SENJA DI SELAT SUNDA [5]
Gola Gong | Novel | November 13th, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
langkahku ada di jalan
rumput, aspal, batu
dan bangkai putus asa
entah berapa jauh lagi perjalanan
aku tetap melangkah
dan berharap tak mati di tengah-tengah
***
Alun-alun kota ini penuh tepuk-riuh oleh orang-orang yang menonton pertandingan sepakbola antarkampung. Di keempat sisi jalannya yang saling mengikat, warna-warni oleh gelak tawa anak sekolah yang latihan baris-berbaris dan drum band. Hampir seluruh penduduk kota menghabiskan sisa hari dengan menonton pertandingan olahraga, bermain, sekadar berkumpul, atau apa saja di sini.
Kota yang mempunyai legenda Ki Amuk, meriam yang suka memporak-porandakan kampung, keramaiannya terpusat di alun-alun. Lalu untuk menyelamatkan kehidupan rakyat, disuruhlah seorang pande besi dari kampung Kadu Pandak membuat anting-anting gelang. Diangkutlah meriam Ki Amuk itu ke Banten Lama. Lantas orang pun latah. Kampung pande besi yang menjadi tempat gelang-gelang itu dibuat disebut “Pandeglang”.
Tapi ada versi lain tentang Pandeglang yang “Betah” (Bersih, Endah, Tertib, Aman, dan Hidup), yaitu berasal dari ungkapan “paneglaan”. Artinya, tempat melihat ke arah lain dengan jelas. Versi terakhir menyebut kota berhawa sejuk yang berada 776 M di atas permukaan laut ini berasal dari kata “Pani-Gelang”, yang berarti tepung gelang. Tapi, bagaimana dan apa pun asal-usulnya, kota ini seperti tetap memilih “diam” dulu daripada melaju seperti yang terjadi di dua kabupaten lainnya; Serang dan Lebak.
“Nonton bola, ya!” Nana menuju pintu gerbang. Alun-alun kota ini dipagari besi. Ada empat orang perempuan menjaga. Di tangan mereka tergenggam segepok karcis masuk. Sebetulnya nonton di luar pagar pun bisa. Tapi, tentu lebih mengasyikkan jika kita masuk ke kawasan di dalamnya. Nana merogoh saku celana army look kegemarannya. Dua ratus rupiah per orang. “Cuci matalah!” dia tertawa.
Sudah seminggu aku di sini.
Nana membawaku ke seluruh lekuk pesona Banten. Dari mulai wisata sejarah di situs purbakala Banten Lama, wisata kota di Serang dan pabrik baja Krakatau Steel di Cilegon, wisata bahari di Pantai Anyer, Salira, dan Carita, serta dua hari yang lalu mendaki Gunung Karang.
Dari alun-alun kota aku bisa melihat gunung Karang dengan jelas dan takjub. Persis di depan mata. Seperti hendak membentur kening. GunungKarang yang cuma 1778 meter itu punya legenda Sumur Tujuh. Legenda ini hermula dari Syekh Mangyur yang pulang dari Tanah Arah dan muncul tujuh kali di puncak Gunung Karang. Bekas kemunculannya itu meninggalkan jejak tujuh buah sumur, yang sering diziarahi orang untuk minta berkah. Atau legenda yang lain, tentang putri cantik Lenggang Kencana yang dikawini raja jin, karena bosan digodai jejaka-jejaka kampung. Konon, kalau ternak-ternak di kampung mati, itu artinya di kerajaan jin Lenggang Kencana sedang ada pesta besar!
“Masih kuat ke Baduy?” Nana menyebutkan nama penduduk yang mengasingkan diri di wilayah Kanekes, Rangkasbitung, Banten Selatan.
Aku tersenyum dan mengangguk. Baduy adalah babak akhir dari episode “Liburan Di Banten”. Rencananya dipimpin oleh Yanto, bersama beberapa orang anggota PA lainnya, kami akan menjelajahi wilayah Kanekes, yang terlindung di antara Pegunungan Kendeng, di mana orang Baduy bermukim.
Aku sangat ingin pergi ke Baduy. Rasanya kalau cuma mendengar atau membacanya saja dari koran atau buku, bahwa orang Baduy itu beginilah dan begitulah, tidaklah komplet. Dari buku yang pernah aku baca saja, riwayat orang Baduy atau Kanekes sampai kini masih menimbulkan perdebatan. Beragam versi dilontarkan. Oleh kaum birokrat, mereka dicap sebagai suku terasing. Mereka dianggap “tidak berbudaya”. Itu artinya tidak sama atau berbeda dengan “kita”, masyarakat “yang berbudaya”. Kadang kala dengan kondisi seperti ini suka menimbulkan konflik. Terbukti “penolakan” orang Baduy terhadap proyek-proyek birokrasi. Pembangunan sekolah dasar, puskesmas, dan “bantuan” lainnya.
Di kalangan antropolog saja masih mendua. Versi yang satu, orang Baduy adalah sisa-sisa keturunan masyarakat Padjadjaran. Ketika kerajaan Hindu besar itu jatuh ke tangan Islam, ada sekelompok bangsawan dan pengawalnya yang melarikan diri ke pedalaman. Mereka memilih mengasingkan diri di tempat terpencil, yang sulit dijangkau oleh orang luar. Wilayah Kanekes yang ditindih oleh Pegunungan Kendeng, dipeluk oleh hutan rimba, dan dililit oleh beberapa sungai, memang cocok sebagai tempat persembunyian.
Versi yang lainnya sangat berbeda. Menurut cerita rakyat, para tetua, dan tokoh Baduy, mereka menyebut tentang Ratu Banten yang melarikan diri dengan menyusuri Ciujung sampai ke hulunya di Pegunungan Kendeng, karena diserang oleh Sultan Maulana Hasanuddin, yang sedang menyebarluaskan ajaran Islam. Akhirnya Ratu Banten menyerahkan kampung Cicakal sebagai taklukan kepada Sultan untuk di-Islam-kan, dengan syarat kampung-kampung lainnya di wilayah Kanekes tidak diusik keberadaannya. Bukti versi ini sangatlah mendukung. Yaitu kampung Cicakal yang seluruh penduduknya beragama Islam. [bersambung ke bag. 6]




Leave a Reply