KAMPUNG GIPANG DI MAGELARAN
Gola Gong | Banten Kuliner | November 30th, 2009 | 2 Comments »
Oleh Ahmad Wayang
Hj. Mu’tiah bersama anak dan dua karyawannya sedang sibuk menyusun kue gipang ke dalam toples ukuran sedang, di rumahnya, di Kampung Magelaran Cilik Rt 09/02 Desa, Masjid Priyai, Kecamatan Kasemen, Serang. Rumah yang berada tepat di gang Karisma, berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Warung Jaud, yang menghubungkan ke Banten Lama.
TURUN TEMURUN
Panganan gipang itu sendiri biasanya berbentuk kotak persegi, terbuat dari beras ketan putih atau ketan merah, yang sudah dicampuri gula pasir, asam, dan saus kacang tanah. Beras ketan yang sudah dimasak setengan matang digoreng. Kemudian diaduk dengan bumbu saus kacang tadi. gipang pun siap dicetak di atas kayu kotak persegi. Caranya di-giles atau ditekan-tekan, supaya gipang jadi padat. Proses terakhir, di bagian atas gipang dilumuri saus kacang. Tunggu sampai kering, gipang siap diiris-iris dan dikemas dalam plastik lalu dipasarkan.
Nenek tiga anak itu mengaku, dirinya sudah meneruskan usaha berjualan gipang dari almarhum Ibunya, Hj. Muslihah yang sudah berumur 80 tahunan. “Sudah dari turun temurun,” kata Mu’tiah tak ingat kapan awal dirinya mulai berjualan gipang. “Pokoknya dari awal pembangunan pasar Rau Serang, saya sudah jualan gipang, meneruskan usaha Ibu saya,” sambungnya. Tidak hanya gipang yang Nek Mu’tiah jual. Kue-kue seperti rengginang, sagon, tenteng kacang, dan tenteng emping pun ia buat sendiri.
Hj. Mu’tiah yang kini berumur 65 tahuh, menurunkan usaha gipang kepada anak-anaknya. “Sekarang saya cuma ngawasin, sambil sesekali bantu-bantu,” kata Nek Mu’tiah menaruh harapan pada anak-anaknya.
Kue gipang yang dibuat Mu’tiah, dalam seharinya bisa mencapai 500 buah toples ukuran sedang. Harga pertoplesnya Rp. 12.500,- “Ya, kadang kalo lagi banyak pesenan aja. Tapi, sekarang mah lagi sepi,” terang Nenek yang sudah mempunyai 20 cucu ini degan mimik serius.
Kue gipang buatan Nek Mu’tiah sudah mempunyai cukup banyak pelanggan. Tak hanya dari Serang, gipangnya juga dinikmati warga Tangerang bahkan hingga ke Pekalongan. Saat ditanya mengenai modal awalnya, Nek mengaku jika dulu modalnya cuma Rp 500 ribu. Tapi, sekarang mencapai sekitar Rp. 2 Juta, karena bahan-bahan membuat Gipang tambah mahal.
NAIK HAJI
Jika ditanya perihal untung yang didapat, Nek selalu menjawabnya dengan tenang dan santai, “Tiap dapet untung, nggak pernah dihitung. Yang penting di warung nggak punya hutang. Dan untungnya, dari sisa kue yang belum laku,” begitu katanya. “Tapi, alhamdullilah, dari hasil berjualan kue-kue ini saya, suami dan tiga anak saya sudah berangkat naik haji. Mungkin itu untungnya.” katanya kemudian. Dan ternyata Hj Mu’tiah dalam dua tahun lagi, ia berencana akan menunaikan ibadah hajinya untuk yang kedua kalinya.
Mengenai sejarah tentang kue gipang yang sudah dijadikan panganan khas Bnaten, Mu’tiah mengaku tidak tahu. “Nggak tahu, pokoknya saya mah cuma dagang aja. Dari Ibu juga, nggak pernah dikasihtahu,” tutur Mu’tiah mengaku.
Di kampung Magelaran, yang lumayan masih banyak pohon-pohon rindang bertumbuhan, itu ternyata bukan hanya Mu’tiah saja pembuat aneka kue-kue khas Banten. Di kampung itu, ternyata hampir semua penduduknya berjualan kue yang sama. Sebut saja Alisah (45) salah satunya, tetangga Mu’tiah yang juga berjualan kue-kue yang sama. “Ada sekitar 20 orang yang bikin gipang di kampung ini,” tutur Alisah yang juga mengaku sudah lama berjualan gipang. “Saya, jualan kue gipang ini sudah ada 20 tahun mah,“ kata ibu tujuh anak ini. Tak jauh beda dengan Mu’tiah, Alisah juga sudah mempunyai banyak pelanggan. Selain dari kota sendiri, hingga pasar Labuan, dan Menes.
Dalam sehari Alisah yang dibantu anak dan beberapa saudaranya, bisa membuat gipang antara 500 sampai 700 pack. Untuk satu packnya Alisah menjualnya seharga Rp 1500-, yang dalam satu pack itu terdapat empat potong gipang sedang ukuran kotak persegi panjang. “Kita bikin gipang, jika lagi ada pesanan saja. Jika nggak ada pesanan ya, nggak bikin,” terang Alisah. Kue gipang Alisah bisa tahan hingga sampai sepuluh hari, dengan catatan harus terhindar dari sengatan sinar matahari.
Alisah mengaku penjualan gipanya tak menentu. Jika sedang ramai, bisa mendapatkan keuntungan Rp 300.000. “Kalau dibilang cukup, ya belum. Orang nggak sesuai sama modalnya yang besar. Sedang, pengeluaran mah kecil,” keluh Alisah yang mengaku masih bertahan jualan gipang, lantaran terpaksa, karena tidak bisa jualan yang lainnya lagi. Terlebih setelah suami Alisah wafat dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil. “Saya terpaksa berjuang sendirian, untuk menghidupi ketujuh anak-anak saya,” katanya.
SIKAP PEMERINTAH
Tapi, di tengah persaingan perdagangan gipang yang cukup banyak di Kampung Magelaran, mereka merasakan tak ada bantuan atau perhatian lebih dari pemerintah setempat. “Sendiri-sendiri. Pemerintah, ya, pemerintah, jualan, ya, jualan,” kata Nek Mu’tiah. Padahal gipang sudah termasuk di dalam database Dinas Olahraga Pariwisata Dan Kebudayaan Kota Serang, termasuk dalam panganan khas Banten, dari 37 jumlah makanan tradisional Banten.
Kepala Seksi Adat dan Nilai Budaya Disporaparbud, Baini S.pd, mengaku sudah merencanakan membuat program pelestarian panganan khas Banten. “Rencana itu sejak tahun 2007. Tapi, belum ada keputusan. Tahun 2010 mau diajukan lagi,” kata Baini yang akan mengumpulkan semua panganan khas Banten dalam satu tempat. agar panganan khas Banten dapat lebih dikenal banyak orang lagi.
Tapi, saat wartawan www.rumahdunia.com memantau lokasi kampung gipang, banyak penjual gipang yang tak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Sampai-sampai Hj. Mu’tiah berencana akan berhenti jualan gipang. Ia berencana membuka usaha jahit-menjahit, seperti pekerjaan anaknya dulu. “Pengen berhenti saja jualan gipang. Sekarang pengen membuka mesin jahit, karena jualan gipang sekarang sudah nggak ada untungnya lagi,” tandas Mu’tiah mantap.
Lalu, benarkah dengan rencana pemerintah yang akan mengumpulkan para pedagang panganan khas Bnaten? Lalu kenapa di Kampung gipang banyak yang tak tahu dengan adanya rencana pemerintah yang akan melestarikan panganan khas Banten itu? Sementara para pedagangnya banyak yang akan berhenti berjualan gipang. Jangan-jangan para pedagang khas Banten itu adalah saudara-saudara pegawai pemerintahan itu sendiri? Sedangkan pedagang gipang yang sebenarnya tidak diberitahu, dan dibiarkan begitu saja. “Ya, begitulah dunia politik. Dunia yang penuh intrik,” seperti dalam penggalan lagu Iwan Fals.(*)

Oleh Rama Rahmat
Simbol ”Kuba Masjid” merupakan gambaran tentang kepercayaan adat istiadat dan agama di Kota Cilegon sebagai manifestasi dan komunikasi masyarakat Kota Cilegon yang bernuansa religius/agamis.


