BANTEN TV DAN MY DREAM
langlang | Essay | November 7th, 2009 | 1 Comment »

Saat syuting Padi Memerah
Oleh: Lawangbagja
Jauh hari sebelum Banten TV mengudara pada 2006, saya sudah percaya bahwa satu hari Banten pasti punya TV lokal. Entah kenapa itu menjadi semacam trigger, bahwa saya harus bisa mengejar teknologi audio visual di sela keterbatasan waktu dan tempat. Saya waku itu masih bekerja di kawasan pabrik, di Cilegon. Maklum, saya memang sudah digariskan hidup diantara cerobong asap pabrik dan bahan kimia.
Semua memang berawal dari hobi. Belajar editing film, mengenal kamera film, berteman dengan orang-orang di ‘dunia narsis’, ikut workshop, jadi volunteer di Rumah Dunia untuk bagian film, sempat juga punya sampingan terima shooting hajatan (walaupun sebenarnya dalam hati, sih, malu, hehe, padahal gpp yah!), pernah bareng menggarap profil kampanye pilkadal (yang hamburin banyak duit), sampai pernah menjadi tim pemenangan pemilu untuk bagian media sebuah partai dan terkepung dalam sebuah kantor kecamatan di daerah Picung gara-gara kotak suara. Ya! semua memang berawal dari hobi.
Waktu itu saya seperti terobsesi utuk bisa mempersiapkan diri sebelum Banten TV ada. Saya pikir infrastruktur boleh belakangan, yang penting saya bisa dan mengerti terlebih dahulu. Minimal untuk local, bisa siap pakailah!. Semua memang berjalan seperti sebuah proses. Dari tidak tahu sampai tahu dan mengerti.
Setelah itu saya datang ke Gola Gong, “Mas, saya punya studio editing!”.
“Oh, ya?”. Dan selepas Jum’atan di masjid Agung, Serang, Gola Gong mengkroscek studio editing saya yang terselip di antara gang kipatih, Kedalingan, Pisang Mas, Serang. “Hmm…berapa kapasitasnya? Pakai software apa? Bisa bikin ini? Itu?” semua pertanyaan mengalir dari mulut mantan senior creative RCTI dan kini advicor Banten TV. Dan sebuah kerja kolaborasi denan Gola Gong (dan Rumah Dunia) pun kemudian dimulai.
PJ AUDIO VISUAL
Pada suatu hari di pendopo saya di’baptis’ menjadi PJ AudioVisual Rumah Dunia. Kerja pertama tentu menularkan sedikit yang saya tahu mengenai film kepada teman-teman di Rumah Dunia. Kebetulan kelas menulis sudah diajarkan bagaimana membuat skenario film. Dan itu agak sedikit lambat karena mereka belum mengerti betul dunia film. Jangankan istilah kamera seperti zoom in, zoom out, close up, dll mungkin kamera film pun masih ada yang belum pernah pegang. Dimulai dari nol kami belajar bersama. sampai akhirnya lahir film pendek fiksi yang berjudul “Rin!..”. Saat itulah nafas kami menjadi terasa sangat panjang bahwa dengan keterbatasan kami tetap bisa berkreasi secara tim.
Menjadi PJ audio visual berarti dituntut melahirkan karya dengan semangat kerja dalam sebuah tim. Maka kemudian lahirlah karya-karya lainnya seperti Belok Kiri Dilarang Langsung, Toto ST. Radik’s Patang puluh, Dokumenter Makodim, Ode Kampung, profil Rumah Dunia (saat ini sering diputar di TV Banten, katanya loh..wong saya di UAE sekarang), Hari-Hari Adi, dll. Bagi kami ini sebuah langkah awal dari semangat ‘think global, act local”.
Melihat perkembangan teman-teman relawan di RD yang bisa dibilang sudah lumayan. Tentu kita harus berbagi bukan?. Maka saya bicarakan ke Gola Gong untuk membuat workshop film dokumenter. Karena dikenakan bayaran maka workshop dialihkan menjadi kerjaan Imaji MM dengan menggandeng Rumah Dunia. Maklum, semua yang ada di RD memang gratis. Workshop selama 3 hari digelar dengan berlokasi di Rumah Dunia. Peserta tidak kurang dari 25 orang. pembicara dari Metro TV, Production House dan Film Maker diundang. Sayang waktu itu Dian Sastro dan Riri Reza tidak bisa datang. Walhasil, dari workshop ini juga melahirkan karya Rumah Pohon dan Pabrik Tahu. Sebuah dokumenter pendek besutan para peserta.
Saya diamanahi Gola Gong bahwa selepas workshop ini tetap bertanggung jawab dengan para peserta. Caranya? “Kamu buat saja komunitas film!” begitu katanya. Maka bersama teman-teman akhirnya lahirlah SCENE TEN (dibaca sinten). Anak ABG bilang “siapa lo?”, sebuah pertanyaan yang membuat kita berfikir eksistensi kita. dan eksistensi hanya bisa diukur dengan karya nyata. Maka hari-hari selanjutnya SCENE TEN menjadi warna di ranah Banten.
Sampai pada suatu hari Gola Gong membuat event Banten Star melalui Gong Media Cakrawala (GMC). Sebuah miniatur home production di tanah Banten. Saya sendiri menilai GMC seperti sebuah projek ‘doesn’t make sense’ alias Mustahil. Orang UAE bilang ‘musykilah’!. Siapa yang ‘menyantap’ hidangan itu? dimana hendak ‘dihidangkannya?’ siapa kru koki yang akan ‘memasaknya?’ darimana bahan-bahannya didapat? Yah seperti itulah kira-kira..
BANTEN STAR & GMC
Gola Gong memang terlahir dari ‘luka seorang traveler’. Seperti tak henti menyusuri satu persatu ranting kehidupan. Sehabis menularkan ilmu bagaimana menulis skenario dan membuat film pendek, tahu-tahu muncul Gong Media Cakrawala dan ajang audisi “Banten Star 2006” seperti “Indonesian Idol” di RCTI. Semula ia pernah bilang sambil bercanda,”Maaf, ini bukan kelas PJ. audivisual Rumah Dunia dan timnya. Sorry yah, saya mau tawarkan ke Telkom, Radar Banten, dll”. Pokoknya kelas perusahaan ‘bonafidelah di Banten”, plus hotel dan Krakatau Steelnya. Dan…semua berjalan terasa amaaat lambat. Ternyata perusahaan-perusahaan swasta belum siap menerima gagasan Gola Gong. Sampai pada waktunya, “Banten Star harus tetap jalan!”. Gola Gong meminta bantuan Scene Ten! “Bisa live di lokasi, ya!” pinta Gola Gong. Aha!
Saya bersama SCENE TEN harus menjadi ‘ruh’ dalam perhelatan pertama di Banten untuk dunia entertaiment untuk acara Banten Star 2006 waktu itu. Bertempat di restoran S Rizki, simpang Ciceri, acara live show dengan ‘multi kamera’ bisa dipertontonkan dengan ‘manis’ di depan public, termasuk beberapa kru Banten TV yang pada saat itu ikut melihat acara kami. Kami memakai 4 kamera (MD 10.000), switcher rakitan. Asiklah. Di lantai 3 audisi “Banten Star 2006’ berlangsung, penonton di lantai 3 bisa menikmatinya lewat 2 buah big screen dengan LCD. Cukuplah untuk gebrakan awal sebuh komunitas. Ini adalah simulasi. Begitulah metode yang selau diterapkan Gola Gong di Rumah Dunia. Dia menstimulir kami dan memberikan peluang untuk membuat simulasi lewat kegiatn yang diprakarsainya. Banten Star 2006 adalhan pengalaman berharga bagi anak-anak muda Banten. Jika tidak mampu menembus Jakarta, mari kita buat iu di Banten.
Sayang, pada acara final pemilihan Raja dan Ratu Banten Star lewat “Eztravaganza Banten Star’, November 2006 di Radar Banten, saya keburu terbang ke UAE, tepatnya Rhuwais, Dubai. Saya bekreja di sebuah perusahaan kimia, mencari penghidupan yang lebih baik. Versi Gola Gonng, “Kamu cari uang yang banyak, nati sedekahnya lebih banyak lagi ke Rumah Dunia.” Dari berita di milis-milis, “Extravaganza Banten Star 2006” saya dengar sukses. Para finalis diberi kesempatan tampil di acara Ujang Santri dan Café Soleh di RCTI, ikutan workshop seni peran dan film, terlibat di film pendek ‘Padi Memerah”, dan jadi relawan Banten Membaca.
Firman venayaksa menulis pesan kepada saya,”Karyamu ada di Banten TV.” Saya dengar profil Rumah Dunia yang dibuat iseng pada waktu itu akhirnya muncul di Banten TV. Kalau saya serius dengan impian saya bahwa Banten TV ada, mestinya saya buat yang lebih bagus. Ada haru dalam batin. Banten TV sudah mengudara! Bahkan sekarang sudah mulai ada pesaingnyal BRT TV! Hebat Banten sekarang, punya 2 TV local! Ini kesempatan emas untuk anak-anak muda kreatif di Banten. Mestinya komunitas film Scene Ten menggeliat lagi.
Idealnya saya di sana mengisi aneka program acara yang kami pernah bicarakan sebelumnya di pendopo Rumah Dunia. Biarlah, paling tidak saya sudah berusaha membantu menyiapkan bibitnya, yaitu Scene Ten. Ada Ican yang sudah gape editing. Ada Yoan, mang Ipit, Rizal, dll yang gape kamera. Selamat juga ke Banten Star 2006, semoga bisa menjadi pemeran yang baik. Kabarnya, Banten Star sudha diakomodir Banten TV, ya! Raja Banten Star 2006; Anton Chandra kini jadi tokoh “Si Aduy” dan Ratu Banten Star 2006 jai pacarnya; Neng Citra! Bahkan akan ada “Banten star 2010”! Hebatlah! Mungkin saya di Rhuwais, Dubai, cukup jadi produser saja. My dream..was coming! So, Camera! roll…! Action! (Lawang Bagja, ambassador Rumah Dunia di Rhuwais, Dubai)




March 4th, 2010 at 7:44 pm
I was just browsing for related blogs for my task and I occurred to discover yours. Many thanks for the extremely good your site content.