PADUKAN KURIKULUM BERBASIS ALAM
rumahdunia | Pendidikan | November 18th, 2009 | 3 Comments »

BALARAJA – Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Itqon didirikan pada 1 Muharram 1428 Hijriyah, tepat pada 20 Januari 2007 di bawah yayasan El Rashied. Yayasan ini konsen pada bidang pengembangan sumber daya manusia berupa lembaga pendidikan, bimbingan, pelatihan, kursus, dan konsultasi pendidikan.
KURIKULUM
Tak banyak Sekolah yang memadukan kurikulum DIKNAS dan kurikulum khas (unggulan) berbasis alam seperti halnya SDIT Al Itqon, Balaraja, Tangerang ini. Selain itu al-Itqon punya kurikulum unggulan: Syirah Nabawiyah, Tahsin dan Tahfiz Al Qur’an, Outbond training, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, Multimedia, Traditional Games, Tadabur Alam dan berkebun, serta Life skill.
“Selain menciptakan lingkungan belajar yang islami, SDIT Al Itqon juga berupaya mengembangkan budaya belajar untuk belajar (learning how to learn) serta belajar sepanjang hayat (long life education),” papar Qomaruzzaman M.Ed, selaku ketua SDIT Al Itqon. ”Semoga tumbuh jiwa kemandirian dan kegemaran beribadah pada diri-diri anak didik sehingga bisa menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungannya sebagai generasi Qur’ani,” imbuhnya.
Untuk kesadaran nilai-nilai ke-Islaman, anak-anak dilatih dengan kegiatan sosial: bulan amal, Pundi Amal Anak Soleh (PAAS) dengan menderma setiap Jum’at, kunjungan ke panti asuhan dan perkampungan kumuh, dan kebersihan diri dan sekolah.
PROSES BELAJAR
Pembelajaran dipagi hari dimulai dengan morning activities: pembukaan kelas, observasi kebun (menyiram tanaman), shalat Dhuha berjamaah, bimbingan baca Al Qur’an (tahsin dan tahfiz) dan praktik ibadah.
Untuk kelas 1, 2, dan 3 mereka lebih ditekankan perihal pertumbuhan motorik (bermain) dan perilaku akhlak Islami, amalan ibadah keseharian, tajwid, tahsin, hapalan juz amma dan surat Yasin.
Sedangkan kelas 3 sampai kelas 6 lebih pada dunia pengenalan komputer (multimedia), hapalan surat-surat pilihan Al Qur’an, teknologi tepat guna, serta diwajibkan berbahasa Arab dan Inggris pada hari dan tempat tertentu. Hari Sabtu yang merupakan X day (hari ekstrakulikuler), sebagai hari libur pembelajaran formal dalam kelas, diisi dengan kegiatan kesenian angklung. Sementara Selasa anak-anak libur belajar di kelas, dan diganti outbound dan life skill.
Hal yang unik dari proses pembelajaran SDIT ini adalah, penggunaan pengantar musik klasik atau sufi yang mengalun menyertai proses belajar. Hal ini di yakini agar sensor otak kanan berfungsi dengan baik. Selain itu, laporan hasil prestasi belajar siswa diberikan kepada wali murid dalam dua bentuk, yaitu buku hasil prestasi belajar (buku lapor) dan visual, gambaran kegiatan siswa selama proses pembelajaran dan aktivitas lainnya dalam bentuk VCD.
Dengan tenaga pengajar berjumlah 10 orang, SDIT Al Itqon mempunyai jadwal kegiatan temporal yang bersifat mingguan: Outbound, keterampilan tepat guna dan kesenian, pemutaran film islami. Ada pulan yang bersifat bulanan: up grading khusus tim fasilitator dan observasi lapangan (fildtrip) sesuai dengan tema besar pelajaran dalam satu semester, yang digelar tiga bulan sekali. Sementara untuk persemester, diadakan seminar wali murid. Sedangkan Balaraja Festival Expo digelar setahun sekali, dalam rangka milad pertama Al Itqon setiap 1 Muharram, dengan kegiatan Market Day, pameran kreasi siswa, open house, olimpiade al Qur’an dan sains, panggung seni kanak-kanak dan seminar pendidikan.
Terakhir adalah Al Itqon Super Camp (kemah bersama) yang merupakan kegiatan setiap akhir semester ganjil dan diadakan diluar lingkungan sekolah. [KH]




November 19th, 2009 at 10:51 am
assalam…
kalo liat Pon-Pes tradisional yang ada di Kec. Petir dan sekitarnya, kadang saya miris juga, gedung kampus+asramanya bagus, kendaraan pemilik PonPesnya mewah, namun anak muridnya sering sakit masuk angin, lemas2, kurang darah dll (info dari puskesmas) yang intinya seperti kurang asupan gizi. Saat pemeriksaan sering ditanyakan makan/sarapan apa? jawabannya kadang bikin miris hati.
Coba dibalik, kampus+asrama+kendaraan Ponpes sederhana/secukupnya aja, namun gizi makanan sehari2 yang bagus, mungkin Serang/Banten bakal dapat banyak tunas bangsa terpelajar, sehat dan kuat…
Gizi bagus belum tentu mahal. Misalkan PonPes adakan pertanian sayur kangkung, kacang panjang, atau sawi. Terus ternak ayam petelur, burung puyuh, kolam ikan atau kelinci. Sayur-mayur tiap hari, kalo telur, ikan atau daging bisa digilir tiap 2hari atau khusus makan siang, diselingi tahu-tempe.
Kesadaran ortu santri juga perlu diperbaiki, jangan kasih bekal Mie Instant, tapi lebih baik Ikan Asin/Peda atau telur rebus.
Moga kesadaran gizi Anak dalam masa pertumbuhan akan meningkatkan kecerdasannya, amien…
November 19th, 2009 at 12:35 pm
Waktu saya ke sana (al-Itqon) kaget beberapa jenak. siswa/i memanggil gurunya “mister”. Ingatan saya ke pabrik sepatu, karyawan memanggil boss Korea dengan sebutan mister.
“di sini memang seperti itu.” jelas Qomaruzzaman datar. Pikir saya (bisa benar bisa salah) mungkin ingin menanamkan kepada anak didik. bahwa sebutan “hormat” kepada guru itu banyak: bapak, abi-umi, syekh, ustadz, kyai, kangjeng, dll. atau dengan sebutan “mister”al-Itqon sekedar ingin berbeda. Wallahu a’lam.
Tapi bagaimanapun keponakan saya akan didaftarkan di sana tahun depan.
November 19th, 2009 at 6:43 pm
Hendra pratama, makasih masukannya. ide bagus. nanti kami akan tulis PESANTREN KOBONG DAN MODERN DI BNATEN