LANDMARK KOTA YANG MEMBINGUNGKAN
Gola Gong | Gonjlengan | November 17th, 2009 | 5 Comments »

Monumen daerah Serang sudah layak jadi ikon?
Oleh Gol A Gong
Saat SMA (1980 – 92), setiap malam minggu saya pasti gonjlengan. Setelah masing-masing mengurusi “wakuncar” (waktu kunjug pacar), sekitar pukul 00.00 menuju markas rumah seseorang yang sudah ditunjuk.
Biasanya Sabtu siang kami sudah patungan untuk membeli ayam, beras, dan bumbu-bumbu. Pokoknya, apa saja yang ada di rumah, dibawa untuk makan-makan. Nasinya diliwet, walaupun kalah lezat dengan nasi liwet Solo. Bagi anak muda Bantn, tradisi gonjlngan sudah keharusan; ngumpil ngbakar ayam kampung, ngeliwet, dan ngobrol ngalor-ngidul tentang apa saja.
DISKUSI
Tradisi ini saya lestarikan di Rumah Dunia. Dalam sebulan bisa sekali atau dua kali gonjlengan, tergantung siapa yang sedang mndapatkan rezeki berlebih. Topik diskusi bisa apa saja. Seperti Senin (16/11) alam. Kami makan mengunakan daun pisang. Nasi disebar dan 2 ekor ayam bakar dibagi rata. Semua relawan Rumah Dunia duduk memanjang; semua sama rata saling comot nasi dan ayam, serta lauk lainnya seperti tahu, tempe, dan tentu saja sambel. Teermasuk istri saya; Tias Tatanka dan istri Presiden Rumah Dunia, Pramithya Gayatri. Bahkan anak-anak kami. Kebahagiaan dan kegembiraan ynag tiada terkira.
Topik dikusi kali ini adalah tentang landmark tempat tinggal kita. Para relawan Rumah Dunia rata-rata berasal dari kampung. Ibnu dari Cibaliung, Banten Selatan. Gading Tirta dan Ahmad Wayang berasal dari Warung Selikur, Pontang, Serang Timur. Abdul Salam dari Waringinkurung, Serang Barat, dan Rimba dari Menes, Pandeglang. Rata-rata mereka bingung ketika ditaya, apa landmark Banten, yang semisal kita difoto, hasilnya diperlihatkan kepada teman-teman, dan tanpa diberitahu mereka bilan, “Wah, ini di Banten, ya!” Piter tamba yang asalnya dari Palembang nyeletuk, “Jembatan Ampera, semua orang sudah tahu itu Palembang. Tapi, saya baru sekali dan tidak difoto,” ceritanya tertawa.
LPJ BUPATI
Sekitar tahun 2005 di Serang yang sekarang jadi ibu kota Provinsi, pernah ada patung-patung di sudut kota. Jika kita keluar dari pintu tol Serang timur, langsung disambut patung keluarga sejahtera; ayah-ibu-2 anak. Di perempatan Kebon Jahe – Lingkar Selatan ada patung Sultan Ageng Tirtayasa. Tapi, kedua patung itu dihilangkan! Saat seniman dan budayawan Serang protes, alasan bupati Serang waktu itu, Bunyamin, tidak islami. Setelah berdialog dengan DPRD Kab. Serang terbongkarlah “udang di balik batu” bunyamin. Ternyata supaya LPJ 2005 Bunyamin lolos, DPRD Serang memina sarat, agar pstung-patung itu dilenyapkan, karena tidak islami. Bunyamin menyanggupi. Anehnya, ptung di alun-alun Serang yang biasa disebut Monumen Daerah masih kokoh berdiri. Juga patung “Esa Hilang Dua Terbilang” di Makorem, Royal dan patug harimau di Mapowil, alun-alun selatan Serang.
Lantas, kita mesti berfoto dengan latar belakang apa, agar saat foto itu dikirim ke kerabat jauh dan dipamerkan kepada orang-orang, mreka tahu, “Oh, di Banten, nih! Wah, bagus amat!” Ayo, dimana? Susah nyarinya!
Di Jakarta, kita bisa berfoto dengan latar belakang Monas, semua tahu itu Jakarta. Di Bandung, berfotolah di depan gedung Sate, ktu jelas Bandung, bukan Amerika. Di Palembng dengan jembatan Ampera, di Yogya dengan candi Borobudur, di Solo dengan patung Slamet Riyadi, walau masih perlu terus dipublikasikan.
UBAH JAWARA
Nah, di Banten berfoto-ria dimana? Kalau di ibu kotanya; Serang, rasa-rasanya sulit. Di Cilegon juga sami mawon, walaupun sebetulnya ikon Cilegon dengan Krakatau Steel bisa dibentuk. Sayangnya Krakatau Steel tidak membuat sebuah monument kolosal dengan cita rasa seni tinggi, misalnya, sehingga semua orang yang berwisata ke selat Sunda akan berhenti dan berforo-ria dulu di sana. Tapi, para pemimpin di Banten tidak terpikir sampai ke situ, ya. “Mestinya sebuah kota seperti Serang sudah harus memikirkan gate away, pintu gerbang, sehingga orang-orang yang datang ke Serang seolah disambut, dimanusiakanlah,” saran Ridwan Kamil ST, dalam Forum Design Seminar Tata kota Serang yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten, Pemkot Serang, dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Banten pada Kamis (29/10), bertempat di Ruang Krakatau Hotel Le Dian. Ridwan menambahkan, bisa saja pintu gerbang itu dalam bentuk tiang-tiang atau monumen.
Di Banten sebetulnya sudah ada ikon menara mesjid Agung Banten warisan para Sultan di Banten Lama. Tapi kejauhan kalau hanya sekedar untuk berfoto-ria. Saya mengusulkan, bagaimana kalau Pemerintah Provinsi Banten membuat monumen seperti Nyoman Nuarta membuat Garuda Wisnu Kencana di Bali? Kolosal dan kini jadi ikon Bali. Di Banten kayaknya cocok kalau membuat patung seorang jawara; di mana di tangan kanan memegang pena (baca: bukan golok), menandakan sekarang saatnya otak, bukan lagi otot! Ini akan mengubah citra Banten yang identik dengan kekerasan menjadi citra baru yang ramah dan intelektual. Nah, jika iya, siapa yang mau jadi modelnya?




November 17th, 2009 at 1:31 pm
wah, bakal jadi proyek baru nih…
Landmark Serang sekarang bisa aja ‘rumah dinas Gub*****’ atau Gedung Dewan Terlama Pembangunannya, tinggal dipublikasikan ke seantero Dunia, pasti ngetop…
November 19th, 2009 at 9:30 am
sangat2 kecewa dengan PEMPROV BANTEN sendiri khususnya di bid.pariwisata karena di Banten sendiri tidak ada yg menjadi icon / ciri kalau sebenarnya di Banten banyak potensi yang dikembangkan
Bener jg tuh,,sekrang bukan saatnya Jawara memegang Golok,
tp saya punya usul bagaimana dengan Monumen Sate Bandeng dan kerupuk Emping melinjo?
November 22nd, 2009 at 3:31 pm
Bener Bgts Pak Hen & tries noize…
Kalow menurut ku sihh…
1. Pemprov Banten Kurang Efektiv dan Progresifff [ngotot, semangats, atau apalah yg melambangkan kemauan yg super duper kuat u/ menggapai target yg dicanangkan] Dalam mempromosikan Banten yag Punya banyaks bangetss Potensi Luar Biasa yg bisa di kembangkan yg benar-benar-benar undercontrol oleh pemprov banten…
2. terlihat selama ini pemprov sudah cukup puas dengan apa adannya…. Akibatssnyaa, Banten Belum Ada Icon yg punya ciri khasss yg kental dari banten…
3. Pemprov Banten Mumpung Masih Muda – Harus Lebih Ngotot & Progresifff
November 23rd, 2009 at 2:55 am
Begiulah. MEstinya para pemimpinnya memiliki visi yang jelas. Kita doakan saja, semoga dengan banyaknya study banding (mestinya saat mereka kuliah udah pinter, ya) bisa bikin mereka kreatif.
November 28th, 2009 at 9:44 am
kalau hanya sekedar ikon atau simbol gak menjamin sesuai dengan makna ikon atau simbol tersebut, mungkin yg tepat tentukan “grand design” Pemprov Banten mau jadikan apa Banten ini,harus melibatkan semua elemen unsur masyarakat sesuai dengan karakter, kultur dan budaya, termasuk juga teknologi salah satunya IT. mungkin itu aja dari saya.