pembicara Ijah Faijah (Ketua Yayasan Bina Wanita Bahagia) dan  H. Wadiyo, M.Pd., (Balai Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Provinsi Banten).

Acara dimulai pukul 09.00 ditutup pukul 16.00 WIB dengan penampilan musik “Ki Amuk”, KPJ Rangkasbitung dan para pengamen jalanan se-Banten. (Laporan Ahmad Wayang dan Harir Baldan)

SELAMAT TINGGAL DUNIA NYATA

foto imamnic.blogspot.com

foto imamnic.blogspot.com

SERANG – Oleh Zee Ahmadi  – Geger kiamat kembali terasa. Kehadiran film 2012 Doomsday besutan sutradara Rolland Emmerich, mampu mengalihkan mata publik untuk mengingat kembali fenomena yang melegenda ini. Fenomena yang mau tak mau harus diakui semua manusia dan penghuni alam semesta. Suatu kejadian tentang berakhirnya jagat raya.

Percaya atau tidak percaya, kehancuran dunia pasti akan tiba. Semua agama mengakui itu. Dalam kitab-kitab suci tertulis, bahwa dunia yang kita tempati ini tidak selamanya ada. Hanya penggambaran dan histori saja yang berebeda.

Bagi atheis sekalipun, pasti akan mengakui bahwa hari akhir atau dalam bahasa Alquran dinamakan kiamat akan segera menjelma.

Di film dengan anggaran sekitar 2 triliun rupiah ini, menjadi sesuatu yang mencengangkan di berbagai negara. Tentang ramalan berakhirnya dunia tepat pada 21 Desember 2012, tepat pada berakhirnya siklus maya.

TANDA KIAMAT

Dalam kitab suci Alquran, dijelaskan beberapa tanda kiamat. Antara lain, matahari akan terbit dari barat. Dalam penjabaran ilmu sains, hal ini sangat mungkin. Karena letak posisi orbit matahari yang tidak statis juga berputar pada poros dan orbitnya, berotasi dan berevolusi seperti layaknya bumi dan bulan. Hanya saja, dalam jangka waktu yang lama.

Tanda lainnya adalah sebelum kiamat kubro atau kiamat besar berupa kehancuran alam semesta, disertai kiamat sughro, yakni kiamat kecil, berupa bencana alam.

Bila ditengok, di belahan bumi manapun, apalagi Indonesia, bencana alam tak kunjung bosan menerpa. Tsunami di Aceh, Gempa di Jogja dan Padang. Belum lagi banjir, badai, angin topan, dan sebagainya yang selalu menghiasi berita di layar kaca.

Belum lagi isu global warming atau pemanasan global, dengan diketahuinya mulai melelehnya es di kutub utara bumi akibat suhu bumi yang mulai memanas. Ini sangat menakutkan. Bayangkan saja, bumi yang lebih dari separuhnya berisi air, dan sebagian lagi mencair di daerah kutub, akan terendam begitu saja saat es di dua kutub tersebut meleleh. Dipastikan, tragedi seperti zaman Nabi Nuh dengan datangnya banjir besar tak dielakkan terjadi.

Beberapa hadits pun melengkapi, tanda kedatangan kiamat yakni banyak anak majikan lahir dari pembantu. Banyak penyimpangan sosial yang dianggap biasa, seperti kemungkaran menjadi suatu hal yang lumrah. Atau dalam bahasa populernya, tuntunan menjadi tontonan, dan tontonan menjadi tuntunan.

Ini bisa dibuktikan. Kitab suci agama manapun, menjadi tidak lagi sakral di mata manusia. Justru media berupa internet, majalah, buku, dan sebaginya dielu-elukan sebagai pedoman hidup.

Contoh kasus, sat para pemuka agama berbicara lantang di depan mimbar menyeru umat untuk bertobat karena kiamat semakin dekat, hanya menjadi obrolan sesaat. Dan tak pernah berbekas dalam ingatan. Namun saat pesan moral itu disampaikan lewat film, 2012 Doomsday misalnya, seisi dunia dibuat tercengang, dan kembali terpikir akan kekuasaan yang lebih besar yang menggerakkan dan mengatur alam, yang pasti bukan dari kekuasaan manusia.

Dalam kitab suci Alquran, surat Attakwir, dijelaskan lebih rinci saat kiamat tiba. Simak 1-14. “Apabila matahari digulung. Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan). Dan apabila biantang-binatang liar dikumpulkan. Dan apabila lautan dipanaskan. Dan apabila ruh-ruh dipetemukan (dengan tubuh). Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karean dosa apakah dia dibunuh. Dan apabila catatan-catatn (amal perbuatan manusia) dibuka. Dan apabila langit dilenyapkan. Dan apabila neraka jahim dinyalakan. Dan apabila surga didekatkan. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.”

Kurang lebih, apa yang digambarkan dalam 2012, kepanikan manusia, kehancuran alam yang tumpah tindih, membantu memvisualisasikan betapa kacaunya saat dunia memasuki ajalnya.

THE DAY AFTER TOMORROW

Masihkah berpikir akan ada hari lain setelah kiamat. Ini yang  belum bisa dijawab, karena memang tak seorang pun kecuali Nabi Muhammad yang ditunjukkan masa itu. Tapi dalam agama Islam, hari setelah kehidupan nyata itu ada.

Pada film The Day After Tomorrow yang juga besutan Rolland Emmerich diceritakan kepanikan saat terjadi bencana banjir besar karena es di kutub utara yang mencair. Kepanikan ini pun bisa dilihat saat kapal Titanic tenggelam. Pada saat inilah para manusia terpikir mengingat Tuhan. Setelah sebelumnya Tuhan terabaikan dalam laci meja kerja, atau arsip yang menumpuk dalam tas.

Tengok kembali Surat Adzzariyat ayat 13-18, tentang hari pembalasan. Pada ayat 13, mengenai hari pembalasan itu ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka.

KERUSAKAN ALAM DIBUAT MANUSIA

“Sesungguhnya telah nampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia.” Demikian cuplikan dalam ayat suci Alquran yang tenar diperdengarkan tentang kerusakan alam yang terjadi saat ini, dan menimbulkan bencana dimana-mana.

Kiamat memang tak bisa dihindari, karena setiap awal pasti ada akhir, setiap hidup pasti akan mati, dan setiap yang berwujud pasti akan rusak. Sebuah hukum alam yang tak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan kita saat ini adalah, bukan meyakini keberadaan kiamat yang datang pada 21 Desember 2012 nanti, karena itu adalah rahasia Tuhan. Tapi mempersiapkan sebaik mungkin dengan memperbanyak amal kebajikan mungkin solusi yang cerdas menghadapi kematian dan kiamat yang takk kan pernah bisa dihindarkan.(*)

*) Penulis adalah Ketua FLP Serang dan voluntir Rumah Dunia.

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010