PEMUDA BANTEN, GALILAH POTENSI DIRI
langlang | Gonjlengan | November 7th, 2009 | No Comments »

Banten Star mencoba menggali potesi diri lewat seni
Oleh Gola Gong
John F Kennedy, Presiden Amerika tahun 1960-an, sebelum tewas ditembak “fans” beratnya pernah berujar, “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu, wahai anak muda! Tapi tanyakan kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu?” Tapi di kita, kadang itu jadi terbalik, “Negara sudah ngasih apa sama kita?” Itulah sebabnya, kenapa anak muda di negeri ini loyo-loyo kurang darah, karena mentalnya dididik jadi pengemis.
MANDEG
Jadi pemuda haruslah seperti jalan setapak menuju mata air. Dia harus memiliki spirit menerabas alang-alang dan semak belukar di hutan, agar orang-orang bisa mengikuti kita ke arah kemajuan. Itu dilakukan oleh para petualang Eropa, saat memetakan bumi Afrika. DR. Livingstone, misalnya, memetakan tentang sungai Nil yang membelah Afrika bersumber dari danau Victoria . Atau, para ilmuwan semacam Newton , yang memerhatikan buah apel jatuh, sehingga munculah teori gravitasi.
Lantas, kita sebagai anak muda Banten, sudah melakukan apa? Hanya menadahkan tangan, menunggu bantuan datang? Jika memulai mengerjakan sesuatu, maka mandeg? Kecenderungan anak muda yang hanya mau melakukan sesuatu jika ada dana sudah menggejala sekarang. Mereka memoles dirinya dengan berdandan seperti para pengusaha, menenteng proposal memintai dana kemana-mana, berkedok atas nama rakyat. Semoga kita tidak menjadi pemuda seperti itu. Semoga kita menjadi pemuda yang penuh semangat.
POTENSI
Atau kata Aa Gym, “Rezeki itu harus dijemput” ? Tentu kami memilih yang kedua. Rezeki harus dijemput. Caranya? Dengan berusaha dan berdo’a. sebagai pemuda, kita memiliki modal semagnat dan ilmu.
Pernah mendengar kisah tentang teman-teman kita di Banten, dengan usianya yang masih muda, tapi mampu menggali potensi drinya? Ada 3 nama yang saya catat sempurna di hati saya. Mungkin itu teman kalian juga.
Pertama adalah NP Rahardian, direktuk Rekonvasibumi. Dia adalah contoh anak muda yang ketika jatuh terpuruk dihantam badai krismon pada 1998, mampu bangkit dengan cara mengali potensi dirinya. Awalnya Nana, panggilan akrabnya, terjun di dunia bisnis konstruksi. Saat terpuruk, dia menjadi pemuda yang mencari-cari pegangan. Dia tak patah semangat. Dia menggali potesi dirinya. Teryata dia memiliki kemampuan mengelola lingkungan. Sekarang, dia berkibar dengan LSM Rekonvasi Bumi, satu-satunya LSM yang konsisten mengawal lingkungan di Banten. Bahkan Nana dan Rekonvasi Bumi sudah jadi bagian gerakan lingkungan hidup dunia. Silahkan buktikan sendiri, datang berkunjung ke kantornya di Sengkele, Sempu, persis di belakang Kantor Kejaksaan, Serang. Kantornya bernama “Graha Bumi” dengan 3 lantai, sangat luar biasa bagi saya.
Pemuda kedua adalah Maulana Wahid Fauzi alias Si Uzi, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Banten Raya Post. Mengawali karirnya sebagai kartunis lepas di beberapa tabloid nasional; Bola, Nova, majalah Humor dan Kartini, Si Uzi direkrut Radar Banten sekitar 2001. Karikatur-karikaturnya di Radar Banten menggelitik kita semua; tersindir tapi tetap tersenyum. Dia adalah pemuda yang mampu mengenali potensi dirinya, tanpa perlu merengek-rengek meminta fasilitas kepada negara, seperti John F Kennedy pernah katakan kepada rakyatnya. Sekarang Si Uzi Direktur dan Pemimpin Redaksi Banten Raya Post serta merintis jadi direktur BR TV, yang akan mngeudara penuh Januari 2010. Kunci suksesnya, kenali potensi dan kreatif!
Pemuda ketiga adalah Andi Trisnahadi, Direktur Suhud Trisnahadi. Saya tahu persis, bagaimana Andi membuat karcis, kwitansi, dan liflet di masa awal bisnisnya pada 1990-an. Dia adalah pemuda yang ingin maju, sukses, tapi tidak lupa berbagi. Jika ada anak-anak muda seperti dirinya yang sedang membuat kegiatan, Andi membantunya denan membuatkan liflet dan spanduk gratis. Dia pengusaha pas-pasan tanpa modal dari bank, tapi masih mau membantu. Dan tidak takut bangkrut usahanya. Saya menilai, itu adalah investasi jangka panjang dari segi pencitraan. Alhasil, SUHUD Mediapromo berkembang pesat sebagai perusahaan yang bergerak di dunia kreativitas.
Ketiga pemuda tadi; Nana, Uzi, dan Andi adalah profil anak muda Banten yang patut kita contoh. Mereka menjemput rezeki, menggali potensi dirinya, tidak merengek-rengek menadahkan tangan, tapi justru menerabas semak-belukar, membukakan jalan kepada pemuda lain untuk ikut sama-sama menjemput rezeki yang bertebaran. Bukankah Muhamad pernah bersabda, “Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.”
RELAWAN
Mencontoh mereka, kami pikir itu hal terbaik. Lihat juga para relawan Rumah Dunia, mencoba berbagi di sela-sela waktu luangnya dan tidak lupa menjemput rezeki yang bertebaran dan menggali potensi diri lewat menulis. Para relawan Rumah Dunia setiap pagi sibuk mengisi waktunya; ada yang bekerja di Banten TV, jadi dosen Untirta, kuliah di IAIN SMH Banten, kuliah di Unsera, kuliah di Untirta, sekolah di SMA dan siang hari membagi-bagikna waktu, pikiran, dan tenaganya kepada siapa saja yang datang ke Rumah dunia. Para relawan Rumah Dunia mengajari anak-anak computer, menulis fiksi, menulis berita, dan teater. Jika ada kunjungan dari sebuah sekolah, para relawan Rumah Dunia melayani mereka; memberikan pelatihan jurnalistik (majalah dinding), dan menggambar,
Nana, Uzi, Andi, di sela-sela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga, mengurusi karyawan, juga masih sempat menjadi relawan di Rumah Dunia. Tidak dengan materi, dengan pikirannya, juga dengan otoritasnya. Merea patut kita contoh sebagai pemuda yang bisa mengnali potensi dirinya, yaitu tidak dengan cara menadahkan tangan! Mereka bisa menggugah keluarga Banten untuk maju. Spiritnya membangun Banten dimulai dari rumah. Insya Allah, akan menyebar luas ke Banten. Buktikan saja!(*)




Leave a Reply