PUISI-PUISI RAHMAT HELDY HS

advert

Suasana perempatan Ciceuri, Serang

Suasana perempatan Ciceuri, Serang

1.

AKU YANG DITERBANGKAN ANGIN

Maafkan bila aku datang

Hanya membawa langit hampa

Aku dilahirkan dari semak ladang tandus

Dan laut kering yang tak bisa menghidupi ikan-ikan

Apalagi mengarungi lautan

Tapi dari tatap jauh yang kupandang

Di pinggir pantai

Ada sampan dan segeromobolan kunang –kunang

Yang mengitari lautan

Yang mengantarkanku ke negri jauh

Negri tempatmu berpijak dari gemuruh ombak

Aku mulai berangkat

Merunduk  dikeheningan malam

Sampai  sunyi kali mati

Tempat batu menjaga lumut

Dan angin menjaga musim

Karena angin yang mengendap

Dan kunang-kunang mulai gelap

Aku pun bediri di suatu tempat

“Lihatlah! Kubawakan kerang tripang dan dan sinar bulan

yang terang benderang menghias wajahmu.”

*) Serang, 2009

***

2.

AKU YANG TERSEKAP DI KAMAR

Melihat tubuhmu terbakar

Di atas ranjang tua beludru

Dan bantal warna ungu

Tempatmu memeluk kisah dan harapan

Tetapi

Sepanjang malam-malam yang kita lalui

Kita dengar lolong anjing tua

Dan rumah tetangga sebelah yang terbatuk-batuk

Karena asap mengepung kampung

Dari tanah dan pohon yang menangis di sebrang sana

Hilang kisah dan harapan

Anjing tua penuh dengan kudis dan nasib targis

Malam gamang

Dan bulan tak terang

Ada angin yang menabrak  pintu kita

Pintu tempat menutup dan membuka kisah

Dari hari-hari yang resah

Tahukah engkau, Yu

Malam hitam yang bertahun-tahun kita kisahkan

Kini pecah dibawa angin ke penjuru arah

dan tak tahu dimana tempatnya

Kecuali sisa percekcokan

Api yang membakar tanah dan sumpah serapah

*) Serang, 25 Juli 2009

***

3.

SUARA POHON

Kau dengar suara pohon?

Menjerit-jerit ketika pagi tiba

Merambat ke sulur bathin

Yang tak pernah sampai ke tubuhmu

Tapi setiap pohon yang menangis

Setiap itu pula keinginan dan harapan mengambang

Aku tak menghendaki kehadiranmu mati

Di tepi hutan ini

Rantai besi yang menggesek pohon-pohon

Dan membredel isinya adalah luka

Yang nganga tempat segala burung-burung terusir dari mimpi

Tapi diujung jalan yang berkelok

Wajahmu terpacak karena musim pergi

Bersama burung-burung yang mati di tepi kali karena sunyi.

*) Kaki Gunung Pinang, Juli 2009

***

4.

Di Hutan Sepi

Ada asap yang mengepul

Yang dibakar dari daun-daun

Tapi diujung waktu yang berlalu

Kita adalah sekawanan asap yang memblukari

Jadah musim di hening bathin

*) Serang, 2009

***

5.

SUNYI YANG MATI

Di kamar ada sebuah cermin

Tempat berkaca diri

Dari sunyi yang mati

Dan tempatku menulis puisi

*) Serang, 2009

Rahmat Heldy HS, penulis, lulus dari SDN Gegeneng, melanjutkan ke SMPN I Waringinkurung dan Madrasah Aliyah Palas-Cilegon. Kemudian melanjutkan kuliah di Untirta Banten dan mendapatkan gelar  Sarjana Pendidikan dari Fakultas Bahasa dan Sastra tahun 2004. Karyanya  berupa; Puisi, Cerpen, Artikel, Resensi Buku dan Essei Budaya, menghiasi berbagai media massa baik lokal maupun nasional. Di antaranya; Journal Imaji Indonesia. Harian Banten (sekarang Radar Banten), Fajar Banten, Majalah Advokasi Sigma, Majalah Dinamika Ummat, Buletin Menara Banten, Tabloid Banten, Tabloid Wacana, Majalah Islam Sabili, Majalah Katarsis, Kaibon, Horison, dan Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Banten. Karya-karyanya yang lain adalah, Tim penulis Skenario Film Dokumenter Banten (View Of Banten, 2004), Film Senja Di Lereng Bukit (2005), kumpulan cerpennya; Bunga Terakhir Untukmu (kebun Sastra; 2006). Kumpulan puisi Jalan Menuju Sang Pencipta (Kebun Sastra; 2006) dan buku Kumpulan Artikel dan Essai (Kebun Sastra; 2006). Kumpulan Puisi Tunggalnya Kampung Ular (Lambung Banten; 2009), serta puisinya masuk dalam antologi puisi Candu Rindu (Kubah Budaya; 2009). Pernah juga menjabat sebagai sekertaris Masyarakat Seni Kafe Ide, seni teater Untirta Banten tahun 2002-2003. Menjadi anggota menulis di Rumah Dunia angkatan ke-3. Menjadi penulis lepas (Free Lines), dan Reporter majalah Zona Misteri peliputan Banten 2004-2005. Pernah juga menjadi sekertaris Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), tingkat Rayon Barat-Serang. Dan sekarang aktif di Komunitas untuk Perubahan Budaya Banten (Kubah Budaya). Prestasi  yang pernah diraih; juara III cipta cerpen, GBSI Untirta tahun 2004, juara I  cipta cerpen GBSI Untirta 2007, juara II cipta puisi GBSI 2007 dan juara I lomba baca puisi piala Bupati Serang 2007, juara I cipta puisi GBSI Untirta 2008. Juara II baca Puisi 2008 dan juara III membaca cerpen 2008.  Penulis juga Bekerja di lembaga pendidikan SMP-SMA Al Irsyad Waringinkurung, Serang-Banten. Kadang juga menjadi asisten dosen dan pembicara di beberapa kampus dan sekolah.  Tingal di Kampung Bojong Rt. 02/03 Ds. Sukadalem. Kecamatan Waringinkurung, Serang-Banten. Kode pos 42161 Hp. 081 808 689 794 /(0254) 722 5163. Email: sastra_waringin@yahoo.co.id

Share

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

PESONA PULAU BURUNG

Oleh Nurul Noe (Peserta KMRD angkatan ke-21 dan Pendiri Komunitas Backpacker Koprol) Hari terakhir di tahun 2012, tepatnya pada Senin tanggal 31 Desember, saya dan teman-teman backpacker koprol memutuskan untuk berlibur bersama. Masih di daerah Banten yang sebenarnya memiliki berjuta pesona alam nan indah. Setelah mengeksplor Pulau Lima di Karangantu pada tanggal 30 Desember 2012, kali [...]

Share

Full Story | January 20th, 2013

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010