KOES BERSAUDARA MAIN DI KAMPUNGKU
Gola Gong | Kampong | November 13th, 2009 | No Comments »

Serang kotor penuh sampah
Oleh Halim HD
Jika anda punya waktu untuk kongko dengan mereka yang lahir dan berasal dari Serang yang kini berumur sekitar setengah abad atau lebih, dan gemar kesenian, dari kesenian moderen seperti musik (band) atau kesenian tradisi seperti Lenong, Wayang Golek, Gambang Kromong, Kroncong dan Orkes Melayu yang menjadi cikal bakal ndangdut, rasanya saya hampir yakin mereka akan menyebut beberapa kampung: Mangga Dua, Kebon Sayur, Kebon Sawo, Kampung Pasar, Kaloran dan Kaujon.
BAND MANGGA DUA
Dalam catatan kecil ini, saya ingin bercerita tentang kampung Mangga Dua Dalam, tempat kelahiran saya, yang tentunya lebih saya kenal daripada kampung-kampung lain. Tapi, catatan ini juga ingin mengaitkan hubungan antar kampung yang saya sebut, di antara kampung-kampung lainnya.
Pada tahun 1960-an awal sebuah grup band lahir dengan nama yang nampaknya punya kaitan jaman dan digabungkan dengan sebuah tempat tamasya: “Gelora Cening”. Kata “Gelora” pastilah orang akan ingat dengan Bung karno yang selalu bergelora dalam berpidato dan memberi semangat. Dan “Cening”, tempat tamasya yang kalau tidak salah lokasinya di sekitar kabupaten Pandeglang. Anak-anak muda itu menabalkan nama itu pada kelompok mereka setelah latihan musik berjalan setahun lebih, yang pada awalnya mereka hanya memakai nama kampung untuk nama band itu: Band Mangga Dua.
Lama-lama mereka berpikir, moso’ band pake nama kampung, kira-kira itulah yang mereka pikir dan selalu dalam percakapan diantara mereka. Apalagi setelah berulang kali grup band mereka selalu mendapat undangan pada setiap acara resmi di kabupaten Serang, bank BRI dan kantor dinas pemberantasan malaria serta proyek besi baja Trikora (sekarang Krakatau Steel) di Cilegon yang selalu menjadi langganan.
Jadi, suatu hari setelah mereka bermain di beberapa tempat mereka menyewa mini bis dan berangkatlah ke Cening, untuk melepaskan lelah. Di sanalah gagasan nama “Gelora Cening” lahir sebagai nama sebuah grup band dari kampung Mangga Dua Dalam dengan nama-nama (yang saya ingat): Cecep (gitar, merangkap pimpinan grup), Cepi (penyanyi), Widodo (bas), Wibowo (gitar), Wahdad (penyanyi), Parjo (penyanyi), Atiek (penyanyi), Wati (penyanyi), Farel Tobing (gitar), Liem Goan In alias Itit (Manajer panggung dan penata suara).
Grup band ini sesungguhnya juga punya kelonggaran keanggotaan, karena misalnya seperti Farel Tobing (rumahnya di depan Korem, jalan Pamelan) tidak sepenuhnya aktif, seperti juga Wahdad (pegawai kejaksaan, rumahnya di Cimuncang) dan Wati (adiknya Atiek, keduanya puteri Bupati Goggo Sanjadirja).
Sebagai anak kampung Mangga Dua Dalam dan kebetulan kakak saya terlibat dan sebagai manajer sekaligus pemilik peralatan tata suara dan instrumen band yang boleh dikatakan di Banten – bukan hanya di Serang – terbaik, saya merasa bangga. Kebanggaan itu karena rumah kami sering dikunjungi oleh banyak musisi band dari berbagai kota untuk melihat latihan atau ikut latihan bersama.
Tentu saja kemeriahan itu juga disambut gembira para tetangga yang bisa menonton latihan di teras rumah. Dan kampung, seperti juga watak dari masyarakatnya yang punya kebanggaan tersendiri itu diwujudkan dalam bentuk partisipasi mereka: ikut menyediakan dan menyumbang penganan kecil, seperti kue kering, buah-buahan, teh atau kopi, kacang rebus dan goreng, dsbnya.
Melalui grup band itu kampung Mangga Dua Dalam yang biasanya selalu disindir oleh warga kota kelas menengah atas sebagai wilayah perjudian, tukang mabuk-mabukan dan banyak “buayanya”, kini punya citra lain yang bisa dibanggakan. Bayangkan, jika “Koes Bersaudara” (sebelum berganti nama menjadi “Koes Plus”) jika manggung di Serang, (biasanya main di bioskop “Sempurna”, dekat pasar Serang dan Gang Rendah) selalu meminjam peralatan tata suara dari grup band “Gelora Cening”.
Dan band “Gelora Cening” ini pulalah yang menjadi event organizer-nya. Perkenalan kakak saya, Itit, dengan Tony Koeswoyo pada awalnya karena membeli peralatan band bekas dari Tony. Dari perkenalan itulah “Koes Bersaudara”, seingat saya, dua kali manggung di Serang sebelum mereka dilarang oleh Bung Karno.

Mang Cantel primadona ubrug
KRONCONG
Kebanggaan demi kebanggaan warga kampung bukan hanya karena punya grup band yang mangkal di kampungnya. Tapi juga karena grup band itu beberapa kali dapat juara, meraih posisi di tingkat Jawa Barat; dan Cepi (kalau tidak salah rumahnya di Kaloran, atau mungkin Kaujon) sebagai penyanyi seriosa dan kroncong meraih dua piala sebagai penyanyi kroncong terbaik dan penyanyi favorit.
Setiap tahun Cepi selalu menggondol piala. Dan ada satu tahun yang begitu menggembirakan, ketika “Gelora Cening” meraih beberapa piala: penyanyi seriosa dan kroncong (Cepi, dua piala), grup musik terbaik dan pemain bas (Widodo, rumahnya di Cipare)) dan pemain gitar melodi (Cecep, rumahnya di Cipare) terbaik. Pulang dari Bandung mereka disambut oleh Bupati Serang. Dua malam kemudian mereka main di pendapa kabupaten Serang dengan makan malam bersama elite kota.
Kampung Mangga Dua Dalam yang dilintasi oleh sungai kecil dan menjadi bagian dari ungkapan warga kota: Mangga Dua kalinya kecil tapi banyak “buayanya” sesungguhnya bukan hal yang jelek benar. Dan kata ‘buaya” juga menjadi bagian dari kebanggaan tersendiri.
Siapa yang tak tahu grup kroncong terbaik dan para “buaya” kroncong dari berbagai kota lain jika datang ke Banten, pastilah mampir ke kampung Mangga Dua Dalam. Di kampung itu ada Sin Tin (pemain kroncong dan gambang kromong), adiknya Sin Eng, seorang tukang kayu yang piawai, dan selalu membuat Tony Koeswoyo geleng-geleng kepala jika menyaksikan permainan gitar kroncong Sin Eng. Sin Eng juga lihai dalam permainan kartu; kartu domino ditangannya bisa diatur seperti dia main sulap!! Juga ada Ncek Urip, sopir tangki minyak tanah yang piawai dalam permainan bas dan cello-kroncong. Dari Gang Rendah, Ong Gwan Tie, bek (bahasa Belanda, wijk, lurah) pemain biola yang kondang dan selalu nampak gagah terpelajar dengan pakaian rapi dan dasi kupu-kupu.
Semua dedengkot kroncong dan gambang kromong selalu mangkal dan ngumpul di kampung Mangga Dua Dalam. Dan masih ada belasan musisi tradisi dan band yang lumayan piawai tinggal di sekitar kampung itu.

Royal pagi hari belum macet, tapi siang banyak K5
SINGGAH KOTA
Sementara itu, di seberang kampung, Kebon Sawo, juga ada grup Orkes Melayu di bawah pimpinan Mang Razak, juragan sirih, yang punya pemain akordeon terbaik yang ganteng, Paryo (juga jagoan tebak manggis!!) dan pemain suling, Eng Cay alias Agus bungkuk yang jika main suling, semua orang seperti kena hipnotis. Yang menarik, Agus tak pernah lepas dari sulingnya, kemana-mana dia membawa suling dan membunyikannya. Salah satu hobi Eng Cay adalah adu jago!! Orkes Melayu pimpinan mang Razak, yang kalau sehari-hari memakai sarung, dan jika manggung dia nampak seperti kontrolir perkebunan jaman kolonial dengan celana biru, baju putih tangan panjang dengan dasi kupu-kupu dan jas kuning gading nampak berwibawa dengan suara serak-serak basah mengibarkan nama kampung Kebon Sawo dalam blantika Orkes Melayu di Banten.
Mangga Dua dalam, Kebon Sawo, Kebon Sayur, suatu wilayah persinggahan dalam ruang kota yang terletak diantara pasar Serang, pusat kota, terminal bis (waktu itu di Taman Sari, depan kantor kecamatan; dan hanya ada bis “Kupu-Kupu”, “Subur” dan “Damri”, Dinas Angkutan Motor Republik Indonesia) dan stasiun kereta api. Karena wilayah tengah itulah kampung itu menjadi persinggahan bagi siapa saja, khususnya bagi orang-orang anjoran (commuter), dan yang paling khusus, bagi kalangan seni panggung tradisi. Lenong dari Sewan, Karawaci, Teluk Naga, Pondok Aren di Benteng (nama lama kota Tangerang) selalu singgah untuk waktu cukup lama di Mangga Dua Dalam. Biasanya grup Lenong ini mangkal di Mangga Dua Dalam sampai 1-2 bulan dan hampir setiap minggu mereka manggung 3-4-5 kali, dengan lakon “Si Jampang”, “Bang Rebo”, “Si Manis Dari Jembatan Ancol” dan lakon-lakon lainnya yang berkaitan dengan situasi jaman kolonial.
Grup Lenong yang suka mangkal di Mangga Dua Dalam itu bukanlah sebuah grup besar. Paling-paling mereka hanya 7-8 orang saja; paling banyak 10 orang. Bukan sebuah grup besar seperti Lenong “Kancil Putih” atau “Naga Putih” dari Teluk Naga yang bisa anggotanya sampai 30-an orang. Dan itulah menariknya. Sebab, beberapa pemain dan musisi lainnya adalah warga Mangga Dua Dalam. Sin Tin, Sin Eng, Seng Kie, cek Urip dan lainnya ikut terlibat sebagai pemain maupun musisi. Lenong juga menjadi bagian penting dari kehidupan warga kampung Mangga Dua Dalam dan warga kampung lainnya yang menyukai tontonan sandiwara tradisional. Jika Lenong manggung, maka 3-4 ratus penonton dan bahkan bisa lebih berjejal di halaman terbuka dekat rumah kami; atau di dekat rumah Ncek Urip. Biasanya halaman itu sudah sejak sore dipenuhi oleh pedagang makanan, minuman dan mainan anak-anak yang berjualan sampai menjelang subuh.
Warga kampung tahu kapan Lenong akan manggung; juga tahu lakon apa. Seminggu sebelum manggung pengelola Lenong dan beberapa anggotanya keliling dengan menyanyi diiringi oleh 2-3 musisi memberitahu warga dari pintu ke pintu sambil menyodorkan tetampah (nyiru) untuk wadah sumbangan. Tak ada tiket yang dijual. Yang ada sumbangan dan saweran yang dilemparkan penonton kepada pemain ketika pause, lakon dihentikan sekitar setengah jam dan nyanyian serta tarian mengisi acara. Para penonton menyawer dan ada juga yang ikut menari, dan seorang-dua ikut menyumbangkan suaranya. Inilah teater total yang hampir-hampir tak ada batas antara pemain-penonton; satu dengan lainnya terlibat dan saling menyahut; dan penonton bisa terbawa terhanyut oleh jalannya cerita, dan penonton bisa secara spontan memberikan tanggapan untuk berpihak kepada pelaku kebenaran. Suara-suara dan sambutan penonton menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri. Seorang pemain Lenong dan musisinya, adalah seniman yang memasuki ruang sosial dengan bingkai yang sangat terbuka. Itulah bedanya dengan teater moderen yang punya batas karena bingkai estetika. Lenong, gambang kromong, adalah jenis tontonan dengan estetika sosial di mana pelibatan penonton menjadi bagian dari pertunjukannya.
Mangga Dua Dalam juga tak jarang, walaupun mungkin hanya sekali-dua dalam setahun ada pegelaran Wayang Golek. Jenis tontonan ini biasanya ditanggap jika ada keluarga yang slametan. Dan sudah tentu dalang yang dipanggil biasanya dalang sepuh, dalang Liem Kiam Ong dari Cikande. Dalang Liem Kiam Ong ini dikenal sebagai dalang ruwat; mereka yang punya gawe syukuran, slametan atau sejenisnya barulah mengundang dalang Liem Kiam Ong. (Liem Kiam Ong meninggal pada usia 80-an tahun pada awal 1980-an; sampai dengan usia tua masih mendalang, walaupun kakinya sudah lumpuh. Setelah meninggal, tak ada satupun dari anak dan cucunya yang melanjutkan profesinya).
GAUL SOSIAL
Mengingat-ingat selayang pandang tentang kampung kelahiran dan kota Serang, khususnya dalam kaitannya dengan kehidupan kesenian, rasanya Serang dulu lebih punya visi tentang kesenian dan kehidupannya.
Melalui pertunjukan kesenian saling silang pergaulan bertemu dengan intensif dan akrab. Warga kampung satu dengan kampung lainnya bisa saling kenal. Bagi keluarga kami misalnya, kami punya kenalan dibanyak kampung, bukan hanya lantaran ayah kami pedagang di pasar Serang, tapi juga melalui kesenian.
Dan pergaulan itu bahkan sampai pada suatu sebutan yang paling intim dalam tata keluarga, misalnya Atiek, Wati, Cecep, Cepi, Wahdad, Parjo, Widodo, Wibowo, Farel, dan teman-teman kakak saya lainya memanggil orangtua kami “papah” dan “mamah”. Saya dan adik-adik saya memanggil Atiek dan Wati dengan sebutan “cici” atau “taci” (kakak perempuan, bahasa Tionghoa).
Melalui pergaulan sosial itu pula satu keluarga mengenal keluarga lainnya. Dan hal ini lalu membawa kepada keakraban yang lebih mendalam: saling mengantar makanan dan ole-ole. Bayangkan, jika menjelang lebaran, rasanya selama berhari-hari rumah kami tak pernah masak, karena antaran ketupat beserta lauk pauknya yang sedap dan nikmat dari puluhan keluarga dari berbagai kampung; juga jika ada upacara atau slametan.
Konsekuensi hubungan moral sosial ini rasanya membuat keluarga kami demikian nyaman. Dan yang nampak gembira adalah ibu kami, yang suka memasak, dan selalu membalas antaran itu pada waktu yang lain.
Singkat kata, rumah kami bukan hanya milik keluarga kami. Tapi juga menjadi bagian dari kehidupan beberapa teman kakak saya yang setiap hari singgah, latihan musik dan kongko.
Hal itu juga membawa konsekuensi hubungan sosial dengan tetangga lainnya: mereka mengenal dan bangga kepada pemain band dari kampung lain yang mangkal di Mangga Dua Dalam. Sebuah kota kecil dengan hubungan sosial yang intensif membuat saya jika jalan-jalan atau bersepeda keliling kota selalu mendapatkan sapaan, dipersilakan singgah, dan suguhan penganan serta tak jarang buah tangan, ole-ole selalu disampaikan oleh keluarga kenalan kami.
Dan saya merasa beruntung dilahirkan di kampung itu. Sebuah kampung dengan lalu lintas sosial yang beragam dan intensif yang mengantarkan saya sedikit demi sedikit untuk menyimpan dan menanam benih kehidupan sosial dan senibudaya yang sampai sekarang rasanya selalu menjadi inspirasi dan dorongan di dalam saya memandang dan melibatkan diri ke dalam kehidupan sosial dan kebudayaan.
*) Halim HD. – Networker Kebudayaan.




Leave a Reply