KULINER RASA NUSANTARA DI SERANG

advert

Sate bandng khas Banten

Sate bandng khas Banten

Oleh Halim HD

Kembali ke kampung setelah beberapa bulan setiap tahunnya di Yogyakarta, rasanya selalu membuat saya antusias. Serang pada tahun 1968-69, tahun pertama saya memasuki kota pelajar Yogyakarta yang selalu membuat begitu banyak orang iri, tak membuat saya punya kebanggaan berlebihan terhadap kota kebudayaan yang dimitoskan oleh banyak kalangan. Memang ada kenikmatan juga di Yogyakarta. Tapi bukan makanannya. Saya bisa melampiaskan kesenangan saya di Yogyakarta untuk menonton pilem yang lebih beragam dibandingkan Serang yang hanya punya dua bioskop, Royal (diganti menjadi Merdeka, dan lalu Trikarya) dan Sempurna (diganti menjadi Trimurti).

PIAWAI MAKANAN

Bagi saya, kota yang paling nikmat untuk menyantap makanan adalah kota Serang. Dalam bayangan saya yang selalu membuat air liur saya berada ditengah tenggorokan pada saat saya membayangkan kota kelahiran saya. Karedok, pecel dan soto bi Supi dan bi Sanah, empal bi Melah, sate dan sop kambing mang Buloh, rabek mang Kasbuloh di Calung, bubur ayam Kim Cong, bakso dan Siomay Lin Tong, ketoprak nyah Urip dan masih ada belasan jenis makanan yang membuat ingatan saya tak pernah lekang dengan kota kecil dengan pepohonan jenis asem, mahoni, kenari, waru dan juga palem raksasa yang berderet di sepanjang ruas jalan manapun juga. Betapa indahnya kota kelahiran ditahun 1960-an, yang selalu setiap pagi saya lalui jalan-jalan itu bersama ayah saya dan beberapa teman untuk menghirup udara pagi, sebelum matahari terbit.

Serang, dengan jenis makanan khas antara karakter pesisir, Sunda-Jawa, dan wilayah pesisir nusantara lainnya dicampur dengan Melayu-Islam serta terselip pula berbagai jenis makanan Tionghoa, yang semuanya menjadi bagian dari mosaik kultur makanan Serang khususnya dan Banten. Dengan  citarasa berbagai jenis makanan yang membuat siapa saja selalu ingat dengan kota yang berasal dari wilayah persawahan ini, yang juga melalui jenis makanannya itulah Serang dikenal.

Di jaman Bupati Gogo Sanjadirja (1960-an), sate bandeng menjadi salah satu jenis makanan wajib di istana Merdeka di Jakarta; menjadi bagian kesukaan Bung Karno, seperti juga Pangdam Siliwangi Brigjen Ibrahim Ajie yang bukan hanya “konon”, tapi pasti mengharuskan sate bandeng bagian dari menu dalam upacara makan resmi di Jawa Barat. Dan rasanya, karena sang Pangdam legendaris dan Bupati Gogo Sanjadirja yang punya selera bagus itulah makanya sate bandeng bisa dipromosikan dan memasuki wilayah elite. Dan ingat, siapa yang tidak tahu kualitas ikan bandeng dari Sawah Luhur, yang menjadi sumber ikan bandeng paling kondang di Jawa Barat, yang sejak jaman Sultan Hasanuddin wilayah itu dijadikan sebagai wilayah istimewa penghasil ikan bandeng.

Tentu saja ikan bandeng bukan hanya dari Sawah Luhur, juga ada yang berasal dari Domas, Pontang dan wilayah sekitar Labuan dan Anyer Lor dan Kidul dan beberapa daerah lainnya. Tapi, yang namanya ikan bandeng Sawah Luhur yang dikenal karena kenyal dan juga tak berbau lumpur! Dan karena itu pula begitu banyak orang-orang dari berbagai daerah di Jawa Barat dan Jakarta, jika berwisata ke Serang-Banten, salah satu ole-olenya adalah ikan bandeng, disamping emping dan asem-tua, serta berbagai jenis buah-buahan. Ingat, sawo Banten pada tahun 1960-an sangat dikenal di Jawa Barat karena besar-besar dan manis, seperti juga rambutan si nyonya yang kondang sejagat Jawa Barat dan Jakarta. Dan karena ikan bandeng juga makanya ada pindang bandeng, salah satu favorit makanan saya. Dan soal pindang, jenis makanan khas pesisir nusantara, di Banten bukan hanya pindang bandeng. Juga ada pindang ikan kerong-kerong, ikan teri, ikan peda, ikan lemuru dan ikan tongkol.

Membaca berbagai jenis makanan pesisir Serang-Bantern, pikiran saya melayang dan membayangkan betapa warga Serang-Banten demikian piawainya dalam mengolah makanan yang menjadi sumber bagi pertumbuhan fisik dan rohaninya.

Gipang yang gurih

Gipang dan ceplis melinjo yang gurih

Saya kira, atau tepatnya, saya yakin bahwa suatu masyarakat yang demikian piawai dalam mengolah berbagai jenis makanan adalah suatu masyarakat yang terbuka yang mampu menerima berbagai jenis kebudayaan yang datang dari luar, dan bagaimana masyarakat itu melakukan penyesuaian dengan citarasanya. Di samping itu, kepiawaian itu juga menjadi tanda dan bukti paling kuat bagi suatu masyarakat dalam memahami lingkungannya, memahami berbagai jenis tetumbuhan dan rempah-rempah serta potensi alam yang ada di sekitarnya.

Saya merasa bahwa dengan membaca berbagai jenis makanan itu, rasanya pantaslah Banten pernah menjadi kota dan pelabuhan internasional, di mana berbagai bangsa dan kebudayaan bertemu dan saling berbagi dan memahami. Dan dari pertemuan itu pula maka jenis makanan tumbuh dan berkembang, seiring dengan perkembangan pemikirannya dan citarasa yang kian meluas: Banten bukan hanya sebilah golok yang bisa menebas. Tapi lebih dari itu pemikiran keagamaan dan kebudayaannya yang ikut membentuk mosaik kebudayaan nusantara. Banten bukan sekedar seperti kodok dalam batok yang menepuk dirinya paling gagah perwira. Keperwiraan dan kegagahannya justeru ditancapkan ke dalam berbagai jenis dan bentuk kebudayaan yang kontributif di dalam perkembangan dan pembentukan kebudayaan nusantara, termasuk diantaranya sistem irigasi, perkebunan tebu dan pengolahannya, dan berbagai jenis rempah-rempah.

RITUAL KAMPUNG

Pulang ke kampung dengan antusiasme yang meluap dan dengan seijin orangtua saya, maka satu persatu warung langganan dicicipi kembali. Melalui lidah saya bertemu bukan hanya citarasa ragawi, tapi juga pertemuan dengan teman-teman lama serta kenalan yang memiliki citarasa sama. Makanan mempertemukan siapa saja dalam suatu ruang sosial di mana kita bisa berbagi pengalaman, dan saling memperbandingkan, dan sekaligus mengukuhkan suatu citra kebudayaan melalui lidah.

Sesampai di kampung dari perjalanan sepanjang belasan sampai duapuluh jam, dan istirah barang dua-tiga jam, maka sore menjelang magrib, mengunjungi bubur Kim Cong (pada waktu itu masih mangkal di rumahnya, di Mangga Dua Dalam) menjadi kewajiban, seperti kewajiban pada malam hari untuk menikmati night life di Royal untuk menyaksikan pilem. Dan jika tak ada pilem yang menarik, maka jalan-jalan di Taman Sari, dan nongkrong di warung untuk menikmati bebagai jenis gorengan, seperti pisang, ubi, singkong, tape, misro (amis di jero) dengan segelas dua wedang bandrek.

Dan esok harinya, sejenis ritual yang tersusun dalam daftar setelah mendapat restu dari ibu saya: makan di warung bi Melah atau mang Buloh atau Kasbuloh; dan siang hari memasuki warung pecel atau karedok, ketoprak. Ibu saya mengijinkan jika liburan saya hanya satu minggu untuk menikmati kesenangan saya, dengan selingan makan di rumah.

Sependek ingatan saya, rasa-rasanya hobi jalan-jalan keliling kota karena ayah saya yang selalu mengajak saya setiap subuh sampai menjelang matahari terbit, sejak saya masih di kelas Nol (taman kanak-kanak), Sekolah Rakyat (SR) Mardi Yuwana,  sampai SMPN III Lopang.

Dan kesenangan itu saya lanjutkan.

Serang makin panas dan penuh polusi

Serang makin panas dan penuh polusi

Kenikmatan jalan-jalan di Serang bukan hanya karena hobi. Tapi juga kota Serang yang rindang, bersih, dan banyak warung yang bisa diampiri pada saat kita lelah.

Sekarang saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kita bisa jalan-jalan dengan nikmat: kepadatan lalu lintas yang membuat kita tak lagi nikmat jalan-jalan sambil kongko; juga tiadanya pepohonan yang membuat kita berkeringat bukan karena berjalan tapi panas yang menerpa kepala dan tubuh kita. Ditambah dengan makin menyempitnya (atau menghilang!) trotoar dan tak jarang dipenuhi oleh pedagang kaki lima.

Coba anda bayangkan kesenangan jalan-jalan pada jaman Bung karno dan Bupati Gogo Sanjadirja: dari Mangga Dua lalu menyusuri ke jalan Dipanegara menuju alun-alun, nongkrong di alun-alun, lalu ke Kota Baru dan menyusuri Magersari berbelok ke Gang Rendah, mampir sebentar di toko rempah-rempah pakde saya, lalu ke jalan Hasanuddin, ke Calung dan Lopang, kembali ke Mangga Dua Dalam melalui Kebon Sawo dan Kebon Sayur.

Saya kira, sekarang saya tak lagi berminat untuk menyusuri jalan-jalan itu; kota Serang sudah tak nikmat lagi. Lihatlah misalnya Taman Sari atau Pamelan (Palem laan) yang dulu rindang, kini tak ada lagi pepohonan; semuanya bangunan yang norak, dan sisa arsitektur kolonial hampir musnah; dan yang tersisapun hanya meninggalkan rasa pahit. Padahal, di masa lampau, jalan ke Taman Sari, Pamelan, Cimuncang dan Pisang Mas lalu ke Cipare dan sampai ke Ciceri, rasanya bukan suatu perjuangan yang berlebihan. Dan jalan kaki ke Kasemen, Karangantu atau Bio Banten atau Masjid Agung Banten, bukan sesuatu yang istimewa. Pengisi liburan, sesekali kami isi dengan santai lika liku jalan itu kami lewati sambil sesekali mampir di rumah teman atau warung. Kini tak ada kenikmatan. Kota dan berbagai tata ruang yang sudah amburadul dan rusaknya lingkungan alam serta sistem transportasi yang mengejar setoran, membuat saya kecut jika saya balik ke kampung.

Sama seperti tak nikmatnya kita bersepeda di jaman kiwari di kota Serang. Berbeda dengan jaman lampau ketika saya baru bisa bersepeda dan menyusuri jalan menuju Kaloran, Kaujon lalu sampai Taktakan dan melintasi pemakanan Tionghoa Sentiong dan berbalik ke Lontar, Magersari dan kembali ke kampung menjadi kebiasaan hampir setiap dua hari sekali. Kami juga senang sekali setiap minggu ke Kasemen, mandi di sungai, atau ke Karangantu untuk mancing, singgah di Bio Banten (Avalokirtesvara) dan bisa juga dilanjutkan melalui Dermayon (pemukiman orang-orang Indramayu) ke Tasik Kardi (danau buatan) yang dulu menjadi penampungan air untuk irigasi dan sekaligus sebagai tempat hiburan kaum elite tradisi Banten. Bahkan kami sering juga dari Tasik Kardi lalu ke Kramat Watu, dan dari sana barulah pulang. Kadang-kadang kami juga dolan ke Masjid Agung Banten, sebelum ke Tasik Kardi.

Dari Serang ke Kramat Watu dan lalu belok ke arah kiri menuju Kemuning, saya dan beberapa teman mampir ke rumah mang Pe’i, kenalan dan kerabat keluarga kami yang selalu membawa ole-ole ke rumah kami berupa Pisitan, Rambutan, Duren, Manggis, Pete, Jengkol hasil panennya. Tentu saja gemblong, wajik, rengginang dan tape ketan hitam. Sesekali kami juga pergi ke Serdang, dan dari Serdang kami dolan ke Gunung Santri. Dari puncak Gunung Santri kami menyaksikan keindahan bentangan sawah-sawah dan dikejauhan kami menyaksikan alunan ombak ritmis di teluk Bojonegara. Pulangnya, kami singgah di Serdang, di rumah keluarga bapak Tb. Endung, seorang pokrol bambu, advokat jaman kolonial, yang memiliki ratusan batang pohon kelapa dan bentangan sawah. Di rumah itu kami menikmati kelapa muda dan wajik, gemblong dan berbagai penganan. Dan pulangnya, boncengan kami penuh dengan berbagai jenis ole-ole.  Dari Serang ke Kasemen, Kramat Watu, Serdang, Cilegon, Anyer Lor atau bahkan Merak serta Pulorida, pada waktu itu bukanlah sesuatu yang berat. Kami lalui dengan bersepeda dengan santai. Kami juga suka ke Cikande, Cisoka, Balaraja dan  menyusuri desa-desa di dalamnya tempat sebagian leluhur kami disemayamkan di Prau dan Leuweng Gede (Hutan Besar), dan juga Tambak serta Pamarayan. Sesekali kami  ke arah Selatan, ke Cadas Sari, lalu ke Pandeglang dan Menes – lantaran kami tergoda oleh “mitos” dan banyak opini tentang gadis-gadis kidul yang bukan maen!! Tapi, sesungguhnya kami cuma Platonis kelas teri yang hanya bisa memandang dari kejauhan, diantara cucuran keringat.

INGAT SERANG

Apakah saya sedang “bernostalgia”?

Bisa jadi yaa.

Saya tidak menolak jika ada orang yang menuding saya seperti itu. Tapi, apa yang ingin saya sampaikan di sini, catatan selayang pandang tentang Serang di jaman lampau, jaman saya masih Sekolah Rakyat dan SMP di kota kelahiran, adalah usaha saya untuk mencoba mengingat.

Yaaa, mengingat kembali.

Dan usaha untuk mengingat ini, tanpa bermaksud untuk mengharubiru dengan kenyinyiran. Saya ingin mengingat melalui hal-hal yang kecil-kecil yang saya alami secara personal.

Bagi saya hal ini penting, agar ingatan saya tidak rapuh; agar daya ingat ini tidak luntur oleh proses jaman yang cenderung menghilangkan segala sesuatu yang pernah terjadi.

Tentu saja apa yang saya catat di sini juga mempunyai kelemahan; mungkin data yang saya catat secara personal itu tidak cukup sahih.

Naah, untuk itulah saya harap, sesungguhnyalah saya ingin mengajak siapa saja yang tinggal dan mengenal kota Serang dan Banten dengan reflektif, melalui kaca mata personal tentang hal-hal kecil yang kita alami, agar mosaik sejarah lokal (semoga saya tidak ambisius dan takabur!) bisa lebih kaya melalui cerita orang per orang, yang tentu saja ada juga bolongnya: sebuah lubang menganga untuk dimasuki oleh siapa saja.

Bersyukurlah kepada bolong yang berupa dan bisa menjadi kemungkinan bagi siapapun untuk mengisi dan merajutnya dalam rangkaian catatan personal yang lain. (*)

*) Halim HD. – Networker Kebudayaan.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat “Rumah Dunia”. Paket Kelas Menulis “Be a Writer” reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku “Be a Writer” karya Gol [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | July 18th, 2010