KOTA SERANG YANG TIDAK BERKARAKTER

advert

Laput-Serang  4SERANG – Mungkin masih kuat tertanam ingatan di dalam kepala kita, ketika Undang-undang Nomor 23 tahun 2000 tentang Provinsi Banten yang disambut dengah haru itu lahir, dan menetapkan Serang sebagai ibu kota provinsinya, maka sejak itu gagasan dan keinginan pembentukan Kota Serang mewacana. Lazimnya sebuah ibu kota provinsi adalah kota otonom. Walau, kadangkala tidak pernah terlepas dari kepentingan elit politik Banten untuk berbagi “kue-kue” kekuasaan.

KARAKTER KOTA

Saat ini tidak penting lagi kita setuju atau tidak. Toh, anggukan dan gelengan kepala kita tidak akan berarti apapun. Kota ini telah legal berdiri pada hari Selasa 17 Juli 2007 dan RUU Serang disahkan oleh DPR/MPR-RI menjadi Undang Undang Nomor 32 tahun 2007 dengan pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hanya mengandalkan sektor jasa dan perdagangan. Mal-mal berdiri di sana-sini dengan dalih mendongkrak PAD. Sisanya “utang” belanjanya tentu saja wajib dibebankan pada rakyat; retribusi Kartu Tanda Penduduk (KTP), akta keluarga, kelahiran, dan pengurusan surat-surat lainnya yang seharusnya gratis malah menjadi bisnis yang menggiurkan bagi pemerintah kota.

Di sisi yang lain, dalih mengeruk PAD ternyata mengorbankan sisi lain kota ini; fungsi sosial dan fungsi budaya di(ter)lupakan. Kita jadi kehilangan trotoar untuk berjalan kaki, kehilangan ruang terbuka hijau berganti dengan pertokoan, kehilangan pandangan karena terhalang oleh baligo-baligo yang bertebaran di sepanjang jalan, kehilangan alun-alun yang nyaman, kehilangan bioskop, kehilangan gedung-gedung tua, dan akhirnya kita akan kehilangan jiwa-jiwa kita sebagai mahluk zoon politicon. Karena ruang-ruang publik yang bisa digunakan sebagai ruang berekspresi dan bersosialisasi, semakin hari semakin termarjinalkan, terkurung di dalam dinding-dinding rumah kita. Lalu, siapa yang mestinya bertanggungjawab dalam hal ini?

Imam (23), warga serang mengungkapkan kegalauan hatinya melihat kota Serang yang semakin kehilangan identitas sebagai ibu kota provinsi, karena tidak ada bedanya dengan kota-kota lain. Bentuk bangunan, mal, pasar, taman, semuanya sama. “Sebagai ibukota provinsi, kota Serang harusnya berkarakter dan tentu saja harus memberikan kenyamanan dan keramahan pada warganya. Kalo ditanya yang mesti bertanggung jawab siapa? Tentu saja kita semua yang harus bertanggungjawab, karena tidak menganggap penting ruang-ruang yang ada di  kota ini. Kita membiarkan saja alun-alun tidak menarik, membiarkan gedung-gedung tua di ganti tempat-tempat perbelanjaan, dan membiarkannya hancur, harusnya kita bereaksi ketika ruang-ruang itu hilang,” ungkap pemuda yang bekerja di mini market ini.

Lain halnya dengan Ade Jaya Suryani MA, staf di Bantenology IAIN SMH Banten. Ade mengungkapkan, yang harus bertanggungjawab adalah walikota sebagai pimpinan tertinggi di kota. Bagaimanpun otoritas tertinggi untuk membuat kota ini nyaman dan berkarakter adalah pucuk pimpinanya. “Jika tujaunnya baik dan visi misinya jelas, warga kota pasti mendukung,” tambah akademisi yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Leiden Belanda ini.

Monumen daerahFAKTA SEJARAH

Ketika membaca ulang sejarah kota Serang, fakta sejarah mengatakan bahwa serang merupakan pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan, baik pada zaman kesultanan, zaman kolonial, maupun pada zaman kemerdekaan. Kita tidak bisa memungkiri itu. Bukti-bukti sejarah berupa bangunan-bangunan tua masih berdiri kokoh di sepanjang jalan protokol kota ini; kantor Residen Banten (sekarang; Gubernur Banten), Kantor Bupati Serang, Gedung Osvia (sekarang: Markas Polres Serang), gedung “Joeang” 45, Noormale School yang kini menjadi Markas Korem Maulana Yusuf. Sebagai pusat dari ketiganya, seharusnya itu dijadikan sebagai latar belakang Rencana Tata bangun dan Lingkungan (RTBL) Kota Serang.

Beberapa Gedung tua sudah hilang atau berganti dengan bangunan-bangunan lain yang dianggap lebih punya nilai bisnis. Seperti rumah dinas dokter di Alun-alun selatan Serang, berubah jadi Hotel Mahadria, Tiang Gantungan di depan Kantor Gubernur hilang tak berjejak, Markas Kodim 0602 Maulana Yusuf yang dulunya adalah salasatu hotel Belanda dan markas PWI berubah jadi Ramayana Mal Serang, bioskop Merdeka di Royal jadi pertokoan dan kurang berfungsi, dan Pelita Theatre di Pasar Lama sebentar lagi mengalami hal serupa. Padahal menurut PP nomor 35 tahun 1993 tentang Benda Cagar Budaya, pasal 27 ayat 2: Bahwa setiap pemugaran harus memperhatikan keaslian bentuk, bahan, pengerjaan, tata letak, serta nilai sejarahnya.

Ade (47), seorang buruh pengangkut kayu balok menyayangkan jika pemerintah menghancurkan gedung-gedung tua. “Gedung-gedung tua itu seharusnya dilestarikan bukan dihancurkan,” tutur bapak 5 anak dan 6 cucu ini.

Hal yang sama dkatakan oleh Smus (37), seorang pendatang. “ Justru saya merasa nyaman tinggal di Serang karena banyak gedung tuanya,” ungkap nelayan di Pelabuhan Karanghantu ini. “Tapi, sekarang mulai tidak nyaman, nih.”

KARAKTER BUDAYA

Dalam Forum Design Seminar Tata kota Serang yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten, Pemkot Serang, dan IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Banten pada Kamis (29/10), bertempat di Ruang Krakatau Hotel Le Dian, Ridwan Kamil, ST selaku pembicara menjelaskan, bahwa kota yang berkarakter adalah kota yang mempunyai ciri khas.

Saat di wawancra wartawan www.rumahdunia.com Ridwan Kamil menegaskan, “Ciri khas Serang sangat jelas sekali, yaitu banyaknya bangunan peninggalan masa kolonial. Maka benda cagar budaya ini harus tetap dipertahankan untuk pembentukan karakter!”

Orang-orang di luar kota serang ketika melihat gedung Osvia, Pendopo Gubernur, Pendopo Kabupaten Serang, Gedung “Joeang”, maka mereka akan cepat mengidentifikasi kalau itu kota Serang. “Jika gedung-gedung ini hilang, maka Serang adalah kota yang tidak berkarakter. Karena akan sama saja dengan kota-kota yang lainnya. Kita hanya melihat pusat perdagangan dimana-mana dengan model yang tidak jauh berbeda dengan kota-kota lain. Kota ini akan terasa membosankan karena tidak adanya oase,” jelas lelaki yang selain berprofesi sebagai konsultan, juga sebagai dosen jurusan arsitektur di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Mesjid Agung Serang mestinya bisa jadi ikon

Mesjid Agung Serang mestinya bisa jadi ikon

Duturkannya pula, kota-kota yang mempunyai kebudayaan yang tinggi di dunia selalu punya “mark” atau tanda. Paris dengan menara Eiffel-nya, Roma dengan menara Pisa-nya, London dengan Big Ben-nya, serta kota-kota lainnya. Jika gedung-gedung itu dibiarkan lestari maka kota Serang akan memiliki level yang sama dengan kota-kota indah itu. “Tapi persoalannya berani tidak pemerintah kota melindungi itu sebagai aset yang berharga dan tidak tergiur oleh iming-iming uang yang besar atas nama investasi?” ujarnya di akhir kata.

Gol A Gong, praktisi TV yang juga hadir di dikusi juga mengatakan hal sama. “Jika Serang terus menerus mengumumklan bangunan-bangunan tuanya lewat brosur pariwisata, promo air di TV, di koran-koran, di baliho, di mana saja, dengan satu jenis bangunan khasnya, misalnya Gedoeng Joeang atau Gubernuran, maka orang yang datang ke Serang akan mencari gedung itu. Gedung Sate di Bandung sudah melegenda. Jika melihat Gedug Sate, tanpa diberi tahu pun, kita akan tahu itu Bandung, bukan Jayapura. Dan saya kalau ke Bandung tidak foto-foto dengan latar belakang Gedung Sate, terasa kurang afdol. Nah, Serang? Tauk, ah, gelap!”

Sebagai warga kota, kita hanya bisa menunggu. Menunggu pemimpin yang tahu visi misi memimpin, menunggu kota ini berkarakter, atau bahkan menunggu gedung-gedung tua itu habis terjual dan berganti dengan mal-mal yang sangat megah, tapi membosankan.

Ah bosan! (Rimba Alangalang/Laporan Ahmad Wayang dan Roy Goozli)

Share

12 Responses to “KOTA SERANG YANG TIDAK BERKARAKTER”

  1. koelit ketjil (Alit) Says:

    Ahh… rupanya Banten masih punya harapan jika banyak pemuda dan seringnya sesi diskusi yang memperhatikan wajah kampung halamannya. salut tuk mas Gola Gong Cs!! Mohon saya dikontak jika ada acara serupa.
    saya link ke facebook ya tulisan ini?

  2. hendra pratama Says:

    Dinegara ‘titik merah di peta’ (kata Habibie), ada bangunan tua yang lestari padahal lokasinya ‘premium’. Itu karena bangunan tua tersebut di’kangkangin’ oleh bangunan baru yang membiayai dana pelestarian. Caranya dikiri dan kanan bangunan tua didirikan bangunan baru dan di atas atap bangunan tua dibuat semacam jembatan antara 2 bangunan baru tersebut, terus hingga beberapa lantai keatas. Benar2 di’kangkangin’ tanpa menghancurkan…

  3. White Says:

    Pentingnya Pendidikan Karakter Untuk Kemajuan Negara

    Pendahuluan
    Krisis moneter telah melanda Asia sejak tahun 1997, negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Korea Selatan telah berhasil bangkit dari krisis, akan tetapi Indonesia pada tahun 2004 masih mengalami krisis multidimensi. Padahal Indonesia memiliki wilayah yang luas, sumberdaya alam yang melimpah, dan jumlah penduduk yang besar. Tetapi semua itu tidak membawa bangsa Indonesia menjadi makmur dan sejahtera. Hal ini sebenarnya disebabkan oleh krisis multidimensi yang mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), konflik (antar etnis, agama, politisi, remaja, antar RW, dsb), meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan sebagainya.
    Budaya korupsi pada dasarnya merupakan praktik pelanggaran moral yakni ketidakjujuran, tidak bertanggung jawab, rendahnya disiplin, dan rendahnya komitmen kepada nilai-nilai kebaikan. Persepsi internasional tentang Indonesia dalam hal kejujuran yang diukur dari tingkat transparansi penyelenggaraan negara, good corporate governance, sistem peradilan, dan penghormatan, terhadap hak properti intelektual juga rendah. Rendahnya kredibilitas Indonesia adalah cerminan dari perilaku individu-individu yang tidak berkarakter, sehingga berdampak negatif terhadap pengelolaan negara, sistem hukum, daya saing, dan seterusnya membuat Indonesia terpuruk secara ekonomi, sosial, dan politik. Berikut ini akan kita kaji pengaruh psikologi postif terhadap kemajuan bangsa.

    Pembahasan
    Dewasa ini, kemajuan suatu negara sering dikaitkan dengan faktor moral bangsanya. Banyak negara seperti cina, korea selatan, dan india beranjak membuktikannya. Bangsa yang memiliki pondasi moral yang kokoh seperti semangat kemandirian, kerja keras, tanggung jawab keluarga dan sosial, hemat/menabung, kejujuran, dan sebagainya akan memberikan efek positif bagi pembangunan sosial dan ekonomi suatu bangsa.
    Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukakan oleh Thomas Lickona- seorang profesor pendidikan dari Cortland University. Lickona mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda zaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah : (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidakjujuran, dan (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama (Zeitlin, Megawangi, Colletta, Garman, 1995).
    Pembentukan SDM yang bermoral tentu hanya dapat dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan universal melalui pendidikan karakter. Jika karakter manusia tak berubah menjadi lebih baik, kebutuhan-kebutuhan fisik akan terus meningkat, dan penderitaan/ketidakpuasan akan selalu dirasakan, dan tidak sedikitpun bantuan fisik dapat menyembuhkannya.
    Pendidikan karakter itu sendiri berkaitan erat dengan psikologi positif. Riset psikologi menghabiskan waktu 50 tahun untuk mendokumentasikan beberapa mental negatif sebagai efek dari isolasi, trauma, pelanggaran, sakit hati, perang, kemiskinan, diskriminasi, dan kematian dini orang tua.
    Karakter yang buruk merupakan dampak dari input/kejadian yang buruk, yang membekas dan mempengaruhi pikiran dan perbuatan. Psikologi modern telah merancang model-model terapi untuk menyembuhkan karakter yang buruk/negatif. Psikologi positif memberikan pengetahuan dasar individu untuk menikmati hidup, menjadikan hidup bermakna, dan produktif. Psikologi positif juga bermanfaat untuk mengukur kekuatan personal (optimis, tanggung jawab, jujur, dan sebagainya) dan menciptakan lingkaran kebaikan dalam suatu siklus kesejahteraan bangsa.
    Positif psikologi memiliki tiga sentral fokus, yakni emosi positif, kebijakan positif individu, dan institusi yang positif. Emosi positif merupakan kajian tentang pengalaman masa lalu yang dapat dijadikan pelajaran hidup, kebahagiaan saat ini, dan harapan untuk masa depan. Kebijakan positif individu merupakan suatu hal yang berasal dari kekuatan dan lingkaran kebaikan yang meliputi kemampuan untuk mencintai dan bekerja, memiliki motivasi, kreativitas, rasa keingintahuan untuk belajar, integritas, pengetahuan akan diri sendiri, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.
    Adapun institusi positif merupakan suatu hal yang berkaitan dengan kekuatan komunitas meliputi tanggung jawab, keadilan, etika bekerja, kepemimpinan, pengasuhan anak, adat istiadat, kerja tim, dan toleransi.
    Psikologi positif adalah ilmu pengetahuan yang mengoptimalkan peran manusia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan faktor-faktor yang dapat mengoptimalkan kesuksesan individu dan komunitas. Hidup yang bahagia dibentuk oleh suatu proses yang berkesinam-bungan (Sheldon, Frederickson, Rathunde & Csikszentmihalyi, 2000).
    Individu yang menjalani hidup dengan kondisi psikologistik positif dapat membentuk suatu medan tarik-menarik (www.sheldrake.org, 9 November 2009) terhadap lingkungannya sehingga individu ini dapat memberikan stimulus yang positif terhadap lingkungan dan ditiru oleh lingkungannya sehingga akan dapat menyelesaikan permasalahan sosial seperti menurunkan angka pengangguran, pencurian, bunuh diri, kemiskinan, permusuhan, san lain-lain.
    Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengalaman subyektif seseorang untuk bersikap positif, adalah:
    • Temperamen
    Bawaan dari lahir yang menentukan seberapa baik seseorang berinteraksi dengan lingkungan.
    • Berpikir positif
    Seseorang belajar optimis dan mengambil pelajaran positif dan pengalaman.
    • Kekuatan visi
    Seseorang yang memiliki visi dan misi yang jelas akan terus melangkah ke depan apapun yang terjadi dalam hidupnya.
    • Perbedaan budaya
    Budaya individualistik suatu masyarakat memberikan dampak rasa percaya diri yang tinggi pada individu-individunya dibandingkan budaya komunis.
    • Usia
    Usia seseorang mempengaruhi persepsi seseorang pada situasi kehidupan tertentu. Misalnya: orang yang lebih tua melihat penyakit sebagai bagian yang normal dalam proses penuaan dibandingkan anak muda. Mereka lebih memiliki rasa percaya diri untuk mengatasi masalahnya dan memilih gaya hidup yang lebih baik untuk bertahan (Williamson, 2000).

    Kemajuan bangsa pada dasarnya dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat yang baik. Kesejahteraan masyarakat itu sendiri akan tercipta jika masyarakatnya memahami tentang hakikat kebahagiaan itu bukan materi semata. Orang kaya tak selalu bahagia (Diener, Horowitz, dan Emmons, 1985). Hidup dalam keadaan kekurangan pun bukan berarti pula pasti bahagia. Namun, kebahagiaan itu terukur dari pikiran dan tindakan masyarakat dalam menghadapi masalah hidup, yakni tidak putus asa untuk meraih visi misi hidup dan tidak melakukan tindakan criminal.
    Kesimpulan
    Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter itu penting bagi kemajuan bangsa, karena dengan karakter yang baik dan tangguh, maka akan terwujud individu-individu serta komunitas yang berlanjut pada pembentukan masyarakat yang berkarakter baik dan tangguh, yang akan memacu perkembangan sosial dan ekonomi bangsa, sehingga tercapailah kesejahteraan bangsa.

  4. White Says:

    Jadi Langkah konkretnya apa mas gola gong???

    Anak anak emang suka baca buku
    Pas udah ada perpustakaan, gak cukup membiarkan mereka begitu aja tanpa dididik. Sedangkan kita tau sekolah-sekolah pemerintah dan swasta hanya mementingkan NILAI dan INTELEGENSIA….mereka butuh pelajaran kehidupan, pelajaran karakter, hakikat kehidupan dan kesyukuran sebagai seorang Muslim. Malu-lah masa muslim banyak yang jadi pengamen dan peminta-minta. Sekalian aja kita bentuk sukarelawan rumah dunia….untuk mengajar bimbel gratis, untuk berbagi cerita atas apa yang terjadi dalam keseharian anak anak Serang, untuk memotivasi agar mereka survive dalam hidup. Dan satu hal yang penting, SURVIVE FOR WHAT??? HIDUP untuk APA??? apakah hanya untuk diri sendiri dengan kesedihan yang tak kunjung habis atau untuk beribadah-optimisme-berjihad-berdakwah-menolong sesama!!!!

  5. hendra pratama Says:

    wah, mas White nantangin mas Gol A Gong nih…
    Kayaknya RumahDunia udah banyak berbuat dan bertindak nyata di Serang, terutama untuk warga Desa Ciloang, seperti yang disarankan mas White??atau masih kurang nih mas Gol A Gong.
    Btw, selamat ya, dah ada iklan yang nampang, moga isinya tambah perlu disimak dan bermanfaat tanpa diganggu pop-up iklan…

  6. redaksi Says:

    Terima kasih buat Hendra. Sayang White tidak berani memakai nama aslinya. Seperti juga saya, ya. Tapi, usulan White bagus. Maafkan kami, yang masih belajar ini. Kalau White ada di serang, alangkah bahagianya kami, jika White mau datang dan berbagi ilmu kpd kami, yg haus akan ilmu. Doakan kami ttap istiqomah di jalan Allah, ya. Amin…

  7. rambat Says:

    saya orang serang asli, dan saya merasa belum memiliki kebanggaan dengan kota ini.
    teman-teamn jakarta saya sering ‘bermain’ ke kota2 teman yang lain yang ada di daerah, saya pun terkadang ikut dalam rombongan.
    mereka dengan bangga nya ‘memamerkan’ berbagai tempat menarik dan bersejarah di kotanya masing-masing. bahkan satu kali kunjungan bukan waktu yang cukup untuk menjelajah satu kota.
    ketika giliran saya tiba menjadi tuan rumah, saya bingung dan bahkan selalu bingung, tempat apa yang bisa saya ‘pamerkan’ ke mereka. Banten Lama, satu kali kunjungan habis sudah,pantai anyer?mereka bosan dengan tempat wisata itu,sudah sangat sering mereka ke sana tanpa saya.
    dan akhirnya saya masih belum berani bilang ke mereka “maen dong ke kota gua…loe belum tau ‘anu’ kan?ada tempat ‘anu’ lho disini.”
    dan sampai saat ini saya tidak tahu pengganti kata “anu” di ajakan saya.
    tapi…saya tetap cinta serang, banten

  8. Mas Ipiet Says:

    nah loh!
    serang ga punya karakter ya?
    he..he..!
    gi mana tadinya sih?
    lagian, siapa suruh banten jadi provinsi?
    siapa suruh serang jadi ibu kota nya?
    siapa suruh milih pemimpin yang ga tau harus gi mana cari pendapatan daerah, sampe kudu ngebongkarin bangunan bersejarah untuk dibikin bangunan yang (katanya) bisa nyedot pendapatan daerah…?

    ya gini akhirnya.

    apa perlu bangunan bersejarah yang masih tersisa itu dikasih tulisan.”tidak dijual”?

  9. wonkricki Says:

    Ah, melihat kota serang (dan banten) dengan gaya sinis jelas sangat-sangat mudah dan “murahan” coz semuanya terlihat seperti orang yang sedang mengamati sesuatu dalam keadaan “mati lampu” dan “nyala lampu”. Seorang sinism lebih menyenangkan meneropong dalam keadaan “mati lampu” temaram bahkan gelap gulita –seperti lampu PJU kota serang yang tak terbayar pemkot sebesar 2 milyaran hingga desember 2009– bahkan jika minyak tanah masih mudah diperoleh diwarung-warung terdekat, ia akan juga senang menggunakan obor atawa lampu cempor sekalipun agar tetap temaram dan samar-samar kelihatan. Ah, seorang sinism selalu melihat ini dan itu sebagai sesuatu yang tidak sempurna, kurang bagus, tak layak dan amburadul jika diperlukan. Dirinya hanya melihat dengan menggunakan kaca mata pantat botol yang semuanya cenderung tak sempurna, cenderung cembung bahkan papaleotan. Tak lagi diperlukan melihat dengan mata, hati dan kepala jernih karena akan mengurangi nilai jual dirinya sebagai “seolah-olah” pengamat. Gong banyak memiliki kiprah buat kemajuan daerah kelahirannya, banyak jempol tertuju pada kemampuannya menumbuhkembangkan literasi di kabupaten/kota serang (baguslah kalo banten secara keseluruhan), tapi sangat amat disayangkan teropong yang kerap ia gunakan masih saja mencerminkan seorang sinism sejati. Arogansi yang sering dicuatkannya mempertegas kondisi psikologisnya. Suara-suara kritisnya jangan sampai hilang tetapi harus senantiasa rendah hati, wise serta akomodatif dalam koridor kebersamaan membangun kota yang dicitainya. apalaghi sampai “dijual” untuk memperoleh keuntungan lembaganya semata, naudzubillah !! Berkarya terus, tapi ke depan buka corong untuk ajak seluruh komponen kota terutama pejabat kota yang memerlukan hal-hal segar dan produktif dalam merencanakan pembangunan kota serang, sekali-kali ikutlah dalam perencanaan di musrenbang. Pahami kondisi objektif yang dihadapi kota serang sesungguhnya,baik sisi perencanaan maupun kemampuannya . Bravo Gong !! Bravo Kota Serang !!

  10. rumahdunia Says:

    Untuk Wonkricki, terimakasih kritikannya. Redaksi perlu meluruskan. artikel ini bukan Gol A Gong yang nulis. Tapi wartawan http://www.rumahdunia.com yang hadir meliput di hotel Le Dian. Kebetulan saya yang hadir. Juga yang mengatakan “Serang tidak berkarakter” juga bukan Gol A Gong, tapi narasumber di seminar itu; Ridwan Kamil, ST. Yang bikin seminar juga Forum Disain Idonesia – bukan lembaga milik Gol A Gong. Juga Dinas Pekerjaan Umum mendukung seminar itu. Gol A Gong hanya sebagai peserta yang diundang dan dimintai pendapatnya. Semoga Gol A Gong tidak seperti yang disangkakan Wonkricki, “menjual” Serang/Banten untuk keuntungan lembaganya.Sebetulnya Gol A Gong tidak memiliki lembaga pribadi, tapi Yayasan Pena Dunia yng menaungi Rumah Dunia didirikan secara bersama-sama. Bahkan lebih banyak menggunakan uang dari royalti novel-novelnya. Jadi, kalau terbukti Gol A Gong mendapatkan keuntungan untuk pribadinya, kami relawan di Rumah Dunia yang akan pertamakali mengingatkannya. Kalau perlu Rumah Dunia dibubarkan. Tentang sinisme Gol A Gong, itu sebetulnya kegelisahan kami juga. Sinismenya diusahakan kondusif dan juga dengan solusi. Yang penting, Gol A Gong mengkritik dengan gaya sinismenya tidak dengan kepentingan tersembunyi, misalnya meminta jatah proyek. Sampai detik ini, tanda2 ke arah sana (jatah proyek atau jatah kursii) belum ada. Semoga seterusnya, Terimakasih kritikannya. Itu bagus untuk terus mengingatkan Rumah Dunia realistis. Semoga kita bisa membangun Banten bersama-sama. (Rimba Alangalang, Redpel http://www.rumahdunia.com)

  11. hendra pratama Says:

    hahaha.. ada yang protes ama Gol A Gong tapi gak tau duduk persoalannya dengan tuntas, jadi protesnya salah alamat. kacau…
    wonkricki, di Radar Banten dan koran2 lain, kalo mo kasih opini pasti dengan fotocopy KTP ataupun no HP yang akan ditampilkan secara utuh. Hal ini untuk memudahkan pertanggungjawaban dikemudian hari.
    Redaksi rumahdunia.com mungkin membuat tatacara ‘Submit Comment’ yang sangat mudah agar banyak orang dapat mengungkapkan pendapatnya dengan bebas. Namun alangkah baiknya jika yang ingin berpendapat juga menyertakan identitasnya, minimal nama lengkap (kalo email udah disimpan redaksi khan?).

  12. Abu Gesper Says:

    Tul banget mas Gong. Kita harus pertahankan bangunan bersejarah di Kota Serang dan sekitarnya. Biar kita dan anak cucu kita bangga punya kota ini. Gak sekedar cuma kenangan saja. Cukup Belanda saja yang menghancurkan kota Banten, kita sebagai orang Banten harus memperahankannya. Kalo para pemimpin di Banten lebih suka menghancurkan Bangunan bersejarah, berarti mereka Sama saja dengan Kompeni.

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010