JALAN RUSAK JAKARTA – ANYER
Gola Gong | Warta Banten | November 19th, 2009 | 4 Comments »

ANYER – Jalan rusak di Banten sudah jadi menu sarapan. Kalau memlesetkan lagu Sheila Majid di thun 90-an, antara Anyer dan Jakarta bukan kita jatuh cinta, tapi kita kejebak macet. Jadi, kalau di Banten tidak ada jalan rusak, justru aneh. Mungkin ini kutukan, karena nama “Serang” adalah sawah, berarti tidak jauh dari becek, ojek, lumpur, kerbau, dan kotor. Begitulah yang terjadi jika hendak piknik ke kawasan pantai selat Sunda. Istilah “berakit-rakit dahulu di Ciwandan,, berenang di pantai Anyer kemudian” cocok dihadiahkan bagi para wisatawan asing dan domestik.
Kerusakan jalan bisa dimulai setelah membayar di pintu tol Cikupa, Balaraja. Menurut pantauan www.rumahdunia.com, ketidaknyamanan mulai dialami para turis yang menggunakan jalan tol Jakarta – Merak. Jalan tol di jalur ini tidak pernah berhenti diperbaiki. Kurnia Hidayat, Ketua RW 01/22, Kelurahan Sumur Pecung, Kota Serang berseloroh, “Jalan tol Cikupa – Merak adalah jalan tol yang tidak pernh berhenti diperbaiki.”
Para pengguna jalan harus ekstra hati-hati, karena alat-alat berat berjejer mengebor jalan tol. Bulan ini dicor, bulan besoknya digali lagi. Lubang-lubang menganga, membuat para pengguna jalan mpot-mpotan. Antrian panjang sering tejadi dan menghambat perjalanan. Noval, warga Depok, yang hendak ke Serang meledek, “Aneh. Di jalan tol, kok, macet!”
Selepas pintu tol Cilegon barat, ketidaknyamanan siap menghadang para turis lagi. Langganan macet itu di daerah ciwandan – Cigading – pasar Anyer. Sudah mah jalannya rusak, para supir angkot kadang seenak udel berhnti menaikturunkan penumpang. Belum lagi mobil-mobil segede gajah keluar-masuk pabrik.
Wartawan www.rumahdunia.com memantau selama dua bulan terakhir ini di jalur menuju Anyer. Kemacetan terjadi setiap hari. Itu tampak saat aktivitas perbaikan ruas jalan raya Cilegon hingga Anyer selama Oktober – November 2009 ini. Perbaikan jalan raya dengan menggunakan beton, membuat kemacetan panjang hingga 5 kilometer mulai dari kawasan Samangraya, Ciwandan hingga Cigading. Penyebab kemacetan bukan karena “Si Komo” mau lewat, tapi karena satu sisi jalan sedang diperbaiki, satu sisi jalan lagi digunakn para pengguna jalan. Sistem buka-tutup pada satu jalur ini berakibat fatal, yaitu kemacetan.
Selain itu penyebab kemacetan juga dipicu padatnya arus lalu lintas kendaraan yang melintas di jalur awal Anyer – Panarukan buatan Jendral Herman Daendles, seperti kendaraan perusahaan industri dan angkutan kota yang selalu seenak udel kalau berhenti menaikturunkan penumpang. Hal lainnya karena tidak tersedia jalur alternatif yang bisa mengalihkan arus lalu lintas kendaraan. Rahmat, warga dari Grogol, Cilegon mengeluhkan, “Sampai kapan perbaikan jalan ini selesai? Mestinya ada batas toleransi, kapan proyek pengerjaan peerbaikan ini akan selesai. Bisa stress, nih!”
Jalur Anyer-Cilegon ini merupakan jalan Negara, yang pemeliharaan serta kewenangan pengelolaannya merupakan tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum Pusat. Sejak satu tahun lalu jalur ini banyak menuai protes dari warga setempat maupun pengguna jalan akibat kondisi jalan yang rusak parah. Tedi S, warga Penancangan, Serang, mengungkapkan kekesalannya, “Rasa-rasanya sepanjang hidup saya di Banten, kalau piknik ke Anyer, nggak pernah nyaman, tuh. Jalanan mulai dari Simpang, Ciwandan, pasar Anyer selalu rusak. Dulu saya suka kesal sama Jawa Barat. Kok, daerah tujuan wisata seperti Anyer jalannya rusak. Eh, setelah jadi Provinsi Banten juga, sami mawon. Persoalan jalan inilah sebetulnya, yang membuat pariwisata di Banten nggak maju-maju. Wis, paleng kite, mah!”
Kurnia, Noval, Rahmat, dan Tedi wajar kesal. Bahkan seluruh orang yang hendak ke Anyer wajar juga kesal. Mungkin untuk menghilangkan stress, sebaiknya mereka minta Odie Agam, ke pengarang lagu “Antara Anyer dan Jakarta”, agar mengubah liriknya menjadi: Antara Anyer dan Jakarta/ kita kena macet… (Jang RuDun)




November 19th, 2009 at 11:48 am
Bulan Oktober2009 kantor ngadain Wisata Outbond, aku saranin ke daerah Anyer atau Tanjung Lesung atau Pulau Umang. Hal ini dikarenakan perhitungan akan lokasi kantor yang ada di Cikupa, Tangerang dekat dengan lokasi2 tsb, sekalian ya… bikin duit wong Banten muter di daerah Banten.
Waktu diadakan survei, baru sampai Anyer, tim survey udah nyerah, langsung balik kanan ke Cikupa lagi.
Akhirnya kita ke Sungai Citarik, Sukabumi, perjalanan 6jam dari Cikupa, kena macet di Ciawi dan jalan berkelok2 naik gunung, tapi jalanan mulus gak bikin bis terguncang2, nyaman.
Yah, apa mau dikata, budget Outbond lebih dari 50jt lari ke daerah Sukabumi, Jawa Barat…
November 19th, 2009 at 9:17 pm
mudah-mudahan para pejabatnya membaca tulisan kang hendra. kalo enggak, “kabina-bina” ny kang!
November 25th, 2009 at 9:13 pm
anyer-carita..huh edan!! nyaris kaga ada pantai terbuka gratis. lihat pantai kuta legian, pangandaran, pelabuhan ratu atau losari makasar, pantai sario manado itu pantai bisa dinikmati kapan saja, gratis. beda banget dengan di anyer/carita pantai sepertinya milik pribadi. rencana outing…eh koq lebih mahal pula dari harga outing di bali.
November 26th, 2009 at 12:06 am
Iya. tahun 1990-an, saya pernah audiensi dgn bupati Serang (HAM Sampoerna – alm). Saya tayakan kpd dia, kenapa pantai Anyer dipenuhi hotel? Mestinya pantai dikosongkan. Mestinya hotel2 dibangun di seberang pantai. ada jarak 200 m dari garis pantai. kata beliau, ada konsesi dgn Jawa Barat selama 30 tahun. Setelah itu diratakan. Berarti sekitar 2020 pnatai Anyer kosong, kita bebas merdeka. bisa melihat pantai tanpa terhalang hotel. Apa iya?