MENCARI PELANGI DI BANTEN

advert
Ki Amuk menynayikan "Mencari Pelangi"

Ki Amuk menynayikan "Mencari Pelangi"

Oleh Gol A Gong

Saat istri saya, Tias, sedang hamil anak kami yang pertama, sekitar akhir tahun 1997, perasan kacau berkecamuk di hati dan pikiran saya. Situasi dan kondisi Banten sebelum menjadi provinsi pada masa itu sangat memprihatinkan. Dominasi sebuah kelompok dengan label jawara , membuat saya berpikir keras, apakah tetap berdomisili di Banten atau mengungsi ke Bogor, Bekasi, atau Depok? Mungkin juga Solo?

Saya sedih dengan Banten, yang ternyata jarak dekat dengan Jakarta tidak serta-merta membuat Banten maju. Di Banten, jalan-jalan kualitasnya parah. Sekolah-sekolah banyak yang ambruk. Saat itu, koran lokal tidak ada. Toko buku terbatas. Dana untuk memberantas buta aksara di korupsi. Jika sepulang kerja di RCTI di akhir pekan, tidak ada sebuah tempat pun yang bisa saya dan istri datangi sebagai tempat wisata kebudayaan (nonton pameran lukisan, misalnya), kecuali urusan perut saja.

Jiwa saya tertekan. Sebagai terapi, jari-jari saya bergerak, merangkai sebuah puisi:

MENCARI PELANGI
-untuk anak-anak masa depanku-

Kini giliranmu menikmati dunia
Barangkali akan lebih keras menderita
Atau lebih gembira
Tapi tak akan kujanjikan kamu
Bisa bermain-main air hujan
Karena mencari pelangi
Adalah siksaan tak terperi

Kini giliranmu menikmati hidup
Walau yang kuwariskan
Adalah jejak-jejakku
Silakan kamu mencari sendiri

Kini giliranmu menikmati semuanya
Pesanku: berilah ibumu kado pelangi
Karena kami rindu hujan!

Kampung Ciloang, Serang
Desember 1997

***

Banyak orang yang membaca puisi ini, mengira ini tentang sajak cinta saya kepada Tias. Sebetulnya sajak ini saya tulis, ketika hati saya kacau, prihatin dengan situasi dan kondisi Banten. “Pelangi” yang saya maksud di sini adalah sebuah cita-cita, terkesan utopia tetang masa depan Banten yang indah seperti saat kemunculan pelangi sehabis hujan di langit!

Saat itu, saya membayangkan, anak-anak saya jika tumbuh di Banten pasti akan menderita. Anak-anak biologis saya, juga anak-anak yang sosiologi kelak, tidak akan pernah bisa menikmati “pelangi”. Saya membayangkan Banten sebagai “rumah’ yang tidak memiliki jiwa. Rumah yang tidak memiliki etika, apalagi estetika.

Lalu, timbullah kepasrahan dalam diri saya. Allah sudah mengatur semuanya. Saya hanya perlu menjaga amanah yang diititpkan Allah lewat anak-anak. Maka, Rumah Dunia saya dan istri dirikan pada 2001 (efektif bergulir 3 Maret 2002), adalah juga karena kecintaan kami kepada anak-anak. Saya dan istri mencoba berbagi, barangkali Rumah Dunia bisa sebagai rumah bersama. Kami berharap, Rumah Dunia menjelma menjadi pelangi yang indah di Banten.

Nah, setelah 12 tahun sajak itu bergulir, apakah “pelangi” yang saya misalkan dengan Banten masa datang, tampak akan terwujud? Lihatlah ke langit; adakah pelangi di sana? Melihat politik dan dinasti di Banten yang didominasi oleh sebuah keluarga saja, masih jauh buku dari rak. Tentang komposisi anggota DPR asal Banten, DPRD Banten, bahkan di tingkat kota Serang, kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, dan Ciilegon , tanggapan orang-orang seperti ini, “Kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Berdoa saja. Semoga mereka diberi hidayah!”

Saya melihat keluarga Hj. Rt. Atuit Chosiyah, SE, yang sekarang sebagai Gubernur Banten, sangat irasional menyikapi perpolitikan di Banten. Mereka menyerbu semua posisi di legilatif, bahkan eksekutif Banten hingga legislati di Jakarta. Atut gubernur Banten, Hikmat Tomet, suami Atut, di DPR, putra mereka – Andika Hazrumy DPD DPR RI, istri Andika baru saja dilantik jadi Wakil Ketua DPRD Kota Serang dan masih banyak lagi.Saya pernah membaca tim sukses Andika berargumen di milis wongbanten, bahwa pencalonan Andika sebagai calon anggota DPD DPR RI dari Banen adalah “hak politik” setiap WNI. Saya mengiyakn. Semua orang memang memiliki hak politik. Tinggal urusannya adalah etika politik dan persoalan moral saja. Saat Andika diundang menjadi pembicara di Rumah Dunia dengan tema ‘Politik dan Dinasti”, dengan berbagai alasan, Andika tidak datang. Saat itu yang datang Ali suro, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, Ms.C, Prof. Dr. Ibnu Hamad, dan Abdul Hamid, MSi.

Abdul Hamid, MSi, asal Pandeglang, yang kini dosen di Universitas Indonesia, Depok, dan Untirta Serang,  menyebut mereka sebagai “ampibi” alias “Anak, mantu, papa, ibu, bibi” ngumpul di kantor pemerintahan dan kantor dewan. Saya hanya bisa berdo’a saja kepada Allah sWT, semoga keluarag Atut lebih mementingkan rakyat Banten daripada keluaga atau kerabatnya.

Tapi kecemasan saya tentang masa depan Banten yang tidak akan jaya terus bergulir. Ketika Firman Venayaksa memusikalisasikan puisi saya ini dengan kelompoknya; Ki Amuk dan diproduseri Lawang Bagja membuat album berjudul “Mencari Pelangi, tetap saja muncul kecemasan itu. Firman menyanyikannya dengan suara rintihan, seolah menegaskan kekhawatiran saya, bahwa Banten memang masih gelap-gulita. Setiap Firman dan Ki Amuk latihan di panggung Rumah Dunia, saya makin tercenung saat mendengarkan lagu “Mencari Pelangi”.

Jangan-jangan, Banten sebagai “rumah” hanya untuk sekelompok orang saja? (*)

Share

10 Responses to “MENCARI PELANGI DI BANTEN”

  1. Komeng Hasan Says:

    Si Atut suruh baca tulisan ini gih.

  2. didik Says:

    budaya feodal kedinastian sperti yang di banten tidak hanya ada di prov. banten. hal yang serupa juga terasa di prov. tempat saya tinggal. banyak ampibi di pemda di semuan tingkat.
    beberapa pejabat mengelabuhi pandangan publik pada proses rekruitmen pegawain dengan menempatkan ampabi di daerah lain, dan dalam kurun waktu tertentu dimutasikan ke daerah asal.

  3. Zaenudin Says:

    Banten masih perlu belajar lagi tentang sistem pengelolaan pemerintah daerah, sehingga nantinya tidak ada lagi ampibi apalagi dinasti Sohibiyah (Kasan Sohib). Dibalik semua itu, selama masih ada orang-orang seperti jang RuDun yang peduli dengan keadaan Banten, saya optimis Banten akan mencapai kejayaan. Kita berhusnudzdzhon saja, di kantor sana, masih ada segelintir orang yang bersih.

  4. hendra pratama Says:

    Assalam…
    aku asli wong tegal tinggal diserang sejak 2003, pernah ngadain diskusi sama ketua ormas besar yang lama kuliah & tinggal di jogja, saat propinsi Banten lahir beliau diminta pulang kampung untuk turut serta membangun Banten. Beliau-pun merasa sedih dengan keaadan Banten saat ini. Namun beliau memberikan nasehat yang sampai saat ini aku ingat, yaitu kenali dengan mendalam jati diri wong Banten, yang sebenarnya agamis tapi takut akan ‘kekurangan’ didunia fana ini. Dan kurang berani untuk menjadi pelopor alias lebih suka jadi pengikut/follower. Maka jadilah pelopor kemudian buktikan keberhasilannya.
    Wassalam…

  5. abah Says:

    selama dinasti itu masih berkuasa di Banten, “Pelangi” itu tidak akan pernah hadir di Banten, kita tinggal menunggu dan berdo’a semoga Alloh sudi menghadirkan Kuasa-Nya di Banten sehingga dinasti itu lenyap dari Banten dan “Pelangi” kan tampak dengan indah di bumi Banten Tercinta. Amien

  6. Kacong Says:

    Mudah-mudahan saja Mr Kacong dan keluarganya sadar bahwa mereka sudah rakus.

  7. Iwan K.Hamdan Says:

    Kesejarahan suatu kaum atau budaya, pasti ada gilirannya. Banyak kisah menceritakan hancurnya peradaban atau kaum. Pergiliran pasti terjadi. mungkin ini yang disebut Nabi Muhammad SAW, sebagai sebuah ujian dan kesabaran. Yang terpenting seberapa kuat proses tarik menarik sebuah pertarungan baik-buruk bisa dimenangkan kaum kebijakan. Jangan kecil hati kawan !. Suatu saat Banten yang didamba akan lebih civiled, nanti anak cucu yang merasakan. kita hanya punya satu tugas, PENDIDIKAN DAN PERKUATAN MORAL-AKHLAQ.

  8. tikus Says:

    iya nih sekarang Banten lagi di uji dengan bercokolnya dinasty – dinasty rakus,harapan kita mudah – mudahan cepat berlalu walaupun sulit.Untuk semua warga banten mari berjuang untuk keadilan kita.buat harian yang ada di banten tolong lebih independent dalam memuat berita .

  9. muzdalifah Says:

    hallo..k’gugalong macih inget ma daar el qolam gagkh???

  10. rakus Says:

    ganti si rakus!! gw warga banten rindu dgn kesultanan banten dulu….

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Share

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Share

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Share

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Share

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Share

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Share

Full Story | July 18th, 2010