SERANG—Untuk meningkatkan kualitas atlit, KONI Kota Serang menggelar pelatihan bagi para pelatih olahraga se-Kota Serang. Pelatihan ini difokuskan untuk menghadapi pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi Banten Ke-3 di Kabupaten Lebak 2010 nanti.
Pelatihan tersebut digelar di sebuah Hotel yang berada di Kota Serang, dimulai dari hari Sabtu (7/11) sampai Minggu besok. Acara pelatihan tersebut dibuka oleh ketua KONI Kota Serang, Ade Rossi Khoerunnissa. Hadir juga pada pembukaan pelatihan Pelatih Olahraga (PO) Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Budaya Kota Serang dan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Banten.
Menurut Ida Zubaida, ketua penyelanggara pelatihan mengatakan, “KONI Kota Serang bertekad mempersiapkan atlit dengan kualitas maksimal. Empat pemateri yang hadir pada pelatihan ini sengaja diambil dari para pelatih senior yang professional dibidangnya.”
Sementara itu, ketua KONI Kota Serang menegaskan, “Pelatihan kali ini hanya berupa teori dasar seperti tehnik pembinaan mental, strategi dan pengetahuan analisa. Dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti dengan melakukan praktik, berupa pemusatan latihan usai pelatihan ini.” Semoga saja dengan diadakan pelatihan tersebut, para atlit yang berada di Kota Serang, menjadi atlit yang memiliki wawasan tentang olahraga yang luas, sehingga atlit olahraga tidak hanya pintar dari segi fisik saja, akan tetapi dari segi tehnik dan strategi berpikir pun harus pintar. [ND]
Suka nonton sinetron komedi “Si Aduy [Anak Kampung Jadi Sarjana]” di Banten TV? Kita tentu gemas melihat acting “Si Aduy” yang polos, lucu, dan jujur itu. Siapa, sih, si Aduy? Dia adalah Anton, peraih penghargaan RAJA pada pemilihan Raja Dan Ratu Banten Star 2006.
Saat ditemui www.rumahdunia.com di Untirta Serang, Selasa (3/11), Anton menyebut “berdoa dan berusaha” adalah falsafah hidupnya. “Yang penting adalah prosesnya,” ujar pemilik nama lengkap Anton Candra kelahiran Serang, 08 juni 1987. Untuk membuktikan perkataannya Anton juga berlatih dengan keras untuk memerankan tokoh “Si Aduy” [Anak Kampun Jadi Sarjana] yang disiarkan Banten TV channel 22 UHF, setiap Sabtu, pukul 21.00 WIB. Setelah “Si Aduy” memasuki episode ke-13, Anton merasakan dampaknya. “Saat KKM di daerah Petir, saya dikenalkan sebagai artis,” katanya tersenyum.
Anton juga telah mencoba aktingnya di beberapa film sebelum membintangi film “Si Aduy” yang digarap Rambat Ahmadi dan Piter Tamba, seperti film pendek Padi Memerah” besutan Piter Tamba, yang dirilis Juni 2007 di Perpustakaan Nasional Jakarta, cafe Soleh (2007, RCTI) dan Ujang Santri (2007, RCTI). Anton berharap agar teman-teman Banten Star tidak lelah dalam berproses, begitulah pinta Aktor terbaik apresiasi seni pelajar Sukabumi dan penggermar berat Iwan Fals ini. Anton juga terpilih jadi host atau presenter di Festival Film Banten 2007 di Banten TV. “Grogi juga jadi presenter televisi, ya!”
Ditanya mengenai “Banten Star 2010’ di Banten TV, Anton menyambut dengan antusias. “Itu kesempatan. Daripada kita bengong, ayo, kita isi dengan hal-hal positif! Banten Star, giliranmu jadi bintang!” Anton menutup pembicaraan. (Jang RuDun)
Jauh hari sebelum Banten TV mengudara pada 2006, saya sudah percaya bahwa satu hari Banten pasti punya TV lokal. Entah kenapa itu menjadi semacam trigger, bahwa saya harus bisa mengejar teknologi audio visual di sela keterbatasan waktu dan tempat. Saya waku itu masih bekerja di kawasan pabrik, di Cilegon. Maklum, saya memang sudah digariskan hidup diantara cerobong asap pabrik dan bahan kimia.
Semua memang berawal dari hobi. Belajar editing film, mengenal kamera film, berteman dengan orang-orang di ‘dunia narsis’, ikut workshop, jadi volunteer di Rumah Dunia untuk bagian film, sempat juga punya sampingan terima shooting hajatan (walaupun sebenarnya dalam hati, sih, malu, hehe, padahal gpp yah!), pernah bareng menggarap profil kampanye pilkadal (yang hamburin banyak duit), sampai pernah menjadi tim pemenangan pemilu untuk bagian media sebuah partai dan terkepung dalam sebuah kantor kecamatan di daerah Picung gara-gara kotak suara. Ya! semua memang berawal dari hobi.
Waktu itu saya seperti terobsesi utuk bisa mempersiapkan diri sebelum Banten TV ada. Saya pikir infrastruktur boleh belakangan, yang penting saya bisa dan mengerti terlebih dahulu. Minimal untuk local, bisa siap pakailah!. Semua memang berjalan seperti sebuah proses. Dari tidak tahu sampai tahu dan mengerti.
Setelah itu saya datang ke Gola Gong, “Mas, saya punya studio editing!”.
“Oh, ya?”. Dan selepas Jum’atan di masjid Agung, Serang, Gola Gong mengkroscek studio editing saya yang terselip di antara gang kipatih, Kedalingan, Pisang Mas, Serang. “Hmm…berapa kapasitasnya? Pakai software apa? Bisa bikin ini? Itu?” semua pertanyaan mengalir dari mulut mantan senior creative RCTI dan kini advicor Banten TV. Dan sebuah kerja kolaborasi denan Gola Gong (dan Rumah Dunia) pun kemudian dimulai.
PJ AUDIO VISUAL
Pada suatu hari di pendopo saya di’baptis’ menjadi PJ AudioVisual Rumah Dunia. Kerja pertama tentu menularkan sedikit yang saya tahu mengenai film kepada teman-teman di Rumah Dunia. Kebetulan kelas menulis sudah diajarkan bagaimana membuat skenario film. Dan itu agak sedikit lambat karena mereka belum mengerti betul dunia film. Jangankan istilah kamera seperti zoom in, zoom out, close up, dll mungkin kamera film pun masih ada yang belum pernah pegang. Dimulai dari nol kami belajar bersama. sampai akhirnya lahir film pendek fiksi yang berjudul “Rin!..”. Saat itulah nafas kami menjadi terasa sangat panjang bahwa dengan keterbatasan kami tetap bisa berkreasi secara tim.
Menjadi PJ audio visual berarti dituntut melahirkan karya dengan semangat kerja dalam sebuah tim. Maka kemudian lahirlah karya-karya lainnya seperti Belok Kiri Dilarang Langsung, Toto ST. Radik’s Patang puluh, Dokumenter Makodim, Ode Kampung, profil Rumah Dunia (saat ini sering diputar di TV Banten, katanya loh..wong saya di UAE sekarang), Hari-Hari Adi, dll. Bagi kami ini sebuah langkah awal dari semangat ‘think global, act local”.
Melihat perkembangan teman-teman relawan di RD yang bisa dibilang sudah lumayan. Tentu kita harus berbagi bukan?. Maka saya bicarakan ke Gola Gong untuk membuat workshop film dokumenter. Karena dikenakan bayaran maka workshop dialihkan menjadi kerjaan Imaji MM dengan menggandeng Rumah Dunia. Maklum, semua yang ada di RD memang gratis. Workshop selama 3 hari digelar dengan berlokasi di Rumah Dunia. Peserta tidak kurang dari 25 orang. pembicara dari Metro TV, Production House dan Film Maker diundang. Sayang waktu itu Dian Sastro dan Riri Reza tidak bisa datang. Walhasil, dari workshop ini juga melahirkan karya Rumah Pohon dan Pabrik Tahu. Sebuah dokumenter pendek besutan para peserta.
Saya diamanahi Gola Gong bahwa selepas workshop ini tetap bertanggung jawab dengan para peserta. Caranya? “Kamu buat saja komunitas film!” begitu katanya. Maka bersama teman-teman akhirnya lahirlah SCENE TEN (dibaca sinten). Anak ABG bilang “siapa lo?”, sebuah pertanyaan yang membuat kita berfikir eksistensi kita. dan eksistensi hanya bisa diukur dengan karya nyata. Maka hari-hari selanjutnya SCENE TEN menjadi warna di ranah Banten.
Sampai pada suatu hari Gola Gong membuat event Banten Star melalui Gong Media Cakrawala (GMC). Sebuah miniatur home production di tanah Banten. Saya sendiri menilai GMC seperti sebuah projek ‘doesn’t make sense’ alias Mustahil. Orang UAE bilang ‘musykilah’!. Siapa yang ‘menyantap’ hidangan itu? dimana hendak ‘dihidangkannya?’ siapa kru koki yang akan ‘memasaknya?’ darimana bahan-bahannya didapat? Yah seperti itulah kira-kira..
BANTEN STAR & GMC
Gola Gong memang terlahir dari ‘luka seorang traveler’. Seperti tak henti menyusuri satu persatu ranting kehidupan. Sehabis menularkan ilmu bagaimana menulis skenario dan membuat film pendek, tahu-tahu muncul Gong Media Cakrawala dan ajang audisi “Banten Star 2006” seperti “Indonesian Idol” di RCTI. Semula ia pernah bilang sambil bercanda,”Maaf, ini bukan kelas PJ. audivisual Rumah Dunia dan timnya. Sorry yah, saya mau tawarkan ke Telkom, Radar Banten, dll”. Pokoknya kelas perusahaan ‘bonafidelah di Banten”, plus hotel dan Krakatau Steelnya. Dan…semua berjalan terasa amaaat lambat. Ternyata perusahaan-perusahaan swasta belum siap menerima gagasan Gola Gong. Sampai pada waktunya, “Banten Star harus tetap jalan!”. Gola Gong meminta bantuan Scene Ten! “Bisa live di lokasi, ya!” pinta Gola Gong. Aha!
Saya bersama SCENE TEN harus menjadi ‘ruh’ dalam perhelatan pertama di Banten untuk dunia entertaiment untuk acara Banten Star 2006 waktu itu. Bertempat di restoran S Rizki, simpang Ciceri, acara live show dengan ‘multi kamera’ bisa dipertontonkan dengan ‘manis’ di depan public, termasuk beberapa kru Banten TV yang pada saat itu ikut melihat acara kami. Kami memakai 4 kamera (MD 10.000), switcher rakitan. Asiklah. Di lantai 3 audisi “Banten Star 2006’ berlangsung, penonton di lantai 3 bisa menikmatinya lewat 2 buah big screen dengan LCD. Cukuplah untuk gebrakan awal sebuh komunitas. Ini adalah simulasi. Begitulah metode yang selau diterapkan Gola Gong di Rumah Dunia. Dia menstimulir kami dan memberikan peluang untuk membuat simulasi lewat kegiatn yang diprakarsainya. Banten Star 2006 adalhan pengalaman berharga bagi anak-anak muda Banten. Jika tidak mampu menembus Jakarta, mari kita buat iu di Banten.
Sayang, pada acara final pemilihan Raja dan Ratu Banten Star lewat “Eztravaganza Banten Star’, November 2006 di Radar Banten, saya keburu terbang ke UAE, tepatnya Rhuwais, Dubai. Saya bekreja di sebuah perusahaan kimia, mencari penghidupan yang lebih baik. Versi Gola Gonng, “Kamu cari uang yang banyak, nati sedekahnya lebih banyak lagi ke Rumah Dunia.” Dari berita di milis-milis, “Extravaganza Banten Star 2006” saya dengar sukses. Para finalis diberi kesempatan tampil di acara Ujang Santri dan Café Soleh di RCTI, ikutan workshop seni peran dan film, terlibat di film pendek ‘Padi Memerah”, dan jadi relawan Banten Membaca.
Firman venayaksa menulis pesan kepada saya,”Karyamu ada di Banten TV.” Saya dengar profil Rumah Dunia yang dibuat iseng pada waktu itu akhirnya muncul di Banten TV. Kalau saya serius dengan impian saya bahwa Banten TV ada, mestinya saya buat yang lebih bagus. Ada haru dalam batin. Banten TV sudah mengudara! Bahkan sekarang sudah mulai ada pesaingnyal BRT TV! Hebat Banten sekarang, punya 2 TV local! Ini kesempatan emas untuk anak-anak muda kreatif di Banten. Mestinya komunitas film Scene Ten menggeliat lagi.
Idealnya saya di sana mengisi aneka program acara yang kami pernah bicarakan sebelumnya di pendopo Rumah Dunia. Biarlah, paling tidak saya sudah berusaha membantu menyiapkan bibitnya, yaitu Scene Ten. Ada Ican yang sudah gape editing. Ada Yoan, mang Ipit, Rizal, dll yang gape kamera. Selamat juga ke Banten Star 2006, semoga bisa menjadi pemeran yang baik. Kabarnya, Banten Star sudha diakomodir Banten TV, ya! Raja Banten Star 2006; Anton Chandra kini jadi tokoh “Si Aduy” dan Ratu Banten Star 2006 jai pacarnya; Neng Citra! Bahkan akan ada “Banten star 2010”! Hebatlah! Mungkin saya di Rhuwais, Dubai, cukup jadi produser saja. My dream..was coming! So, Camera! roll…! Action! (Lawang Bagja, ambassador Rumah Dunia di Rhuwais, Dubai)
Banten Star mencoba menggali potesi diri lewat seni
Oleh Gola Gong
John F Kennedy, Presiden Amerika tahun 1960-an, sebelum tewas ditembak “fans” beratnya pernah berujar, “Jangan tanyakan apa yang sudah negara berikan kepadamu, wahai anak muda! Tapi tanyakan kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu?” Tapi di kita, kadang itu jadi terbalik, “Negara sudah ngasih apa sama kita?” Itulah sebabnya, kenapa anak muda di negeri ini loyo-loyo kurang darah, karena mentalnya dididik jadi pengemis.
MANDEG
Jadi pemuda haruslah seperti jalan setapak menuju mata air. Dia harus memiliki spirit menerabas alang-alang dan semak belukar di hutan, agar orang-orang bisa mengikuti kita ke arah kemajuan. Itu dilakukan oleh para petualang Eropa, saat memetakan bumi Afrika. DR. Livingstone, misalnya, memetakan tentang sungai Nil yang membelah Afrika bersumber dari danau Victoria . Atau, para ilmuwan semacam Newton , yang memerhatikan buah apel jatuh, sehingga munculah teori gravitasi.
Lantas, kita sebagai anak muda Banten, sudah melakukan apa? Hanya menadahkan tangan, menunggu bantuan datang? Jika memulai mengerjakan sesuatu, maka mandeg? Kecenderungan anak muda yang hanya mau melakukan sesuatu jika ada dana sudah menggejala sekarang. Mereka memoles dirinya dengan berdandan seperti para pengusaha, menenteng proposal memintai dana kemana-mana, berkedok atas nama rakyat. Semoga kita tidak menjadi pemuda seperti itu. Semoga kita menjadi pemuda yang penuh semangat.
POTENSI
Atau kata Aa Gym, “Rezeki itu harus dijemput” ? Tentu kami memilih yang kedua. Rezeki harus dijemput. Caranya? Dengan berusaha dan berdo’a. sebagai pemuda, kita memiliki modal semagnat dan ilmu.
Pernah mendengar kisah tentang teman-teman kita di Banten, dengan usianya yang masih muda, tapi mampu menggali potensi drinya? Ada 3 nama yang saya catat sempurna di hati saya. Mungkin itu teman kalian juga.
Pertama adalah NP Rahardian, direktuk Rekonvasibumi. Dia adalah contoh anak muda yang ketika jatuh terpuruk dihantam badai krismon pada 1998, mampu bangkit dengan cara mengali potensi dirinya. Awalnya Nana, panggilan akrabnya, terjun di dunia bisnis konstruksi. Saat terpuruk, dia menjadi pemuda yang mencari-cari pegangan. Dia tak patah semangat. Dia menggali potesi dirinya. Teryata dia memiliki kemampuan mengelola lingkungan. Sekarang, dia berkibar dengan LSM Rekonvasi Bumi, satu-satunya LSM yang konsisten mengawal lingkungan di Banten. Bahkan Nana dan Rekonvasi Bumi sudah jadi bagian gerakan lingkungan hidup dunia. Silahkan buktikan sendiri, datang berkunjung ke kantornya di Sengkele, Sempu, persis di belakang Kantor Kejaksaan, Serang. Kantornya bernama “Graha Bumi” dengan 3 lantai, sangat luar biasa bagi saya.
Pemuda kedua adalah Maulana Wahid Fauzi alias Si Uzi, Direktur sekaligus Pemimpin Redaksi Banten Raya Post. Mengawali karirnya sebagai kartunis lepas di beberapa tabloid nasional; Bola, Nova, majalah Humor dan Kartini, Si Uzi direkrut Radar Banten sekitar 2001. Karikatur-karikaturnya di Radar Banten menggelitik kita semua; tersindir tapi tetap tersenyum. Dia adalah pemuda yang mampu mengenali potensi dirinya, tanpa perlu merengek-rengek meminta fasilitas kepada negara, seperti John F Kennedy pernah katakan kepada rakyatnya. Sekarang Si Uzi Direktur dan Pemimpin Redaksi Banten Raya Post serta merintis jadi direktur BR TV, yang akan mngeudara penuh Januari 2010. Kunci suksesnya, kenali potensi dan kreatif!
Pemuda ketiga adalah Andi Trisnahadi, Direktur Suhud Trisnahadi. Saya tahu persis, bagaimana Andi membuat karcis, kwitansi, dan liflet di masa awal bisnisnya pada 1990-an. Dia adalah pemuda yang ingin maju, sukses, tapi tidak lupa berbagi. Jika ada anak-anak muda seperti dirinya yang sedang membuat kegiatan, Andi membantunya denan membuatkan liflet dan spanduk gratis. Dia pengusaha pas-pasan tanpa modal dari bank, tapi masih mau membantu. Dan tidak takut bangkrut usahanya. Saya menilai, itu adalah investasi jangka panjang dari segi pencitraan. Alhasil, SUHUD Mediapromo berkembang pesat sebagai perusahaan yang bergerak di dunia kreativitas.
Ketiga pemuda tadi; Nana, Uzi, dan Andi adalah profil anak muda Banten yang patut kita contoh. Mereka menjemput rezeki, menggali potensi dirinya, tidak merengek-rengek menadahkan tangan, tapi justru menerabas semak-belukar, membukakan jalan kepada pemuda lain untuk ikut sama-sama menjemput rezeki yang bertebaran. Bukankah Muhamad pernah bersabda, “Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.”
RELAWAN
Mencontoh mereka, kami pikir itu hal terbaik. Lihat juga para relawan Rumah Dunia, mencoba berbagi di sela-sela waktu luangnya dan tidak lupa menjemput rezeki yang bertebaran dan menggali potensi diri lewat menulis. Para relawan Rumah Dunia setiap pagi sibuk mengisi waktunya; ada yang bekerja di Banten TV, jadi dosen Untirta, kuliah di IAIN SMH Banten, kuliah di Unsera, kuliah di Untirta, sekolah di SMA dan siang hari membagi-bagikna waktu, pikiran, dan tenaganya kepada siapa saja yang datang ke Rumah dunia. Para relawan Rumah Dunia mengajari anak-anak computer, menulis fiksi, menulis berita, dan teater. Jika ada kunjungan dari sebuah sekolah, para relawan Rumah Dunia melayani mereka; memberikan pelatihan jurnalistik (majalah dinding), dan menggambar,
Nana, Uzi, Andi, di sela-sela kesibukannya mencari nafkah untuk keluarga, mengurusi karyawan, juga masih sempat menjadi relawan di Rumah Dunia. Tidak dengan materi, dengan pikirannya, juga dengan otoritasnya. Merea patut kita contoh sebagai pemuda yang bisa mengnali potensi dirinya, yaitu tidak dengan cara menadahkan tangan! Mereka bisa menggugah keluarga Banten untuk maju. Spiritnya membangun Banten dimulai dari rumah. Insya Allah, akan menyebar luas ke Banten. Buktikan saja!(*)
Anggi Rospidia, Ratu Banten Star 2006, tokoh “Citra’ di sinetron komedi “Si Aduy”, disiarkan Banten TV setiap Sabtu, pukul 21.00 WIB, baru pulang dari Kota Jogja. Di kota pelajar itu, Anggi bukan untuk bertamasya, tapi mengikuti ajang modeling perwakilan Banten dalam program Porseni dan Jambore tingkat Nasional yang diikuti oleh 33 propinsi. Meski tidak menang, gadis manis kelahiran serang 1992 ini masuk 10 besar. Tentu saja ini harus tetap disyukuri, sebab segala sesuatunya memanglah proses. Karena prestasi besar adalah kumpulan prestasi-prestasi kecil.
Ketika diwawancarai www.rumahdunia.com di sela-sela syuting “Si Aduy” di Untirta Serang, Selasa (3/11) tentang aktifitasnya selama di Jogja, Anggi menjawab dengan senyuman khasnya, “Kegiatannya memang melelahkan, tapi Anggi seneng, kok. Karena Anggi bisa punya banyak teman dari berbagai kota. Malahan Anggi jadi punya teman baru, dia model tapi tuna rungu. Luar biasa dia.”
Selain bercerita tentang segala aktifitasnya di Kota Jogja, gadis dengan segudang prestasi ini juga banyak bercerita tentang kenyamanan Kota Jogja. Menurutnya, orang Yogta ramah-ramah dan baik-baik. Saat menuju gedung acara tempat perlombaan diselenggarakan misalnya, Anggi sempat kebingungan, namun beruntung Anggi diantarkan tukang becak yang baik hati. “Tukang becak itu hanya memasang tarif tiga ribu, padahal jaraknya mencapai lima kilo km!” kenang Anggi. Selain itu, harga makanannya pun murah meriah. “Ah, pokoknya Anggi terkesan banget dengan kota ini,” ujarnya senang. Ngomong-ngomong, nyobain nasi gudeg ‘kan? Atau nasi aking? Hiih, salah. Nasi hik alias nasi kucing, nyobain juga?(RG)
Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]
SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]
Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]
Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]
Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]
TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]