PENYAIR NEGERI SIPIL DI BANTEN
Gola Gong | Kampong | November 22nd, 2009 | No Comments »
PENYAIR NEGERI SIPIL
Oleh Rahmat Heldy HS
Menjadi Penyair nampaknya masih belum jadi pilihan hidup. Profesi yang satu ini amat tidak disukai oleh banyak kalangan. Selain memang penyair tak memiliki penghasilan tetap, juga kehidupan penyair masih memprihatinkan. Maka kalau hidup hanya sekedar menghasilkan puisi dengan honor tak seberapa dari koran dan majalah, pekerjaan menjadi seorang penyair atau pemahat kata-kata nampaknya hanya menjadi pekerjaan sampingan.
HONORER
Idealnya memang demikian, karena Banten belum bisa dilirik sebagai sebuah provinsi yang mampu menghidupi dunia kesenian dan kebudayaan, terlebih lagi para penyair. Asumsi ini cukup beralasan kuat, jangankan memperhitungkan kehidupan para penyair, seniman dan budayawan, sekedar untuk tempat berkesenian saja, nampaknya masih harus pinjam sana-pinjam sini alias nomaden. Ironis bukan?
Tidak adanya tempat untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan, apalagi pembacaan puisi untuk penyair, menunjukkan bahwa Banten merupakan provinsi yang kurang memperhatikan nilai-nilai kesenian dan kebudayaan, serta artefak kata-kata. Padahal, sebagus dan semahal apapun gedung-gedung di Banten dibangun, tetap saja akan ditinggalkan pemilik dan penghuninya, serta lapuk dimakan usia. Tetapi artefak kesenian, kebudayaan dan kata-kata sang penyair tak lekang dimakan jaman.
Dari keadaan yang kurang menguntungkan bagi kehidupan para penyair di Banten ini, untunglah para penyair muda Banten juga memiliki pekerjaan yang sedikit mampu memberikan kelonggaran dalam memberikan penghidupan mereka. Sambil memperdalam karya-karya, mengkaji ulang, menyelami lebih intens tentang persoalan-persoalan sosial yang terjadi di Banten, mereka juga turut ambil bagian mencerdaskan siswa dan siswi Banten yang ada di sekolah dengan menjadi guru honorer. Ada juga beberapa orang yang nyambi jadi editor di dunia penerbitan.
CPNS
Sebuah keinginan dan harapan yang juga tidak bisa disalahkan, ketika sejumlah para penyair muda Banten turut pula menceburkan diri dalam perekrutkan Calon Pegawai Negri Sipil (CPNS) yang diadakan serentak di seluruh propinsi Banten pada hari Minggu (15/11). Memang harus kita akui, sejumlah penyair muda Banten umumnya mereka guru honorer di SMP/SMA, yang ingin mendapatkan perhatian pemerintah.
Nugraha Umur Kayu misalnya, penyair yang yang ikut meramaikan bursa calon Pegawai Negri Sipil di SMPN 12 Kota Serang menjelaskan “Menjadi pegawai negri itu agar nyaman saja di hari tua, bisa dibilang kentut saja dibayar ketika pensiun,” katanya sambil tertawa. Lebih lanjut Nunu berbicara, “Tidak perduli isu dengan persoalan sogok-menyogok yang berkembang dimasyarakat, yang mencapai 40-80 juta, yang penting maju terus! Ikut test, tanpa nyogok! Keterima bersyukur, tidak ya coba test lagi nanti!” tegasnya.
Di tempat terpisah Wahyu Arya Wiyata, penyair dan guru honorer di sebuah SMK di Kabupaten Serang mengomentari, “Saya ingin mengubah citra penyair. Untuk mendapat modal cultural perlu juga ditunjang dengan modal ekonomi. Menulis dalam ruang ber-AC tentu lebih nikmat di banding dengan menulis di tempat rental computer yang pengap, ya toh…?” Wahyu mnepis anggapan, bahwa penyair itu harus menderita, agar karya-karyanya bagus. “Siapa bilang jika mapan penyair mandeg? Ya tidaklah! Justru semakin mapan, kita itu semakin semangat berkarya, karena didukung oleh fasilitas.”
Lain pernyataan Nunu dan Wahyu, lain pula pernyataan Umbu Kramat Watu, yang ikut test CPNS karena memiliki komitmen 3 M. Umbu memaparkan, “Maksudnya kalau diterima jadi PNS pertama menabung, kedua menikah dan ketiga menulis!”
Harus kita akui, kenyamanan di hari tua, semua orang pasti menginginkannya. Hidup digaji dengan tidak bekerja setelah selesai masa kerja, adalah harapan banyak orang, asalkan dengan tidak menghalalkan segala cara. Toh, pada kenyataannya banyak juga mereka yang jadi penyair, tetapi mereka juga menjadi Pegawai Negri Sipil. Mereka bekerja di kantor dinas, bahkan juga mereka bekerja jadi dosen di sejumlah kampus. Kalau di Serang ada Toot ST Radik, yang jadi Kasie Kesenian Diparsenibud Serang, Wan Anwar dan Firman Venayaksa dosen di Untirta Serang. Sah-sah saja, bukan? Selamat berjuang kawan, moga lulus dan sukses!
Rumitnya Pelaksanaan UN SMA Tahun 2009
Serang- Kegiatan Ujian Nasional (UN) SMA yang akan dilaksanakan pada Maret Minggu ke 3 tahun 2010, nampaknya akan banyak mengalami kendala. Sebab, sesuai dengan Peraturan Mentri Pendidikan nasional nomor 75 tahun 2009, pada pasal 14 ayat 1,2, dan 3 yang menyatakan bahwa: 1. Peserta UN SMA/MA mengikuti ujian di satuan pendidikan lain sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam POS. 2. Peseta ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam satu ruangan terdiri atas peserta ujian dari beberapa sekolah /madrasah dalam satu kecamatan dan/kabupaten /kota. 3. Peserta UN SMP/MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK mengikuti ujian di satuan pendidikan penyelenggaraan UN.
Melihat pasal 14 di atas nampaknya akan menjadi beban bagi sekolah dan murid. Selain biaya ongkos yang tinggi, juga terkendala dengan akses wilayah Kabupaten Serang yang jaraknya berjauhan dan kondisi jalan yang tidak memadai. Menanggapi Peraturan Mentri No. 14 di atas, pihak Kepala Sekolah dan Kesiswaan SMA Al Irsyad Waringinkurung langsung mengambil sikap guna mengantisipasi, jika peraturan itu benar-benar dijalankan. Di sela ruang rapat Alyadi, S.Pd.I Kepala Sekolah SMA Al Irsyad menyatakan, “Di SMA Kota Tangerang, 3 sekolah sudah melaksanakan, dan 2 sekolah di SMA Rangkasbitung juga dilaksankan tahun lalu, kemungkinannya tidak ada kendala sehingga peraturan ini dilanjutkan,” katanya. Masih menurut Alyadi, “Kesulitannya kalau yang tak punya kendaraan, walaupun hal ini bisa diatur oleh siswa atau sekolah, cuma beban biaya yang tinggi. Mudah-mudahan itu tak akan terjadi, ditahun ini,” harapnya.
Hadari, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menambahkan “Kalaupu tahun ini harapannya tidak terjadi, tetapi, bagaimanapun juga kita harus siapakan. Masalahnya ini sudah ada dalam bentuk Permen dan sudah ada sekolah yang melaksanakan, tegasnya. Rapat yang dilaksanakan pada Sabtu (21/11) dari pukul 10.00-12.00 Wib. di Musholla Al Irsyad itu, dihadiri oleh puluhan guru. Dan juga pihak kurikulum. (Rahel)




Leave a Reply