PEMUDA KREATIF, RELAWAN, DAN WAKTU YANG DIMANFAATKAN
Gola Gong | Gonjlengan | October 28th, 2009 | No Comments »
Oleh Gol A Gong
Ketika sedang asyik berbincang-bincang dengan Zoel, teman lama yang pernah jadi asisten sutradara Rano Karno di sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, Selasa (27/10) lalu, tiba-tiba istri saya menginterupsi, “Pah, ada orasi di IAIN, lho! Sekarang!”
KREATIF
Waduh! Sudah pukul 20.30. WIB. Saya bergegas. Zoel saya tinggalkan di Rumah Dunia. “Sana, dengerin ‘Ki Amuk’ saja!” kataku. Di panggung Rumah dunia, Ki Amuk, divisi musik Rumah Dunia pimpinan Firman Venayaksa, yang mengusung puisi jadi lagu, sedang berlatih untuk tampil di STKIP Setia Budhi Rangkasbitung. Urusan dengan Zoel, rencana berkolaborasi membuat sinetron untuk Indosiar ditunda dulu. Selintas tentang Zoel, dari perckapan yang setengah jm tadi, dia pulang kampong. Zoel ingin mengembangkan potensi local untuk diangkat ke layer kaca. “Setiap saya syuting di kota lain, saya memikirkan Banten. Kenapa tidak saya lakkan di Banten? Saya sudah menemukan produser. Orang itu siap investasi. Saya ingin anak-anak muda di Banten kreatif!” Saya mengangguk setuju.
Diantar Piter Tamba, relawan Rumah Dunia yang kini creative di Banten TV, kami meluncur ke IAIN Serang di pusat kota. Saya agak cemas, karena motor baru Piter belum memakai nomor polisi. Kalau ada polisi, urusannya panjang. Tapi Piter yang masuk kriteria pemuda karena berumur 25 tahun, tetap semangat memacu motornya. Bahkan rambu dilarang memutar balik arah, diterabas saja. Dengan carea memotong jalur di sebelahnya, memang lebih cepat sampai di gerbang IAIN ketimbang harus lurus mmeutar di SPBU. Ini juga termasuk cara berpikir kreatif, agar bisa cepat sampai ditujuan. Kadang sesekali kita harus mau berpikir keluar dari kotak (out of the box), asal siap menerima resiko!
RELAWAN
Lima menit kemudian, sampailah kami di “Saung Peradaban” IAIN Sultan Maulana Hasanudin (SMH) Banten, lokasi dimana orasi berlangsung. BEM IAIN SMH Banten malam itu menyelenggarakan kegiatan “Refleksi Soempah Pemoeda ke-81”. Saya, Mufti Ali, PhD, dan Ibnu Adam Aviciena didaulat untuk orasi. Mufti Ali kebagian orasi pertama.
Mufti Ali, cendekiawan muda Banten yang menimba ilmu sejarah dan teologi di Universitas Leiden menceritakan, “Setahun setelah sumpah pemuda dideklarasikan di Jakarta, pada 14 Oktober 1929, tepatnya di Ciruas, perkumpulan ‘Boedi Banten’ digulirkan. Mereka anak muda Banten yang ingin maju. Mereka membuat sekolah dasar, yang kini digusur karena mementingkan pembangunan pasar.” Mufti juga menggelorakan semangat perubahan di kampus IAIN yang terkenal jorok dan banyak sampahnya. Lewat lembaga riset dan penelitian Bantenologi yang dipimpinnya, Mufti mengumpulkan mahasiswa untuk jadi relawan. “Sudah terkumpul 65 relawan. Saya akan mengajak mereka menghijaukan kampus dan membersihkan sampah!” kata Mufti bersemangat.
Bicara soal relawan, saya teringat para relawan di Rumah Dunia, yang sepakat, bahwa apa-apa yang kita miliki ada hak untuk orang lain di dalamnya. Apakah itu pikiran, tenaga, dan harta. Hanya 2,5% saja hak orang lain itu. Sudah 7 tahun Rumah Dunia bergulir sejak 3 Maret 2002, para relawan datang silih-berganti. Mereka melayani dengan tekun setiap setiap orang yang datang ke Rumah Dunia. Mereka menyiapkan diskusi, membuat liflet, menyebarkan undangan, menata kursi dan meja, menyelenggarakna kegiatan, menghidangkan makanan dan minuman, memberi kursus bahasa dan computer, dan membuat pelatihan. Semua tidak ada kaitannya dengan uang. Mereka tidak dibayar. Orang-orang yang datang ke Rumah Dunia pun tidak membayar. Saya termasuk relawan di dalamnya. Sebagai relawan kami tidak dipanggil, tapi terpanggil.
WAKTU
Setelah diselingi group nasyid, saya mendapat giliran orasi. Di depan saya duduk lesehan sekitar seratusan anak muda. Saya melirik ke sisi kanan. Ada grafiti di tembok sekretriat BEM IAIN. Saya terkejut. Grafiti dengan pilok merah itu menohok mata saya, “BEM KORUPTOR. BEM HANYA DIKONTRAKKAN!”. Menurut mereka, sekretariat BEM hanya diisi pengurusnya dengan kegiatan molor alias tidur. Banyak kasur di secretariat BEM. Saya melirik ke sisi kiri, berjejer ruang-ruang UKM. Benak saya melayang jauh; banyak peristiwa baku-hantam di antara mereka. Mulai dari LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) SiGMA yang menulis tentang perilaku teman-temannya di Mahapeka (Mahasiswa Pencinta Alam Kampus) yang justru merusak lingkungan. Lalu si wartawan kampus digebuki oleh para pencinta alam itu. Juga tentang sampah yang menumpuk di sekitar ruang-ruang UKM (unit kegiatan mahsaiswa).
Melihat siyuasi itu, saya memulai orasi dengan mengutip Bung Karno, “Beri saya 100 orang tua, maka saya akan memindahkan gunung Semeru. Tapi, beri saya 10 pemuda yang cerdas, berani, dan kuat, maka saya akan mengggerkan dunia!” Sengaja saya gelorakan itu, karena mahasiswa adalah anak muda, dimana segala harapan masa datang yang lebih baik terletak di pundak mereka. Tapi, yang terjadi di antara mahasiswa IAIN SMH Banten adalah baku hantam. Mereka menyelesaikan segala persoalan dengan otot, bukan otak. Sebetulnya, graffiti merah itu tidak perlu terjadi jika mereka egaliter di antara mereka sendiri. Budaya dialog mesti dikembangkan, karena mahasiwa adalah kaum intelektual. “Sekarang saatnya otak, bukan otot!” saya memprovokasi mereka. Bagimana bisa maju, jika mengurusi sampah di sekitar kampus saja tidak mampu! Bahkan dikritik saja tidak mau.
Saya melihat mahasiswa IAIN SMH Banten cerai-berai. Padahal di luar tembok kampus banyak kekisruhan terjadi. Saya menceritakan sebuah fenomena kehidupan, tentang penyapu jalanan. Perhatikanlah penyapu itu. Dia begitu tekun menyapu setiap jengkal wilayah di depannya; dia tidak akan membiarkan ada sampah yang terlewat. Perhatikan juga saat tangannya menggenggam gagang sapu; dia tidak akan rela setiap lidi sapunya terlepas. Dia akan menjaga agar semua lidi sapunya utuh dan kokoh. Dia sadar, jika lidi sapunya terlepas, maka pekerjaannya tidak akan beres. Begitulah juga mahasiswa. Jika mereka tercerai-berai alias tidak kompak, maka mereka hanya akan jadi komoditas politik, akan dijadikan proyek yang mengatasnamakan pendidikan.
Usai saya, Ibnu Adam Aviciena, mahasiswa IAIN yang juga relawan Rumah Dunia, mendapat jatah bicara. Ibnu dikategorikan mahasiswa berprestasi, karena baru saja lulus dari study perbandingan agama di Universitas Leiden. Untuk ukuran pemuda seusia dia, 25 tahun, cukup membanggakan. Sambil kuliah, dia sudah mampu mencari uang dengan menulis cerpen dan novel. Setelah lulus, sambil menunggu panggilan beasiswa di Leiden, Ibnu jadi wartawan di Radar Banten dan Indopos. Sebagai pemuda, waktu yang bergulir dimanfaatkannya dengan kegiatan positif. Kata Imam Ghazali, masa lalu adalah hal yang sangat jauh dan tidak akan pernah bisa kembali. Begitulah Ibnu, karena sadar waktu tidak akan pernah kembali dan akan menjadi jauh, maka waktu diisinya dengan hal-hal berguna; membaca buku, menulis, kursus bahasa, dan menghadiri diskusi.
Nah, di usia seperti Ibnu, saya juga melakukan hal sama. Mengisi waktu dengan hal-hal berguna. Begitulah ciri-ciri orang sukses. Waktu yang akan jadi masa lalu penuh diisi oleh hal-hal bermanfaat. Bung Karno mencontohkan itu kepada kita. Di usia 24 tahun, BK sudah melakukan perlawanan dan rela mendekam di penjara Sukamiskin. Waktu baginya sangat berkualitas.
Saya yang sudah berusia 46 tahun, tentu tidak layak lagi disebut sebagai pemuda kini. Menurut UU Kepemudaan, bahwa rentang umur pemuda adalah 16 – 30 tahun, maka saya adalah orang tua. Eten Hilman, Ketua KNPI Banten di Banten Raya Post (27/10) mengatakan, “Siap reposisi!” Sedangkan di sisi lain, Andi Malarangeng diankat jadi Menpora di usia 46 tahun!
Wah, bagaimana ini? (*)




Leave a Reply