MENCARI PELANGI DI BANTEN
Gola Gong | Gonjlengan | November 8th, 2009 | 10 Comments »

Ki Amuk menynayikan "Mencari Pelangi"
Oleh Gol A Gong
Saat istri saya, Tias, sedang hamil anak kami yang pertama, sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya. Situasi dan kondisi Banten sebelum menjadi provinsi pada masa itu sangat memprihatinkan. Dominasi sebuah kelompok dengan label jawara , membuat saya berpikir keras, apakah tetap berdomisili di Banten atau mengungsi ke Bogor, Bekasi, atau Depok? Mungkin juga Solo?
Saya sedih dengan Banten, yang ternyata jarak dekat dengan Jakarta tidak serta-merta membuat Banten maju. Di Banten, jalan-jalan kualitasnya parah. Sekolah-sekolah banyak yang ambruk. Saat itu, koran lokal tidak ada. Toko buku terbatas. Dana untuk memberantas buta aksara di korupsi. Jika sepulang kerja di RCTI di akhir pekan, tidak ada sebuah tempat pun yang bisa saya dan istri datangi sebagai tempat wisata kebudayaan (nonton pameran lukisan, misalnya), kecuali urusan perut saja.
Jiwa saya tertekan. Sebagai terapi, jari-jari saya bergerak, merangkai sebuah puisi:
MENCARI PELANGI
-untuk anak-anak masa depanku-
Kini giliranmu menikmati dunia
Barangkali akan lebih keras menderita
Atau lebih gembira
Tapi tak akan kujanjikan kamu
Bisa bermain-main air hujan
Karena mencari pelangi
Adalah siksaan tak terperi
Kini giliranmu menikmati hidup
Walau yang kuwariskan
Adalah jejak-jejakku
Silakan kamu mencari sendiri
Kini giliranmu menikmati semuanya
Pesanku: berilah ibumu kado pelangi
Karena kami rindu hujan!
Kampung Ciloang, Serang
Desember 1997
***
Banyak orang yang membaca puisi ini, mengira ini tentang sajak cinta saya kepada Tias. Sebetulnya sajak ini saya tulis, ketika hati saya kacau, prihatin dengan situasi dan kondisi Banten. “Pelangi” yang saya maksud di sini adalah sebuah cita-cita, terkesan utopia tetang masa depan Banten yang indah seperti saat kemunculan pelangi sehabis hujan di langit!
Saat itu, saya membayangkan, anak-anak saya jika tumbuh di Banten pasti akan menderita. Anak-anak biologis saya, juga anak-anak yang sosiologi kelak, tidak akan pernah bisa menikmati “pelangi”. Saya membayangkan Banten sebagai “rumah’ yang tidak memiliki jiwa. Rumah yang tidak memiliki etika, apalagi estetika.
Lalu, timbullah kepasrahan dalam diri saya. Allah sudah mengatur semuanya. Saya hanya perlu menjaga amanah yang diititpkan Allah lewat anak-anak. Maka, Rumah Dunia saya dan istri dirikan pada 2001 (efektif bergulir 3 Maret 2002), adalah juga karena kecintaan kami kepada anak-anak. Saya dan istri mencoba berbagi, barangkali Rumah Dunia bisa sebagai rumah bersama. Kami berharap, Rumah Dunia menjelma menjadi pelangi yang indah di Banten.
Nah, setelah 12 tahun sajak itu bergulir, apakah “pelangi” yang saya misalkan dengan Banten masa datang, tampak akan terwujud? Lihatlah ke langit; adakah pelangi di sana? Melihat politik dan dinasti di Banten yang didominasi oleh sebuah keluarga saja, masih jauh buku dari rak. Tentang komposisi anggota DPR asal Banten, DPRD Banten, bahkan di tingkat kota Serang, kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Ciilegon , tanggapan orang-orang seperti ini, “Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Berdoa saja. Semoga mereka diberi hidayah!”
Saya melihat keluarga Hj. Rt. Atuit Chosiyah, SE, yang sekarang sebagai Gubernur Banten, sangat irasional menyikapi perpolitikan di Banten. Mereka menyerbu semua posisi di legilatif, bahkan eksekutif Banten hingga legislati di Jakarta. Atut gubernur Banten, Hikmat Tomet, suami Atut, di DPR, putra mereka – Andika Hazrumy DPD DPR RI, istri Andika baru saja dilantik jadi Wakil Ketua DPRD Kota Serang dan masih banyak lagi.Saya pernah membaca tim sukses Andika berargumen di milis wongbanten, bahwa pencalonan Andika sebagai calon anggota DPD DPR RI dari Banen adalah “hak politik” setiap WNI. Saya mengiyakn. Semua orang memang memiliki hak politik. Tinggal urusannya adalah etika politik dan persoalan moral saja. Saat Andika diundang menjadi pembicara di Rumah Dunia dengan tema ‘Politik dan Dinasti”, dengan berbagai alasan, Andika tidak datang. Saat itu yang datang Ali suro, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, Ms.C, Prof. Dr. Ibnu Hamad, dan Abdul Hamid, MSi.
Abdul Hamid, MSi, asal Pandeglang, yang kini dosen di Universitas Indonesia, Depok, dan Untirta Serang, menyebut mereka sebagai “ampibi” alias “Anak, mantu, papa, ibu, bibi” ngumpul di kantor pemerintahan dan kantor dewan. Saya hanya bisa berdo’a saja kepada Allah sWT, semoga keluarag Atut lebih mementingkan rakyat Banten daripada keluaga atau kerabatnya.
Tapi kecemasan saya tentang masa depan Banten yang tidak akan jaya terus bergulir. Ketika Firman Venayaksa memusikalisasikan puisi saya ini dengan kelompoknya; Ki Amuk dan diproduseri Lawang Bagja membuat album berjudul “Mencari Pelangi, tetap saja muncul kecemasan itu. Firman menyanyikannya dengan suara rintihan, seolah menegaskan kekhawatiran saya, bahwa Banten memang masih gelap-gulita. Setiap Firman dan Ki Amuk latihan di panggung Rumah Dunia, saya makin tercenung saat mendengarkan lagu “Mencari Pelangi”.
Jangan-jangan, Banten sebagai “rumah” hanya untuk sekelompok orang saja? (*)




November 11th, 2009 at 3:34 pm
Si Atut suruh baca tulisan ini gih.
November 12th, 2009 at 8:24 am
budaya feodal kedinastian sperti yang di banten tidak hanya ada di prov. banten. hal yang serupa juga terasa di prov. tempat saya tinggal. banyak ampibi di pemda di semuan tingkat.
beberapa pejabat mengelabuhi pandangan publik pada proses rekruitmen pegawain dengan menempatkan ampabi di daerah lain, dan dalam kurun waktu tertentu dimutasikan ke daerah asal.
November 12th, 2009 at 9:28 pm
Banten masih perlu belajar lagi tentang sistem pengelolaan pemerintah daerah, sehingga nantinya tidak ada lagi ampibi apalagi dinasti Sohibiyah (Kasan Sohib). Dibalik semua itu, selama masih ada orang-orang seperti jang RuDun yang peduli dengan keadaan Banten, saya optimis Banten akan mencapai kejayaan. Kita berhusnudzdzhon saja, di kantor sana, masih ada segelintir orang yang bersih.
November 13th, 2009 at 1:05 pm
Assalam…
aku asli wong tegal tinggal diserang sejak 2003, pernah ngadain diskusi sama ketua ormas besar yang lama kuliah & tinggal di jogja, saat propinsi Banten lahir beliau diminta pulang kampung untuk turut serta membangun Banten. Beliau-pun merasa sedih dengan keaadan Banten saat ini. Namun beliau memberikan nasehat yang sampai saat ini aku ingat, yaitu kenali dengan mendalam jati diri wong Banten, yang sebenarnya agamis tapi takut akan ‘kekurangan’ didunia fana ini. Dan kurang berani untuk menjadi pelopor alias lebih suka jadi pengikut/follower. Maka jadilah pelopor kemudian buktikan keberhasilannya.
Wassalam…
November 13th, 2009 at 8:36 pm
selama dinasti itu masih berkuasa di Banten, “Pelangi” itu tidak akan pernah hadir di Banten, kita tinggal menunggu dan berdo’a semoga Alloh sudi menghadirkan Kuasa-Nya di Banten sehingga dinasti itu lenyap dari Banten dan “Pelangi” kan tampak dengan indah di bumi Banten Tercinta. Amien
November 14th, 2009 at 5:35 am
Mudah-mudahan saja Mr Kacong dan keluarganya sadar bahwa mereka sudah rakus.
November 14th, 2009 at 12:55 pm
Kesejarahan suatu kaum atau budaya, pasti ada gilirannya. Banyak kisah menceritakan hancurnya peradaban atau kaum. Pergiliran pasti terjadi. mungkin ini yang disebut Nabi Muhammad SAW, sebagai sebuah ujian dan kesabaran. Yang terpenting seberapa kuat proses tarik menarik sebuah pertarungan baik-buruk bisa dimenangkan kaum kebijakan. Jangan kecil hati kawan !. Suatu saat Banten yang didamba akan lebih civiled, nanti anak cucu yang merasakan. kita hanya punya satu tugas, PENDIDIKAN DAN PERKUATAN MORAL-AKHLAQ.
November 15th, 2009 at 7:31 pm
iya nih sekarang Banten lagi di uji dengan bercokolnya dinasty – dinasty rakus,harapan kita mudah – mudahan cepat berlalu walaupun sulit.Untuk semua warga banten mari berjuang untuk keadilan kita.buat harian yang ada di banten tolong lebih independent dalam memuat berita .
November 23rd, 2009 at 2:00 pm
hallo..k’gugalong macih inget ma daar el qolam gagkh???
October 31st, 2010 at 4:43 am
ganti si rakus!! gw warga banten rindu dgn kesultanan banten dulu….