HAJI MABRUR VS HAJI MABUR

advert

hajj mabrurTANGERANG — Ada dua istilah atau julukan yang berkembang di masyarakat Jawa Serang untuk “menamai” orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Pertama, mereka disebut sebagai haji mabrur. Kedua, disebut haji mabur (jawa: terbang).

Haji mabrur adalah haji yang diharapkan oleh syariat, sedangkan haji mabur adalah plesetan dari mabrur namun memiliki makna yang jauh berbeda bahkan bertolak belakang dengan mabrur.  Seorang haji mabrur akan jadi seseorang yang lebih baik dari segi sikap maupun ibadah setelah pulang dari ibadah haji di Mekkah. Sedangkan ibadah yang mabur, hanya mereka yang mabur atau terbang ke tanah Mekah dan saat pulang tidak berpengaruh apa-apa terhadap perilakunya. Apalagi ibdahnya. Kesolehan selama di Mekkha dan menangis di depan Ka’bah sambil menciumo batu hitam hajjar aswad, langsug mabur alias terbang ke langit setelah menginjakkna kaki lagi di bumi pertiwi. Istilah Gol A Gong,  novelis yang sudah menulis lebih dari 70 novel, “Jum’at bertobat, malam Minggu bermaksiat”.

Padahal berhaji di tanah suci Mekah diharapkan bisa mengurangi tindakan tidak terpuji, salah satunya adalah tindak pidana korupsi yang selama ini masih marak di Banten. Ibadah haji dianggap oleh DR. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc sebagai  ibadah peralihan bagi setiap muslim. “Selain itu, haji menjadi satu fase transisi dalam kehidupan muslim,” tambah Bng Zul, begitu dia disapa, yang juga anggota DPR RI periode 2009 – 2014.

Setelah menunaikan ibadah haji kehidupan “baru” dimulai dan  diharapkan ada perubahan pada jemaah haji sepulang dari Mekah. Seperti yang terjadi saat masa penjajahan Belanda. Saat itu, orang-orang yang pulang dari beribadah haji merupakan orang-orang yang ditakuti dan karena itu perlu diawasi Belanda. Kenapa? Karena sepulang dari ibadah ini mereka yang pulang haji memiliki keimanan yang lebih dari sebelumnya. Bahkan mereka juga menyerukan kemerdekaan bagi rakyatnya.

Zulkieflimansyah,  yang juga mantan calon Gubernur Banten di Pilkada 2007 berpasangan dengan Marissa Haque, sudah lebih dari satu kali menunaikan ibadah haji lantaran mendapatkan nikmat dari rukun islam kelima ini. Bagi masyarakat, kepulangan dari ibadah haji merupakan tonggak baru untuk memulai sesuatu yang baru dan saatnya memulai perubahan ke arah yang lebih baik. Jika setiap orang yang pulang dari berhaji memperbaiki sifat tidak terpuji, maka dengan banyak orang yang pergi haji dari tahun ke tahun, akan semakin mengurangi jumlah koruptor yang mengkhawatirkan. (Gading Tirta/foto rahmatanlillalamin.blogspot.com/2008/11/haji)

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010