KAMPUNG GIPANG DI MAGELARAN

Gipang 1Oleh Ahmad Wayang

Hj. Mu’tiah bersama anak dan dua karyawannya sedang sibuk menyusun kue gipang ke dalam toples ukuran sedang, di rumahnya, di Kampung Magelaran Cilik Rt 09/02 Desa, Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Serang.  Rumah yang berada tepat di gang Karisma, berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Warung Jaud, yang menghubungkan ke Banten Lama.

TURUN TEMURUN

Panganan gipang itu sendiri biasanya berbentuk kotak persegi, terbuat dari beras ketan putih atau ketan merah, yang sudah dicampuri gula pasir, asam, dan saus kacang tanah. Beras ketan yang sudah dimasak setengan matang digoreng. Kemudian diaduk dengan bumbu saus kacang tadi. gipang pun siap dicetak di atas kayu kotak persegi. Caranya di-giles atau ditekan-tekan, supaya gipang jadi padat. Proses terakhir, di bagian atas gipang dilumuri saus kacang. Tunggu sampai kering, gipang siap diiris-iris dan dikemas dalam plastik lalu dipasarkan.

Nenek tiga anak itu mengaku, dirinya sudah meneruskan usaha berjualan gipang dari almarhum Ibunya, Hj. Muslihah yang sudah berumur 80 tahunan. “Sudah dari turun temurun,” kata Mu’tiah tak ingat kapan awal dirinya mulai berjualan gipang. “Pokoknya dari awal pembangunan pasar Rau Serang, saya sudah jualan gipang, meneruskan usaha Ibu saya,” sambungnya. Tidak hanya gipang yang Nek Mu’tiah jual. Kue-kue seperti rengginang, sagon, tenteng kacang, dan tenteng emping pun ia buat sendiri.

Gipang kios 2Hj. Mu’tiah yang kini  berumur 65 tahuh, menurunkan usaha gipang kepada anak-anaknya. “Sekarang saya cuma ngawasin, sambil sesekali bantu-bantu,” kata Nek Mu’tiah menaruh harapan pada anak-anaknya.

Kue gipang yang dibuat Mu’tiah, dalam seharinya bisa mencapai 500 buah toples ukuran sedang. Harga pertoplesnya Rp. 12.500,- “Ya, kadang kalo lagi banyak pesenan aja. Tapi, sekarang mah lagi sepi,” terang Nenek yang sudah mempunyai 20 cucu ini degan mimik serius.

Kue gipang buatan Nek Mu’tiah sudah mempunyai cukup banyak pelanggan. Tak hanya dari Serang, gipangnya juga dinikmati warga Tangerang bahkan hingga ke Pekalongan. Saat ditanya mengenai modal awalnya, Nek mengaku jika dulu modalnya cuma Rp 500 ribu. Tapi, sekarang mencapai sekitar Rp. 2 Juta, karena bahan-bahan membuat Gipang tambah mahal.

NAIK HAJI

Jika ditanya perihal untung yang didapat, Nek selalu menjawabnya dengan tenang dan santai, “Tiap dapet untung, nggak pernah dihitung. Yang penting di warung nggak punya hutang. Dan untungnya, dari sisa kue yang belum laku,” begitu katanya.  “Tapi, alhamdullilah, dari hasil berjualan kue-kue ini saya, suami dan tiga anak saya sudah berangkat naik haji. Mungkin itu untungnya.” katanya kemudian. Dan ternyata Hj Mu’tiah dalam dua tahun lagi, ia berencana akan menunaikan ibadah hajinya untuk yang kedua kalinya.

Mengenai sejarah tentang kue gipang yang sudah dijadikan panganan khas Bnaten, Mu’tiah mengaku tidak tahu. “Nggak tahu, pokoknya saya mah cuma dagang aja. Dari Ibu juga, nggak pernah dikasihtahu,” tutur Mu’tiah mengaku.

Gipang kiosDi kampung Magelaran, yang lumayan masih banyak pohon-pohon rindang bertumbuhan, itu ternyata bukan hanya Mu’tiah saja pembuat aneka kue-kue khas Banten. Di kampung itu, ternyata hampir semua penduduknya berjualan kue yang sama. Sebut saja Alisah (45) salah satunya, tetangga Mu’tiah yang juga berjualan kue-kue yang sama. “Ada sekitar 20 orang yang bikin gipang di kampung ini,” tutur Alisah yang juga mengaku sudah lama berjualan gipang. “Saya, jualan kue gipang ini sudah ada 20 tahun mah,“ kata ibu tujuh anak ini. Tak jauh beda dengan Mu’tiah, Alisah juga sudah mempunyai banyak pelanggan. Selain dari kota sendiri, hingga pasar Labuan, dan Menes.

Dalam sehari Alisah yang dibantu anak dan beberapa saudaranya, bisa membuat gipang antara 500 sampai 700 pack. Untuk satu packnya Alisah menjualnya seharga Rp 1500-, yang dalam satu pack itu terdapat empat potong gipang sedang ukuran kotak persegi panjang. “Kita bikin gipang, jika lagi ada pesanan saja. Jika nggak ada pesanan ya, nggak bikin,” terang Alisah. Kue gipang Alisah bisa tahan hingga sampai sepuluh hari, dengan catatan harus terhindar dari sengatan sinar matahari.

Alisah mengaku penjualan gipanya tak menentu. Jika sedang ramai, bisa mendapatkan keuntungan Rp 300.000. “Kalau dibilang cukup, ya belum. Orang nggak sesuai sama modalnya yang besar. Sedang, pengeluaran mah kecil,” keluh Alisah yang mengaku masih bertahan jualan gipang, lantaran terpaksa, karena tidak bisa jualan yang lainnya lagi. Terlebih setelah suami Alisah wafat dan meninggalkan anak-anak yang masih  kecil. “Saya terpaksa berjuang sendirian, untuk menghidupi ketujuh anak-anak saya,” katanya.

SIKAP PEMERINTAH

Tapi, di tengah persaingan perdagangan gipang yang cukup banyak di Kampung Magelaran, mereka merasakan tak ada bantuan atau perhatian lebih dari pemerintah setempat. “Sendiri-sendiri. Pemerintah, ya, pemerintah, jualan, ya, jualan,” kata Nek Mu’tiah. Padahal gipang sudah termasuk di dalam database Dinas Olahraga Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Serang, termasuk dalam panganan khas Banten, dari 37 jumlah makanan tradisional Banten.

Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Disporaparbud, Baini S.pd, mengaku sudah merencanakan membuat program pelestarian panganan khas Banten. “Rencana itu sejak tahun 2007. Tapi, belum ada keputusan. Tahun 2010 mau diajukan lagi,” kata Baini yang akan mengumpulkan semua panganan khas Banten dalam satu tempat. agar panganan khas Banten dapat lebih dikenal banyak orang lagi.

Tapi, saat wartawan www.rumahdunia.com memantau lokasi kampung gipang, banyak penjual gipang  yang tak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sampai-sampai Hj. Mu’tiah berencana akan berhenti jualan gipang. Ia berencana membuka usaha jahit-menjahit, seperti pekerjaan anaknya dulu. “Pengen berhenti saja jualan gipang. Sekarang pengen membuka mesin jahit, karena jualan gipang sekarang sudah nggak ada untungnya lagi,” tandas Mu’tiah mantap.

Lalu, benarkah dengan rencana pemerintah yang akan mengumpulkan para pedagang panganan khas Bnaten? Lalu kenapa di Kampung gipang banyak yang tak tahu dengan adanya rencana pemerintah yang akan melestarikan panganan khas Banten itu? Sementara para pedagangnya banyak yang akan berhenti berjualan gipang. Jangan-jangan para pedagang khas Banten itu adalah saudara-saudara pegawai pemerintahan itu sendiri? Sedangkan pedagang gipang yang sebenarnya tidak diberitahu, dan dibiarkan begitu saja. “Ya, begitulah dunia politik. Dunia yang penuh intrik,” seperti dalam penggalan lagu Iwan Fals.(*)

JAMI’ AL-IITIHAD: TEMPAT PEMERSATU WARGA

Masjid Al-Ittihad

Masjid Al-Ittihad

MESJID PEMERSATU WARGA

Kerukunan bermasyarakat tentu sangatlah penting. Sebuah masyarakat yang selalu dapat bergandeng tangan dan beriringan dalam tugas-tugas sosial akan mendatangkan banyak keuntungan. lanjutkan membaca »

AGUS SAKHIB, PENDIRI YAYASAN PENYANDANG CACAT

PENDIRI YAYASAN PENYANDANG CACAT

Aku adalah lelaki yang dilahirkan di Pamerayan, Serang, 64 tahun yang silam dengan kaki kiri buntung di bawah lutut. Tapi kekuranganku yang satu ini tak membuatku rendah diri. lanjutkan membaca »

BATIK LERENG LESUNG CILEGON

Batik 1Oleh Rama Rahmat

Batik merupakan warisan dan identitas bangsa Indonesi yang telah mendapatkan pengakuan oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu. Jika mendenger batik, pasti langsung tertuju ke daerah jawa. Namun kini perkembangan batik telah meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Begitu pun Kota Cilegon yang memiliki batik Lereng Lesung sebagai ciri khasnya. Untuk mendapatkan batik lereng lesung bisa berkunjung ke Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon di lantai dasar Plaza Cilegon Mandiri, Jl. S.A Tirtayasa, Cilegon

Awal kemunculan batik lereng lesung bermula pada Lomba Desain Batik Cilegon 2006 yang diadakan Bidang Pariwisata dan Budaya Despindak. Agus Patria akhirnya lolos sebagai juara satu dengan desain batik lesungnya. Hingga akhirnya batik lesung diproduksi dan dipatenkan oleh Wali Kota Cilegon sebagai batik khas Cilegon.

Filosofi dalam desain batik lereng lesung:

Simbol ”rumput laut” yang di padu dengan ”isem-isem cecek krambyang” menggambarkan letak geografis Kota Cilegon yang dibatasi oleh garis pantai yang penuh dengan interaksi sebagai kota yang dinamis bagai air laut terus bergerak menghasilkan gelombang dan riaknya, hingga menjadikan kota ini serat dengan dinamika kehidupan.

Simbol ”Lesung” diangkat dari salah satu seni budaya tradisional Kota Cilegon yakni Bandrong Lesung yang merupakan seni budaya yang berkembang dalam masyarakat Kota Cilegon, sekaligus merupakan kristalisasi dari nilai-nilai budaya, estetika, sikap, dan tata kehidupan masyarakat Kota Cilegon. Selain itu simbol lesung berfungsi simbol kembar (lesung = kapal) dan rantai tali jangkar kapal yang melambangkan Kota Cilegon sebagai Kota Pelabuhan, dimana Kota Cilegon mempunyai pelabuhan Merak dan Cigading yang juga merupakan salah satu motor penggerak perekonomian dan pariwisata.

Batik 2Simbol ”Kuba Masjid” merupakan gambaran tentang kepercayaan adat istiadat dan agama di Kota Cilegon sebagai manifestasi dan komunikasi masyarakat Kota Cilegon yang bernuansa religius/agamis.

Simbol ”Bunga Melati, Mawar, dan Rumput laut” adalah simbol keadaan alam flora dan fauna Kota Cilegon yang memberikan gambaran bahwa masyarakat Kota Cilegon penuh kasih, cinta, dan ramah tama.

Simbol desain Motor Elektronik” merupakan gambaran bahwa Kota Cilegon dikenal sebagai kota industri baik secara skala nasional maupun internasional, dan terbuka untuk infestor.

Batik Lereng Lesung terdapat enam jenis warna, yaitu merah, kuning, hijau, biri, coklat, dan ungu.

Sayangnya menurut Samani, bagian Pengadaan Oprasional Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon (25/11), Batik Lereng Lesung belum bisa diproduksi di Cilegon, melainkan di laur kota. Karena belum ada tenaga akhli dan tempat untuk memproduksi.

Galeri Batik Dekranasda Kota Cilegon yang di buka sejak empat bulan yang lalu cukup banyak yang berkunjung, terutama para PNS dan pegawai suasta. Dimana setiap hari jumat diwajibkan untuk para PNS dan beberapa pegawai perusahaan suasta untuk mengenakan batik. Harga batik cukup terjangkau dengan harga bahan Rp. 20 ribu permeter atau harga batik kemeja siap jadi mulai dari kisaran harga Rp. 50 ribu hingga Rp. 150 ribu, tergantung warna dan jenis kain.

Menuru Alfi bagian pemasaran, peminat batik Lereng Lesung kebanyakan orang dewasa. ”Biasanya yang laku kemeja untuk orang kantoran atau PNS, dan sepasang pakaian mama-papa untuk pasangan suami istri,” jelasnya. Alfi menambahkan, untuk para remaja belum ada respon yang baik, karena stok yang ada belum ada pakain batik modifikasi dengan segmen pakaian remaja.

Dinas Kebudaya dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cilegon sudah menggencarkan promosi batik Lereng Lesung dengan melalui berbagai event dan pameran-pameran baik di dalam daerah maupun luar daerah.

Sekertaris Dinas Disbudpar Kota Cilegon, Heni Anita Susila  saat ditemi di kantor dinasnya yang baru pindah di lantai 2 Plaza Cilegon Mandiri oleh wartawan www.rumahdunia.com mengungkapkan harapannya terhadap Batik Lereng Lesung, ”semoga batik Lereng Lesung menjadi identitas Kota Cilegon. Biarpun saat ini masih dikalangan PNS dan pegawai suasta lainnya, tapi juga bisa menyentu masyarakat umum.” (Rama)

H. MAS SATOSO, SAMPAH JUGA CIPTAAN ALLAH

H. Mas Santoto

H. Mas Santoto

SAMPAH JUGA CIPTAAN ALLAH

PERINGATAN!

Bahwa SAMPAH adalah:

[S]isa aktivitas manusia yang berserakan

[A]kan menjadi masalah kepada umat

[M]anusia yang berada di muka bumi dari

[P]erbuatan yang tidak manusia bila

[A]ktivitas manusia tidak bisa dibina secara

[H]irarki, tunggu kehancurannya. lanjutkan membaca »

advert

Tags Kata

Gonjlengan

ANTARA “TUBAGUS” DI BANTEN DAN “SIR” DI INGGRIS

Oleh Gol A Gong Paul Mc Cartney, penyanyi kelompok musik The Beatles dari Liverpool dan Alex Ferguson, menejer tim sepakbola klub Manchester United Inggris tidak menyangka jika kedatangan di Bandara Soekarno Hatta disambut tarian selamat datang “Banten Katuran” persembahan Sanggar Tari Laksana pimpinan Mayang Sari, doktor seni tari satu-satunya milik Banten. Paul yang lahir pada [...]

Full Story | June 29th, 2011

Banten Kuliner

MY BAKSO: RASA BINTANG LIMA, HARGA KAKI LIMA

SERANG—Resto My Bakso yang berada di Jl. KH. Sohari No. 20 B, Pekojan, Serang- Banten, mulai digemari warga Serang dan sekitarnya. Meskipun Resto My Bakso adalah Franchise: merek yang cukup terkenal dan memiliki system duplikasi kesuksesan usaha, berpusat di Surabaya, baru-baru ini sudah ada di Serang, dibuka sejak bulan Desember 2009, adalah satu-satunya usaha Franchise [...]

Full Story | March 27th, 2010

advert

Wisata Banten

ARUNG JERAM: WISATA DAN KEMANUSIAAN

Bagi wisatawan lokal Jabodetabek yang punya nyali dan suka tantangan Arung Jeram Sungai Ciberang-lah pilihannya. Objek wisata alam yang beralamat di Kampung Muhara, Lebak Gedong, Lebak, Banten, ini tak hanya sebagai wahana rekreasi semata. Tapi bisa dijadikan objek wisata olah raga. “Selain tempat wisata kami juga menerima pelatihan atlit Arung Jeram dan Water restque,” kata [...]

Full Story | March 26th, 2010

advert

Cerpen

BARAKAH

Cerpen Langlang Randhawa* Gebleg kamu ini! Masak kamu tidak tahu ayahku!? Atau kamu hanya pura-pura saja. Kebina-bina jika kau tak kenal dia. Hey, kamu, dengarkan baik-baik. Pasang telingamu dan fokuskan hatimu. Lupakan saja soal fatwa arah kiblat yang gosipnya menghadap Spanyol hanya karena negeri matador itu juara piala dunia. Lupakan juga soal ledakan-ledakan hangat dari [...]

Full Story | August 6th, 2010

Novel

TEMBANG KAMPUNG HALAMAN [1]

Oleh Gol A Gong MATAHARI merangkak ke sore hari di kota kecil itu. Sinarnya terang benderang menyelimuti permukaan kota. Mulut langit mengembuskan angin dari sebuah kereta ekonomi yang memasuki stasiun. Dari roda-roda lokomotif tampak asap bergulung-gulung dan bunyi rem berderit, menandakan betapa tuanya umur lokomotif ini. Debu pun beterbangan ke seluruh penjuru, tapi itu tak [...]

Full Story | April 8th, 2010

Puisi

PUISI-PUISI A. GANJAR SUDIBYO

TENTANG BEBERAPA TUKANG BECAK I. “ora et labora” di pertigaan jalan menuju rumah beberapa tukang becak menyemadikan nasib : bagaimana menyeimbangkan doa dan usaha – memejam di tempat duduk masingmasing- II. “nrimo ing pandum” kepasrahan bukanlah pengertian yang bisa diserahkan begitu saja kepada puingan matahari dan purnama mereka mengabadikannya sebagai penanda becak yang telah menerima [...]

Full Story | July 18th, 2010