RUMAH KITA DI BANTEN
langlang | Resensi | November 8th, 2009 | No Comments »

Rumah Idaman Keluarga
http://lydiarachman.multiply.com/reviews/item/2
Aku taburkan rumput di halaman belakang
di antara pohon lengkeng dan mangga
sudah tumbuhkah bunganya?
Aku ingin menaburkan sajak di jalan setapak
di seberang istana merpati yang tak pernah terkurung
karena aku dan kamu selalu ingin melayang jauh
melihat angkasa dan bintang-bintang
dari atap rumah kita
Aku akan ceritakan kelak
pada anak-anak tentang matahari, bulan, laut,
gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah.
Aku ajari anak-anak mengerti hijau rumput
Warna bunga dan suara.
***
Buku ini bercerita tentang Gola Gong & Tyas Tatanka, mulai cerita sebelum menikah, “manisnya setelah pernikahan”, masa hamil & ngidam dan cerita detik-detik menjalang melahirkan. Uniknya di buku ini dalam satu cerita yang sama ada dua sudut pandang yang berbeda, sudut pandang pria dan sudut pandang wanita. Cerita versi Gola Gong dan versi Tyas Tatanka.
Buku ini dibagi menjadi 4bab, Merenda Masa Depan, Jalan Setapak, Mata Air Kebahagiaan, dan Anugerah Terindah.
Bab “Merenda Masa Depan”; kita dihadapkan pada suasana hati sebelum menikah, idealisme seorang laki-laki, rasa hati menjelang pernikahan dan rasa ikhlas Tyas untuk berhenti bekerja.
“Padanyalah saya bersandar kemudian, menyerahkan kodrat saya sebagai istri. Memintanya untuk menjadi imam dan pengawas kadar iman saya. Bukankah kelak saat hari akhir tiba para suami akan ditanya perihal istrinya?” (page 40)
Bab “Jalan Setapak” menceritakan tentang mimpi dan obsesi pasangan ini untuk membuat Rumah Dunia, walaupun saat itu Gola Gong sempat opname, tapi mereka tetap bersemangat.
Bab “Mata Air Kebahagiaan” menceritakan tentang morning sickness, rasa sensitif khas ibu-ibu hamil, dan ngidam permen cak-cak, permen warna-warni yang bentuknya spt telur cicak. Merasakan tendangan pertama sang bayi dan kesibukan mencari nama yang nyentrik. Nama “Dini Hari Menjelang” untuk anak perempuan dan “Fajar Senantiasa Bersinar” untuk anak laki-laki ini versinya Gola Gong. Sedangkan “Nabila Nurkhalishah” dan “Gabriel Firmansyah” ini pilihannya Tyas Tatanka.
Bab “Anugerah Terindah” menceritakan proses persalinan dengan detail. Aaaah… beneran, bikin hati mengharu-biru, membayang proses kontraksi yang 2 hari.
Intinya buku ini menceritakan keinginan Gola Gong & Tyas Tatanka untuk membangun “Rumah Kita-Rumah Dunia” tentang pola parenting dan kecintaannya terhadap Banten. (*)




Leave a Reply