EROPA, INDONESIA, RUMAH DUNIA

advert
Rumah Dunia daalah rumah belajar utuk sesasa

Rumah Dunia daalah rumah belajar utuk sesasa

Oleh Ibnu Adam Aviciena

Saat saya memindahkan foto-foto saya dari satu eksternal hardisk ke eksternal hardisk satunya, saya sempat melihat foto-foto saya saat saya berpergian bersama kawan saya Abdul Hamid dan Fathan Aniq ke beberapa kota di Spanyol, Itali, Prancis, Jerman, dan Belanda. Ada satu foto saya dan dua teman saya ini duduk di kursi taman. Saya lupa persisnya taman itu ada di kota apa. Tampaknya di Bremen, Jerman. Sebetulnya tak ada yang istimewa dengan foto itu, kecuali bahwa saya ingat saat itu saya mengatakan kepada mereka tentang enaknya sebuah kota dengan taman-taman terbuka, jauh dari keriuhan.

Saya dan teman-teman saya ini memutuskan untuk jalan-jalan ke beberapa kota di Eropa dengan pertimbangan bahwa kami belum tahu apakah sepulang dari Belanda kami bisa kembali ke Barat atau tidak. Hingga satu tahun sepulang dari Belanda saya memang tidak pergi ke mana-mana. Kesimpulan dari jalan-jalan itu adalah bahwa negeri-negeri di sana memang luar biasa dalam pengertian bahwa mereka merawat negeri mereka, merawat kota-kota mereka sehingga hidup di kota itu menjadi begitu menyenangkan, begitu membahagiakan.

Di Belanda misalkan, semua kota terhubung oleh jalur kereta. Jadwal keberangkatan yang tepat dan tidak ada istilah kereta anjlok dari relnya seperti di negeriku Indonesia. Semua sudut kampung dan kota rapih dan bersih. Kesan pertama saya dengan Belanda adalah bahwa negeri ini bersih. Sangat bersih. Mencari sampah saja susah. Sampah hanya ada di baknya. Itupun seminggu dua kali diangkut dan dibuang entah ke mana. Tidak ada pula cerita sampah menumpuk seperti di Bantar Gebang atau di Cilowong, Banten. Saking bersihnya, rasanya saya juga bisa tidur nyenyak bila harus tidur di ruang toilet kampus.

Keadaan ini jauh sekali dengan di Indonesia. Karena jalan digunakan untuk ugal-ugalan, awal-awal pulang dari Belanda saya tidak bisa nyebarang jalan. Saya tidak berani nyebrang sebab kendaraan ngebut terus dan tidak pernah menghiraukan orang yang hendak nyebrang. Sementara di Belanda pejalan kaki sangat dihormati. Pernah suatu ketika saya merasa sangat bahagia, merasa sangat terhormat. Saat itu saya hendak ke kampus. Karena ada bus mau lewat saya berhenti dulu di pinggir jalan. Saya mempersilakan bus lewat terlebih dahulu. Bus itu malah berhenti. Saya memberi tanda kepada sopir agar melintas saja. Sopir itu lewat tangannya memberitanda kepada saya bahwa saya yang harus lewat dulu. Saya diam. Sopir kembali mempersilakan kepada saya agar saya melintas. Saya melintas, baru bus itu berjalan.

Sekarang bandingkan dengan bus Asli, Sadar, dan Murni yang beroperasi di jalur Pandeglang-Jakarta. Sopir bus-bus ini adalah orang-orang sinting, orang-orang kemasukan jin. Jalan raya mereka gunakan untuk balapan. Semua kendaraan harus minggir bila mereka lewat. Bila tidak minggir mereka akan menabraknya. Bukan dongeng banyak orang mati sia-sia karena sopir-sopir edan itu. Orang Dishub dan polisi juga tak menindak mereka.

Tinggal 1,5 tahun di Belanda membuat saya sangat mencintai Indonesia. Betul kata catatan orang-orang asing dulu yang pernah berkunjung ke negeri ini bahwa negeri kita adalah zambrud katulistiwa. Belanda, Belgia, Jerman, Prancis, Itali, dan Spanyol pernah saya kunjungi. Indonesia tak kalah indah oleh negeri-negeri itu. Namun sayang Indonesia yang indah dan kaya ini tidak diurus, malah dirusak. Indonesia dirusak oleh orang Indonesia sendiri. Orang Indonesia ini adalah orang kaya yang tidak tahu bagaimana memanfaatkan kekayaannya. Orang indonesia semisal monyet yang menguliti buah kelapa.

Saya juga sering mendengar katanya orang-orang Indonesia ramah-ramah. Sekarang saya kurang begitu percaya dengan pernyataan ini. Saya melihat para pemimpin kita banyak yang jadi maling. Banyak dari pemimpin kita yang setiap bulan menerima gajih tetapi mereka tidak betul-betul bekerja. Coba kita lihat Serang. Semua orang tahu bahwa trotoar adalah jalan untuk pejalan kaki. Yang terjadi di sini trotoar digunakan untuk berjualan. Pemilik toko ada yang memajukan tokonya hingga menggunakan trotoar. Pedagang kaki lima adalah pihak yang paling banyak merampok hak para pejalan kaki ini. Tidak itu saja sisi kiri dan kanan jalan raya mereka juga gunakan untuk berjualan.

Sekarang coba kita jalan-jalan ke perumahan. Yang biasa saya lihat di perumahan adalah rumah-rumah dengan pagar yang tinggi. Di atas pagar itu mereka tanam beling-beling dan paku-paku. Pagar tentu adalah kalimat nonverbal yang menjadi penanda batas antara aku sang pemilik rumah dan kalian yang bukan pemilik rumah. Tembok yang tinggi adalah penegasan bahwa yang ada di dalam tembok adalah milikku, kamu jangan melihat apalagi masuk untuk mengambil barang-barang yang ada di dalamnya. Beling-beling dan paku-paku yang ditancapkan di atas tembok pagar adalah ancaman yang mengatakan bahwa apabila kalian masuk maka kalian akan celaka. Lalu di mana keramahan kita?

Ini berbeda dengan rumah-rumah panggung di kampung-kampung. Adalah tipikal rumah-rumah panggung memiliki ruang terbuka. Ruang terbuka itu adalah ruang publik, siapa saja boleh menggunakan ruang itu untuk istirahat atau tiduran. Ada orang datang beristirahat di ruang itu maka pemiliknya akan datang membawakan air minum dan makanan. Inilah keramahan Indonesiaku yang mulai hilang.

Apakah keramahan itu hilang karena kampung sudah menjadi kota? Saya pikir bukan karena perubahan dari kampung menjadi kota yang menyebabkan keramahan itu hilang. Yang menyebabkan hilangnya keramahan itu adalah hilangnya keindonesiaan dan kekampungan di dalam diri kita. Kampung menjadi kota hanya perubahan tubuh saja. Jadi bila kedirian tak hilang maka keramahan itu juga tidak akan hilang. Ahmad adalah seorang yang ramah. Suatu hari Ahmad memiliki rezeki yang banyak sehingga dia mampu membangun rumah yang bagus dan membeli kendaraan. Dia juga memotong rambutnya dan mengenakan pakaian yang bagus. Bila kediriannya yang ada di dalam tubuhnya tidak hilang maka Ahmad akan tetap menjadi seorang yang ramah.

Dalam hal ini masyarakat Belanda bisa dijadikan perbandingan. Sejauh yang saya tahu flat-flat di Belanda tidak berpagar. Rumah-rumah juga tidak dipagar. Kalaupun dipagar hanya oleh tanaman pagar sejenis anak nakal. Mereka selalu membuka gorden-gorden rumah mereka dari pagi hingga mereka hendak tidur. Kaca-kaca rumah mereka juga bening. Karena rumah-rumah mereka tidak dipagar, kaca-kaca rumah mereka bening, dan gorden-gorden selalu dibuka, orang-orang yang melintas di depan rumah mereka akan bisa melihat barang-barang yang ada di rumah itu, juga apa yang orang sedang lakukan di dalam rumah. Rumah-rumah seperti ini mengisyaratkan betapa mereka sangat terbuka, tidak ada kecurigaan kepada orang lain.

Selain hal itu yang saya suka dari masyarakat Barat, sekali lagi, adalah ruang-ruang publik. Di setiap flat disediakan halaman yang sangat luas sekali. Masing-masing rumah yang ada di flat itu memang tidak memiliki halaman rumah pribadi. Halaman rumah mereka adalah ruang publik yang disediakan untuk bersama. Karena ruang publik ini sangat luas, di setiap ruang publik itu bisa terdapat dua atau tiga lapangan sepak bola. Halaman terbuka itu didesain terpadu: bisa digunakan untuk sepak bola orang dewasa dan anak-anak, trek jogging, tempat bermain anak-anak, bersepeda, tempat duduk-duduk. Selain itu tempat ini sekaligus juga didesain sebagai sebuah taman.

Di tengah perasaan cinta sekaligus prihatin kepada Indonesia, saya merasa ada satu titik cahaya yang membuat saya terus merasa yakin bahwa tidak semua pemimpin Indonesia, dari berbagai level, menjadi penjahat. Tidak semua orang Indonesia suka ugal-ugalan di jalan raya, tidak semua orang Indonesia suka membuang sampah sembarangan. Ada dalam jumlah kecil orang Indonesia yang mencintai Indonesia secara tulus.

Cahaya yang membuat saya terus yakin itu adalah Rumah Dunia, di antaranya. Rumah Dunia yang saya maksud bukan sekedar sekian belas orang yang biasa ada di sana. Rumah Dunia yang saya maksud adalah semua pihak yang terlibat di dalamnya. Dia bisa tukang becak dan tukang ojek yang mengantarkan pengunjung Rumah Dunia ke Rumah Dunia. Dia bisa anak kecil yang menunjukan alamat Rumah Dunia. Bisa juga orang-orang yang dengan setia menjadi donatur dan berdoa untuk kebaikan Rumah Dunia.

Sebetulnya ada banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang tempat ini. Namun yang paling pokok dan berkaitan dengan apa yang sedang saya bicarakan adalah, lagi-lagi, tentang ruang publik. Sudah sejak cukup lama pengurus Rumah Dunia ingin menambah lahan sebab lahan yang lama sudah terasa sumpek. Tidak jauh dari Rumah Dunia ada kurang lebih 2873 meter persegi. Lalu keinginan itu disampaikan kepada orang-orang. Satu demi satu orang menyumbang hingga setengah dari tanah itu kini terbeli.
Tanah ini sekarang sedang diolah. Ditanami pohon bambu kuning dan beberapa pohon buah. Nanti, lima tahun ke depan tanah ini akan rindang dan sejuk. Di tengah lahan dibuat lapangan yang bisa digunakan untuk main voli, bulu tangkis, futsal, atau bola basket. Tinggal memasang tiang net atau tiang keranjang yang bisa dibongkar-pasang. Di satu sisi lahan ditempatkan tempat bermain anak-anak. Setiap sore saya melihat sejumlah anak main di sana. Mereka ngobrol tertawa-tawa. Ke depan tempat ini akan menjadi semakin menarik untuk digunakan tempat pertunjukan kesenian dan diskusi-diskusi. Bagi orang yang butuh akses internet tinggal bawa laptop. Hotspot tersedia gratis.

Membayangkan semua keadaan ini saya jadi kangen ke Barat di mana ruang-ruang publik semacam ini menjadi bagian pokok dari sebuah tata kampung/kota. Suatu hari saya bersandar di bawah pohon di pinggir kanal. Saya sedang membaca buku. Perpustakaan KITLV Leiden ada di seberang kanal. Di samping saya ada satu gelas kopi. Angin sejuk bersemilir. Beberapa perahu melintas di kanal di depan saya. Beberapa orang menyebrang jembatan di atas kanal. Sambil membaca saya membayangkan mahasiswa-mahasiswa Indonesia generasi awal pada masa koolonial melintas di jembatan. Mahasiswa-mahasiswa itu sedang memikirkan negerinya Indonesia. Ada perasaan sedih bercampur harapan di dada mereka, bahwa pada satu hari nanti Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang merdeka.**

Serang, 30 Agustus 2009

  • Share/Bookmark

Leave a Reply

advert

Tags Kata

Gonjlengan

BE A WRITER: DARI YANG REGULER HINGGA EXCLUSIVE”

Pingin jadi pengarang? Penuli skenario? Jangan pusing-pusing. Untuk mengisi liburan pelajar/mahasiswa, yuk, kita isi dengan kegiatan bermanfaat.
REGULER
Ada paket murah-meriah di Taman Bacaan Masyarakat “Rumah Dunia”. Paket Kelas Menulis “Be a Writer” reguler di Rumah Dunia. Kalo mau jadi novelist dan penulis skenario, gabung di sini. Biaya Rp. 150.000,-. Gratis buku “Be a Writer” karya Gol [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | May 20th, 2010

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa*
Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari tabung [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong
MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak mengganggu [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK
I.
“ora et labora”
di pertigaan jalan menuju rumah
beberapa tukang becak menyemadikan nasib
: bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha
- memejam di tempat duduk
masingmasing-
II.
“nrimo ing pandum”
kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan
begitu saja kepada puingan matahari dan purnama
mereka mengabadikannya sebagai penanda becak
yang telah menerima dan menemukan kesadaran bahwa
lapar dan haus adalah
foto-doa
III.
“kerja adalah ibadah”
di sisi adzan,
kretek [...]

  • Share/Bookmark

Full Story | July 18th, 2010